
Kamar pribadi Adiguna.
Ayah dan anak yang telah terpisah lama, bukan dengan jarak. Keduanya
masih sering bertatap muka, namun jurang di hati Bian lah yang membuat jauh
hubungan keduanya.
Sudah belasan tahun Bian tidak pernah memasuki kamar ini, semenjak dia
tahu arti untuk membenci. Sekarang, dia duduk di sofa. Terdiam kaku dengan
pikiran menerawang jauh. Melewati batas waktu. Menemukan masa lalu, wajah
samar-samar wanita yang ia benci karena naluri menjaga ibunya. Lalu wajah
ibunya muncul, tersenyum memeluknya sambil menyentuh kepalanya.
Ibu cuma punya kamu Bian, kamu juga cuma punya ibu. Ibu akan selalu ada
untuk mencintaimu, begitu pula Bian anakku yang akan selalu ada untuk ibu.
Begitulah dia tumbuh dengan menganggap ibunya adalah segalanya.
Wanita lemah yang terluka karena tidak dicintai suaminya. Wanita yang
menangis karena kebahagiaannya telah dihancurkan wanita lain. Yang
berdiri dengan tersenyum sambil menggandeng tangan ayahnya.
Dia membuat perisai benci untuk melindungi ibunya, sekalipun dari
ayahnya sendiri.
“ Minum air hangatnya Mas.”
Kepala pelayan berdiri membawa segelas air hangat dengan raut cemas. Ia
melihat semua dari kejauhan, saat anak laki-laki yang ia asuh sampai menginjak
dewasa itu terduduk lemas sambil bersandar di dinding. Menangis tanpa suara
sambil mengepalkan tangan. Dia sendiri tidak mendengar pembicaraan apa yang terjadi
di kamar Nyonya Yuna. Namun saat melihat ekspresi Bian yang tidak berdaya, apa
pun yang ia dengar telah mengiris
hatinya.
Bian meraih gelas yang disodorkan padanya.
“ Keluarlah!” Adiguna memberikan isyarat tangannya supaya kepala pelayan
keluar. Karena hari ini dia akan mulai sedikit demi sedikit menimbun jurang
yang sudah dibangun oleh Bian. Adiguna ingin meraih tangan anaknya dan
mengatakan bahwa ia menyayangi Bian.
“ Tuan bagaimana kalau saya mengantar Mas Bian.” Melihat tatapan sendu
Bian, saat ia meneguk air dalam gelas yang ia pegang. Caranya menarik nafas,
kepala pelayan merasa kondisi Bian saat ini belum siap untuk mendapat pukulan
kenyataan lagi. Apa yang ia dengar di kamar Nyonya Yuna baginya sudah cukup.
“ Tidak Pak, selama ini aku sudah menahan diriku, karena Bian sudah
tahu, maka sebaiknya dia tahu semuanya.”
“ Tapi Tuan.”
Kepala pelayan melihat ke arah Bian lagi dengan perasaan iba. Bian meletakan
gelasnya, meneguk hampir separuh air yang ia bawa. Masih menatap kosong di
kejauhan. Dia merasa kasihan. Namun, mungkin benar yang Tuan Adiguna katakan.
Mas Bian memang harus bersiap untuk mendengar semua kenyataan, sesakit apa pun
perasaannya sekarang. Akhirnya dia
menundukan kepala lalu keluar dari ruangan, dengan keheningan mengiringi.
Hanya suara nafas keduanya yang terdengar.
Adiguna melihat ke arah putranya lagi. Dia pasti tahu, hati Bian
sekarang sedang diliputi kepiluan. Hal yang paling ia percayai di dunia ini
tiba-tiba mengkhianatinya. Kemarahaan yang bercampur ketidak percayaan, namun
walaupun berat Bian tidak bisa pura-pura tidak mengakui.Dia mendengar jelas
semuanya.
“ Maafkan ayah Bian, karena semua kesalahan ini berawal dari kesalahan
ayah.” Pelan-pelan membuka suara. Adiguna melihat lurus wajah anaknya, yang
masih menatap ke tempat lain.Bukan ke arah matanya.
Bian menoleh.
“ Kenapa? Kenapa Ayah tidak pernah mengatakannya, tentang apa yang ibu
lakukan?” Suara Bian serak menahan sesaknya.
Ibu penyebab kematian wanita itu dan orangtua Key adalah hal fakta paling mengerikan. Selain kenyataan
Basma adalah adiknya. Bian merasa tidak akan mampu menunjukan wajahnya di
hadapan Key lagi. Apalagi yang bisa ia katakan pada gadis itu. Bahunya ia bagi
untuk bersandar tangis, namun ternyata semua tangisnya berasal darinya, dari
ibu yang melakukan semua cara untuk melindunginya.
“ Karena ayah tidak bisa mengambil satu-satunya kebahagiaanmu Nak.”
Kata-kata itu menusuk keras. “Kau yang percaya pada ibumu dan menyayanginya, kau
yang bertahan dan menjadi dewasa dengan itu, ayah tidak mau mengambilnya
darimu.”
Menyedihkan sekali rasanya mendengar langsung dari ayah yang tidak
pernah ia sayangi. Ya, Bian mengganti setiap tetesan airmata yang ibunya
alirkan dengan setitik benci pada ayahnya. Semakin ibunya menangis, ia menambah
kebencian itu. Bahkan jika tidak ada di forum resmi perusahaan semua hal
yang berhubungan dengan ayahnya akan ia
ketahui melalui Kak Anjas.
“ Katakan itu bohong, aku mohon. Ibuku tidak mungkin melakukan itu. Dia
hanya ibu yang terluka karenamu, tapi ibu tidak mungkin melakukan hal kejam
seperti itu.” Masih berusaha berpegang pada rapuhnya benang yang menghubungkan
kepercayaan dan sayangnya ia pada ibunya.
Bian masih tidak rela jika itulah kebenaran yang sesungguhnya.
Melihat anaknya Adiguna juga ingin sekali mengatakan bahwa itu hanyalah
sebuah dusta. Bahwa semua hal buruk yang Yuna lakukan tidaklah benar terjadi.
benar adanya.
“ Katakan kalau semua itu bohong Yah. Semua yang aku dengar. Ibu tidak
mungkin melakukannya, ibu hanya marah padamu karena kau mencintai wanita lain,
tapi dia tidak akan mungkin melakukan…” Suaranya bergetar hebat. Tetesan
airmata tidak berdaya sudah tidak bisa dia bendung. Dia tidak punya keberanian
melanjutkan kata-katanya. Tidak punya nyali menyebut ibunya dengan kata-kata
itu.
Adiguna pun sama menahan sesaknya sekarang.
“ Maafkan ayahmu ini.”
Akhirnya hanya perminta maafaan itulah yang sanggup terucap dari bibir
Adiguna. Lalu keduanya sama-sama membisu, berusaha untuk menguasai gejolak hati
masing-masing.
Melintas sekali lagi bayangan wajah Key, lalu menyusul Basma di kepala
Bian.
“ Ini semua salahku.” Bian berucap lirih. “ Karena ibu takut kau
membuangku, ibu melakukan ini.” Inilah pilihan Bian. Ketimbang harus
menyalahkan ibunya, dia maju sebagai tameng.
Adiguna langsung terbangun dari duduk. Mendekat ke sofa anaknya dan
duduk di samping Bian.
“ Jangan pernah menyalahkan dirimu, ini bukan salahmu dan tidak akan
pernah menjadi kesalahanmu.” Adiguna ragu-ragu meletakan tangannya di bahu
Bian. Kapan terakhir kali dia menyentuh tubuh anaknya seperti ini. Sudah lama
sekali, sejak Bian tahu artinya membenci.
“ Karena kau tidak menyayangiku, ibu
takut kau membuangku.” Mengulang kata-kata itu lagi.
Adiguna gemetar meraih tangan Bian. Dia lega karena putranya tidak
menepis atau menarik tangannya. Pelan tangan laki-laki tua itu menyandarkan
kepala anaknya ke bahunya. Ah sudah sekian lama dia ingin melakukan ini.
Menyentuh bahu putranya sambil menenangkan kepala Bian lembut sambil mengatakan.
Percayalah nak, dulu, sekarang dan sampai kapan pun ayah menyayangimu.
“ Ini bukan kesalahanmu. Ini dosa-dosa kami sebagai orangtuamu. Kami
yang salah. Kami yang harus memohon pengampunan dari anak-anak yang tidak
bersalah itu.”
Airmata keduanya mengalir begitu saja. Dua laki-laki dewasa yang telah
terpisah lama dalam kebencian dan dendam masa lalu.
“ Apa sekarang ayah juga membenciku, dan ingin menggantiku dengan
Basma.” Tubuh Adiguna gemetar. Sampai sejauh inilah Yuna telah meracuni pikiran
anaknya. “ Ayah kan tidak pernah penyayangiku.”
Kalau wanita itu mempunyai anak, maka kau akan kehilangan semuanya Bian.
Kau dan ibu akan menangis di sudut rumah tanpa diperdulikan orang lain. Sekarang
kau saja sudah kehilangan kasih sayang ayahmu. Ibu akan melindungimu.
Melindungimu dengan cara apa pun. Berpeganglah pada tangan ibu selamanya.
Bian teringat kata-kata itu,yang sering terucap dari bibir ibunya.
“ Ayah sayang padamu Bian.”
Bian masih mendesah saat mendengar kata asing yang disebutkan ayah
padanya. Ia mundur mengambil ruang untuk melihat reaksi wajah ayahnya lekat.
Benar, kau melupakan semua hari tentangku. Hanya ada ibu di sisiku.. Ibu memang
bersalah, tapi tetap dia yang menyayangiku.Masih tersisa ruang tidak percaya di hatinya.
“ Bohong! Ayah bahkan tidak pernah ada saat ulang tahunku, ayah bahkan
tidak pernah hadir di hari kelulusanku. Dari aku SD sampai aku selesai kuliah.”
Kau tidak pernah ada untukku, hanya ada ibu di sampingku.
Adiguna sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dengan terbata dia mengatakan semua. Tentang
kue ulang tahun yang bahkan hanya tersisa samar diingatakan Bian. Dengan detail
Adiguna bisa menyebutkan setiap bentuk cake ulang tahun Bian, semua. Saat semakin
bertambah usia semakin sederhana pilihan cakenya. Hadiah-hadiah ulangtahun, yang Bian terima dari Paman Haryo
kala itu. Masih teringat jelas diingatan Adiguna bagaimana dia memilih sendiri
cake dan hadiah-hadiah itu.
“ Saat kau lulus SD, kau berkeliling dengan kemeja biru mudamu. Kau
mencari-cari, ibumu memelukmu dan ntah membisikan apa padamu. Akhirnya aku yang ingin mendekat menahan langkahku. Kau
berhenti mencari dan pergi. Seperti pula saat kau SMP, SMA, dan kelulusanmu di
hari kuliah. Ayah ingin sekali mendatangimu saat itu Bian, namun saat itu ibumu
bahkan tidak perlu membisikan apa pun, dan kau tidak pernah melihat sekelilingmu untuk mencari ayahmu ini.
Ayah hanya bisa melihatmu dari jauh, dan memelukmu dalam doa-doa ayah nak.”
Bohong! itu semua bohong. Cake dan hadiah itu dari paman. Kau pasti mendengar dari paman tentang hari kelulusanku.
Tapi ingatan Bian yang tidak mau mengakui menggambarkan dengan jelas,
apa yang dikatakan Adiguna adalah benar adanya.
“ Kenapa ayah sebodoh itu! Kenapa ayah tidak pernah meluruskan
kebencianku!”
Kenapa kau diam saja saat aku membencimu, kenapa kau diam saja saat kau tahu ibu membohongiku.
“ Karena Yuna adalah sumber kebahagiaanmu Nak.”
Kini Bian menjatuhkan kepalanya di dada ayahnya. Ayah ia benci. ayah yang melindunginya dengan caranya.
" Maafkan aku Yah. Maaf."
Seperti itulah akhirnya, ayah dan anak itu mengatakan semuanya tanpa
tabir tipis sekali pun menutupi. Meluruskan kesalahpahaman yang sudah bertahun-tahun menyelimuti hidup mereka.
Bersambung