
Pagi ini suasana hati Bian masih sama buruknya dengan semalam. Namun ia selalu berhasil menempelkan senyum di bibirnya saat bertemu dengan para karyawan, sebelum masuk ke ruangannya tentu saja. Ia sudah ada di ruangannya sekarang, menekuk wajahnya seperti lipatan koran usang di terminal bus. Muram. Wajah tampannya menguap, seperti embun pagi yang sudah lenyap terkena matahari. Ia sedang mempelajari desain bangunan, rencana keseluruhan untuk pembangunan Grand Mall 2. Tapi tidak tahu kemana larinya pikirannya. Kepalanya menoleh saat Anjas mengetuk pintu dan masuk.
“Ini semua daftar acara, tamu undangan dan menu makanan perayaan 25 tahun Grand Mall.” Anjas menyodorkan map setelah mendekat. “Bi.” Panggilnya, karena Bian masih tak acuh. Bian masih melihat layar laptopnya, namun siapa pun yang melihat tahu, bahwa pikirannya berlarian melalui dinding-dinding kantor ini. Menguap mencari kebebasannya.
“Apa?” katanya ketus, kemudian “Aku sedang kesal sekarang.”
“Kenapa kau selalu kesal padaku begitu.” Anjas duduk. Apa dosaku harus jadi sekretarisnya batin Anjas.
”Bisa kau pastikan wanita itu tidak bicara macam-macam. Mengadu apa dia dengan ibu, sampai ibu pagi-pagi sudah muncul di hadapanku tadi.” Sudah muncul keluhan yang berbau urusan pribadi.
“ Aku tidak tahu.” Anjas angkat bahu, memang aku harus tahu gitu urusan pribadimu. Ketus tapi cuma dalam hati. Yang mulia Bian sedang mengamuk, lebih baik diam.
“Aku bisa berpura-pura baik kecuali berurusan dengan perempuan.” Dia melirik sekilas map di atas meja “Bagaiman yang tradisional tetap bisa menjadi glamor hubungkan semuanya dengan itu. Aku akan membacanya nanti. Bisa kau urus dia Kak.” Wajahnya penuh harap.
“Brand Morela adalah salah satu daya tarik Grand Mall, ditambah pacarmu adalah brand ambasador mall. Jadi bisakah kau bersikap manis padanya. Sedikit saja, tidak perlu berlebihan. Ajak makan malam seminggu sekali di akhir pekan. Belanjakan dia barang-barang mewah. Dia pasti sudah sangat bahagia. Dan satu lagi. Angkat telepon darinya!” Yang terakhir Anjas mengucapkannya dengan nada marah. “Aku mengurusi pekerjaanmu. Bukan masalah percintaanmu.”
“Hubungan kami adalah bagian dari bisnis Kak, jadi itu termasuk pekerjaanmu.” Mendengar itu Anjas terdiam. Bian menghela nafas. Meraih map yang tadi diberikan Anjas, ia berhenti membukanya. “Kak, maukah kau mencari tahu di mana wanita itu. Aku penasaran sebesar apa anaknya sekarang kalau dia benar-benar punya anak.”
“Sudahlah Bi. Aku tahu, kamu terkadang tidak bisa mengendalikan kebencianmu jika menyangkut wanita itu. Tapi bisakah sekarang tidak fokus pada masalah itu. Pengembangan Grand Mall 2, di daerah wisata Dempo jauh lebih memerlukan energimu. Masalah pembebasan lahan sudah hampir 90%. Curahkan semua energi dan pikiranmu di sana. Dan juga ulang tahun Grand Mall jauh lebih penting dari itu semua.”
Bian terdiam. Ia menatap kosong. Benar, untuk apa ia mengunakan energinya untuk sesuatu yang tidak berguna semacam itu. Ayahnya sendiri pasti sudah mengeluarkan semua sumber daya untuk menemukan wanita itu. Tapi hebatnya, seperti ia menghilang ditelan bumi. Tidak terlihat kalau ayahnya berhasil menemukan sedikit saja informasi.
“Aku pergi ya. “
“Heem.” Bian menjawab malas, bahkan tidak menolehkan pandangannya. Ia mendengar suara pintu ditutup. Namun dia tetap tidak menoleh. Ada banyak ruang di hatinya yang menyimpan kebencian. Hingga tak tersisa ruang kecil lagi untuk belajar tentang cinta. Ia kembali melamun. Akhir-akhir ini, ia sering sekali tenggelam dan mendapati diri berada di masa lalu.
“Kenapa?”
“Setelah dewasa nanti kamu akan mengerti.” Ayah duduk dengan sangat tenang. Wajahnya yang tampan dan dewasa seakan membuat apa yang ia katakan adalah benar.
“Apa yang akan kumengerti. Kau mencintai wanita lain dan bukan ibuku. Kalau kau mencintai wanita itu, kenapa menikahi ibuku.” Semakin rapat Bian mengunci hatinya. Suaranya bergetar menahan perasaannya sekarang. Ia tidak pernah mau menatap ayahnya.
“Karena begitulah kita menjalani hidup. Ayah melakukannya karena ini perintah dari kakekmu.” Tidak bisakah ia menemukan alasan yang masuk akal. Mengapa melemparkan kesalahan pada orang yang sudah meninggal.
“Kenapa? Kenapa kau tidak menolaknya.” Tangannya terkepal erat.
“Karena seperti itulah orang-orang seperti kita menjalani hidup.” Nada bicara Adiguna terdengar sedih, luka itu menyayat hatinya. Wibawa yang terpancar dari wajahnya menutupi sekian banyak luka di hatinya.
“Omong kosong. Aku tidak mau hidup sepertimu.”
“Kau akan mengerti jika sudah dewasa nanti Nak.”
“Tidak. Aku tidak mau mengerti dan memahami. Apalagi sampai menjalani semua omong kosong yang kau rencanakan. Aku akan hidup dengan pilihanku sendiri. Termasuk dalam hal mencintai. Ah, itu kalau aku bisa jatuh cinta kepada wanita. Mendengar cerita tentang kehidupanmu, membuatku merasa jijik dan tidak mau jatuh cinta.”
Adiguna Sanjaya menunduk sedih pada waktu itu. Namun Bian telah kehilangan semua kehangatan seorang ayah. Jangan pernah percaya pada apa yang ayahmu katakan . semua yang keluar dari mulutnya hanya kebohongan. Itu yang melekat dan menjadikannya tumbuh dewasa. Tumbuh dengan kebencian kau akan melahirkan anak yang hanya tahu membenci.
Tiba-tiba ia tersentak sendiri. “Kenapa wajah gadis itu yang muncul di kepalaku sekarang.” Bian memukul meja kesal. Ia masih ada di ruangan kantornya. Menatap dinding kaca. Bangunan tinggi ini seperti sudah di atas awan. "Hidup seperti apa ya, kalau hanya memikirkan diri sendiri. sepertinya menyenangkan." Dia bergumam kecil masih menikmati kepulan awan yang bebas bergerak di luar sana.
Bersambung.........