Key And Bian

Key And Bian
Ciuman Pertama



Tett... suara klakson mobil


mengejutkan Key. Dia terlonjak namun langsung tersenyum senang. Tidak jauh, ia


melihat mobil milik Bian terparkir dengan kaca terbuka. Laki-laki itu


melambaikan tangannya. Key berlari mendekat.


“ Kak Bian, kenapa di sini?” Key


berdiri di balik pintu yang terbuka.


“ Masuklah. Aku merindukanmu.”  Key langsung bersemu mendengarnya. Ia masuk ke


dalam mobil.


“ Kenapa tidak memberitahu kalau


Kak Bian datang, bagaimana kalau ternyata aku sudah berangkat tadi,” tanya key.


“ Aku sudah menunggu lama di sini.”


Sambil berwajah sedih. “ Tapi sepertinya kau tidak senang melihatku.”


“ Ah, tidak, bukan begitu Kak.”


Panik dan merasa bersalah sendiri Key jadinya. “  Kalau nanti Key sudah berangkat kan Kak Bian


sia-sia menunggunya.” Wajah Bian masih lesu, sambil ia merebahkan kepala di


kursi. “ Key senang Kak Bian datang.”


Tangan Bian menyentuh kepala Key. “


aku ingin memakanmu sekarang.” Kenapa kau tambah imut sekali kalau sedang panik


begitu. Itulah kenapa Bian senang sekali menggoda Key. Wajah Key yang tiba-tiba


berubah pias benar-benar sangat lucu.


“ Apa si Kak.” Memukul bahu Bian.


“ Aww, sakit.” Panik lagi, Key


buru-buru menyentuh bahu Bian yang dipukunya tadi. “ Haha.”


“ Berhenti tertawa Kak.” Sadar


kalau dia dikerjai. Memasang wajah cemberut sekarang. Bian malah semakin keras


tertawa. Dia mencium tangan Key dua kali. Dada Key berdegup kencang dibuatnya.


“ Terimakasih karena berada di


sisiku sampai hari ini.”


Mobil melaju menuju mini market,


mengambil belokan di depan. Beberapa kali Key melirik Bian yang  fokus memandang ke depan. Hatinya berdesir.


Walaupun ia tidak tahu, kemana dan akan seperi apa hubungan mereka ke depannya,


namun saat ini ia sungguh-sungguh merasa bahagia.  Sebentar saja, mobil sudah menepi di dekat


gerbang Grand Land.


“ Sampai sini aja ya, malas mau


putar arah.”


“ Ah, ia Kak. Gak papa, Key bisa menyebrang


jalan.” Eh kenapa Kak Bian keluar. “ Kenapa dia?” wajahnya merona saat Bian


membukakan pintu mobil untuknya. Ya ampun Kak, dalam hati Key bergumam. Aku di


perlakukan seperti di drama-drama.


“ Aku antar menyebrang.” Sudah


meraih tangan Key.


“ Gak papa Kak, aku bisa menyebrang


sendiri.”


“ Ayo.” Bian menarik tangan Key.


Gadis itu ikut berlari akhirnya. Sambil bergandengan tangan mereka menyebrang


jalan yang ramai. Sesampainya di depan mini market Bian melepaskan tangannya. “


Aku pergi dulu ya, sampai jumpa malam nanti.”


“ Ia Kak, terimakasih sudah


mengantar” mereka berpisah, Bian kembali menyebrang jalan masuk ke dalam


mobilnya. Lalu melaju kembali ke jalan raya. “ Ah, ternyata dia sengaja


menjemputku.” Gadis itu jadi merasa begitu istimewa sekarang. Ia lalu masuk ke


mini market. Hamzah sudah selesai menghitung uang ketika ia datang.


 


Malam ini suasana minimarket ramai.


Pembeli silih berganti datang. Key keluar dari gudang membawa  troli barang saat Bian masuk. “ Selamat


datang Kak.”


“ Sedang apa?” tanyanya mendekat.


Ia meraih troli barang yang penuh. “ Mau di bawa kemana, biar kubantu.”


“ Sudah, gak papa Kak, Key bisa


sendiri.”


Bian diam, dengan wajah masam ia


memiringkan kepalanya sebal. “ Kenapa sampai sekarang kau belum terbiasa


juga.”


“ Maaf Kak, bukan begitu.” Akhirnya


diserahkan juga troli penuh barang itu ke tangan Bian. Bukan ia merasa aneh


untuk mendapatkan bantuan, namun ia sudah sangat terbiasa untuk bekerja keras


dengan tenaganya sendiri, jadi mendapati seseorang yang selalu ada di


sampingnya untuk membantunya setiap saat ia merasa canggung. “ Key hanya sudah


biasa Kak, itu saja, tidak ada maksud apa-apa.”


Bian diam, sambil mendorong troli.


Menuju rak, ia ikut membantu Key mengatur barang. Saat ada pembeli yang datang


Key akan berlari ke kasir lalu kembali lagi. Bian masih menata beberapa produk


“ Kalau tidak tahu siapa Kak Bian


pasti tidak aneh, tapi kalau tahu siapa Kak Bian pasti akan berfikir aneh.”


“ Kenapa?” masih menyusun sampo.


“ Masih bertanya juga.” Key


buru-buru membereskan beberapa produk. “ Tentu saja karena kau Bian Nugara.”


Key meletakan parfume. Ia jadi ingat sesuatu yang ingin ia tanyakan pada bian.


“ Frezze Parfume.” Key menunjuk botol parfume, tentu saja bukan merk Frezze.


Bian menunggu. “ Basma cerita kalau itu termasuk anak cabang perusahaan Adiguna


Grup.”


“ Hemm, kenapa menanyakan itu?”


sekarang Bian memilih duduk di lantai, sementara Key mengatur botol-botol


parfum. Dia memainkan botol sampo di tangannya, menunggu Key menjawab.


“ Kemarin ada orang dari Frezze


menemui Basma dan minta Basma menjadi model iklan mereka.”


Wajah Bian berubah penuh tanda


tanya. Frezze bukan brand parfume yang bisa di beli di mini market atau di


supermarket. Di indonesia ada 30 toko resmi yang menjual produk mereka. Iklan tv,


majalah mode dan katalaog produk adalah media promosi. Mereka memilih


artis-artis atau model berbakat sebagai ambassador mereka setiap bulan.


Banyak agensi model yang bahkan rela melakukan pendekatan ilegal agar model


mereka terpilih sebagai brand Frezze. Dan Basma, siapa bocah sombong itu


sampai-sampai Frezze menawarinya sebagai model ambassador.


“ Tapi Key sendiri tidak terlalu


yakin Kak. Basma juga sepertinya tidak terlalu tertarik, itu yang dia katakan


kemarin.” Key sudah selesai, troli sudah kosong, ia sekarang ikut duduk di


lantai di samping Bian. “ Basma memang jadi model  butik online Kak.” Key terlonjak saat


tiba-tiba bibir Bian menyatu dengan bibirnya. Refleks ia mendorong tubuh Bian


sekuat tenaga. Laki-laki itu mengerang karena terjungkal.


“ Maaf Kak, kenapa tiba-tiba Kak Bian


begitu, key kan kaget.” Ia pun meraih tangan Bian dan membantunya duduk.


“ Tenagamu kuat sekali Key.”


“ Kenapa Kak Bian tiba-tiba mencium


bibirku.” Tanpa bicara apa-apa, Bian kembali melakukannya. Walaupun terkejut


namun Key tidak mendorong tubuh Bian lagi. Dadanya rasanya ingin meledak.


Tangan Bian menyentuh bibi Key lembut.


“ Berhenti menyebut nama adikmu.”


“ Memang Basma ke.” Lagi-lagi Bian


melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan tadi. Setelah beberapa detik ia


kembali duduk tanpa merasa bersalah sama sekali.  “ Kak Bian hentikan.”


“ Apa?”


Key memukul Bian dengan keras,


tidak perduli ketika laki-laki itu mengaduh beberapa kali. “ Itu ciuman pertama


Key.”


Wajah Bian terkejut, ah seharusnya


ia sudah menduganya kan. Mendengar itu ia merasa senang. Namun wajah Key


sekarang  cemberut. “ Ahh, maafkan aku


Key. Ntah kenapa setiap kali kau menyebut nama adikmu aku tetap saja merasa


cemburu.”


“ Dia adikku Kak, Basma itu adikku.”


“ Baiklah, baiklah, aku minta maaf.


Mau kita ulangi lagi.”


Wajah Key langsung merona malu. “


Apa!” Teriaknya sambil bangun, dan mendorong troli kosong menuju gudang.


Sementara Bian tertawa menyusul di belakangnya.


“ Kita ulangi ciuman pertamamu


tadi.” Sudah mendahului Key, menghalangi troli bergerak.


“ Hentikan Kak, minggir. Key mau


mengambil barang untuk dipajang di etalase.” Bian menyingkir, membiarkan troli


bergerak menuju gudang. Dia menoleh, tidak ada pelanggan di minimarket. Lalu dia


menyusul Key dan menutup pintu gudang.


 Terdengar benda jatuh. “ Kak Bian hentikan.”


Tak terdengar suara apa-apa lagi. Sampai beberapa lama. Sampai mereka mendengar


suara pintu mini market di buka. Key muncul dari dalam gudang sambil merapikan


rambutnya. Tergesa menuju kasir.


“ Selamat datang.” Ia masih mengatur


nafasnya yang tiba-tiba merasa sesak. Ia melirik ke pintu gudang. Wajahnya


langsung malu tertunduk. Ntah apa yang ia lakukan tadi. Masih belum bisa


mengendalikan emosinya menghitung belanjaan pelanggan. Sementara Bian masih


duduk di lantai, wajahnya terlihat  sangat


senang.


BERSAMBUNG...........