Key And Bian

Key And Bian
Permohonan Adiguna



Pak Wahyu sudah selesai dengan kesibukan paginya, ketika Bian keluar dari


kamar. Biasanya Bian akan menghabiskan pagi harinya dengan olahraga pagi, tapi karena mengantuk setelah sholat


subuh, dia memilih masuk lagi ke kamarnya. Pagi tadi Pak Wahyu bahkan mendengar


Bian bersenandung kecil.


Bian sudah Duduk sambil masih melihat hp. Terlihat serius. Tangannya


bergerak seirama dengan senyumannya. Pak Wahyu sudah menyiapkan sarapan lengkap


untuknya.


Sepertinya suasana hatinya cukup baik pagi ini, syukurlah.


Melihat dari kejadian lalu, Pak Wahyu berfikir kalau Bian akan terlihat


murung sampai pagi ini. Dia laki-laki yang suka menyimpan segala sesuatunya


sendiri. Tapi melihat wajah Bian yang terlihat segar, membuat Pak Wahyu lega.


Beratnya menyimpan rahasia dan tahu semua hal, gumam Pak Wahyu merasa


bersalah.


“ Oh ya, Mas Bian terlihat akrab sama Mas Basma ya?” Meletakan piring


yang sudah ada nasi, di hadapan Bian.


“ Tidak sama sekali.” Bahkan tidak menoleh dari hpnya, senyum samar muncul lagi saat melihat layar hp. Dia


meletakan hp. “ Aku tidak akrab dengannya Pak.” Tegas


memproklamirkan diri. “ Ya, walaupun aku tidak juga membencinya.”


Kenapa juga aku harus membencinya, walaupun aku memang tidak terlalu


suka padanya.


“ Hehe, benarkah. Saya lihat Mas Basma ingin berusaha akrab dengan Mas


Bian.” Pak Wahyu berusaha mengikatkan hubungan sedarah di antara mereka.


“ Aku akan memperlakukannya dengan baik karena dia adik Key, sudah itu


saja.” Mulai makan sarapannya. Melihat Pak Wahyu yang terlihat lebih rapi dari


biasanya. “ Pak Wahyu mau pergi?”


“ Ia mas maaf baru bilang. Mendadak harus pulang ke kampung. Ada sedikit


keperluan.”


Biasanya Pak Wahyu memang terkandang meminta izin secara mendadak untuk


pulang kampung, jadi Bian tidak merasa perlu menanyakan alasannya.


“ Baiklah, salam buat anak dan istri bapak ya. Tunggu sebentar.”


Meletakan sendok dan masuk ke dalam kamar. Selang tidak lama keluar dengan


membawa sebuah amplop. “ Belikan hadiah buat anak-anak Pak Wahyu.”


Pak Wahyu terlihat merasa bersalah, tapi diraihnya amplop itu. Karena


kalau dia menolak Bian pasti akan mulai curiga.


“ Terimakasih Mas. Jangan lupa makan siang dan makan malam ya Mas.”


“ Ia, ia. Siap-siap saja sana.”


“Jangan cuma makan…”


“Ia,ia, tahu. Sudah sana.”


“ Nanti malam antar Mbak Key pulang pakai mobil saja Mas.”


Mendengar nama Key membuat Bian langsung menyambar hpnya lagi.


Menghabiskan sarapan sambil mengirim pesan selamat pagi. Setelah itu berulang


kali melihat lagi perang stiker yang mereka lakukan semalam.


Begini saja benar-benar membuatku bahagia.


***


Masa lalu seperti apa yang terjadi pada Jesi. Hari ini Adiguna harus


mendapatkan jawabannya. Ia ingin menebus semua kesalahan yang ia lakukan.


Meraih tangan putra dari wanita yang dia cintai.


Pak Wahyu mengemudi dengan kecepatan tinggi, seperti berharap mobil


dalam sekejap sampai ke tujuan.


Dalam dua hari saja Pak Wahyu  melewati jalan yang sama. Namun kali ini berbeda. Keheningan yang


menyiksa sudah mengisi dari awal mobil melaju dari halaman rumah. Sampai mobil


melaju dalam hitungan jam. Waktu berdetik membosankan. Pak Wahyu menawarkan


untuk berhenti di rest area yang mereka lalui kemarin. Adiguna menolak. Dia


ingin cepat sampai.


Dia tidak mau kehilangan Jesi sekali lagi. Dia khawatir kalau dia datang


terlambat lagi, makam Jesi akan menghilang seperti mimpi. Ketakutannya itu


membuatnya nyaris tak bisa tidur semalamam. Wajah Basma yang sudah ada di


hadapannya, namun melihatnya dingin sambil berlalu pergi. Mencengkramnya dalam


mimpi.


Rumah yang sama. Dengan udara yang jauh lebih cerah. Ada ayam yang


berlompatan di halaman, mengorek tanah, menjemput rejeki yang dijanjikan Tuhan


pada semua makhluknya.


Pak Wahyu menghentikan mobil


sengaja di luar halaman rumah. Anak-anak yang kemarin dia lihat berlari dari


dalam rumah ketika melihat mobil berhenti di dekat gapura rumah mereka.  Pak Wahyu keluar dari mobil. Tersenyum.  Karena baru kemarin, dia pasti masih di kenali


oleh kedua anak di hadapannya ini.


“ Paman datang lagi anak-anak.” mengusap kepala mereka dan memberi tas berisi


mainan dan makanan. Mereka melihat isinya lalu mulai menunjukan kegirangan. Mengeluarkan


mainan yang baru saja mereka dapat.


“ Om Basma mana?”


“ Paman nggak sama Om Basma, ibu ada di rumah?” Anak-anak menunjuk rumah


mereka. “ Biasanya main kemana sama teman-teman?”


Sedang mencari tempat supaya anak-anak tidak mendengar, pembicaraan


laki-laki yang sudah menahan dirinya sepanjang perjalanan di dalam mobil.


“ Ke sebelah, tempat Darlan Paman.” Menunjuk rumah sebelah persis di


samping rumah mereka. Bangunan yang masih terbuat dari bata merah.


“ Kalo gitu main tempat Darlan dulu ya. Bagi-bagi kuehnya sama Darlan.


Paman ketemu sama ibu dulu ya.”


“ Ia Paman.” Menurut tanpa bertanya. Kanak-kanak yang tanpa curiga, membawa


tas yang mereka terima.


Sementara itu Bibi Salsa muncul di depan pintu, karena melihat


anak-anaknya bicara dengan seseorang. Apalagi saat melihat mobil yang


berdiri  di dekat gapura rumahnya.


Bukannya itu  bapak sopir yang


kemarin.


Bibi Salsa berusaha mengingat-ingat mobil yang kemarin mengantar Key dan


Basma.  Sepertinya berbeda. Dia mulai


dirasuki cemas. Benar saja, saat melihat laki-laki keluar dari mobil, dia


membentur tembok. Kakinya seperti terkulai tanpa tenaga.  Tangannya mulai gemetar.


Pengusaha Adiguna.


Saat pandangan matanya bertemu dengan laki-laki itu, dia benar-benar


jatuh terduduk. Dia terseok saat berusaha bangun. Lalu berjalan sambil


terhuyung masuk ke dalam rumah. Menutup pintu dengan suara keras. Dia terduduk


di belakang pintu, sambil memukul dadanya gemetar.


Kenapa dia muncul di sini.


Kemunculan putranya saja yang tidak tahu apa-apa, sudah menyulut


kebencian, kemarahan sekaligus ketakutan di dalam dirinya. Pertemuan setahun


sekali dengan Key dan Basma yang biasanya ia nantikan, kemarin menguap begitu


saja karena kemunculan laki-laki bernama Bian. Bagaimana bisa sekarang, sumber dari semua bencana itu datang tanpa rasa bersalah.


Bibi Salsa memukul-mukul lantai, melampiaskan suasana hatinya yang bergejolak.


“ Assalamualaikum Bi, saya mohon buka pintunya.” Pak Wahyu mengetuk


pintu pelan. “ Beri kesempatan.”


“ Pergi!” sebuah pukulan keras di pintu. Mengusir. Bibi bicara keras


tanpa menunjukan wajahnya. “ Pergi dari rumahku.” Sambil tangannya memukul daun


pintu yang bergetar.


dan hidup dengan baik. Kemunculanmu hanya akan menorehkan luka bagi anak-anak


itu.


Bibi masih terduduk di belakang pintu. Tidak ada sahutan ataupun suara


pembelaan di balik pintu. Bibi Salsa menarik nafas pelan. Merangkak ke dekat


jendela. Mengintip melalui tirai. Dia jatuh terduduk lagi saat pandangannya


bertemu dengan pengusaha Adiguna.


“ Kalau begitu, kami permisi sebentar, mau mengunjungi makam Nyonya


Jesika.” Lagi-lagi suara Pak Wahyu terdengar.


Jeglek, pintu berderik pelan. Terbuka sedikit demi sedikit. Sampai


akhirnya terlihat wajah Bibi Salsa yang sedang memegang handle pintu dengan


tangan sedikit gemetar. Mendengar nama May Sarah dipanggil dengan nama Jesika


membuatnya gusar.


Karena nama itulah semua mimpi dan kehidupan teman SMUnya berubah. Dia


membenci nama itu. May Sarah adalah May Sarah. Tidak ada lagi Jesika, dan


jangan pernah menyebut nama Jesika.


Bibi Salsa berdiri tebat di depan pintu yang terbuka.Di hadapannya Pak


Wahyu yang bergegas menyingkir saat Adiguna berjalan mendekat ke pintu.


“ Sedikit saja, kalau sedikit saja Anda punya rasa bersalah pada Sarah,


pergi dari sini. Jangan tunjukan wajah Anda Tuan, sekalipun hanya menyentuh


pusara Sarah.” Bibi Salsa menegakan kepalanya, walaupun dadanya bergejolak.


Menahan semua kepedihan. Dia menunjukan keangkuhan dan kemarahannya.


“ Maafkan saya, semua karena kebodohan saya.”


Bibi terhenyak ketika laki-laki di hadapannya menunduk dan bicara dengan


suara menyayat. Pandangan berwibawa.Tatapan penuh percaya diri yang kerap kali


dia tangkap di layar kaca, saat tidak sengaja wajah Adiguna muncul seperti


hilang tanpa bekas. Laki-laki di hadapannya hanya terlihat seperti pria putus asa


yang kehilangan penopang tubuhnya.


“ Tuan.”Bibi Salsa mengendurkan intonasinya karena iba. “ Saya mohon,


pergilah. Tidak ada lagi yang bisa Anda raih di sini.  Sarah sudah pergi dengan tenang, biarkan


seperti itu saja. Saya mohon pergilah.” Yang bibi takuti adalah masa depan


Basma. Kemunculan laki-laki di hadapannya ini pasti karena putra kandung May


Sarah.


Bibi Salsa melihat Pak Wahyu, pasti karena dia semua jadi begini.


“ Terimakasih.”


Lho, kenapa dia begini si. Kalau dia bersikap selayaknya pengusaha


Adiguna aku pasti mudah mengusirnya. Tapi kenapa kau malah seperti orang tak


berdaya begini.


“ Terimakasih sudah menemani Jesi di saat-saat tersulit dalam hidupnya.


Terimakasih, karena Jesi punya orang baik di sekelilingnya. Maafkan saya, karena


saya, Jesi harus mengalami banyak hal yang berat.”


Bibi Salsa jadi merasa serba salah.


“ Masuklah Tuan.” Saat mengedarkan pandangan bibi melihat tetangga yang


lewat sejenak berhenti dan melihat ke arah rumah. Ternyata dia memang tidak


bisa mengusir Adiguna dengan mudah. Hatinya malah sedikit tersentuh dengan


kalimat yang diutarakan laki-laki itu barusan.


Bibi Salsa kembali menarik nafas dalam. Menemukan wajah Sarah dan Basma


bergantian. Pesan terakhir Sarah pada kedua temannya.


" Aku mohon, tolong cintai anakku seperti kalian


selalu mencintaiku."


Tiba-tiba Bibi Salsa ingin menangis lagi saat teringat wajah


tak berdaya May Sarah selepas melahirkan Basma. Tubuh lemahnya seperti akan


terkoyak walaupun hanya di sentuh saja.


" Aku mohon jangan benci Tuan Adiguna, aku yang meraih cinta dan tangannya. Aku bahagia bisa mencintainya."


Sampai akhir kau masih membela laki-laki ini.


Semua orang sudah duduk, termasuk Pak Wahyu. Diam, menjadi saksi hidup.


“ Tuan Adiguna, saya mohon.” Menundukan kepala. Mengaitkan jari


jemarinya. “ Biarkan kami hidup dengan damai seperti ini saja. Jangan melangkah


lebih jauh.” Dia pasti sudah tahu tentang Basma, wajah Basma yang mirip dengan


ibunya pasti tidak luput dari pengamatan Pak Wahyu. “ Anda boleh datang ke


makam Sarah, sekali ini saja saya mengiklaskannya,  tapi setelahnya saya mohon jangan pernah


libatkan kami dalam keluarga Anda lagi.”


“ Dia putraku.”


Tarik nafas pelan, jangan terpancing. Bibi Salsa mencengkram roknya. Semua hal menakutkan tentang masa depan Basma, belum kebencian yang akan menghantui Key. Dia seperti sudah tidak kuat menanggung beban dan rahasia ini sendirian.


“ Dia hidup dengan baik itu sudah lebih dari cukup buat Anda.”


Adiguna bangun dari duduk, bibi yang terkejut ikut berdiri.


Mau apa dia!


“ Tu…Tuan, apa yang Anda lakukan!”


“ Saya mohon ceritakaan bagaimana Jesi dan putraku hidup selama ini.


Biarkan aku memohon pengampunan pada mereka.”


Adiguna duduk bersimbuh untuk pertama kalinya dalam hidup. Demi wanita


yang dia cintai.


Waktu berdetak dalam diam. Sampai lama Adiguna berada di posisinya untuk melunakan hati Bibi Salsa.


***


Sarah menghubungi kami lagi setelah sekian lamanya. Hari itu kami senang


sekaligus marah. Berita hubungannya dengan laki-laki yang sudah bersuami, sudah menjadi rahasia umum. Kami tahu bagaimana dia hidup dengan mengejar impiannya di ibu


kota.


Wajahnya terlihat pucat saat itu, Sarah membawa sebuah koper besar berisi pakaian.


Dan di samping koper itu ada sebuah tas berwarna biru yang juga terlihat berat. Kami gemetar saat membuka tas itu, semuanya berisi uang. Tidak tahu jumlahnya, kami tidak punya keberanian


menghitungnya.


Itulah hari di mana Sarah memilih pergi meninggalkan Anda karena bayi


yang ada dalam perutnya. Dia mengandung, namun belum sempat memberitahukan


semuanya pada Anda.


“ Aku akan membunuhmu kalau kau tidak pergi. Bawa uang ini, bukankah


hanya uang yang kau harapkan dari hubunganmu dengan suamiku.” kalimat kemarahan Nyonya Yuna.


Hari itu ketakutan Sarah karena bayi yang sedang dia


kandung. Kalau dia tidak hamil, walaupun diam, dia tetap akan bisa melawan.


Tapi bagaimana kalau Nyonya Yuna tahu perihal anak di perutnya. Apakah semua


akan berjalan dengan baik. Nyonya Yuna menyebut-nyebut nama putranya, bahwa


satu-satunya pewaris Adiguna Group hanyalah putranya. Hal itulah yang


membuatnya ketakutan dan pergi menghilang. Dia tidak sanggup mempercayai cinta di antara kalian, bisa melindungi bayinya dari Nyonya Yuna.


Ibu muda yang baru pertama kali hamil itu gemetar, dia jatuh pingsan


beberapa kali. Karena kehamilan selalu merubah psikis dan kejiwaan seseorang.


Kami memeluk Sarah dan menguatkannya, bahwa semua akan baik-baik saja.


Tapi, tidak tahu, bagaimana caranya Nyonya Yuna bisa tahu. Saat Sarah


sedang hamil besar, wanita itu muncul di hadapan Sarah. Nyonya Yuna meradang


marah, apalagi saat melihat perut Sarah yang membesar. Sekali hitung saja dia


bisa menduga, anak siapa yang ada di perut Sarah.


Bibi Salsa mulai terisak-isak. Bahunya gemetar. Dia meraih tisu dan


sesengukan lagi.


“ Tuan saya mohon sampai di sini saja.” Bibi Salsa tidak punya keberanian untuk meneruskan ceritanya. " Saya mohon pergilah. " Pergilah jauh dari hidup Basma, jangan membuat pengorbanan Sarah menjadi sia-sia." Tangisnya pecah. Mengenang bagaimana perjuangan Sarah di sisa hidupnya.


Airmata Adiguna jatuh ke lantai. Sekali lagi untuk pertama kalinya dia merasa hidupnya jauh lebih hancur daripada saat menghilangnya Jesi. Ketika kebenaran sedikit demi sedikit terkuak.


Bersambung


Masih berjuang dengan ujian Daring, mohon maaf Slow Update. Terimakasih semuanya semoga menjadi pengobat rindu. Maaf ya Key gak muncul ^_^