
Key melemparkan tubuhnya ke atas
kasur. Menarik nafas panjang. Dilangit-langit kamar beberapa sketsa wajah
muncul memenuhi pikirannya. Dia mengutuki dirinya sendiri, berteriak keras atas
keputusan bodoh yang sudah dia ambil. Sekarang, dia bahkan malu untuk
menunjukan mukanya pada siapapun. Bagaimana mungkin berpacaran dengan tunangan
wanita lain, dan yang lebih kompleks adalah tunangan teman sendiri. Wajah Amanda
yang cantik, tiba-tiba berubah sinis, bibirnya yang ranum dan tipis berteriak
memaki Key.
“ Mba!” kepala Basma muncul di
pintu. Basma melihat wajah Key tampak
jauh lebih baik sekarang. “ belum tidur?” tanyanya lagi.
“ Masuklah Bas, kenapa? Belum
ngantuk ya. Kebanyakan tidur siang tadi ya.” Key mengacak rambut Basma yang
sudah duduk di samping tempat tidurnya.
“ Apa semua baik-baik saja. Aku lihat kak Bian mengantarmu pulang.” Kenapa
malah wajah key berubah merona saat ia menyebut nama Bian. Basma merasa lemas.
Siang tadi sepertinya rencananya membuat Bian menghilang dari kehidupan Key
sama sekali tidak berhasil.
“ Apa sekarang aku jadi wanita jahat Bas?”
“ Ahh, apa kau menerimanya mba?”
Basma berusaha mencari tahu sendiri
jawaban lewat mata key. Mata gadis itu berbinar untuk alasan yang jelas. Ah,
memang sulit menutupi perasan suka pada seseorang. Dan ia termasuk salah satu
orang yang hebat, ia bisa mengubur dalam perasaan sukanya pada Key. Paling
tidak sampai hari ini, masih terkunci rapat di lemari hatinya. Atau memang Key
yang kurang peka terhadapnya.
“ Aku benar-benar jadi wanita jahat
ya Bas. Bagaimana mungkin, aku mengengam tangan laki-laki yang sudah
bertunangan, dan tunangannya itu adalah seorang teman SMU yang telah
bertahun-tahun tidak pernah kutemui.” Key menatap pendar lampu kamarnya.
Terdengar menarik nafas dalam-dalam.
“ Bagaimana dia bisa meluluhkan
hatimu mba, apa dia menangis di depanmu sambil minta maaf. Ah, rasanya dia
bukan tipe yang semacam itu. Atau bertampang menyedihkan sambil terdiam
menatapmu lama.”
Key menyentuh rambut Basma. Mengacaknya beberapa kali.
“ Dia terlihat sepertimu Bas kalau
sedang sedih. Tidak tahu kenapa kalian terlihat mirip.”
“ Haha, mirip dari mana. Jelas-jelas aku lebih tampan.”
Key tertawa. Lalu dia menarik
selimutnya dan menyandarkan tubuh ke bantal. Sementara Basma memilih tiduran di
sampingnya.
“ Ibuku wanita yang sangat cantik.
Kau melihatnyakan semalam, wanita manapun akan iri padanya, memiliki suami yang
memiliki segalanya, putra yang tampan, apalagi yang kurang dalam hidupnya, dia
bisa pergi belanja setiap hari tanpa pernah takut kekurangan uang. “ Bian masih
mengengam tangan key erat. Mereka duduk di dalam mobil di depan Central Park
yang ramai. Mobil pustaka malam cukup
ramai malam ini. “ Hanya itu yang bisa dilihat oleh orang lain.” Key menatap
Bian. Wajahnya begitu sedih, namun penuh kasih sayang ketika bercerita tentang ibunya.
“ Mereka menikah karena kerja sama
bisnis kakekku. Mungkin akan menjadi sederhana jika tidak ada wanita lain di
kehidupan ayahku.” Key mulai bisa mereka-reka arah kisah kehidupan orang tua
Bian. “ Ya, ayahku sudah jatuh cinta kepada wanita lain. Saat itu jika ibu
menyerah dan mengakhiri semuanya, aku pasti tidak akan seperti sekarang. Tapi,
tidak tahu alasan apa yang membuat ibu bertahan dan memperjuangkan
pernikahannya, mungkin karena dia jatuh cinta pada ayahku. Laki-laki yang sudah
menyerahkan hatinya kepada wanita lain. Kau pasti bisa menebaknya key seperti
apa kehidupan orangtuaku yang sebenarnya.” Malam terus berputar. Key bahkan tak
kembali ke minimarket. Hamzah sedang sibuk menghitung belanjaan pelanggan.
“ Ibuku wanita yang sangat baik key. Kau mau bertemu dengannya nanti.”
Key terkejut. Tiba-tiba sekali.
Wajah wanita cantik dan anggun istri
ketua Adiguna grup. Membayangkan saja membuat Key gemetar. Dia mengelengkan
kepalanya berulang.
“ Haha, jangan takut, dia wanita
yang sangat baik, kalian pasti bisa cocok.” Key senyum sendiri, membayangkan
dirinya bersanding dengan Yuna Sailendra. Cocok jika dilihat dari sudut pandang
mana? Pertanyaan besar.
“ Apa sampai sekarang hubungan orang tua kak Bian tidak baik.”
“ Aku lahir dari kepalsuan hidup mereka Key. Aku bahkan pernah curiga, apa aku benar-benar anak kandung ayahku.”
“ Kak,” key mempererat gengaman tangannya. membayangkannya saja pasti sangat menakutkan sekaligus menyakitkan.
“ Aku melakukan test DNA untuk
meyakinkan diriku sendiri key. Bahwa aku ini benar-benar anak ketua.
Menyedihkan bukan, aku sudah mengetahui mereka bahkan tidak tidur bersama, jadi
jika aku benar-benar bukan anak kandung ketua, aku akan memilih pergi dengan
penuh kebanggaan meninggalkan semuanya. Akan sangat menyedihkan suatu hari ini
jika aku harus pergi karena ayahku mencapakaanku. Karena itulah aku akan selalu
membela ibuku sampai kapanpun.”
“ Kak bian.” Kenapa jadi menyedihkan begini.
“ Aku tidak mau menjalani kehidupan
seperti ayahku sekarang.” Nada kebencian sekarang yang terasa. Berbeda dari
saat Bian menceritakan ibunya. “ Aku tidak akan membuat wanita lain menjalani
kehidupan seperti yang harus dijalani ibuku saat ini. Amanda gadis yang baik,
setidaknya sampai tadi malam aku baru menyadarinya. Karena itu aku tidak mau
terus bersandiwara dengannya. Key, berjanjilah padaku.”
“ Janji apa kak?”
“ Apapun yang akan terjadi nanti ke
depannya, tetap gengam erat tanganku. Jangan lepaskan aku.” Key tersenyum.
Kembali mempererat gengaman tangannya. Namun ia memilih untuk tidak mengatakan
apapun, karena sejujurnya ia masih sangat takut untuk meneruskan langkahnya ke
depan ini. Membiarkan Bian mengengam erat tangannya, walaupun sebagaian hatinya
mengatakan bahwa ini salah. Namun ada lebih banyak bagian di hatinya yang juga
ingin memeluk Bian. Menghapus air matanya, menghilangkan jejak kesedihan dan
kesepian di wajahnya.
Malam semakin larut... key sudah
ikut melorot dan merebahkan tubuh di samping Basma. Sambil menceritakan apa
yang sudah ia dengar tentang kehidupan Bian.
“ Hidupnya ternyata begitu
menyedihkan.” Ucap Basma. Ia membayangkan dirinya, yang bahkan tidak pernah
mengenal siapa orang tuanya. Namun itu tidak pernah menjadi masalah baginya. Ia
mendapatkan keluarga yang memeluknya di saat sedih, tempat ia bisa tertawa
ataupun melepas lelah. “ Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana kalau wanita yang
di cintai ayahnya punya anak ya mba. Apa mereka akan saling membunuh. Bukan
hanya tentang harta, namun jauh lebih kompleks dari itu, pengakuan ayahnya dan
juga kasih sayang ayahnya.”
Key terhenyak. Benar sekali. Saat
ia menanyakan perihal wanita lain itu, Bian menghindar untuk membicarakannya.
Nada suaranya syarat dengan kebencian. “ Tidak tahu juga Bas, kak Bian tidak
mau mengatakan apa-apa tentang wanita itu.” Key menarik selimutnya.
“ Sudah pasti mba, aku bisa
menebak, bagaimana bencinya dia pada wanita itu.” Basma menguap. Lalu bangun
dari tempat tidur. “ Aku ngantuk mba, selamat malam. Besok aku temani belanja
bahan-bahan somai ya.”
“ Baiklah, selamat malam.”
Basma pergi meninggalkan kamar Key.
Sekarang sepi yang ada. Key berusaha memejamkan matanya. Selintas wajah Bian
muncul di pikirannya. Tersenyum samar namun kemudian tertawa lebar. Wajah
bahagia yang di harapkan key akan selalu dilihatnya.
BERSAMBUNG................
Tidur yang nyenyang......
Makan yang enak.......