Key And Bian

Key And Bian
Terjawab Sudah



Jika kami saling menguatkan dan menghadapinya bersama semua pasti baik-baik saja.


Key dan Bian mengukir kalimat itu bersamaan di hati mereka.


Bian menarik jemari Key, mengaitkan kegelisahan mereka.  Sambil menyusuri jalanan setapak berbatu.


“ Maaf ya Key.” Menatap kebun sayuran yang mulai siap panen. Terhampar


di kanan dan kiri jalan yang mereka lalui. Angin semilir yang mencoba


menenangkan gelisah. “ Bibi pasti sudah melihat berita pertunanganku dengan


Amanda, kenapa reaksinya begitu.” Bian coba melarutkan kegelisahannya,


menunjukan kalau dia baik-baik saja. " Akubisa memahaminya."


Dia akan bertahan, karena ini pilihan yang sudah dia ambil.


“ Kak Bian duduk di sana yuk.” Key belum menjawab, menarik tangan Bian


mendekati gemericik air bening yang mengalir. Sungai kecil yang airnya meliuk-liuk


tanpa henti bergerak menuju tempat yang lebih rendah.


Mereka sudah duduk  sambil


menenggelamkan kaki ke dalam  air sungai.


“ Key akan menjelaskan nanti pada bibi Kak.” Sambil memainkan kakinya di


air yang sejuk. “ Maaf ya Kak, Kak Bian jangan terluka ya karena bibi.”


Walaupun ini pertama kalinya Bian mendapat perlakukan seperti itu, namun


dia berusaha berfikir logis. Memang posisinya seperti bomerang yang bisa


menghancurkan Key kapan pun. Jadi, dia akan berfikir, bahwa sikap bibi


memanglah wajar.


“ Airnya segar ya Kak?” Lagi-lagi Key berusaha mengalihkan situasi, melihat


wajah sedih dan kecewa Bian yang belum menguap dari gurat senyum Bian


membuatnya merasa bersalah.


“ Aku baru pertama kali datang ke tempat seperti ini.” Menjejakan kaki


sampai kakinya beradu dengan milik Key. Lalu mereka tertawa bersama.


“ Dulu, Key dan Basma suka mencuci sepedah di sungai ini.” Mengambil air


lalu melemparkannya ke udara. “ Kalau pagi, dulu Key mengantarkan susu murni


dengan sepedah. Hasil peternakan lokal di daerah ini Kak. Key keliling


menggunakan sepedah dari rumah ke rumah. Hehe.” Bukan tertawa bahagia yang di


rasakan Bian. Namun terselip kebanggaan bahwa dia bisa bertahan disituasi sulit


itu yang membuat gadis di depannya ini tertawa. “ Hari-hari yang Key lalui bersama Basma, setelah kematian orangtua kami


tidak mudah Kak.” Bian meraih kepala Key lalu menyandarkannya di bahunya.


“ Teruskan ceritamu.” Saat merasa Key mau mulai menahan diri. “ Bukankah


aku sudah bilang, jangan hanya berbagi tawa denganku.”


“ Terimakasih ya Kak.”


“ Aku yang harusnya berterimakasih Key, kau membuatku punya impianku


sendiri sekarang.”


Bian menatap langit yag kebiruan, apa perasaan seperti ini dulu yang


dirasakaan ayahnya. Cinta, ingin memiliki, rasa melindungi. Bahkan dia ikut


merasakaan setiap jejak ketegaran bercampur kesedihan dalam setiap cerita Key.


Ah, namun ayah kalah dan menyerah. Hah! Kalua dia tidak menyerah apa aku akan


lahir ke dunia ini. (Rumitnya hidupmu Bi)


Key melanjutkan kisah perjuangannya, bersandar di bahu Bian.


“ Selain mengantar susu pagi hari, kalau pulang sekolah Key juga


membantu di kebun sayuran kadaang-kadang.” Mendongak, melihat wajah Bian.


“ Apa yang kau lakukan di kebun?”


“ Haha, bekerja di kebun tidak seberat itu kok Kak, jadi jangan memasang


wajah seperti itu.” Kembali menyandarkan kepala. “ Key cuma bantu-bantu kalau


lagi panen saja. Ikut memetik hasil panen sama ibu-ibu di daerah sekitar sini


juga.”


Apa yang sudah di lewati tubuh kecil mungil ini ya Tuhan.


Bian meraih bahu Key. Mencium kepala Key.


“ Kau sudah bekerja keras Key.” Menghadiahkan satu kecupan di kepala


Key. “ Terimakasih sudah hadir di hidupku. Kau menunjukan banyak hal di dunia yang selama ini tidak aku ketahui.”


Hidupku yang hampa ini.


“ Kak Bian juga sudah bekerja keras. Ayo kita hadapi apa pun ke depan


bersama Kak. Key sudah meraih tangan Kak Bian, jadi jangan bebankan semua hal


di pundak Kak Bian.”


Kenapa kau masih bisa menghiburku begini Key.


Bibi, Amanda, orangtua Kak Bian, semua seperti tiang-tiang besar yang menghalangi hubungan Key ke depan. Tapi saat dia menoleh dan melihat Bian,dia percaya, laki-laki itu akan memperjuangkan hubungan yang sudah mereka mulai.


“ Ah, kak Bian bawa hp nggak.” Aura sendu berubah, awan mendung


bergeser. Pemandangan indah sayang kalau tidak diabadikan. “ Kita foto yuk, pemandangan di sini kan bagus. Hpku ada di tas.”


Bian meraih hp di saku celananya. Menyodorkan pada Key.


“ Foto sendiri-sendiri dulu ya.”


“ Kenapa foto sendiri-sendiri. Sini,duduk.” Menepuk batu di sebelahnya


tempat Key tadi duduk.


Key mundur masuk ke dalam air, ke tengah sungai. Berdiri siaga mengambil gambar.


“ Hehe, ayo bergaya Kak.” Bian malah melengos, menatap kejauhan. “ Ya


Tuhan, pose begitu Kak Bian malah kelihatan ganteng banget.” Cekrik-cekrik


terus sampai ntah berapa kali jepteran foto.


Bian bangun dari duduk, merebut hp di tangan Key.


Wajah Kak Bian Malu.


“ Kenapa? Kak Bian malu ya? Memang nggak pernah  dengar orang bilang Kak Bian ganteng.” Mustahil dengan wajahnya itu pikir Key.


Cih.


“ Mendenggarmu yang mengatakannya kan lain ceritaanya.” Memalingkan


wajah malu.


Ya Tuhan, Kak Bian bisa menunjukan ekpresi begitu juga. Lucu banget si.


Mereka mengambil banyak foto berdua di temani gemericik air mengalir di


sela-sela jari kaki.


***


Key memohon namun bibi menarik selimutnya.


“ Bibi sepertinya kurang enak badan mbak. Gak papa, kita saja yang ke


makam.” Selama Key pergi, banyak yang dibicarakan bibi tadi. Kekhawatirannya pada masa depan Key.


“ Bibi, Key akan jelaskan semuanya nanti. Tapi Key mohon, temui Kak Bian


sekarang.” Basma merasa serba salah.  Bibi tidak bergeming.


“ Sudah mbak.” Mendorong tubuh Key keluar kamar.


“ Tapi Bas.”


Akhirnya hanya mereka yang pergi ke makam. Berjalan kaki menaiki bukit


kecil. Pak Wahyu sedang mencari tempat parkir tertinggal di belakang. Basma


berdiri di samping Bian sambil membawa botol air dan bunga.


“ Kak Bian, Bibi tidak suka padaamu”  dengan suara pelan. Walaupun Basma sedang menghujam


titik lemah Bian, namun dia juga terlihat tidak menikmati. Karena kesedihan


dilihatnya juga di ujung mata Key karena sikap bibi. Bibi tidak keluar dari


kamar dan memakai alasan kurang enak badan. Padahal biasanya mereka semua akan


berangkat ke makan. Walaupun sedih, namun sepanjang perjalanan mereka akan


bercerita dan tertawa tentang setahun apa yang mereka lakukan.Ditemani bocah-bocah


yang berlarian tak tahu jalan berbukit.


Area pemakaman masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki, walaupun cukup


memakan waktu.


“ Jangaan sedih Kak.” Bian menoleh pada Basma.


“ Aku tidak tertawa di atas penderitaanmu Kak, karena itu akan membuat mbak Key


sedih.” Pembicaraan bisik-bisik mereka terhenti saat sampai di pintu makam.


Mereka mengikuti langkah kaki Key menuju sebuah makam berderet tiga. Key


sudah terduduk di samping makam. Sambil membersihkan rumput dan dedaunan yang


jatuh di atas makan. Kerudung yang ia pakai menjuntai menyentuh gundukan tanah


itu. Dalam diam mereka membersihkan makam. Bian menatap nisan makam yang


ketiga.


Kenapa ada tiga makam, sepertinya ini perempuan juga. Apa Key punya saudara lain.Bian sedang berspekulasi. Ikut melakukan seperti yang sedag Key kerjakan.


“ Ini makan siapa Key?” memungut selembar daun kering, membuangnya menjauh.


Kalau yang berjajar dua bisa dipastikan ini adalah makan kedua orangtua


Key. Nama laki-laki dan perempuan tertulis dengan jelas. Beserta kelahiran dan


tanggal kematian di hari yang sama. Tapi yang satunya.


“ Teman ibu Kak.”


Pak Wahyu berjalan mendekat. Semua menoleh ke arahnya.


“ Maaf Mas lama, saya nitip mobilnya di deket rumah penduduk tadi.”


Bian tidak menjawab hanya menoleh sekilas. Lalu kembali mengfokuskan


perhatian pada Key .


“ Waktu ibu sama ayah masih ada, kami sudah sering diajak ke sini juga.


Beliau teman ibu. Teman SMU.” Ikatan yang membuat Key merasa iri. Bibi yang


merawat mereka pun statusnya bukankalah bibi sedarah. Bibi adalah teman SMU ibu.


Tiga orang remaja yang mengikat persahabatan tanpa batas usia. “ Dia sudah


tidak punya keluarga, jadi cuma ibu dan bibi Salsa keluarganya.” Key menatap


Pak Wakyu yang mendekati makam ketiga.


“ Sini Bas.” Key menarik tubuh Basma mendekat. “ Ibukan pernah bilang,


kalau Bas yang kirim doa khusus buat bibi Sarah, doanya lebih di dengar Allah, biar Allah mengampuni bibi dan


mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.”


Itu hanya karangan ibu sewaktu Basma kecil. Ibu bilang doa anak kecil lebih mudah sampai ke langit, karena kanak-kanak itu dunia polos tanpa cela. Dan akhirnya menjadi kebiasaan sampai Basma dewasa. Basma selalu duduk di samping makam memanjatkan doa khusus untuk bibi. Semoga tenang di sana.


Mereka larut dalam doa dan isak. Key mengusap punggung Basma, sementara Bian menepuk punggung Key.  Saling menguatkan.


Satu orang yang terlihat limbung saat melihat nisan bertuliskan nama May


Sarah di sana. Wajah Pak Wahyu pias. Nama di batu nisan itu sama persis dengan


nama asli wanita itu. Dia menatap Basma yang sedang kusyu berdoa. Dan Bian secara


bergantian. Hatinya semakin merasa tersengat dengan benang merah yang semakin


terjalin ini.


“ Apa bibi bukan bibi kandungmu Key.” Bian bertanya setelah doa panjang


mereka selesai.


“ Ia, bukan Kak. Mereka teman SMU.”


Cukup lama mereka menghabiskan waktu di depan makam. Basma bicara


tentang kesehariannya, Key menepuk bahu Basma bangga.


" Bas sudah jadi anak luar biasa Ayah, Ibu, Bibi. Key akan selalu menjaga Basma."


Bian beberapa kali melihat ke Arah Basma namun dengan pandangan melunak. Dua orang yang tumbuh dengan hebat walaupun kehilangaan penopang mereka.


Pak Wahyu menyentuh makam May Sarah sambil tertunduk dalam.


Maafkan saya Nyonya, seandainya hari itu saya tidak terlambat.


***


“ Maaf Mas saya turunnya nanti boleh?” Pak Wahyu terlihat ragu. Dia lalu


menunjuk pemandangan. Saat melihat semua mata menunggu kalimatnya selanjutnya. “ Saya mau lihat-lihat pemandangan sebentar.” Menunjuk hamparan dataran tinggi yang menghijau.


“ Ya sudah.”


“ Ini kunci mobilnya Mas, saya nanti jalan kaki saja.” Bian meraih kunci di tangan Pak Wahyu. Lalu berjalan beriringan dengan  Key.


“ Mas Basma,hati-hati turunnya, tadi saya lihat banyak batu-batu di


jalanan.” Basma mengeryit mendengar perkataan pak Wahyu. Tapi ia mengganguk


saja. Berbalik mengikuti langkah Key dan Bian yang sudah menjauh.


Pak Wahyu terduduk lagi di dekat makam May Sarah.


Bayangan wajah ramah yang memulai debut karirnya sebagai model dengan nama Jesika. Wanita yang sudah membuat Tuan Adiguna menundukan kepala jatuh cinta. Dia terbaring di hadapannya, bahkan tidak dikenali oleh putra kandungnya sendiri.


" Jadi inilah alasannya bibi Mbak Key sekaget itu mendengar nama Adiguna Group." Semua bukti sudah teramat jelas.Kemiripin Basma yang tidak bisa terbantahkan saja sudah membuatnya curiga.


Dia mengambil hp di saku bajunya. Melaporkan semuanya.


" Kenapa di sini tidak ada sinyal sama sekali."


Bersambung


Terimakasih semua  dukungan kalian para pembaca setia ^_^