
Key melihat kalender duduk yang ada
di meja ruang makan. Tanggal yang dilingkari dengan pena warna hitam.
Sebenarnya tanpa tanda lingkaran itu pun dia tidak akan pernah lupa. Hari apa
itu? Hari di mana caranya menjalani hidup berubah.
Bayangan masa SMU seakan-akan
menari-nari di kepala. Kejadian hari itu.
Keysha Andini, panggil saja aku
Key, dengan wajah ceria dia memperkenalkan diri. WaJahnya mungil selaras dengan tubuhnya. Pembawaan yang ceria, membuatnya mudah
bergaul. Guru-guru juga sangat menyukainya. Setiap sekolah, dia selalu membawa
aneka roti dagangan keluarganya. Keluarga mereka memang membuat roti sebagai
sumber penghasilan utama. Masih dalam skala rumahan. Setiap dua hari sekali
produksi, dan dihantarkan keliling kota. Setiap hari Key selalu membawa sekeranjang
roti untuk di jual di sekolah. Pihak sekolah mengizinkan, karena tahu latar
belakang keluarga Key. Gadis itu belajar dengan giat demi mimpi dan cita-citanya.
Key masih ingat sekali hari itu,
hari yang ingin ia lupakan. Namun seperti terpahat, mengikatnya kuat dalam
memori. Hal yang ingin ia lupakan, malah menjadi yang tak pernah hilang dari
kenangan.
“ Ah, Kak Mirza. Ada kak Mirza.”
Mereka bertiga tertawa bersama. Mirza, senior yang sekarang kelas tiga. Tinggi,
tampan, kaya, dan baik hati. Pria paling populer di sekolah. Setiap hari ada
saja yang menyatakan cinta padanya. Lokernya selalu penuh dengan surat cinta.
Walaupun seisi sekolah tahu siapa kekasihnya. Amanda Hiller, siswa cantik yang
debut sebagai model. Tapi kan selalu begitu, pria tampan di sekolah selalu
menjadi milik semua. Maksudnya suka diaku-akui punya dia. Padahal kenal juga
nggak.
“ Lihat dia. Ah, tampan sekali.” Meributkan
orang yang bahkan mungkin tak mengenal mereka.
“ Ia. Aku sudah tiga kali menulis
surat cinta padanya. Hiks, tidak tahu dibaca atau tidak olehnya.”
“ Apa, tiga kali. Benar-benar kamu
ya. “ Key mencubit pipi sahabatnya. Gadis di depannya ini memang berani sekali.
“ Sudah tahu kita tidak bisa
bersaing dengan putri Hiller, masih saja tidak tahu malu ya kita ini. Hihi.”
Key dan kedua temannya tertawa. Menertawakan diri mereka sendiri. Ah, waktu itu
menyukai seseorang masih begitu indah untuk dibicaran. Obrolan-obrolan seputar
cinta dan angan-angan terasa sangat mengasikan. Tentang mimpi, cita-cita,
rencana kuliah. Sampai janji masuk ke universitas yang sama. Walaupun ketiganya
punya pilihan jurusan yang berbeda. Key, Siska dan Mariana, tiga sahabat ini
masih terus membicarakan pasangan fenomenal di sekolah, Mirza dan Amanda di
sela-sela impian tentang cinta mereka sendiri..
“ Key, dipanggil Pak Hanafi ke kantornya.”
Seorang siswa muncul ntah darimana.
“ Kenapa?”
“ Tidak tahu. Sudah ya. Aku mau ke
kantin.”
“ Iya. Makasih ya.” Siswa itu hanya
mengangguk. Key meninggalkan kedua temannya. Menitipkan keranjang roti yang
sudah tak berisi. Pak Hanafi adalah
kepala sekolah di SMU ini. Belum pernah ia dipanggil secara khusus untuk
menghadap.
Itulah terakhir kalinya Key ada di sekolah. Bicara dan tertawa bersama teman-temannya.
Karena hari itu, ia kembali ke rumah dengan tubuh gemetar serta cucuran
airmata. Tetangga dari kampung yang menjemputnya di sekolah mendekap tangan
Key, dalam genggaman erat. Sesekali tangannya turun dari stang motor. Menyentuh
tangan gemetar. Supaya tangan itu mendekap pinggangnya erat. Dia mendengar
tangis dan tubuh gemetar gadis itu.
“ Maaf Key, seharusnya paman tidak
memberitahumu di sekolah.” Suara paman yang tertimpa angin semakin membuat
dekapan tangan Key erat dengan suara tangis yang mengeras.
“ Ibu….. Ayah…..Ibu….. Ayahhh….
Ibu… Ayah…” Nafas Key yang sesak tersengal dipunggung paman. Pakaian itu basah oleh
airmatanya. Berulang kali dia memanggil ibu dan Ayah.
Itulah yang ia ingat. Ia jatuh
pingsan, saat setengah sadar bibi memapah tubuhnya ke mobil Samar dia melihat
Basma di sampingnya. Tangan kecilnya menyentuh tangannya. Ia tak tahu lagi apa
yang terjadi.
Hidup di kampung halaman ibu dan
ayah. Memulai semua dari awal. Sebulan lamanya airmata tak mengering. Ia pindah
sekolah, memutus semua hal tentang masa lalu. Bibi yang hidup sendiri karena
menjanda, merawat mereka. Hiduplah Key dan Basma yang tertatih keluar dari penjara kenangan orangtua meraka.
Menarik kalender ke depan wajahnya.
Terjaga dari kenangan masa lalu. Mengusap ujung airmatanya. Tetesan air yang ia
biarkan mengalir saat sendirian.
Keranjang roti ayah yang tertinggal di sekolah sekarang di mana ya?
Melihat angka di kalender lagi.
“Sebentar lagi ya, hari peringatan
kematian ayah dan ibu.” Dia memberi tahu dirinya sendiri. Key duduk
menelungkupkan wajah di meja. “ Ayah, ibu.” Kenapa perasaan sedih ini selalu
muncul jika mendekati hari itu. Sketsa wajah ibu yang tertawa berlarian di
pikiran Key. Airmata menetes di pipinya lagi. Perlahan ia hapus. Sambil
menghilangkan isak di ujung tengorokannya.
“ Mbak.” Basma muncul dari dalam
kamar. “Tidur ya?” Kepalanya muncul di balik pintu.
“ Nggak Bas, cuma lagi melamun.
Kenapa?” Airmatanya sudah menghilang. Untung saja pikir Key. Namun tetap dia
tidak menatap Basma.
“ Melamun apa?” Adiknya juga
terlihat lelah. Seharian ini ia menyelesaikan pemotretan. Tapi dia pulang dengan riang karena mendapat wajan keren dari Rian.
“ Memikirkan ibu dan ayah.”
Tersenyum, mengikuti langkah Basma. Adiknya pergi ke dapur mengambil minum. “
Sebentar lagi peringatan kematian ibu sama ayah kan, Bibi Salsa juga sudah
menelpon tanya kita mau pulang gak.” Bangun daari duduk. Mau menyiapkan bekal, karena lelah dia belum
masak tadi. Akhirnya dia hanya mengukus somai.
Aku akan bawakan somai saja untuk
Kak Bian.
" Bas mbak gak masak ya?"
“ Ia, nanti aku buat sendiri kalau lapar. Kita pulang kan mbak, mumpung aku
libur juga.” Basma meneruskan pembicaraan Key yang terhenti tadi. “ Aku sudah menyelesaikan semua
tanggung jawabku sama Rian.” Duduk di sebelah Key yang sedang menyusun somai
dalam wadah. “ Kalau mba Key mau mengajaknya aku gak keberatan.”
“ Apa! Kak Bian! Kenapa bawa-bawa
nama kak Bian!” Berteriak, reaksi otak saat mendengaar nama Bian disebut.
Tidak, aku yang sudah gila, Basma
sama sekali tidak menyebut nama Kak Bian.
Ingatan Key menyala terang, menampilkan
kejadian di gudang Semalam.
“ Aku nggak ngapa-ngapain Bas.”
“ Mbak Key kenapa lagi coba.” Basma
menatap curiga.
“ Haha, aku mau mandi dan
bersiap-siap ke minimarket.” Melarikan diri, dari sorot mata penuh tanda
tanya di mata adiknya.
***
Mengajak Bian ke makam ibu dan Ayah. Bagaimana
Basma bisa berfikir sampai ke sana ya. Key bahkan tidak pernah memikirkannya.
Eh, gadis itu melihat hp di laci. Sudah jam delapan. Tapi seseorang yang ditunggunya belum ada tanda
kemunculannya. Key beranjak dari meja kasir setelah pelanggannya pergi. Membuka
pintu kaca. Melihat gerbang Grand Land yang tetap megah walaupun dilihat malam
hari.
“ Hari ini Kak Bian gak datang ya?”
Melihat langit yang semakin malam. Gurat sedih muncul di wajahnya. Dia mendapat
pesan selamat pagi tapi setelahnya tak ada pesan lagi. Key beberapa kali
mondar mandir membuka pintu. Melihat gerbang dari kejauhan. Tidak ada yang dia
tunggu. Akhirnya dia duduk di belakang
kasir lagi. Meraih kotak bekal berisi somai.
“ Padahal aku sudah membawakannya
somai. Ah mungkin Kak Bian sibuk. Ia, pasti dia sibuk. Apa dia makan dengan baik ya?” Mengusir pikiran macam-macam. Key memasukan
kotak bekalnya lagi. Malam ini dia mau makan pecel lele saja.
“ Kak Bian sudah makan malam? Jangan lupa makan ya.”
“ Key juga sudah makan.”
Pesan terkirim.
Sampai makanan yang ia beli di tenda depan minimarket habis pun, tak ada kemunculan
laki-laki yang ditunggunya. Dia memasukan hp. Berjalan ke gudang. Membawa daftar stok baraang dan troli barang seperti biasa. melanjutkan pekerjaan. Sesekali masih menatap pintu kaca.
Sementara itu dari kejauhan ada hati yang terasa tersayat. Bian melihat jendela pesan di
layar hpnya yang menyala. Pesan Key yang bisa ia baca tanpa terlihat dia sudah membaca pesannya.
“ Dia bahkan tidak berani bertanya
Key kenapa semua hal tentangmu jadi
istimewa. Hari ini, sekalipun hanya melihat dari kejauhan gadis tak kenal lelah
itu, terlihat semakin mempesona. Bian
mendesah beberapa kali. Sambil menarik rambutnya keatas. Udara malam terasa
hangat. Angin yang bertiup menjadikan udara segar.
***
Waktunya tutup. Key sampai akhir
masih melihat ke arah gerbang Grand Land. Masih memeriksa hpnya. Pikirannya menjadi campur aduk.
Padahal setelah menghapus airmata kaarena teringat lagi tentang masa SMU dan
hari peringatan orangtuanya. Dia berharap malam ini dia bisa melihat wajah
Bian untuk melipur lara. Tapi ternyata. Dia tak punya keberanian untuk bertanya kenapa? Apalagi
saat pesannya belum ada tanda terbaca. Dia menahan diri untuk mengirim pesan lagi.
Key menarik rolling door. Terperanjak
ketika tangan menempel di punggung tangannya. Kepalanya reflek menoleh.
“ Hallo Key, maaf aku terlambat.” Wajah yang ia rindukan sedang tersenyum padanya. Bian menarik tangan kanan Key,
menggengamnya, sementara tangan kanan Bian menarik rolling door.
Sial, aku kalah. Bian
“ Kak Bian?” Sedang mencerna
situasi.
“ Maaf ya, aku terlambat. Banyak
pekerjaan.” Mencari pandangan lain sambil menyentuh tengkuk lehernya. “ Ayo aku
antar pulang.” Setelah memastikan semua kunci terpasang.
Key menghentikan langkah Bian. “ Kak Bian pasti cape baru pulang kerja, Key pulang
sendiri gak papa Kak.” Walaupun terlihat jelas dia masih ingin bersama Bian. Kakinya menendang udara beberapa kali.
“ Ayo.” Menarik tangan Key, Bian membaca wajah Key dengan baik. Di antara semilir angin mereka sedang menahan
gejolak hati masing-masing.
“ Maaf ya Kak.”
“ Kenapa minta maaf, berjalan
bersamamu di bawah langit malam begini mengusir semua lelahku.” Mengangkat
tangan yang saling terkait itu ke atas. “ Ayo!” melanjutkan berjalan ditemani
desiran angin. Beberapa angkot memperlambat jalan saat melewati mereka. Bian
hanya menoleh tidak bergeming. “ Turunkan tanganmu.” Menarik tangan kiri Key. “
Kenapa melambaikan tangan pada supir angkot? Kamu kenal?”
Hah! Tergelak pelan, apalagi saat
melihat wajah serius Bian menunjukan rasa tidak sukanya.
“ Ya, ampun Kak. Itu artinya
bukan dada, dada. Tapi pertanda kalau kita
nggak mau naik angkot.”
“ Aturan darimana itu?” Melengos ke arah lain. Dia sedang menahan malu.
Mana kutahu ada aturan begitu.
“ Darimana ya?” Sedang berfikir,
Key benar-benar mencari jawaban. “ Mungkin sudah turun temurun dan jadi kebiasaan
Kak. Hehe.”
“ Jangan lakukan lagi.” Sedang menutupi malu dengan bersikap keras kepala.
“ Apa?” Maksudnya yang dada, dada
pada sopir angkot. “ Ah, ia Key tidak akan mengulanginya lagi. Anginnya segar
ya Kak?” Mengalihkan pembicaraan.
Ahhhh, kenapa dia manis sekali si kalau bingung begitu.
“ Oh ya Kak, apa akhir pekan besok
Kak Bian mau ikut kami pulang kampung.” Hati-hati bicara. " Tapi, kalau Kak Bian sibuk nggak apa-apa kok. Aku juga pulang dengan Basma." Bian mengeryit mendengar nama itu.
“ Pulang kampung? Kenapa?”
“ Ahh, aku dan Basma mau mengunjungi
orangtua kami.” Key melompat naik ke tangga trotoar.
“ Apa? Jadi kamu cuma tinggal berdua
dengan adikmu. Orangtuaamu tinggal di kampung.” Merasa kecolongan. Bian baru
menyadari diantara banyak cerita yang mengalir dari bibir mungil itu, tak
sekalipun dia bercerita tentang orang tua. “ Jadi, ayah dan ibumu tinggal
di kampung ya. Aku baru tahu.”
“ Ayah dan Ibu sudah tenang di sisi
Allah Kak.”
Deg, langkah kaki Bian terhenti.
Dia melihat Key menoleh padanya dan tersenyum. Sementara wajahnya
menunjukan luka. Bian tahu, lagi-lagi gadis di hadapanya sedang menahan luka dengan cara tersenyum padanya.
“ Maaf Key.”
“ Gak papa Kak, kami sudah melepas
iklas orangtua kami. Semoga Ibu dan ayah tenang di sana.” Menunjuk langit malam.
Bian tidak bisa mengendalikan dirinya. Ntahlah, fakta bahwa Key sudah tidak
memiliki orangtua , membuatnya merasa tak berdaya. Laki-laki itu menarik tangan
Key duduk di kursi pinggir jalan.
“ Kenapa Kak?” Key memandang
jalanan. Duduk menurut. Mengerakan kakinya ke kanan dan kiri. Lalu berfikir ah, mugkin Kak Bian mengajaknya duduk karena dia lelah. “
Baiklah, kita duduk sebentar.”
“ Key.”
“ Ia Kak?” Ntaah kenapa Key merasa
ada yang tidak beres setelah melihat wajah Bian yang sendu. Sepertinya ada sesuatu yang sedari tadi sedang berusaha
ditahan Kak Bian. Begitu dia menyimpulkan. “ Apa…”
“ Apa aku boleh minta sesuatu
padamu Key?” Tiba-tiba. Dengan mimik wajah yang tidak bisa ditolak Key.
Kenapa Kak Bian jadi mirip Basma begini si.
“ Apa Kak?” Ragu untuk mengulurkan harapaan, tapi tidak tega melihat wajah Kak Bian.
“ Janji kau akan mengabulkan
apa apun itu ya.”
“ Eh, Key dengar dulu, Kak Bian mau
apa? “ Memang apa yang diinginkan laki-laki di depanya ini. Dia sudah punya
segalanya. Mau minta apa lagi. Key sedang meraba-raba.
“ Cuma kamu yang bisa memberikan
apa yang aku mau Key." Berfikir sejenak. " Bagaimana kalau kita menukar permintaan, aku akan
memberi apa pun yang kamu minta, tidak, mintalah sepuluh hal padaku. Tapi
kabulkan permintaanku.”
“ Memang Kak Bian mau minta berapa
permintaan?”
“ Satu saja cukup.”
" Kalau begitu, Key juga akan meminta
satu permintan supaya adil. Aku tidak akan memintaanya sekarang, karena hari
ini cukup bisa melihat Kak Bian saja aku sudah senang. Hehe.” Kata-kata itu jadi obat segala penat Bian. Dia lupa dengan semua yang Anjas katakan.
“ Memang Kak Bian mau minta Apa?”
Jujur Key takut meraba apa pun yang diinginkan Bian. Dia takut membuat Bian
kecewa sekaligus takut jika permintaan Bian yang membuatnyaa kecewa. “ Apa ini
berhubungan dengan pertunangan Kak Bian?”
“ Key.” Menyusuri pipi Key dengan jemarinya. Jujur
Key terkejut tapi untungnya dia tidak menghindar. “Bisakah kau mulai hari ini
tidak hanya berbagi senyum dan tawa denganku.” Bian melihat itu, pancaraan
kesedihan yang coba ditutupi Key dengan senyum. Saat ia membicarakan tentang orangtuanya tadi. Sekarang Bian duduk memiringkan
tubuh, menghadap Key. Cahaya lampu jalanan membias di wajah Key. Gadis itu
terlihat bingung. Bian menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.“ Kau boleh menangis di depanku kalau kau bersedih, kau bisa
berteriak kalau marah. Kau bisa mengeluh padaku kalau kau lelah.”
Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba.
“ Kalau kau mau bersedih untuk
orang tuamu, menangislah Key.”
“ Kak, Key gak papa, sungguh.” Tapi
dadanya tidak tahu kenapa mulai sesak. Wajah ibu dan ayah sekelebat muncul
dalam pikirannya. Dan ada orang yang mengulurkan tangan mendekap kesedihannya membuatnya malah larut dalam kepedihan itu. Dia memukul dadanya pelan. Menahan diri.“ Maaf Kak.” Akhirnya menunduk merasa bersalah. “ Biasanya
Key gak begini kok.” Mengusap ujung matanya. Jangan menangis di depan Kak Bian
Key.Tahan,perintah hatinya. Kau bahkan tidak pernah menangis di depan Basma untuk rasa lelahmu. “ Maaf ya Kak. Key jadi membuat suasana jadi canggung, padahal
Kak Bian sudah cape dan meluangkan waktu buat Key.”
“ Kenapa kau malah memikirkan
perasaanku.” Marah karena reaksi Key. Bukan rasa bersalah yang diharapkan Bian. “ Menangislah kalau kau mau menangis Key, aku akan ada
di sampingmu untuk menghapus airmatamu.”
“ Kak.”
“ Mengeluhlah kalau kau lelah.” Meraih kepala Key, membenamkan di dadanya. " Aku tahu kau mau menangis kan tadi. Tapi kau menahannya. Kau boleh menangis kalau kau merindukan orangtuamu Key. Kumohon, berbagilah sedih dan lelahmu juga padaku. Bersandarlah padaku Key." Bian tercabik hatinya, saat melihat Key menahan tangis untuk orangtuanya.
Bagaimana kau menjalani hidupmu selama ini Key.
" Hiks." Hati Key melemah. Dalam dekapan dada Bian. Tepukan lembut di bahunya yang dulu sering dilakukan ibu.
Wanita setegar karang itu tersungkur di tanggal yang sama setiap tahunnya. Sendirian di pojok kamarnya saat malam. Dia tidak mau menunjukan airmatanya pada Basma sekalipun. Biasanya itulah yang terjadi, tapi hari ini ada tempat bersandar bagi isaknya. Membuatnya merasa sangat bersyukur.
Bersambung
Epilog
Mobil menepi tepat di depan Bian berdiri. Laki-laki itu langsung masuk. Dia menyandarkan kepala dan menghela nafas pelan.
Terserah dengan Kak Anjas, tapi aku benar-benar akan menyesal kalau sampai aku tidak menyentuh tangannya saat menutuprolling doortadi.
Hari ini bertambah lagi perasaan cinta itu.
" Mas Bian maaf, kenapa nggak antar Mbak Key dengan mobil saja?" Pak Wahyu melirik Bian di sebelahnya. Hanya nama dan pekerjaan yang dia tahu. Wanita yang saban malam selalu diantar oleh majikannya ini.
" Aku ingin menggandeng tangannya lebih lama Pak." Menatap jendela.
" Tapi, Mbak Key mungkin cape Mas, dia kan pulang bekerja."
Deg. Bian menutup wajahnya dengan tangan. Helaan nafasnya membuat Pak Wahyu khawatir sudah salah bicara.
Benar juga, lagi-lagi, apa aku terlalu egois karena ingin lebih lama bersamanya.
Mobil melaju melewati gerbang Grand Land, Pak Wahyu masih melirik cemas karena Bian tidak memberi reaksi selain helaan nafas.
Note : Hemmm ayo gembira minggu depan pulang kampung ^_^