Key And Bian

Key And Bian
Kebenaran Untuk Bian



Dengan wajah cemas Bian membantu ibunya duduk di sofa. Dia mengusap


kepala dan rambut ibunya.


“ Ibu baik-baik saja?”


Yuna menganggukan kepala lalu menyandarkan tubuh terkulai. Rasanya


hatinya menjadi menciut takut setelah mendengar perkataan Key. Dia anak dari


orangtua angkat anak Jesika yang meninggal kecelakaan karena orang-orang suruhannya.


Beberapa lama dia merasa dihantui ketakutan, namun berhasil meyakinkan diri


kalau itu juga bukan salahnya.


“ Kenapa Ibu memanggil Key?” Nada bicara Bian sudah menunjukan rasa


tidak suka. Bibi pelayan datang membawa segelas air hangat. Bian mengambilnya


lalu dibantunya ibunya minum. “ Masalah pemberitaan kan sudah selesai, kalau


seperti ini malah akan semakin runyam bu. Apalagi kalian sampai bertengkar


tadi.”


Yang dilihat Bian hanya sisa pertengkaran, dengan Key yang berteriak keras pada ibunya.


“ Maaf,ibu berfikir pendek.” Sambil lemas hanya bisa mengatakan maaf,


takut Bian akan mengintrograsinyaa lebih lanjut.


“ Kita bicara lagi nanti, aku akan mengantar Key.”


“ Bi, bisakah kau putus saja dengan gadis itu.”


“Ibu!” bangun dari samping Yuna dengan kesal. “ Sudah kubilang dukung


aku bu, sekarang aku saja sedang pusing. Ahh!” berdecak kesal. “ Ibu malah


semakin membuat semuanya menjadi sulit begini.”


Ibu belum tahu masalah anak wanita itu lagi. Ah, membuat kesal saja.


“ Bibi, tolong jaga ibu.”


“ Ia Mas.”


“ Bian jangan pergi.”


“ Ibu, aku mau meluruskan masalahku degan Key, aku akan minta maaf


padanya atas nama ibu, tapi ibu juga harus minta maaf padanya nanti.”


Yuna memalingkan wajah tidak menjawab, membuat hati anaknya


kembali menggeliat tidak senang.


“ Ibu aku mohon.”


“ Baiklah, ibu akan menuruti semua yang kau inginkan.”


Setelah mendengar itu Bian melangkah pergi meninggalkan Yuna.


***


Sementara itu di luar rumah.


“ Key pulang dengan Kak Anjas saja.” Key melihat ke arah pintu rumah,


belum muncul siapa-siapa. Sudah beberapa waktu dia berdebat dengan Anjas.


Laki-laki ini bersikeras meminta Key menunggu Bian. “ Kak Bian sedang


menenangkan Nyonya Yuna,” ujar Key pelan.


“ Key, apa Bian sudah tahu?” Tentang terlibatnya nyonya Yuna dengan


kematian orangtuamu begitu yang ingin ditanyakan Anjas, tapi dia tidak tega


mengatakannya. Key menjawab dengan gelengan kepala.


Tadi saja saat Kak Bian memanggilnya dengan intonasi yang tinggi sudah


membuat Key berdetak kaget, apalagi saat hanya melewatinya dengan pandangan mata


dan menghampiri ibunya. Ah, ntahlah, dia pun akan sama seperti Kak Anjas tidak


akan berani mengatakan kebenaran, karena takut Kak Bian menolak tanpa mencari


tahu kebenaran yang sebenarnya.


“ Ayo kita pergi sekarang Kak, aku nggak mau bertemu Kak Bian dulu.”


Dia bisa membunuhku kalau aku pergi denganmu sekarang


“ Bian mengambil kunci mobilku.”


Alasan tidak masuk akal apa yang aku katakan ini.


Key yang tidak percaya berjalan mendekat ke mobil. Melihat gantungan


kunci, tidak ada. Serius menatap Anjas mencari kejujuran, laki-laki itu


mengalihkan pandangannya. Bersamaan dengan itu sebuah suara terdengar.


“ Key.”


Gadis itu menoleh, seraut wajah yang ia rindukan ada di  hadapannya. Padahal ingin sekali Key


menyentuh tangan itu, namun ia menahan tangan dan hatinya untuk mendekat. Tapi


tidak dengan Bian, laki-laki itu meraih tangannya tanpa ragu.


“ Kau baik-baik saja kan? Maaf kalau kata-kata ibuku membuatmu


tersinggung. Tapi aku mohon, jangan berteriak sekeras itu pada ibuku.”


Eh, Anjas yang melihat sudah panik, karena kesalahpahaman Bian.


“ Ayo aku antar pulang.”


Key menyentuh punggung tangan Bian yang menggengam tangannya, menjauhkan


tangannya. Membuat Bian terkejut dan langsung berubah antara marah, tidak


senang sekaligus kecewa dan sedih karena Key melepaskan tangannya.


“ Key pulang dengan Kak Anjas saja.”


“ Key!”


“ Bi, biar aku yang antar Key.” Bian memberi sorot mata kesal karena


Anjas ikut campur.


Apa! Apa! Anjas mulai tidak bisa menahan diri ingin mengatakan alasan


Key bersikap seperti itu. Dia kemari membawa rasa marah karena perbuatan Nyonya


malah disalahkan begitu.


“ Kak Bian, aku datang bukan karena pemberitaan di media. Aku juga


datang bukan karena Nyonya Yuna yang memanggilkku. Aku juga tidak datang karena


membicarakan hubunganku dengan Kak Bian Hari ini aku menemui Nyonya Yuna karena


Basma.”


Bian mundur dua langkah menjauhi Key. Menelan ludah menahan geram yang


naik sampai ke kepala. Anjas langsung menarik tangan Key menyembunyikan gadis


itu di belakang punggungnya.


“ Hentikan Bi! Apa pun yang ingin kau katakan. Atau kau akan menyesal


nanti.”


Anjas melihat sorot mata Bian yang sudah ingin membakar habis tubuhnya.


Nafas naik turun, sementara tangan terkepal. Anjas pun melihat bibir Bian yang


bergumam tanpa suara, apa pun yang ia katakan cuma dia yang tahu.


“ Aku yang akan mengantar Key, dinginkan kepalamu dulu.”


Anjas menahan tangan Key yang mau berjalan ke depannya. Saat ini emosi


Bian sedang memanas, alih-alih menyelesaikan masalah.Dia bisa menduga,hubungan


kedua orang di hadapannya ini bisa kandas begitu saja. Key yang membicarakan Basma pada Nyonya Yuna, bagi Bian itu sudah seperti Key menabur garam pada luka ibu yang ia sayangi.


" Minggir Kak, aku mau bicara pada Key."


“ Sudah kubilang berhenti! Kau yang akan menyesalinya  nanti!” Sudah menggunakan mode kakak dengan


intonasi suara meninggi.


Saat situasi sedang memanas sebuah mobil menepi, milik Tuan Adiguna.


Tepat di depan pintu masuk. Laki-laki itu tidak melihat sedang terjadi


ketegangan tidak jauh dari mobilnya terparkir. Tergesa keluar dari mobil.


Bian, Anjas dan Key bisa melihat Tuan Adiguna yang terlihat terburu-buru


dan marah.  Ditangannya tergengam


gulungan kertas. Kepala pelayan yang menyambutnya terlihat membisikan sesuatu.


Membuat Adiguna menghentikan langkah dan melihat ke arah yang ditunjuk kepala


pelayan. Sebentar dia berhenti. Lalu masuk ke dalam rumah.


“ Aku akan mengantar Key. Bicaralah dengan ketua dan nyonya.”


Bian melihat ke arah Anjas, seperti ingin menembus tubuh itu dan melihat


Key. Gadis itu masih bersembunyi ntah dengan ekspresi seperti apa. Dia ingin


menyelesaikan semua masalahnya dengan Key, tapi melihat ayahnya pulang di waktu


yang bersamaan saat ibunya bertemu Key dia jadi mengkhawatirkan ibunya.


“ Pulanglah dengan Kak Anjas Key,kita bicara lagi nanti.” Suaranya sudah melembut.


Key tidak menjawab, karena lagi-lagi Anjas menahan tangannya.


“ Pergilah, aku akan mengantar Key.” Anjas yang memberi jawaban.


Saat Bian merasa Key tidak akan bicara lagi dia berbalik dan berjalan


meninggalkan keduanya. Masih menyimpan kemarahan karena kata-kata Key tadi sebenarnya. Dia menoleh saat Key akhirnya muncul dari balik punggung Anjas.


Basma, Basma dan Basma lagi.


Dia menyebut nama itu dengan tingkat kebencian yang meninggi.


***


Saat Bian berjalan mendekat ke pintu kamar ibunya dia sudah mendengar


suara keras ayahnya. Bibi dan kepala pelayan yang berdiri di dekat pintu


tergagap saat melihat Bian. Bian menggelengkan kepala dan mengisyaratkan


keduanya untuk diam dan pergi.


“ Mas Bian, Tuan…” Kepala pelayan ingin memberi sedikit penjelasan.


Namun Bian tidak mau mendengarkan dan mengusirnya pergi.Dengan langkah berat


akhirnya kedua pelayan itu berjalan menjauh dari kamar Yuna.


Bian akan melangkah masuk, dia tidak mau melihat ibunya terpojok dengan


semua kata-kata keras ayahnya. Apalagi saat ini,ketika ibunya tahu kemunculan anak


wanita itu. Pintu yang memang tidak tertutup. Membuat Bian bisa mendengar pertengkaran dengan jelas.


“ Apa kau sudah gila Yuna, seharusnya kau memohon pengampunan anak-anak


itu. Jesi ataupun orangtua key meninggal karenamu!” Suara Adiguna gemetar


menahan marah.


Bian yang sudah memegang handle pintu terdiam, kata-kata ayahnya jelas


terdengar di telinganya. Orangtua Key. Jantungnya tiba-tiba berdegub keras. Dia


merapat ke tembok menyandarkan tubuh. Mendengarkan apa pun yang sedang


orangtuanya katakan.


Orangtua Key dan wanita itu meninggal karena ibu. Tidak mungkin.


Terdengar suara kertas berserak.


“ Bagaimana bisa kau menganiaya anak yang tidak bersalah.”


“ Dia anak wanita itu, dia bersalah.”


“ Lalu, apa kau juga mau Key menyalahkan Bian karena dia anakmu.


Laki-laki yang yang dia cintai adalah anak dari wanita yang sudah menyebabkan


kematian orangtuanya.”


“ Tidak, tidak. Bian sama sekali tidak bersalah.”


" Lalu apa salah Basma padamu, seperti Bian yang tidak menanggung dosa-dosamu, begitu pula Basma." Masih dengan suara gemetar menahan marah. “ Seharusnya kita memohon pada anak-anak itu Yuna, kita yang sudah


membuat Basma dan Key menderita kehilangan orangtua. Kalau perlu berlutut


memohon ampun pada mereka. Kenapa kau malah bersikap seperti ini. Aku berusaha


memaklumi semua hal buruk yang sudah kau lakukan,tapi kenapa kau tidak bisa


berubah sedikit saja.”


Yuna hanya bisa menangis pelan.


“ Kau pikir apa yang akan Bian pikirkan, kalau tahu ibunya sejahat ini.”


“ Jangan, jangan,aku mohon jangan katakan pada Bian. Aku akan memohon


maaf pada Key tapi aku mohon jangan katakana pada Bian.”


Yuna mungkin sedikit merasa bersalah pada kematian Jesika, namun pada kematian orangtua Key, dia tidak punya alasan, sejauh ini ia mencari pembelaan tetap rasa bersalah itu menghantui.


Lama mereka terduduk dalam diam, Yuna masih menyisa isak. Sementara


Adiguna menatap lembaran foto-foto berserak dari CCTV di mall. Melihat


bagaimana anak dari wanita yang ia cintai mendapat perlakuan buruk dari Yuna.


Basma anakku, maafkan ayahmu ini.


“ Ikut denganku untuk menemui mereka. Siapkan hatimu, bagaimana pun aku


akan menjemput Basma dan membawanya kembali.”


Yuna tidak menjawab. Hanya membisu saat melihat suaminya melangkah


keluar dari kamar.


Pintu tertutup, Adiguna limbung mundur ke belakang. Berpegang pada handle


pintu. Saat ia melihat seseorang yang sedang terduduk di lantai sambil


menundukan kepala.


“ Bian, sejak kapan kau di sini?”


Tidak tahu bagaimana menerjemaskan perasaan Bian sekarang. Adiguna


melihat sudut mata anaknya basah dengan bola mata yag memerah.


Bersambung...


Note...


Terimakasih ya yang sudah sabar menunggu. Karena banyak hal aku memang tidak punya banyak waktu menulis sekarang. Pola hidupku berubah semenjak beberapa bulan ini. Waktu menulisku berkurang nyaris setiap harinya. Doakan semua lancar ya, jadi aku bisa menamatkan Key dan Bian segera supaya bisa fokus di LAS.


Yang nanya kapan update LAS, sabar ya.


Terimakasih banyak buat kalian yang selalu mendukung dan memahami diriku ini.


Sayang kalian semua.