
Tett... suara klakson mobil
mengejutkan Key. Dia terlonjak namun langsung tersenyum senang. Tidak jauh, ia
melihat mobil milik Bian terparkir dengan kaca terbuka. Laki-laki itu
melambaikan tangannya. Key berlari mendekat.
“ Kak Bian, kenapa di sini?” Key
berdiri di balik pintu yang terbuka.
“ Masuklah. Aku merindukanmu.” Key langsung bersemu mendengarnya. Ia masuk ke
dalam mobil.
“ Kenapa tidak memberitahu kalau
Kak Bian datang, bagaimana kalau ternyata aku sudah berangkat tadi,” tanya key.
“ Aku sudah menunggu lama di sini.”
Sambil berwajah sedih. “ Tapi sepertinya kau tidak senang melihatku.”
“ Ah, tidak, bukan begitu Kak.”
Panik dan merasa bersalah sendiri Key jadinya. “ Kalau nanti Key sudah berangkat kan Kak Bian
sia-sia menunggunya.” Wajah Bian masih lesu, sambil ia merebahkan kepala di
kursi. “ Key senang Kak Bian datang.”
Tangan Bian menyentuh kepala Key. “
aku ingin memakanmu sekarang.” Kenapa kau tambah imut sekali kalau sedang panik
begitu. Itulah kenapa Bian senang sekali menggoda Key. Wajah Key yang tiba-tiba
berubah pias benar-benar sangat lucu.
“ Apa si Kak.” Memukul bahu Bian.
“ Aww, sakit.” Panik lagi, Key
buru-buru menyentuh bahu Bian yang dipukunya tadi. “ Haha.”
“ Berhenti tertawa Kak.” Sadar
kalau dia dikerjai. Memasang wajah cemberut sekarang. Bian malah semakin keras
tertawa. Dia mencium tangan Key dua kali. Dada Key berdegup kencang dibuatnya.
“ Terimakasih karena berada di
sisiku sampai hari ini.”
Mobil melaju menuju mini market,
mengambil belokan di depan. Beberapa kali Key melirik Bian yang fokus memandang ke depan. Hatinya berdesir.
Walaupun ia tidak tahu, kemana dan akan seperi apa hubungan mereka ke depannya,
namun saat ini ia sungguh-sungguh merasa bahagia. Sebentar saja, mobil sudah menepi di dekat
gerbang Grand Land.
“ Sampai sini aja ya, malas mau
putar arah.”
“ Ah, ia Kak. Gak papa, Key bisa menyebrang
jalan.” Eh kenapa Kak Bian keluar. “ Kenapa dia?” wajahnya merona saat Bian
membukakan pintu mobil untuknya. Ya ampun Kak, dalam hati Key bergumam. Aku di
perlakukan seperti di drama-drama.
“ Aku antar menyebrang.” Sudah
meraih tangan Key.
“ Gak papa Kak, aku bisa menyebrang
sendiri.”
“ Ayo.” Bian menarik tangan Key.
Gadis itu ikut berlari akhirnya. Sambil bergandengan tangan mereka menyebrang
jalan yang ramai. Sesampainya di depan mini market Bian melepaskan tangannya. “
Aku pergi dulu ya, sampai jumpa malam nanti.”
“ Ia Kak, terimakasih sudah
mengantar” mereka berpisah, Bian kembali menyebrang jalan masuk ke dalam
mobilnya. Lalu melaju kembali ke jalan raya. “ Ah, ternyata dia sengaja
menjemputku.” Gadis itu jadi merasa begitu istimewa sekarang. Ia lalu masuk ke
mini market. Hamzah sudah selesai menghitung uang ketika ia datang.
Malam ini suasana minimarket ramai.
Pembeli silih berganti datang. Key keluar dari gudang membawa troli barang saat Bian masuk. “ Selamat
datang Kak.”
“ Sedang apa?” tanyanya mendekat.
Ia meraih troli barang yang penuh. “ Mau di bawa kemana, biar kubantu.”
“ Sudah, gak papa Kak, Key bisa
sendiri.”
Bian diam, dengan wajah masam ia
memiringkan kepalanya sebal. “ Kenapa sampai sekarang kau belum terbiasa
juga.”
“ Maaf Kak, bukan begitu.” Akhirnya
diserahkan juga troli penuh barang itu ke tangan Bian. Bukan ia merasa aneh
untuk mendapatkan bantuan, namun ia sudah sangat terbiasa untuk bekerja keras
dengan tenaganya sendiri, jadi mendapati seseorang yang selalu ada di
sampingnya untuk membantunya setiap saat ia merasa canggung. “ Key hanya sudah
biasa Kak, itu saja, tidak ada maksud apa-apa.”
Bian diam, sambil mendorong troli.
Menuju rak, ia ikut membantu Key mengatur barang. Saat ada pembeli yang datang
Key akan berlari ke kasir lalu kembali lagi. Bian masih menata beberapa produk
“ Kalau tidak tahu siapa Kak Bian
pasti tidak aneh, tapi kalau tahu siapa Kak Bian pasti akan berfikir aneh.”
“ Kenapa?” masih menyusun sampo.
“ Masih bertanya juga.” Key
buru-buru membereskan beberapa produk. “ Tentu saja karena kau Bian Nugara.”
Key meletakan parfume. Ia jadi ingat sesuatu yang ingin ia tanyakan pada bian.
“ Frezze Parfume.” Key menunjuk botol parfume, tentu saja bukan merk Frezze.
Bian menunggu. “ Basma cerita kalau itu termasuk anak cabang perusahaan Adiguna
Grup.”
“ Hemm, kenapa menanyakan itu?”
sekarang Bian memilih duduk di lantai, sementara Key mengatur botol-botol
parfum. Dia memainkan botol sampo di tangannya, menunggu Key menjawab.
“ Kemarin ada orang dari Frezze
menemui Basma dan minta Basma menjadi model iklan mereka.”
Wajah Bian berubah penuh tanda
tanya. Frezze bukan brand parfume yang bisa di beli di mini market atau di
supermarket. Di indonesia ada 30 toko resmi yang menjual produk mereka. Iklan tv,
majalah mode dan katalaog produk adalah media promosi. Mereka memilih
artis-artis atau model berbakat sebagai ambassador mereka setiap bulan.
Banyak agensi model yang bahkan rela melakukan pendekatan ilegal agar model
mereka terpilih sebagai brand Frezze. Dan Basma, siapa bocah sombong itu
sampai-sampai Frezze menawarinya sebagai model ambassador.
“ Tapi Key sendiri tidak terlalu
yakin Kak. Basma juga sepertinya tidak terlalu tertarik, itu yang dia katakan
kemarin.” Key sudah selesai, troli sudah kosong, ia sekarang ikut duduk di
lantai di samping Bian. “ Basma memang jadi model butik online Kak.” Key terlonjak saat
tiba-tiba bibir Bian menyatu dengan bibirnya. Refleks ia mendorong tubuh Bian
sekuat tenaga. Laki-laki itu mengerang karena terjungkal.
“ Maaf Kak, kenapa tiba-tiba Kak Bian
begitu, key kan kaget.” Ia pun meraih tangan Bian dan membantunya duduk.
“ Tenagamu kuat sekali Key.”
“ Kenapa Kak Bian tiba-tiba mencium
bibirku.” Tanpa bicara apa-apa, Bian kembali melakukannya. Walaupun terkejut
namun Key tidak mendorong tubuh Bian lagi. Dadanya rasanya ingin meledak.
Tangan Bian menyentuh bibi Key lembut.
“ Berhenti menyebut nama adikmu.”
“ Memang Basma ke.” Lagi-lagi Bian
melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan tadi. Setelah beberapa detik ia
kembali duduk tanpa merasa bersalah sama sekali. “ Kak Bian hentikan.”
“ Apa?”
Key memukul Bian dengan keras,
tidak perduli ketika laki-laki itu mengaduh beberapa kali. “ Itu ciuman pertama
Key.”
Wajah Bian terkejut, ah seharusnya
ia sudah menduganya kan. Mendengar itu ia merasa senang. Namun wajah Key
sekarang cemberut. “ Ahh, maafkan aku
Key. Ntah kenapa setiap kali kau menyebut nama adikmu aku tetap saja merasa
cemburu.”
“ Dia adikku Kak, Basma itu adikku.”
“ Baiklah, baiklah, aku minta maaf.
Mau kita ulangi lagi.”
Wajah Key langsung merona malu. “
Apa!” Teriaknya sambil bangun, dan mendorong troli kosong menuju gudang.
Sementara Bian tertawa menyusul di belakangnya.
“ Kita ulangi ciuman pertamamu
tadi.” Sudah mendahului Key, menghalangi troli bergerak.
“ Hentikan Kak, minggir. Key mau
mengambil barang untuk dipajang di etalase.” Bian menyingkir, membiarkan troli
bergerak menuju gudang. Dia menoleh, tidak ada pelanggan di minimarket. Lalu dia
menyusul Key dan menutup pintu gudang.
Terdengar benda jatuh. “ Kak Bian hentikan.”
Tak terdengar suara apa-apa lagi. Sampai beberapa lama. Sampai mereka mendengar
suara pintu mini market di buka. Key muncul dari dalam gudang sambil merapikan
rambutnya. Tergesa menuju kasir.
“ Selamat datang.” Ia masih mengatur
nafasnya yang tiba-tiba merasa sesak. Ia melirik ke pintu gudang. Wajahnya
langsung malu tertunduk. Ntah apa yang ia lakukan tadi. Masih belum bisa
mengendalikan emosinya menghitung belanjaan pelanggan. Sementara Bian masih
duduk di lantai, wajahnya terlihat sangat
senang.
BERSAMBUNG...........