
Pak Wahyu sudah selesai dengan kesibukan paginya, ketika Bian keluar dari
kamar. Biasanya Bian akan menghabiskan pagi harinya dengan olahraga pagi, tapi karena mengantuk setelah sholat
subuh, dia memilih masuk lagi ke kamarnya. Pagi tadi Pak Wahyu bahkan mendengar
Bian bersenandung kecil.
Bian sudah Duduk sambil masih melihat hp. Terlihat serius. Tangannya
bergerak seirama dengan senyumannya. Pak Wahyu sudah menyiapkan sarapan lengkap
untuknya.
Sepertinya suasana hatinya cukup baik pagi ini, syukurlah.
Melihat dari kejadian lalu, Pak Wahyu berfikir kalau Bian akan terlihat
murung sampai pagi ini. Dia laki-laki yang suka menyimpan segala sesuatunya
sendiri. Tapi melihat wajah Bian yang terlihat segar, membuat Pak Wahyu lega.
Beratnya menyimpan rahasia dan tahu semua hal, gumam Pak Wahyu merasa
bersalah.
“ Oh ya, Mas Bian terlihat akrab sama Mas Basma ya?” Meletakan piring
yang sudah ada nasi, di hadapan Bian.
“ Tidak sama sekali.” Bahkan tidak menoleh dari hpnya, senyum samar muncul lagi saat melihat layar hp. Dia
meletakan hp. “ Aku tidak akrab dengannya Pak.” Tegas
memproklamirkan diri. “ Ya, walaupun aku tidak juga membencinya.”
Kenapa juga aku harus membencinya, walaupun aku memang tidak terlalu
suka padanya.
“ Hehe, benarkah. Saya lihat Mas Basma ingin berusaha akrab dengan Mas
Bian.” Pak Wahyu berusaha mengikatkan hubungan sedarah di antara mereka.
“ Aku akan memperlakukannya dengan baik karena dia adik Key, sudah itu
saja.” Mulai makan sarapannya. Melihat Pak Wahyu yang terlihat lebih rapi dari
biasanya. “ Pak Wahyu mau pergi?”
“ Ia mas maaf baru bilang. Mendadak harus pulang ke kampung. Ada sedikit
keperluan.”
Biasanya Pak Wahyu memang terkandang meminta izin secara mendadak untuk
pulang kampung, jadi Bian tidak merasa perlu menanyakan alasannya.
“ Baiklah, salam buat anak dan istri bapak ya. Tunggu sebentar.”
Meletakan sendok dan masuk ke dalam kamar. Selang tidak lama keluar dengan
membawa sebuah amplop. “ Belikan hadiah buat anak-anak Pak Wahyu.”
Pak Wahyu terlihat merasa bersalah, tapi diraihnya amplop itu. Karena
kalau dia menolak Bian pasti akan mulai curiga.
“ Terimakasih Mas. Jangan lupa makan siang dan makan malam ya Mas.”
“ Ia, ia. Siap-siap saja sana.”
“Jangan cuma makan…”
“Ia,ia, tahu. Sudah sana.”
“ Nanti malam antar Mbak Key pulang pakai mobil saja Mas.”
Mendengar nama Key membuat Bian langsung menyambar hpnya lagi.
Menghabiskan sarapan sambil mengirim pesan selamat pagi. Setelah itu berulang
kali melihat lagi perang stiker yang mereka lakukan semalam.
Begini saja benar-benar membuatku bahagia.
***
Masa lalu seperti apa yang terjadi pada Jesi. Hari ini Adiguna harus
mendapatkan jawabannya. Ia ingin menebus semua kesalahan yang ia lakukan.
Meraih tangan putra dari wanita yang dia cintai.
Pak Wahyu mengemudi dengan kecepatan tinggi, seperti berharap mobil
dalam sekejap sampai ke tujuan.
Dalam dua hari saja Pak Wahyu melewati jalan yang sama. Namun kali ini berbeda. Keheningan yang
menyiksa sudah mengisi dari awal mobil melaju dari halaman rumah. Sampai mobil
melaju dalam hitungan jam. Waktu berdetik membosankan. Pak Wahyu menawarkan
untuk berhenti di rest area yang mereka lalui kemarin. Adiguna menolak. Dia
ingin cepat sampai.
Dia tidak mau kehilangan Jesi sekali lagi. Dia khawatir kalau dia datang
terlambat lagi, makam Jesi akan menghilang seperti mimpi. Ketakutannya itu
membuatnya nyaris tak bisa tidur semalamam. Wajah Basma yang sudah ada di
hadapannya, namun melihatnya dingin sambil berlalu pergi. Mencengkramnya dalam
mimpi.
Rumah yang sama. Dengan udara yang jauh lebih cerah. Ada ayam yang
berlompatan di halaman, mengorek tanah, menjemput rejeki yang dijanjikan Tuhan
pada semua makhluknya.
Pak Wahyu menghentikan mobil
sengaja di luar halaman rumah. Anak-anak yang kemarin dia lihat berlari dari
dalam rumah ketika melihat mobil berhenti di dekat gapura rumah mereka. Pak Wahyu keluar dari mobil. Tersenyum. Karena baru kemarin, dia pasti masih di kenali
oleh kedua anak di hadapannya ini.
“ Paman datang lagi anak-anak.” mengusap kepala mereka dan memberi tas berisi
mainan dan makanan. Mereka melihat isinya lalu mulai menunjukan kegirangan. Mengeluarkan
mainan yang baru saja mereka dapat.
“ Om Basma mana?”
“ Paman nggak sama Om Basma, ibu ada di rumah?” Anak-anak menunjuk rumah
mereka. “ Biasanya main kemana sama teman-teman?”
Sedang mencari tempat supaya anak-anak tidak mendengar, pembicaraan
laki-laki yang sudah menahan dirinya sepanjang perjalanan di dalam mobil.
“ Ke sebelah, tempat Darlan Paman.” Menunjuk rumah sebelah persis di
samping rumah mereka. Bangunan yang masih terbuat dari bata merah.
“ Kalo gitu main tempat Darlan dulu ya. Bagi-bagi kuehnya sama Darlan.
Paman ketemu sama ibu dulu ya.”
“ Ia Paman.” Menurut tanpa bertanya. Kanak-kanak yang tanpa curiga, membawa
tas yang mereka terima.
Sementara itu Bibi Salsa muncul di depan pintu, karena melihat
anak-anaknya bicara dengan seseorang. Apalagi saat melihat mobil yang
berdiri di dekat gapura rumahnya.
Bukannya itu bapak sopir yang
kemarin.
Bibi Salsa berusaha mengingat-ingat mobil yang kemarin mengantar Key dan
Basma. Sepertinya berbeda. Dia mulai
dirasuki cemas. Benar saja, saat melihat laki-laki keluar dari mobil, dia
membentur tembok. Kakinya seperti terkulai tanpa tenaga. Tangannya mulai gemetar.
Pengusaha Adiguna.
Saat pandangan matanya bertemu dengan laki-laki itu, dia benar-benar
jatuh terduduk. Dia terseok saat berusaha bangun. Lalu berjalan sambil
terhuyung masuk ke dalam rumah. Menutup pintu dengan suara keras. Dia terduduk
di belakang pintu, sambil memukul dadanya gemetar.
Kenapa dia muncul di sini.
Kemunculan putranya saja yang tidak tahu apa-apa, sudah menyulut
kebencian, kemarahan sekaligus ketakutan di dalam dirinya. Pertemuan setahun
sekali dengan Key dan Basma yang biasanya ia nantikan, kemarin menguap begitu
saja karena kemunculan laki-laki bernama Bian. Bagaimana bisa sekarang, sumber dari semua bencana itu datang tanpa rasa bersalah.
Bibi Salsa memukul-mukul lantai, melampiaskan suasana hatinya yang bergejolak.
“ Assalamualaikum Bi, saya mohon buka pintunya.” Pak Wahyu mengetuk
pintu pelan. “ Beri kesempatan.”
“ Pergi!” sebuah pukulan keras di pintu. Mengusir. Bibi bicara keras
tanpa menunjukan wajahnya. “ Pergi dari rumahku.” Sambil tangannya memukul daun
pintu yang bergetar.
dan hidup dengan baik. Kemunculanmu hanya akan menorehkan luka bagi anak-anak
itu.
Bibi masih terduduk di belakang pintu. Tidak ada sahutan ataupun suara
pembelaan di balik pintu. Bibi Salsa menarik nafas pelan. Merangkak ke dekat
jendela. Mengintip melalui tirai. Dia jatuh terduduk lagi saat pandangannya
bertemu dengan pengusaha Adiguna.
“ Kalau begitu, kami permisi sebentar, mau mengunjungi makam Nyonya
Jesika.” Lagi-lagi suara Pak Wahyu terdengar.
Jeglek, pintu berderik pelan. Terbuka sedikit demi sedikit. Sampai
akhirnya terlihat wajah Bibi Salsa yang sedang memegang handle pintu dengan
tangan sedikit gemetar. Mendengar nama May Sarah dipanggil dengan nama Jesika
membuatnya gusar.
Karena nama itulah semua mimpi dan kehidupan teman SMUnya berubah. Dia
membenci nama itu. May Sarah adalah May Sarah. Tidak ada lagi Jesika, dan
jangan pernah menyebut nama Jesika.
Bibi Salsa berdiri tebat di depan pintu yang terbuka.Di hadapannya Pak
Wahyu yang bergegas menyingkir saat Adiguna berjalan mendekat ke pintu.
“ Sedikit saja, kalau sedikit saja Anda punya rasa bersalah pada Sarah,
pergi dari sini. Jangan tunjukan wajah Anda Tuan, sekalipun hanya menyentuh
pusara Sarah.” Bibi Salsa menegakan kepalanya, walaupun dadanya bergejolak.
Menahan semua kepedihan. Dia menunjukan keangkuhan dan kemarahannya.
“ Maafkan saya, semua karena kebodohan saya.”
Bibi terhenyak ketika laki-laki di hadapannya menunduk dan bicara dengan
suara menyayat. Pandangan berwibawa.Tatapan penuh percaya diri yang kerap kali
dia tangkap di layar kaca, saat tidak sengaja wajah Adiguna muncul seperti
hilang tanpa bekas. Laki-laki di hadapannya hanya terlihat seperti pria putus asa
yang kehilangan penopang tubuhnya.
“ Tuan.”Bibi Salsa mengendurkan intonasinya karena iba. “ Saya mohon,
pergilah. Tidak ada lagi yang bisa Anda raih di sini. Sarah sudah pergi dengan tenang, biarkan
seperti itu saja. Saya mohon pergilah.” Yang bibi takuti adalah masa depan
Basma. Kemunculan laki-laki di hadapannya ini pasti karena putra kandung May
Sarah.
Bibi Salsa melihat Pak Wahyu, pasti karena dia semua jadi begini.
“ Terimakasih.”
Lho, kenapa dia begini si. Kalau dia bersikap selayaknya pengusaha
Adiguna aku pasti mudah mengusirnya. Tapi kenapa kau malah seperti orang tak
berdaya begini.
“ Terimakasih sudah menemani Jesi di saat-saat tersulit dalam hidupnya.
Terimakasih, karena Jesi punya orang baik di sekelilingnya. Maafkan saya, karena
saya, Jesi harus mengalami banyak hal yang berat.”
Bibi Salsa jadi merasa serba salah.
“ Masuklah Tuan.” Saat mengedarkan pandangan bibi melihat tetangga yang
lewat sejenak berhenti dan melihat ke arah rumah. Ternyata dia memang tidak
bisa mengusir Adiguna dengan mudah. Hatinya malah sedikit tersentuh dengan
kalimat yang diutarakan laki-laki itu barusan.
Bibi Salsa kembali menarik nafas dalam. Menemukan wajah Sarah dan Basma
bergantian. Pesan terakhir Sarah pada kedua temannya.
" Aku mohon, tolong cintai anakku seperti kalian
selalu mencintaiku."
Tiba-tiba Bibi Salsa ingin menangis lagi saat teringat wajah
tak berdaya May Sarah selepas melahirkan Basma. Tubuh lemahnya seperti akan
terkoyak walaupun hanya di sentuh saja.
" Aku mohon jangan benci Tuan Adiguna, aku yang meraih cinta dan tangannya. Aku bahagia bisa mencintainya."
Sampai akhir kau masih membela laki-laki ini.
Semua orang sudah duduk, termasuk Pak Wahyu. Diam, menjadi saksi hidup.
“ Tuan Adiguna, saya mohon.” Menundukan kepala. Mengaitkan jari
jemarinya. “ Biarkan kami hidup dengan damai seperti ini saja. Jangan melangkah
lebih jauh.” Dia pasti sudah tahu tentang Basma, wajah Basma yang mirip dengan
ibunya pasti tidak luput dari pengamatan Pak Wahyu. “ Anda boleh datang ke
makam Sarah, sekali ini saja saya mengiklaskannya, tapi setelahnya saya mohon jangan pernah
libatkan kami dalam keluarga Anda lagi.”
“ Dia putraku.”
Tarik nafas pelan, jangan terpancing. Bibi Salsa mencengkram roknya. Semua hal menakutkan tentang masa depan Basma, belum kebencian yang akan menghantui Key. Dia seperti sudah tidak kuat menanggung beban dan rahasia ini sendirian.
“ Dia hidup dengan baik itu sudah lebih dari cukup buat Anda.”
Adiguna bangun dari duduk, bibi yang terkejut ikut berdiri.
Mau apa dia!
“ Tu…Tuan, apa yang Anda lakukan!”
“ Saya mohon ceritakaan bagaimana Jesi dan putraku hidup selama ini.
Biarkan aku memohon pengampunan pada mereka.”
Adiguna duduk bersimbuh untuk pertama kalinya dalam hidup. Demi wanita
yang dia cintai.
Waktu berdetak dalam diam. Sampai lama Adiguna berada di posisinya untuk melunakan hati Bibi Salsa.
***
Sarah menghubungi kami lagi setelah sekian lamanya. Hari itu kami senang
sekaligus marah. Berita hubungannya dengan laki-laki yang sudah bersuami, sudah menjadi rahasia umum. Kami tahu bagaimana dia hidup dengan mengejar impiannya di ibu
kota.
Wajahnya terlihat pucat saat itu, Sarah membawa sebuah koper besar berisi pakaian.
Dan di samping koper itu ada sebuah tas berwarna biru yang juga terlihat berat. Kami gemetar saat membuka tas itu, semuanya berisi uang. Tidak tahu jumlahnya, kami tidak punya keberanian
menghitungnya.
Itulah hari di mana Sarah memilih pergi meninggalkan Anda karena bayi
yang ada dalam perutnya. Dia mengandung, namun belum sempat memberitahukan
semuanya pada Anda.
“ Aku akan membunuhmu kalau kau tidak pergi. Bawa uang ini, bukankah
hanya uang yang kau harapkan dari hubunganmu dengan suamiku.” kalimat kemarahan Nyonya Yuna.
Hari itu ketakutan Sarah karena bayi yang sedang dia
kandung. Kalau dia tidak hamil, walaupun diam, dia tetap akan bisa melawan.
Tapi bagaimana kalau Nyonya Yuna tahu perihal anak di perutnya. Apakah semua
akan berjalan dengan baik. Nyonya Yuna menyebut-nyebut nama putranya, bahwa
satu-satunya pewaris Adiguna Group hanyalah putranya. Hal itulah yang
membuatnya ketakutan dan pergi menghilang. Dia tidak sanggup mempercayai cinta di antara kalian, bisa melindungi bayinya dari Nyonya Yuna.
Ibu muda yang baru pertama kali hamil itu gemetar, dia jatuh pingsan
beberapa kali. Karena kehamilan selalu merubah psikis dan kejiwaan seseorang.
Kami memeluk Sarah dan menguatkannya, bahwa semua akan baik-baik saja.
Tapi, tidak tahu, bagaimana caranya Nyonya Yuna bisa tahu. Saat Sarah
sedang hamil besar, wanita itu muncul di hadapan Sarah. Nyonya Yuna meradang
marah, apalagi saat melihat perut Sarah yang membesar. Sekali hitung saja dia
bisa menduga, anak siapa yang ada di perut Sarah.
Bibi Salsa mulai terisak-isak. Bahunya gemetar. Dia meraih tisu dan
sesengukan lagi.
“ Tuan saya mohon sampai di sini saja.” Bibi Salsa tidak punya keberanian untuk meneruskan ceritanya. " Saya mohon pergilah. " Pergilah jauh dari hidup Basma, jangan membuat pengorbanan Sarah menjadi sia-sia." Tangisnya pecah. Mengenang bagaimana perjuangan Sarah di sisa hidupnya.
Airmata Adiguna jatuh ke lantai. Sekali lagi untuk pertama kalinya dia merasa hidupnya jauh lebih hancur daripada saat menghilangnya Jesi. Ketika kebenaran sedikit demi sedikit terkuak.
Bersambung
Masih berjuang dengan ujian Daring, mohon maaf Slow Update. Terimakasih semuanya semoga menjadi pengobat rindu. Maaf ya Key gak muncul ^_^