
Dengan wajah cemas Bian membantu ibunya duduk di sofa. Dia mengusap
kepala dan rambut ibunya.
“ Ibu baik-baik saja?”
Yuna menganggukan kepala lalu menyandarkan tubuh terkulai. Rasanya
hatinya menjadi menciut takut setelah mendengar perkataan Key. Dia anak dari
orangtua angkat anak Jesika yang meninggal kecelakaan karena orang-orang suruhannya.
Beberapa lama dia merasa dihantui ketakutan, namun berhasil meyakinkan diri
kalau itu juga bukan salahnya.
“ Kenapa Ibu memanggil Key?” Nada bicara Bian sudah menunjukan rasa
tidak suka. Bibi pelayan datang membawa segelas air hangat. Bian mengambilnya
lalu dibantunya ibunya minum. “ Masalah pemberitaan kan sudah selesai, kalau
seperti ini malah akan semakin runyam bu. Apalagi kalian sampai bertengkar
tadi.”
Yang dilihat Bian hanya sisa pertengkaran, dengan Key yang berteriak keras pada ibunya.
“ Maaf,ibu berfikir pendek.” Sambil lemas hanya bisa mengatakan maaf,
takut Bian akan mengintrograsinyaa lebih lanjut.
“ Kita bicara lagi nanti, aku akan mengantar Key.”
“ Bi, bisakah kau putus saja dengan gadis itu.”
“Ibu!” bangun dari samping Yuna dengan kesal. “ Sudah kubilang dukung
aku bu, sekarang aku saja sedang pusing. Ahh!” berdecak kesal. “ Ibu malah
semakin membuat semuanya menjadi sulit begini.”
Ibu belum tahu masalah anak wanita itu lagi. Ah, membuat kesal saja.
“ Bibi, tolong jaga ibu.”
“ Ia Mas.”
“ Bian jangan pergi.”
“ Ibu, aku mau meluruskan masalahku degan Key, aku akan minta maaf
padanya atas nama ibu, tapi ibu juga harus minta maaf padanya nanti.”
Yuna memalingkan wajah tidak menjawab, membuat hati anaknya
kembali menggeliat tidak senang.
“ Ibu aku mohon.”
“ Baiklah, ibu akan menuruti semua yang kau inginkan.”
Setelah mendengar itu Bian melangkah pergi meninggalkan Yuna.
***
Sementara itu di luar rumah.
“ Key pulang dengan Kak Anjas saja.” Key melihat ke arah pintu rumah,
belum muncul siapa-siapa. Sudah beberapa waktu dia berdebat dengan Anjas.
Laki-laki ini bersikeras meminta Key menunggu Bian. “ Kak Bian sedang
menenangkan Nyonya Yuna,” ujar Key pelan.
“ Key, apa Bian sudah tahu?” Tentang terlibatnya nyonya Yuna dengan
kematian orangtuamu begitu yang ingin ditanyakan Anjas, tapi dia tidak tega
mengatakannya. Key menjawab dengan gelengan kepala.
Tadi saja saat Kak Bian memanggilnya dengan intonasi yang tinggi sudah
membuat Key berdetak kaget, apalagi saat hanya melewatinya dengan pandangan mata
dan menghampiri ibunya. Ah, ntahlah, dia pun akan sama seperti Kak Anjas tidak
akan berani mengatakan kebenaran, karena takut Kak Bian menolak tanpa mencari
tahu kebenaran yang sebenarnya.
“ Ayo kita pergi sekarang Kak, aku nggak mau bertemu Kak Bian dulu.”
Dia bisa membunuhku kalau aku pergi denganmu sekarang
“ Bian mengambil kunci mobilku.”
Alasan tidak masuk akal apa yang aku katakan ini.
Key yang tidak percaya berjalan mendekat ke mobil. Melihat gantungan
kunci, tidak ada. Serius menatap Anjas mencari kejujuran, laki-laki itu
mengalihkan pandangannya. Bersamaan dengan itu sebuah suara terdengar.
“ Key.”
Gadis itu menoleh, seraut wajah yang ia rindukan ada di hadapannya. Padahal ingin sekali Key
menyentuh tangan itu, namun ia menahan tangan dan hatinya untuk mendekat. Tapi
tidak dengan Bian, laki-laki itu meraih tangannya tanpa ragu.
“ Kau baik-baik saja kan? Maaf kalau kata-kata ibuku membuatmu
tersinggung. Tapi aku mohon, jangan berteriak sekeras itu pada ibuku.”
Eh, Anjas yang melihat sudah panik, karena kesalahpahaman Bian.
“ Ayo aku antar pulang.”
Key menyentuh punggung tangan Bian yang menggengam tangannya, menjauhkan
tangannya. Membuat Bian terkejut dan langsung berubah antara marah, tidak
senang sekaligus kecewa dan sedih karena Key melepaskan tangannya.
“ Key pulang dengan Kak Anjas saja.”
“ Key!”
“ Bi, biar aku yang antar Key.” Bian memberi sorot mata kesal karena
Anjas ikut campur.
Apa! Apa! Anjas mulai tidak bisa menahan diri ingin mengatakan alasan
Key bersikap seperti itu. Dia kemari membawa rasa marah karena perbuatan Nyonya
malah disalahkan begitu.
“ Kak Bian, aku datang bukan karena pemberitaan di media. Aku juga
datang bukan karena Nyonya Yuna yang memanggilkku. Aku juga tidak datang karena
membicarakan hubunganku dengan Kak Bian Hari ini aku menemui Nyonya Yuna karena
Basma.”
Bian mundur dua langkah menjauhi Key. Menelan ludah menahan geram yang
naik sampai ke kepala. Anjas langsung menarik tangan Key menyembunyikan gadis
itu di belakang punggungnya.
“ Hentikan Bi! Apa pun yang ingin kau katakan. Atau kau akan menyesal
nanti.”
Anjas melihat sorot mata Bian yang sudah ingin membakar habis tubuhnya.
Nafas naik turun, sementara tangan terkepal. Anjas pun melihat bibir Bian yang
bergumam tanpa suara, apa pun yang ia katakan cuma dia yang tahu.
“ Aku yang akan mengantar Key, dinginkan kepalamu dulu.”
Anjas menahan tangan Key yang mau berjalan ke depannya. Saat ini emosi
Bian sedang memanas, alih-alih menyelesaikan masalah.Dia bisa menduga,hubungan
kedua orang di hadapannya ini bisa kandas begitu saja. Key yang membicarakan Basma pada Nyonya Yuna, bagi Bian itu sudah seperti Key menabur garam pada luka ibu yang ia sayangi.
" Minggir Kak, aku mau bicara pada Key."
“ Sudah kubilang berhenti! Kau yang akan menyesalinya nanti!” Sudah menggunakan mode kakak dengan
intonasi suara meninggi.
Saat situasi sedang memanas sebuah mobil menepi, milik Tuan Adiguna.
Tepat di depan pintu masuk. Laki-laki itu tidak melihat sedang terjadi
ketegangan tidak jauh dari mobilnya terparkir. Tergesa keluar dari mobil.
Bian, Anjas dan Key bisa melihat Tuan Adiguna yang terlihat terburu-buru
dan marah. Ditangannya tergengam
gulungan kertas. Kepala pelayan yang menyambutnya terlihat membisikan sesuatu.
Membuat Adiguna menghentikan langkah dan melihat ke arah yang ditunjuk kepala
pelayan. Sebentar dia berhenti. Lalu masuk ke dalam rumah.
“ Aku akan mengantar Key. Bicaralah dengan ketua dan nyonya.”
Bian melihat ke arah Anjas, seperti ingin menembus tubuh itu dan melihat
Key. Gadis itu masih bersembunyi ntah dengan ekspresi seperti apa. Dia ingin
menyelesaikan semua masalahnya dengan Key, tapi melihat ayahnya pulang di waktu
yang bersamaan saat ibunya bertemu Key dia jadi mengkhawatirkan ibunya.
“ Pulanglah dengan Kak Anjas Key,kita bicara lagi nanti.” Suaranya sudah melembut.
Key tidak menjawab, karena lagi-lagi Anjas menahan tangannya.
“ Pergilah, aku akan mengantar Key.” Anjas yang memberi jawaban.
Saat Bian merasa Key tidak akan bicara lagi dia berbalik dan berjalan
meninggalkan keduanya. Masih menyimpan kemarahan karena kata-kata Key tadi sebenarnya. Dia menoleh saat Key akhirnya muncul dari balik punggung Anjas.
Basma, Basma dan Basma lagi.
Dia menyebut nama itu dengan tingkat kebencian yang meninggi.
***
Saat Bian berjalan mendekat ke pintu kamar ibunya dia sudah mendengar
suara keras ayahnya. Bibi dan kepala pelayan yang berdiri di dekat pintu
tergagap saat melihat Bian. Bian menggelengkan kepala dan mengisyaratkan
keduanya untuk diam dan pergi.
“ Mas Bian, Tuan…” Kepala pelayan ingin memberi sedikit penjelasan.
Namun Bian tidak mau mendengarkan dan mengusirnya pergi.Dengan langkah berat
akhirnya kedua pelayan itu berjalan menjauh dari kamar Yuna.
Bian akan melangkah masuk, dia tidak mau melihat ibunya terpojok dengan
semua kata-kata keras ayahnya. Apalagi saat ini,ketika ibunya tahu kemunculan anak
wanita itu. Pintu yang memang tidak tertutup. Membuat Bian bisa mendengar pertengkaran dengan jelas.
“ Apa kau sudah gila Yuna, seharusnya kau memohon pengampunan anak-anak
itu. Jesi ataupun orangtua key meninggal karenamu!” Suara Adiguna gemetar
menahan marah.
Bian yang sudah memegang handle pintu terdiam, kata-kata ayahnya jelas
terdengar di telinganya. Orangtua Key. Jantungnya tiba-tiba berdegub keras. Dia
merapat ke tembok menyandarkan tubuh. Mendengarkan apa pun yang sedang
orangtuanya katakan.
Orangtua Key dan wanita itu meninggal karena ibu. Tidak mungkin.
Terdengar suara kertas berserak.
“ Bagaimana bisa kau menganiaya anak yang tidak bersalah.”
“ Dia anak wanita itu, dia bersalah.”
“ Lalu, apa kau juga mau Key menyalahkan Bian karena dia anakmu.
Laki-laki yang yang dia cintai adalah anak dari wanita yang sudah menyebabkan
kematian orangtuanya.”
“ Tidak, tidak. Bian sama sekali tidak bersalah.”
" Lalu apa salah Basma padamu, seperti Bian yang tidak menanggung dosa-dosamu, begitu pula Basma." Masih dengan suara gemetar menahan marah. “ Seharusnya kita memohon pada anak-anak itu Yuna, kita yang sudah
membuat Basma dan Key menderita kehilangan orangtua. Kalau perlu berlutut
memohon ampun pada mereka. Kenapa kau malah bersikap seperti ini. Aku berusaha
memaklumi semua hal buruk yang sudah kau lakukan,tapi kenapa kau tidak bisa
berubah sedikit saja.”
Yuna hanya bisa menangis pelan.
“ Kau pikir apa yang akan Bian pikirkan, kalau tahu ibunya sejahat ini.”
“ Jangan, jangan,aku mohon jangan katakan pada Bian. Aku akan memohon
maaf pada Key tapi aku mohon jangan katakana pada Bian.”
Yuna mungkin sedikit merasa bersalah pada kematian Jesika, namun pada kematian orangtua Key, dia tidak punya alasan, sejauh ini ia mencari pembelaan tetap rasa bersalah itu menghantui.
Lama mereka terduduk dalam diam, Yuna masih menyisa isak. Sementara
Adiguna menatap lembaran foto-foto berserak dari CCTV di mall. Melihat
bagaimana anak dari wanita yang ia cintai mendapat perlakuan buruk dari Yuna.
Basma anakku, maafkan ayahmu ini.
“ Ikut denganku untuk menemui mereka. Siapkan hatimu, bagaimana pun aku
akan menjemput Basma dan membawanya kembali.”
Yuna tidak menjawab. Hanya membisu saat melihat suaminya melangkah
keluar dari kamar.
Pintu tertutup, Adiguna limbung mundur ke belakang. Berpegang pada handle
pintu. Saat ia melihat seseorang yang sedang terduduk di lantai sambil
menundukan kepala.
“ Bian, sejak kapan kau di sini?”
Tidak tahu bagaimana menerjemaskan perasaan Bian sekarang. Adiguna
melihat sudut mata anaknya basah dengan bola mata yag memerah.
Bersambung...
Note...
Terimakasih ya yang sudah sabar menunggu. Karena banyak hal aku memang tidak punya banyak waktu menulis sekarang. Pola hidupku berubah semenjak beberapa bulan ini. Waktu menulisku berkurang nyaris setiap harinya. Doakan semua lancar ya, jadi aku bisa menamatkan Key dan Bian segera supaya bisa fokus di LAS.
Yang nanya kapan update LAS, sabar ya.
Terimakasih banyak buat kalian yang selalu mendukung dan memahami diriku ini.
Sayang kalian semua.