Key And Bian

Key And Bian
Pesta (Part 8 End)



Basma membalikan badan dan melihat


wajah Key lekat, gadis itu tetap bisa tersenyum dengan ceria menanggapi cerita


model cantik itu. “ Silahkan.” Beberapa tamu datang, Basma mempersilahkannya


mengambil mangkok kecil berisi somai. Saat seorang laki-laki dan wanita tepat


berada di hadapannya, “ mbak, kamu gak mau melayani tuan ini.”


“ Apa si Bas.” Langsung Key bangun


dari duduk. Dia membeku. Tidak bisa bergerak mendekat.


“ Norak.” Basma yang berjalan


ke arah Key, menarik tangan gadis itu agar tersadar.


“ Hallo?” sapa pria itu ramah.


“ Saya penggemar Anda.” Kata key


pelan. “ Apa boleh berjabat tangan.” Laki-laki ini adalah bintang sinetron.


Dulu Key dan ibu sering sekali menonton dramanya di tv. Saat ibu masih membersamainya.


“ Norak amat si Mba.” Berbisik di telinga Key.


“ Biarin. Kapan lagi bisa bertemu dengan kak Arya.” Berbisik juga.


“ Haha, tentu saja.” Dia mengulurkan tangannya terlebih dahulu, dengan gugup Key juga mengulurkan


tangannya. Pria itu menggenggam erat tangan Key, dan gadis itu langsung merah


mukannya.


“ Apa keberatan kalau minta foto.


Maaf ya Mbak, saya dan Ibu saya pengemar suami Mbak” Key bicara sopan pada


istri artis idolanya. Wanita cantik itu mengangguk.


“ Tentu saja boleh.” Wanita itu menjawab ramah.


Key girang bukan main, dia menyerahkan ponselnya kepada Basma. Lalu nyelip di antara gerai, beberapa orang memperhatikan tingkahnya, tapi dia benar-benar tidak perduli. Sekarang dia


sudah ada disamping idolanya.


“ Baiklah, siap. 1,2,3.”


Key berada tepat disamping


Aryamanda. Lelaki itu melingkarkan tangannya dipundak key, gadis itu senang


sekali.


“ Terimakasih ya Kak, maaf sudah


merepotkan. Silahkan dinikmati somainya.”


“ Haha, tidak apa-apa. Saya senang


ternyata masih punya pengemar gadis muda sepertimu. Belajar dengan rajin ya,


dan bantu orang tuamu dengan baik.” Puk,puk. Arya menyentuh kepala Key beberapa


kali. Wajah Key memerah. “ Aku pergi dulu ya. Somainya enak.”


“ Terimakasih Kak, terimakasih


mbak” Key membungkukan badanya beberapa kali, melambaikan tangannya dengan


riang. Sampai idolanya menghilang dikerumunan orang-orang yang sedang berpesta.


“ Mana fotonya Bas, sini coba liat. Aaa, mau aku jadiin foto profil.”


“ Puk,puk, belajar yang rajin dan bantu orang tua dengan baik ya Nak.” Basma menirukan adegan tadi. Sementara Amanda cekikikan melihatnya.


“ Biarin, yang penting bisa foto


bareng Kak Arya, mau dia anggap aku anak SMP juga gak papa.” Key duduk lagi di


samping Amanda, sambil melihat-lihat fotonya bersama Arya. Wajahnya masih


bersemu-semu merah. Amanda pun ikut tertawa. Sementara mereka sedang asik


mengobrol, pesta semakin larut. Acara semakin meriah. Namun peata tetaplah


pesta, keramaian ini harus berakhir juga. Ditutup dengan seremonial oleh Bian


selaku CEO. Dia membungkukan badan beberapa kali sebagai ucapan terimakasih


atas partisipasi dan kerja keras semua pihak sehingga acara ini bisa


berlangsung dengan sukses. Tepuk tangan membahana. Dan pesta pun berakhir, satu


persatu tamu mulai meninggalkan gemerlap ruangan. Para petugas acara sibuk


mengatur arus keluar para tamu, agar semuanya tetap kondusif, semua berjalan


dengan sempurna. Para petugas yang merupakan pegawai Adiguna Grup bekerja


secara cekatan, mereka sudah terlatih untuk bekerja dengan baik. Sehingga


sebanyak apa pun orang bisa ditangani dengan baik.


 


Setelah semua tamu sudah pulang


riuh para petugas menyerbu gerai makanan. Para pemilik gerai juga saling


mencicipi gerai yang lain. Kali ini riuh, saling berebut. Suasana kondusif dan


antri itu tidak ada lagi. Namun tidak ada yang memprotes, para tamu VVIP sudah


tidak ada. Dan mereka bersikap selayaknya mereka biasanya. Orang-orang dengan


selera dan sikap yang sama.


“ Jadi ini benar Key imoet yang sempat viral itu ya.”


“ Enak somainya.”


“ Aku mau coba baksonya donk, katanya langganan CEO ya.”


“ Gimana kok kuah es dawetnya bisa


enak begini, bukannya bahannya cuma gula merah saja, sama santan. Bagi tipsnya


supaya enak begini.”


“ Ini apa? Es selendang mayang, aku


kenyang padahal cuma makan es.”


“ Mau otak-otak panggangnya donk.”


“ Mpek-mpeknya juga, ah ada tekwan juga ya.


“ Ada yang mau nyicip sate lilit gak, aku ambil banyak nih. Hahaha.”


“ Es pisang ijonya masih gak?”


“ Apa itu? Ketan durian, mau donk nyicip.”


“ Ada es puter durian juga ya, mau donk, es zaman aku SD tu.”


“ Martabak mininya boleh juga, ini


yang aku suka, rasanya klasik, kacang sama mesis. Sekarang toping martabak


sudah macam-macam ya. Bahkan coklat-coklat yang mahal itu juga jadi toping.


Tapi aku tetep cinta sama toping kacang tanah sama mesis.”


“ Ada yang mau pisang goreng. Haha,


yang ini kekinian topingnya, keju, selai, coklat, mesis, green tea. Ada es


creamnya juga lho di atasnya.”


“ Memang itu makanan tradisional dari mana?”


“ Gorengan kan makanan tradisional


seluruh daerah. Di mana-mana juga ada.”


“ Kue pancongku sama kue cubitku


masih lho. Sini serbu! Aneka toping. Gratis. Haha.”


“ Enak, apa ini. Klapetart. Makanan


adaptasi resep luar, tapi cukup populer di indonesia.”


“ Ada pizza gak ya, aku pingin makan pizza.”


“ Hubungannya sama pizza apa?”


“ Sama-sama bikin kenyang. Haha.”


“ Jajanan pasar, sini, sini, high


quality, kalau di toko kueku sepuluh ribu satu picis, di sini gratis. Ada yang


mau bungkus bawa pulang boleh. Modal plastik sendiri ya.”


“ Hahaha.”


Ramai, mereka mencicipi semua


makanan yang ada. Para petugas dan pegawai Adiguna Grup berbaur dengan para pemilik


gerai makanan. Mereka membungkus makanan yang masih tersisa. Mencicipi


semuanya. Mengobrol. Yang sebenarnya secara pribadi mereka bahkan tidak saling


mengenal. Namun malam ini sepertinya semua penghalang itu hancur dan melahirkan


keakraban.


“ Tes... tes...”


Kerumunan pencari makan tenang. Mencari asal suara.


“ Halo.. halo... apa kalian sudah


selesai dengan pestanya. Ayo bereskan tempat ini lalu pulang dan tidur.”


“ Ayooo, tidur!!”


Mendengar kata itu saja sudah


membuat semuanya senang. Buru-buru mereka memasukan apa yang masih ada ke dalam


kantong plastik. Membagikan ke gerai makanan yang lain, saling bertukar


bungkusan. Basma juga begitu. Key membagikan bungkusan somai ke gerai yang


lainnya dan kepada beberapa petugas. Setelah itu mereka sibuk membereskan semua


perlengkapan. Memasukan magkok-mangkok kotor dan sendok ke dalam boks.


Menyusunnya kembali satu-persatu agar muat seperti sebelumnya. Basma membongkar


kompornya. Membuka air kukusan yang menguap uap panasnya. Setelah memasukan


kompor dan menggulung selang gas ke dalam boks dia membantu Key menyusun


mangkok kecil.


“ Kamu tidak apa-apa Mba?”


“ Hemm.”


“ Walaupun aku sendiri merasa


marah, tapi aku yakin Kak Bian punya alasan melakukan ini. Kamu tanyakan saja


padanya nanti.”


“ Benar. Dia pasti punya alasan,


dan akulah yang menentukan, apakah aku akan menerima alasannya atau tidak.”


“ Benarkan, kamu suka padanya.”


Key sadar ia sudah terjebak oleh pertanyaan Basma.


“ Tidak. Sudah beres semua.”


Dua orang yang tadi berangkat


mengantarkan mereka mendekat. “ Maaf Mba, sudah selesai beres-beresnya, kami


bisa antar pulang sekarang.”


“ Bapak kan belum selesai, kami bisa tunggu kok.”


“ Tidak apa-apa Mba. Ini perintah Pak Anjas.”


Mereka mulai menganggkut boks-boks menuju mobil.


“ Mba tunggu di mobil aja.”


Basma melarang Key yang sudah


memegang boks kecil untuk dia angkat, ahkirnya dia hanya membawa tasnya saja.


Sambil melihat orang-orang yang tengah sibuk membereskan ruangan dan gerai


masih-masih, ia mengedarkan matanya. Memperhatikan satu persatu wajah mereka.


Berharap menemukan Bian diantara mereka.


“ Bodohnya aku, tentu saja dia


sudah pulang. Untuk apa dia masih ada di sini.” Ia melangkah tanpa tenaga menuju


mobil, langsung masuk dan duduk. Diam tak memikirkan apa pun, hanya sekelebat


pristiwa malam itu melintas. Saat Bian mendorongnya di gudang dan menanyakan


apa yang ia inginkan dari nya. “ Apa aku akan minta uang padamu kalau tahu kau


CEO Grand mall. Apa itu yang ada dipikiranmu.”


“ Kenapa Mba?” Pak sopir masuk,


basma juga menyusul. “ Kita berangkat.”


“ Ia Pak.” Basma yang menjawab.


Diam. Tidak ada yang bicara. Mobil


memecah jalanan, sisa keramaian pesta sudah habis, tempat ini sudah cukup lengang.


Ratusan mobil yang tadi berjubel, puluhan petugas keamanan yang tadi bersiaga


sudah tidak tampak. hanya tersisa mobil-mobil boks milik gerai makanan. Mereka melewati jalan menuju ruang CEO. Key menoleh. “ Jadi


di sini rumahmu.” Dia hanya bicara dalam hati. Saat sudah sampai ke rumah, Key


turun . dia mengucapkan terimakasih kepada pak sopir dan orang yang


membantunya. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


“ Kenapa? Apa dia sakit?” Bapak


sopir bertanya karena melihat perubahan sikap Key.


“ Tidak Pak, Mba Key cuma lelah.”


Mereka lalu menurunkan semua boks,


dan memasukannya ke dalam rumah. Menyusunnya di ruang tamu.


“ Terimakasih banyak pak. Ini silahkan diambil.”


“ Tidak usah Mas. Ini sudah kewajiban saya.” Dia menolak amplop yang di sodorkan Basma.


“ Ini cuma ala kadarnya dari Mba Key, sebagai ucapan terimakasih. Gak usah bilang sama Kak Anjas.”


“ Gak usah Mas, ini sudah kewajiban saya. Saya permisi.”


“ Baiklah Pak, terimakasih banyak.”


Basma menyerah memaksa bapak sopir menerima amplopnya.


“ Ia sama-sama.”


 


“ Jangan terima uang sepeser pun


dari mereka, kalau tidak mau kehilangan pekerjaanmu.” Pak sopir ingat betul apa


yang dikatan Anjas. “ Mereka teman-temanku, bersikaplah seperti bersikap


padaku.” Sudah membuatnya tidak berani macam-macam. Perintah langsung dari


Anjas sudah membuatnya mengerti bahwa wanita yang barusan ia bantu adalah orang


yang spesial, walaupun baru pertama kalinya ia melihatnya di acara Adiguna Grup.


BERSAMBUNG.......


Selamat malam, pesta telah berakhir, kita akan melanjutkan hidup penuh kerja keras lagi ^_^


tapi tentunya tetap perjuangan Bian selanjutnya......


dilike donk biar saya seneng 😆😆😆