
Inilah istana Adiguna grup .
Bangunannya di dominasi cat berwarna putih. Sebelum memasuki halaman yang di
hiasi pohon dan bunga , setiap orang harus melewati gerbang utama terlebih
dahulu. Tamu yang datang menyerahkan kartu identitas, diperiksa mobilnya, menyampaikan keperluannya. Jika sudah selesai
pada tahap pertama, maka gerbang utama akan terbuka dan membiarkan mobil melaju
menuju pelataran luas menuju rumah utama. Banyak pohon buah-buahan yang tumbuh
subur dan berbuah sesuai dengan musimnya. Selain itu deretan bunga yang
berjajar di sepanjang jalan semakin membuat mata terasa rileks jika memandang.
Seorang pria tampan, namun sudah
mulai termakan usia itu memasuki ruang keluarga. Dialah pemilik rumah ini.
Adiguna Sanjaya, pria kaya yang sampai hari ini masih terbelenggu pada masa
lalu. Ia begitu realitas memandang dunia, dengan segala konflik kepentingannya.
Namun begitu melankolis jika bicara tentang cinta. Seorang perempuan angun dan
cantik sedang duduk menikmati teh sorenya. Adiguna hanya berjalan melewatinya.
“ Tidak bisakah kau pura-pura baik
padaku?” Wanita itu meletakan gelasnya dan bicara dengan datar.
“ Tidak ada yang perlu melihat
sandiwara , kita hanya berdua saja. Berhentilah berpura-pura, bahwa kita saling
perduli satu sama lain.” Adiguna menjawab datar juga. Dia menoleh pada
istrinya, wanita yang ada di hadapannya ini adalah perempuan yang sudah
melahirkan putranya. Puluhan tahun pernikahan yang sudah terbina, ikatan suci
dalam janji di hadapan Tuhan yang mereka ucapkan. Ah, semua itu hanya sandiwara
belaka. Sedikit pun mereka tidak pernah saling mencintai. Semua ikatan yang
terjalin antara mereka hanya karena uang dan bisnis semata.
“ Apa salahku?”
“ Haha.” Tertawa lama. “ Kau
bertanya tentang apa kesalahanmu. Apa kamu sungguh-sungguh ingin mendengarnya.
Akan butuh waktu untuk menjelaskannya kepadamu?”
“ Bukankah aku sudah minta maaf
berkali-kali.”
“ Maaf, apa permintaan maafmu bisa
membuat semuanya berubah?” Wajah wanita
itu berubah pucat. “Sudahlah, bukankah
kita sudah sepakat untuk tidak saling mengganggu kehidupan masing-masing.” Ia
menghela nafas panjang. “Satu yang aku
minta darimu, berhentilah berpura-pura di hadapan Bian. Jika dia tahu seperti
apa dirimu yang sebenarnya selama ini. Dia pasti akan membencimu.”
Wanita itu semakin tercekik. Ia
menundukan pandangan dalam. Tangannya bergetar, namun ia berusaha menguasai
diri paling tidak sampai suaminya pergi. Saat Adiguna berjalan meninggalkan
ruangan tubuhnya lunglai. Bagaimanapun ia bertahan menjadi nyonya Adiguna
Sanjaya hanya karena uang dan juga kehormatan. Ia tak pernah mendapatkan hati
suaminya, dulu waktu pernikahan, ataupun sekarang.
Ia juga tidak mencintai Adiguna.
Bisnis antara orang tua mereka yang membuat pernikahan ini terlaksana. Dia
sudah berpacaran dengan seorang manager Sentro Food. Sebuah restoran makanan cepat
saji, yang sudah menjadi waralaba dan gerainya tersebar di seluruh Indonesia.
Pria yang bukan apa-apa dibandingkan dengan Adiguna. Namun ia melepaskan cinta
dan laki-laki yang mencintainya, untuk sesuatu yang ia sesali seumur hidup.
Ia memilih menikah dengan pria kaya
raya yang bisa menjamin kelangsungan kehidupannya dan keluarganya. Adiguna
Sanjaya. Pewaris tunggal dari Adiguna Grup. Grand Mall dan Grand Land
resident adalah bidang utama perusahaan.
Belum anak perusahaan yang ada puluhan
cabang. Ia memilih laki-laki yang telah jatuh cinta dengan wanita lain. Wanita
yang jauh lebih cantik darinya. Model
sekaligus brand ambasador Grand Mall. Wanita berparas cantik dan lembut itu telah memiliki hati Adiguna, seutuhnya.
Tangannya gemetar, bayangan wanita itu berkelebat.
“ Jadi kau wanita sampah itu? Apa
kau tidak tahu malu, dia itu suamiku, bagaimana bisa kau mengodanya siang dan
malam.” Yuna berteriak. Asisten model cantik yang ia maki berusaha membuatnya tenang. Ia berdiri
di hadapan wanita itu untuk melindunginya. “Diam kau. Kamu tahu siapa aku?”
hardiknya lebih keras.
“ Ia Nyonya.” Jawabnya takut-takut
“ Aku Nyonya Adiguna. Wanita ini.”
Tudingnya pada wanita dihadapannya. “Wanita murahan yang menggoda suami orang.”
Yuna benar-benar meluapkan amarahanya.
Jesika masih menunduk. Wanita
di hadapannya tidak salah. Jadi dia memilih hanya untuk diam saja. Walaupun
“ Kenapa? Kau benar-benar tidak
tahu malu ya. Seumur hidup, aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup dengan
tenang dan bahagia. Setelah membuat suamiku bahkan tidak pernah menoleh padaku,
apa kamu pikir aku akan membiarkan dia bersamamu. Bahkan sampai mati aku tidak
akan pernah membiarkannya.” Ia menarik nafas. “Kau boleh saja tertawa di atas
airmataku, tapi aku akan pastikan mulai sekarang kau hanya akan menangis.” Yuna
kemudian melengos pergi. Meninggalkan Jesika dan asistennya di area parkir. Ia
berjalan menuju mobilnya.
Ia membanting kunci mobil
sesampainya di rumah. Rasa marah masih naik ke kepala dan dadanya naik turun
mengatur nafas. Apalagi saat dilihatnya suaminya berdiri membisu, seperti
sedang menunggunya. Apa dia sudah tahu batinnya.
“ Sudah aku katakan untuk menjaga
sikapmu di tempat umum kan.” Hardikan itu menjawab pertanyaan Yuna barusan.
“ Apa? Apa salahku sekarang. Apa
wanita murahan itu mengadu padamu.”
“ Yuna, berhenti memanggil Jesika
dengan sebutan wanita murahan.”
“ Lalu aku harus memanggilnya apa?
Wanita yang mengoda suami orang memang disebut apa kalau bukan wanita murahan.”
“ Dia tidak menggodaku. Aku yang
mencintainya.”
Terdiam lama. Yuna menunduk
mengigit bibir menahan amarah.
“ Apa yang kamu inginkan sekarang.
Aku tidak akan melepaskan Jesika, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak
mencampuri urusan pribadi masing masing. Kamu boleh bertemu dengan laki-laki
lainnya juga. Aku tidak melarangmu, hanya aku minta, jaga sikapmu di luar sana.”
“ Kau! Kau sungguh menjijikan.
Bagaimana bisa kau mengatakan hal sebusuk itu dengan entengnya. Paling tidak
merasa bersalahlah dengan sikapmu itu.”
“ Aku sudah menawarkan jalan keluar
padamu kan. Tapi kau menolaknya.”
“ Apa kau sudah gila!” Yuna
benar-benar kehilangan kendali. “Apa kau pikir aku mau bercerai denganmu, dan
membiarkan kamu menikahi wanita itu secara legal. Jangan mimpi. Sampai mati aku
akan tetap jadi istri sahmu. Walaupun kau menikah siri dengannya, tapi orang
di luar sana hanya melihat wanita itu sebagai pelakor murahan. Camkan itu.”
“ Bisakah kita berhenti untuk tidak
saling menyakiti.”
“ Sampai mati aku tidak akan membiarkan
wanita itu hidup bahagia denganmu.” Setelah berteriak, Yuna berlari ke tangga.
Ia mengamuk di dalam kamarnya. Memecahkan kaca, membanting barang dan
mengacak-acak tempat tidur. Teriakannya terdengar sampai kebawah. Adiguna
menarik nafas panjang. Ia melihat para pelayan tertunduk.
“ Tolong jaga rahasia ini.” Para
pelayan mengangguk, sambil memandang tuannya yang pergi hilang dari pandangan.
Tubuh Yuna gemetar teringat
kejadian itu. Saat dengan terang-terangan suaminya mengatakan bahwa ia mencintai
wanita lain. Karena Adigunalah ia berubah menjadi wanita kejam dan licik. Ia
menggunakan berbagai macam cara untuk membuat Jesika menderita. Walaupun sampai
akhir, sampai Bian lahir ia tak penah sedikitpun mendapatkan hati suaminya.
Ia meraih telfon, menggenggam erat
mengusir rasa takut yang tiba-tiba merayapi seluruh tubuh. Memencet beberapa
tombol. “ Hallo Amanda, mau jalan-jalan bersama Tante.” Ia berusaha bicara
senormal mungkin. Diam mendengarkan. “ Bailah, nanti Tante ajak Bian juga.
Sampai ketemu ya.”
Ia memencet nomer panggilan baru. “
Ayolah, sudah lama kita tidak pergi bersama. Jalan-jalan lalu makan malam.”
Diam mendengarkan. “Kamu tahu bagaimana ayahmu, Ibu selalu merasa kesepian.”
Diam mendengarkan. “Baiklah, Ibu ke kantormu ya sekarang.” Yuna bisa tersenyum
juga akhirnya.
“ Apa Tuan pergi?” tanyannya pada
pelayan.
“ Ia Nyonya.” Singkat menjawab.
Yuna tidak bertanya lagi, ia memilih berjalan pergi. Menaiki mobilnya dan
membawanya meninggalkan bangunan megah yang menyimpan kesunyian itu.
Bersambung.....