Key And Bian

Key And Bian
Ibuku orang yang baik



Key melemparkan tubuhnya ke atas


kasur. Menarik nafas panjang. Dilangit-langit kamar beberapa sketsa wajah


muncul memenuhi pikirannya. Dia mengutuki dirinya sendiri, berteriak keras atas


keputusan bodoh yang sudah dia ambil. Sekarang, dia bahkan malu untuk


menunjukan mukanya pada siapapun. Bagaimana mungkin berpacaran dengan tunangan


wanita lain, dan yang lebih kompleks adalah tunangan teman sendiri. Wajah Amanda


yang cantik, tiba-tiba berubah sinis, bibirnya yang ranum dan tipis berteriak


memaki Key.


“ Mba!” kepala Basma muncul di


pintu.  Basma melihat wajah Key tampak


jauh lebih baik sekarang. “ belum tidur?” tanyanya lagi.


“ Masuklah Bas, kenapa? Belum


ngantuk ya. Kebanyakan tidur siang tadi ya.” Key mengacak rambut Basma yang


sudah duduk di samping tempat tidurnya.


“  Apa semua baik-baik saja. Aku lihat kak Bian mengantarmu pulang.” Kenapa


malah wajah key berubah merona saat ia menyebut nama Bian. Basma merasa lemas.


Siang tadi sepertinya rencananya membuat Bian menghilang dari kehidupan Key


sama sekali tidak berhasil.


“ Apa sekarang aku jadi wanita jahat Bas?”


“ Ahh, apa kau menerimanya mba?”


Basma berusaha  mencari tahu sendiri


jawaban lewat mata key. Mata gadis itu berbinar untuk alasan yang jelas. Ah,


memang sulit menutupi perasan suka pada seseorang. Dan ia termasuk salah satu


orang yang hebat, ia bisa mengubur dalam perasaan sukanya pada Key. Paling


tidak sampai hari ini, masih terkunci rapat di lemari hatinya. Atau memang Key


yang kurang peka terhadapnya.


“ Aku benar-benar jadi wanita jahat


ya Bas. Bagaimana mungkin, aku mengengam tangan laki-laki yang sudah


bertunangan, dan tunangannya itu adalah seorang teman SMU yang telah


bertahun-tahun tidak pernah kutemui.” Key menatap pendar lampu kamarnya.


Terdengar menarik nafas dalam-dalam.


“ Bagaimana dia bisa meluluhkan


hatimu mba, apa dia menangis di depanmu sambil minta maaf. Ah, rasanya dia


bukan tipe yang semacam itu. Atau bertampang menyedihkan sambil terdiam


menatapmu lama.”


Key menyentuh rambut Basma. Mengacaknya beberapa kali.


“ Dia terlihat sepertimu Bas kalau


sedang sedih. Tidak tahu kenapa kalian terlihat mirip.”


“ Haha, mirip dari mana. Jelas-jelas aku lebih tampan.”


Key tertawa. Lalu dia menarik


selimutnya dan menyandarkan tubuh ke bantal. Sementara Basma memilih tiduran di


sampingnya.



“ Ibuku wanita yang sangat cantik.


Kau melihatnyakan semalam, wanita manapun akan iri padanya, memiliki suami yang


memiliki segalanya, putra yang tampan, apalagi yang kurang dalam hidupnya, dia


bisa pergi belanja setiap hari tanpa pernah takut kekurangan uang. “ Bian masih


mengengam tangan key erat. Mereka duduk di dalam mobil di depan Central Park


yang ramai. Mobil pustaka malam  cukup


ramai malam ini. “ Hanya itu yang bisa dilihat oleh orang lain.” Key menatap


Bian. Wajahnya begitu sedih, namun penuh kasih sayang ketika bercerita tentang ibunya.


“ Mereka menikah karena kerja sama


bisnis kakekku. Mungkin akan menjadi sederhana jika tidak ada wanita lain di


kehidupan ayahku.” Key mulai bisa mereka-reka arah kisah kehidupan orang tua


Bian. “ Ya, ayahku sudah jatuh cinta kepada wanita lain. Saat itu jika ibu


menyerah dan mengakhiri semuanya, aku pasti tidak akan seperti sekarang. Tapi,


tidak tahu alasan apa yang membuat ibu bertahan dan memperjuangkan


pernikahannya, mungkin karena dia jatuh cinta pada ayahku. Laki-laki yang sudah


menyerahkan hatinya kepada wanita lain. Kau pasti bisa menebaknya key seperti


apa kehidupan orangtuaku yang sebenarnya.” Malam terus berputar. Key bahkan tak


kembali ke minimarket. Hamzah sedang sibuk menghitung belanjaan pelanggan.


“ Ibuku wanita yang sangat baik key. Kau mau bertemu dengannya nanti.”


Key terkejut. Tiba-tiba sekali.


Wajah wanita cantik dan anggun istri


ketua Adiguna grup. Membayangkan saja membuat Key gemetar. Dia mengelengkan


kepalanya berulang.


“ Haha, jangan takut, dia wanita


yang sangat baik, kalian pasti bisa cocok.” Key senyum sendiri, membayangkan


dirinya bersanding dengan Yuna Sailendra. Cocok jika dilihat dari sudut pandang


mana? Pertanyaan besar.


“ Apa sampai sekarang hubungan orang tua kak Bian tidak baik.”


“ Aku lahir dari kepalsuan hidup mereka Key. Aku bahkan pernah curiga, apa aku benar-benar anak kandung ayahku.”


“ Kak,” key mempererat gengaman tangannya. membayangkannya saja pasti sangat menakutkan sekaligus menyakitkan.


“ Aku melakukan test DNA untuk


meyakinkan diriku sendiri key. Bahwa aku ini benar-benar anak ketua.


Menyedihkan bukan, aku sudah mengetahui mereka bahkan tidak tidur bersama, jadi


jika aku benar-benar bukan anak kandung ketua, aku akan memilih pergi dengan


penuh kebanggaan meninggalkan semuanya. Akan sangat menyedihkan suatu hari ini


jika aku harus pergi karena ayahku mencapakaanku. Karena itulah aku akan selalu


membela ibuku sampai kapanpun.”


“ Kak bian.” Kenapa jadi menyedihkan begini.


“ Aku tidak mau menjalani kehidupan


seperti ayahku sekarang.” Nada kebencian sekarang yang terasa. Berbeda dari


saat Bian menceritakan ibunya. “ Aku tidak akan membuat wanita lain menjalani


kehidupan seperti yang harus dijalani ibuku saat ini. Amanda gadis yang baik,


setidaknya sampai tadi malam aku baru menyadarinya. Karena itu aku tidak mau


terus bersandiwara dengannya. Key, berjanjilah padaku.”


“ Janji apa kak?”


“ Apapun yang akan terjadi nanti ke


depannya, tetap gengam erat tanganku. Jangan lepaskan aku.” Key tersenyum.


Kembali mempererat gengaman tangannya. Namun ia memilih untuk tidak mengatakan


apapun, karena sejujurnya ia masih sangat takut untuk meneruskan langkahnya ke


depan ini. Membiarkan Bian mengengam erat tangannya, walaupun sebagaian hatinya


mengatakan bahwa ini salah. Namun ada lebih banyak bagian di hatinya yang juga


ingin memeluk Bian. Menghapus air matanya, menghilangkan jejak kesedihan dan


kesepian di wajahnya.



Malam semakin larut... key sudah


ikut melorot dan merebahkan tubuh di samping Basma. Sambil menceritakan apa


yang sudah ia dengar tentang kehidupan Bian.


“ Hidupnya ternyata begitu


menyedihkan.” Ucap Basma. Ia membayangkan dirinya, yang bahkan tidak pernah


mengenal siapa orang tuanya. Namun itu tidak pernah menjadi masalah baginya. Ia


mendapatkan keluarga yang memeluknya di saat sedih, tempat ia bisa tertawa


ataupun melepas lelah. “ Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana kalau wanita yang


di cintai ayahnya punya anak ya mba. Apa mereka akan saling membunuh. Bukan


hanya tentang harta, namun jauh lebih kompleks dari itu, pengakuan ayahnya dan


juga kasih sayang ayahnya.”


Key terhenyak. Benar sekali. Saat


ia menanyakan perihal wanita lain itu, Bian menghindar untuk membicarakannya.


Nada suaranya syarat dengan kebencian. “ Tidak tahu juga Bas, kak Bian tidak


mau mengatakan apa-apa tentang wanita itu.” Key menarik selimutnya.


“ Sudah pasti mba, aku bisa


menebak, bagaimana bencinya dia pada wanita itu.” Basma menguap. Lalu bangun


dari tempat tidur. “ Aku ngantuk mba, selamat malam. Besok aku temani belanja


bahan-bahan somai ya.”


“ Baiklah, selamat malam.”


Basma pergi meninggalkan kamar Key.


Sekarang sepi yang ada. Key berusaha memejamkan matanya. Selintas wajah Bian


muncul di pikirannya. Tersenyum samar namun kemudian tertawa lebar. Wajah


bahagia yang di harapkan key akan selalu dilihatnya.


BERSAMBUNG................


Tidur yang nyenyang......


Makan yang enak.......