
Bian berjalan memasuki kantor dengan senyuman dibibirnya. Dia menganguk dan membalas sapaan
dari karyawan yang di temuinya. Aura cerah mengelilinya pagi ini, memberi
energi positif bagi para karyawan yang ditemuinya. Sekertarisnya bangun dari
duduk saat melihatnya.
“ Selamat pagi pak!” sopan dia menundukan kepala.
“ Pagi, apa pak Anjas sudah datang?”
“ Sudah pak, sedang ada di ruangan bapak memeriksa laporan.”
“ Baiklah, teruskan pekerjaanmu.”
Sekertaris cantik itu menganguk hormat. Saat Bian sudah
masuk ke ruangan dia hanya mengangkat bahu binggung. “ Apa yang terjadi dengan pak Bian, seperti
orang baru menang lotre. Terlihat bahagia sekali. Padahal kemarin seharian tidak ada kabar.” Dia duduk,
lalu kembali memeriksa pekerjaannya.
Bian masuk ke dalam ruang kerjanya, saat mendengar suara
pintu terbuka Anjas menoleh. Dia membaca suasana hati di wajah Bian. Tampak
sangat cerah. Ada apa ini, batinya.
“ Selamat pagi bi. Apa aku melewatkan sesuatu?” tanyanya
penuh selidik. Bian tertawa. Membuat Anjas semakin merasa aneh. Bulu kudunya
sampai merinding, ini pristiwa langka. Kemarin dia baru dihajar habis-habisan
sebagai pelampiasan kekesalan, sekarang orangnya sudah bisa tersenyum secerah
mentari pagi.
“ Kenapa? Memang ada apa?” masih full senyum wajahnya.
“ Haha. Jangan berputar-putar.” Anjas mendekati Bian yang
sudah duduk di kursinya. “ apa aku melewatkan sesuatu semalam.”
“ Apa!” wajah Bian malah merona. Anjas bisa meraba dengan
jelas, bahwa hubungannya dengan key telah membaik. Tidak tahu apa alasan yang
di sampaikan Bian, tapi ia benar-benar penasaran. “ Apa? Berhenti melihatku
seperti itu. Katakan hari ini apa jadwalku.”
“ Itu nanti. Aku benar-benar penasaran.” Anjas duduk dikursi
akhirnya, menutup laptop yang baru saja di nyalakan Bian. “ Apa kalian sudah
berbaikan.”
Lagi-lagi senyum. Gila, batin Anjas, Bian jarang sekali
menunjukan ekspresi wajah semacam ini. Ah, bukannya jarang, bahkan sudah tidak
pernah. Selain senyum palsu di wajahnya.
“ Kami pacaran sekarang.”
“ Apa!” campur aduk pikiran Anjas, dia tidak menduga. Tentu
saja, kemarin sangat jelas sekali bagaimana reaksi Key. Terlebih baru dua hari
lalu dia menyaksikan laki-laki yang ada di hadapannya ini bertunangan. Dengan
seorang model cantik lagi. Seluruh negri juga tahu siapa gadis itu. “ jangan
bercanda Bi. Apa Key juga berkesimpulan begitu?”
“ Kenapa? Ah, dia marah, tentu saja dia marah kak. Tapi saat
dia marah dan menyuruhku pergi dan jangan menemuinya kembali, saat itulah aku
merasa benar-benar tidak mau kehilangan dia. Bahwa aku menginginkan dia,
benar-benar menginginkan dia.” Bian menatap Anjas “ Apa?”
“ Apa, apalagi, bagaimana dengan Amanda. Pertunangan kalian
baru saja di resmikan.”
“ Bisa kau urus dia kak.” Melimpahkan tanggungjawab dengan
mudahnya.
“ Tidak mau, urus sendiri masalah percintaanmu.” Anjas
gusar, memang kau pikir mudah kalau berurusan dengan perempuan. Apalagi ini
masalahnya tidak sederhana. Pemutusan pertunangan.
“ Hey, jangan seperti itu kak, kau menghancurkan suasana
hatiku yang sedang senang.” Bian menyalakan laptopnya lagi. Dia menunggu
beberapa saat sampai menyala. “ Baiklah, aku yang akan bicara dengannya.
Buatkan janji makan siang dengannya besok.”
“ Bi...”
Amanda gadis yang baik, aku tidak mau dia menjalani kehidupan penuh kebohongan
yang seperti ibuku jalani. Mungkin secara resmi kami tetap akan bertunangan
sampai bulan depan, tapi tidak hubungan antara kami.”
“ Bi...”
“ Aku tahu apa yang kau pikirkan kak, tapi mulai sekarang,
aku hanya ingin berfikir tentang apa yang aku inginkan saja. Tidak perduli
rencana apa yang sudah di buat ayahku, aku akan menjalani rencana kehidupanku
sendiri.”
Anjas menghela nafas panjang. Dia berdiri dan mengambil
berkas-berkas yang dia baca tadi. “ baiklah, aku tahu kau bisa membuat
keputusan dengan baik. Perihal Amanda selesaikan secepatnya. Aku akan bertemu
dengan beberapa investor dan sponsor hari ini, kau tidak perlu ikut. Selesaikan
hubunganmu dengan Amanda hari ini juga.” Sambil membawa berkas-berkas
ditangannya tak menoleh atau menunggu Bian menjawab, Anjas keluar dari ruangan.
Meninggaalkan Bian yang menatap layar laptopnya. Lampu di layar berkedip, email
laporan pekerjaan yang dikirimkan Anjas. Lalu dia membacanya sebentaar. Melirik
ponselnya. Apa dia harus menyelesaikan semuanyaa hari ini. Ah, membayangkan
bagaimana reaksi Amanda nanti. Walaupun sebenarnya Bian tidak terlalu perduli,
namun sekarang ntah kenapa semenjak dia tahu Amanda adalah teman smu Key, dia
jadi merasa perlu berhati-hati dalam bersikap.
“ Hallo” akhirnya tersambung. “ bisa kita bertemu makan
siang hari ini.” Menunggu jawaban. “ baiklah. Sampai bertemu nanti.”
“ Semua harus diakhiri. Berakhir seperti apapun itu.” Lalu Bian memanggil sekertarisnya,
memintanya memesankan meja di sebuah restoran siang ini. Sekertaris cantik itu
menganguk lalu keluar ruangan. Lalu Bian meraih ponselnya lagi. Membuka chat.
Nama key sudah menjadi my mine. Dia
memulai dengan pesan selamat pagi.
“ Pagi key. Apa kau sudah bangun?”
“ Tidurmu nyenyak bukan semalan, jangan lupa makan
sarapanmu.”
“ Aku sedang bekerja.”
Diletakan ponsel. Lalu ia kembali membaca email dari Anjas tadi. Matanya
melirik ponsel yang belum berkedip. Rasa gelisah muncul. Kenapa Key tidak
membalasas. Dibukanya chat, Key belum membaca pesannya. Kemana si dia. Lima
belas menit kemudian belum ada balasan. Sekarang kesal yang muncul. Dengan
keras dia meletakan ponselnya. Melampiaskan kemarahannya pada benda tak
bersalah itu. Tapi selang beberapa waktu
diambilnya lagi. Di bukanya chat, key bahkan belum membaca pesannya. “ Aaa,
kemana si dia.” Dia meletakan ponselnya, membantingnya, suaranya lebih keras
dari tadi.. Lalu ponselnya berkedip tiba-tiba. Dengan cepat di raihnya. Namun
tak lama dilemparkan jauh ponsel itu menjauh. Chat dari amanda yang masuk.
Menyebalkan sekali batinnya. Jadi begini ya rasanya di
cueki. Bian tidak sadar, karena selama ini dia yang selalu tak perduli pada
orang lain.
“ Aku pergi keluar.” Bian muncul dipintu, membuat
sekertarisnya terpenjak dan langsung berdiri.
“ Baik pak, siang nanti sudah saya pesankan tempat di Royale
Steak.”
“ hemm.” Suasana wajah Bian sudah berubah batin
sekertarisnya. Bian melangkah pergi. Dia berjalan kaki menuju Grand mall. Hal
itu sering ia lakukan, untuk melihat bagaimana orang-orang bekerja.
BERSAMBUNG............