
Basma membalikan badan dan melihat
wajah Key lekat, gadis itu tetap bisa tersenyum dengan ceria menanggapi cerita
model cantik itu. “ Silahkan.” Beberapa tamu datang, Basma mempersilahkannya
mengambil mangkok kecil berisi somai. Saat seorang laki-laki dan wanita tepat
berada di hadapannya, “ mbak, kamu gak mau melayani tuan ini.”
“ Apa si Bas.” Langsung Key bangun
dari duduk. Dia membeku. Tidak bisa bergerak mendekat.
“ Norak.” Basma yang berjalan
ke arah Key, menarik tangan gadis itu agar tersadar.
“ Hallo?” sapa pria itu ramah.
“ Saya penggemar Anda.” Kata key
pelan. “ Apa boleh berjabat tangan.” Laki-laki ini adalah bintang sinetron.
Dulu Key dan ibu sering sekali menonton dramanya di tv. Saat ibu masih membersamainya.
“ Norak amat si Mba.” Berbisik di telinga Key.
“ Biarin. Kapan lagi bisa bertemu dengan kak Arya.” Berbisik juga.
“ Haha, tentu saja.” Dia mengulurkan tangannya terlebih dahulu, dengan gugup Key juga mengulurkan
tangannya. Pria itu menggenggam erat tangan Key, dan gadis itu langsung merah
mukannya.
“ Apa keberatan kalau minta foto.
Maaf ya Mbak, saya dan Ibu saya pengemar suami Mbak” Key bicara sopan pada
istri artis idolanya. Wanita cantik itu mengangguk.
“ Tentu saja boleh.” Wanita itu menjawab ramah.
Key girang bukan main, dia menyerahkan ponselnya kepada Basma. Lalu nyelip di antara gerai, beberapa orang memperhatikan tingkahnya, tapi dia benar-benar tidak perduli. Sekarang dia
sudah ada disamping idolanya.
“ Baiklah, siap. 1,2,3.”
Key berada tepat disamping
Aryamanda. Lelaki itu melingkarkan tangannya dipundak key, gadis itu senang
sekali.
“ Terimakasih ya Kak, maaf sudah
merepotkan. Silahkan dinikmati somainya.”
“ Haha, tidak apa-apa. Saya senang
ternyata masih punya pengemar gadis muda sepertimu. Belajar dengan rajin ya,
dan bantu orang tuamu dengan baik.” Puk,puk. Arya menyentuh kepala Key beberapa
kali. Wajah Key memerah. “ Aku pergi dulu ya. Somainya enak.”
“ Terimakasih Kak, terimakasih
mbak” Key membungkukan badanya beberapa kali, melambaikan tangannya dengan
riang. Sampai idolanya menghilang dikerumunan orang-orang yang sedang berpesta.
“ Mana fotonya Bas, sini coba liat. Aaa, mau aku jadiin foto profil.”
“ Puk,puk, belajar yang rajin dan bantu orang tua dengan baik ya Nak.” Basma menirukan adegan tadi. Sementara Amanda cekikikan melihatnya.
“ Biarin, yang penting bisa foto
bareng Kak Arya, mau dia anggap aku anak SMP juga gak papa.” Key duduk lagi di
samping Amanda, sambil melihat-lihat fotonya bersama Arya. Wajahnya masih
bersemu-semu merah. Amanda pun ikut tertawa. Sementara mereka sedang asik
mengobrol, pesta semakin larut. Acara semakin meriah. Namun peata tetaplah
pesta, keramaian ini harus berakhir juga. Ditutup dengan seremonial oleh Bian
selaku CEO. Dia membungkukan badan beberapa kali sebagai ucapan terimakasih
atas partisipasi dan kerja keras semua pihak sehingga acara ini bisa
berlangsung dengan sukses. Tepuk tangan membahana. Dan pesta pun berakhir, satu
persatu tamu mulai meninggalkan gemerlap ruangan. Para petugas acara sibuk
mengatur arus keluar para tamu, agar semuanya tetap kondusif, semua berjalan
dengan sempurna. Para petugas yang merupakan pegawai Adiguna Grup bekerja
secara cekatan, mereka sudah terlatih untuk bekerja dengan baik. Sehingga
sebanyak apa pun orang bisa ditangani dengan baik.
Setelah semua tamu sudah pulang
riuh para petugas menyerbu gerai makanan. Para pemilik gerai juga saling
mencicipi gerai yang lain. Kali ini riuh, saling berebut. Suasana kondusif dan
antri itu tidak ada lagi. Namun tidak ada yang memprotes, para tamu VVIP sudah
tidak ada. Dan mereka bersikap selayaknya mereka biasanya. Orang-orang dengan
selera dan sikap yang sama.
“ Jadi ini benar Key imoet yang sempat viral itu ya.”
“ Enak somainya.”
“ Aku mau coba baksonya donk, katanya langganan CEO ya.”
“ Gimana kok kuah es dawetnya bisa
enak begini, bukannya bahannya cuma gula merah saja, sama santan. Bagi tipsnya
supaya enak begini.”
“ Ini apa? Es selendang mayang, aku
kenyang padahal cuma makan es.”
“ Mau otak-otak panggangnya donk.”
“ Mpek-mpeknya juga, ah ada tekwan juga ya.
“ Ada yang mau nyicip sate lilit gak, aku ambil banyak nih. Hahaha.”
“ Es pisang ijonya masih gak?”
“ Apa itu? Ketan durian, mau donk nyicip.”
“ Ada es puter durian juga ya, mau donk, es zaman aku SD tu.”
“ Martabak mininya boleh juga, ini
yang aku suka, rasanya klasik, kacang sama mesis. Sekarang toping martabak
sudah macam-macam ya. Bahkan coklat-coklat yang mahal itu juga jadi toping.
Tapi aku tetep cinta sama toping kacang tanah sama mesis.”
“ Ada yang mau pisang goreng. Haha,
yang ini kekinian topingnya, keju, selai, coklat, mesis, green tea. Ada es
creamnya juga lho di atasnya.”
“ Memang itu makanan tradisional dari mana?”
“ Gorengan kan makanan tradisional
seluruh daerah. Di mana-mana juga ada.”
“ Kue pancongku sama kue cubitku
masih lho. Sini serbu! Aneka toping. Gratis. Haha.”
“ Enak, apa ini. Klapetart. Makanan
adaptasi resep luar, tapi cukup populer di indonesia.”
“ Ada pizza gak ya, aku pingin makan pizza.”
“ Hubungannya sama pizza apa?”
“ Sama-sama bikin kenyang. Haha.”
“ Jajanan pasar, sini, sini, high
quality, kalau di toko kueku sepuluh ribu satu picis, di sini gratis. Ada yang
mau bungkus bawa pulang boleh. Modal plastik sendiri ya.”
“ Hahaha.”
Ramai, mereka mencicipi semua
makanan yang ada. Para petugas dan pegawai Adiguna Grup berbaur dengan para pemilik
gerai makanan. Mereka membungkus makanan yang masih tersisa. Mencicipi
semuanya. Mengobrol. Yang sebenarnya secara pribadi mereka bahkan tidak saling
mengenal. Namun malam ini sepertinya semua penghalang itu hancur dan melahirkan
keakraban.
“ Tes... tes...”
Kerumunan pencari makan tenang. Mencari asal suara.
“ Halo.. halo... apa kalian sudah
selesai dengan pestanya. Ayo bereskan tempat ini lalu pulang dan tidur.”
“ Ayooo, tidur!!”
Mendengar kata itu saja sudah
membuat semuanya senang. Buru-buru mereka memasukan apa yang masih ada ke dalam
kantong plastik. Membagikan ke gerai makanan yang lain, saling bertukar
bungkusan. Basma juga begitu. Key membagikan bungkusan somai ke gerai yang
lainnya dan kepada beberapa petugas. Setelah itu mereka sibuk membereskan semua
perlengkapan. Memasukan magkok-mangkok kotor dan sendok ke dalam boks.
Menyusunnya kembali satu-persatu agar muat seperti sebelumnya. Basma membongkar
kompornya. Membuka air kukusan yang menguap uap panasnya. Setelah memasukan
kompor dan menggulung selang gas ke dalam boks dia membantu Key menyusun
mangkok kecil.
“ Kamu tidak apa-apa Mba?”
“ Hemm.”
“ Walaupun aku sendiri merasa
marah, tapi aku yakin Kak Bian punya alasan melakukan ini. Kamu tanyakan saja
padanya nanti.”
“ Benar. Dia pasti punya alasan,
dan akulah yang menentukan, apakah aku akan menerima alasannya atau tidak.”
“ Benarkan, kamu suka padanya.”
Key sadar ia sudah terjebak oleh pertanyaan Basma.
“ Tidak. Sudah beres semua.”
Dua orang yang tadi berangkat
mengantarkan mereka mendekat. “ Maaf Mba, sudah selesai beres-beresnya, kami
bisa antar pulang sekarang.”
“ Bapak kan belum selesai, kami bisa tunggu kok.”
“ Tidak apa-apa Mba. Ini perintah Pak Anjas.”
Mereka mulai menganggkut boks-boks menuju mobil.
“ Mba tunggu di mobil aja.”
Basma melarang Key yang sudah
memegang boks kecil untuk dia angkat, ahkirnya dia hanya membawa tasnya saja.
Sambil melihat orang-orang yang tengah sibuk membereskan ruangan dan gerai
masih-masih, ia mengedarkan matanya. Memperhatikan satu persatu wajah mereka.
Berharap menemukan Bian diantara mereka.
“ Bodohnya aku, tentu saja dia
sudah pulang. Untuk apa dia masih ada di sini.” Ia melangkah tanpa tenaga menuju
mobil, langsung masuk dan duduk. Diam tak memikirkan apa pun, hanya sekelebat
pristiwa malam itu melintas. Saat Bian mendorongnya di gudang dan menanyakan
apa yang ia inginkan dari nya. “ Apa aku akan minta uang padamu kalau tahu kau
CEO Grand mall. Apa itu yang ada dipikiranmu.”
“ Kenapa Mba?” Pak sopir masuk,
basma juga menyusul. “ Kita berangkat.”
“ Ia Pak.” Basma yang menjawab.
Diam. Tidak ada yang bicara. Mobil
memecah jalanan, sisa keramaian pesta sudah habis, tempat ini sudah cukup lengang.
Ratusan mobil yang tadi berjubel, puluhan petugas keamanan yang tadi bersiaga
sudah tidak tampak. hanya tersisa mobil-mobil boks milik gerai makanan. Mereka melewati jalan menuju ruang CEO. Key menoleh. “ Jadi
di sini rumahmu.” Dia hanya bicara dalam hati. Saat sudah sampai ke rumah, Key
turun . dia mengucapkan terimakasih kepada pak sopir dan orang yang
membantunya. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
“ Kenapa? Apa dia sakit?” Bapak
sopir bertanya karena melihat perubahan sikap Key.
“ Tidak Pak, Mba Key cuma lelah.”
Mereka lalu menurunkan semua boks,
dan memasukannya ke dalam rumah. Menyusunnya di ruang tamu.
“ Terimakasih banyak pak. Ini silahkan diambil.”
“ Tidak usah Mas. Ini sudah kewajiban saya.” Dia menolak amplop yang di sodorkan Basma.
“ Ini cuma ala kadarnya dari Mba Key, sebagai ucapan terimakasih. Gak usah bilang sama Kak Anjas.”
“ Gak usah Mas, ini sudah kewajiban saya. Saya permisi.”
“ Baiklah Pak, terimakasih banyak.”
Basma menyerah memaksa bapak sopir menerima amplopnya.
“ Ia sama-sama.”
“ Jangan terima uang sepeser pun
dari mereka, kalau tidak mau kehilangan pekerjaanmu.” Pak sopir ingat betul apa
yang dikatan Anjas. “ Mereka teman-temanku, bersikaplah seperti bersikap
padaku.” Sudah membuatnya tidak berani macam-macam. Perintah langsung dari
Anjas sudah membuatnya mengerti bahwa wanita yang barusan ia bantu adalah orang
yang spesial, walaupun baru pertama kalinya ia melihatnya di acara Adiguna Grup.
BERSAMBUNG.......
Selamat malam, pesta telah berakhir, kita akan melanjutkan hidup penuh kerja keras lagi ^_^
tapi tentunya tetap perjuangan Bian selanjutnya......
dilike donk biar saya seneng 😆😆😆