Key And Bian

Key And Bian
Pertemuan Basma dan Bian



Cih, akhirnya aku melakukannya juga.


Pertemuan dengan Basma secara pribadi, tanpa melibatkan siapa pun. Key sekalipun. Walaupun ini bukan pertama kalinya, namun Bian membawa langkahnya dengan gelisah. Karena Basma yang ia temui hari ini bukan adik Key yang sedikit menyebalkan. Namun, adik yang harus dia bawa kembali pada ayahnya.


Apakah Bian tergerak hatinya karena ketulusan Basma. Atau sebenarnya


dia memang sudah mau menemui Basma hanya menunggu momen tepat, agar dia tidak


terlalu kentara kalau dia mengakui Basma sebagai adiknya. Sekedar melindungi


harga dirinya.


Karena bakso.Ya, aku mau berterima kasih karena bakso.


Walaupun dia sendiri tidak yakin dengan alasan yang dibuat-buat hatinya itu.


Bian masuk ke area parkir, melirik jam tangan. Sudah masuk waktu


janjian.


Saat Bian membuka pintu kafe, pandangannya langsung menangkap sosok anak


itu. Anak malang yang harus kehilangan ibunya saat baru dilahirkan. Bian masih


berdiri di dekat pintu masuk, menyiapkan hati. Sialnya Basma menyadari kedatangannya.Dia langsung berdiri dari


duduk. Melihat Bian lekat tanpa sedetik pun memalingkan pandangan.


Karena Basma takut,jika dia berpaling, laki-laki yang dia lihat dari


kejauhan itu akan menghilang. Pandangan Basma yang mengikuti, membuat Bian mau tidak mau akhirnya melangkah


mendekat.


“ Kau sudah datang?”


Menarik kursi dan duduk. Canggung. Di hadapan Basma sudah ada segelas


jus yang bahkan sudah hampir habis. Dasar gelasnya saja sudah terlihat. Bian


melirik jamnya, perasaaan dia tidak terlambat. Dia datang tepat waktu.


“ Aku sengaja datang lebih awal dari waktu janjian kita," menangkap pandangan heran saat melihat gelasnya. " aku takut


datang terlambat, lebih takut lagi kalau Kak Bian tidak mau menunggu dan pergi.”


Apa-apaan serangan bocah ini.Kau sudah latihan dari rumah untuk


menyerangku ya.


“ Kau sudah makan?” Bian memanggil pelayan, karena tidak tahu harus


membalas kata-kata Basma tadi dengan cara yang keren. Saat pelayan datang


mencatat pesanan, Bian menayakan apa yang diinginkan Basma. Tapi bocah di


hadapannya hanya menatapnya. “ Siapkan saja sama untuknya.”


Pelayan menggangukan kepala, lalu berlalu.


Berhenti memandangiku! Sial! Ternyata jadi secanggung ini.


Biasanya walaupun terpancar aura antipasti tapi keduanya masih bisa


bicara dengan nyaman.Tapi sekarang.


“ Kak Bian.”


Basma memecah kebisuan diantara mereka. Mata mereka bertemu.


“ Kak Bian suka dengan baksonya?”


Kurang ajar, kenapa bakso lagi si.


“ Ehmm, ia lumayan. Aku mengajakmu makan untuk berterimakasih. Lain


kali.”


“ Aku bisa membuatkan lagi lain kali untuk Kak Bian.”


Bukan itu! Lain kali kau tidak perlu melakukannya.


“ Maaf.” Sebelum kecanggungan semakin menjadi karena Basma mengatakan


hal-hal aneh yang menjadi serangan untuknya. Bian memotong cepat. “ Maaf untuk


semua yang sudah ibuku lakukan pada ibumu. Karena ibu kau harus menjalani hidup


yang berat.”


Basma meremas jemarinya di bawah meja. Karena langsung tercipta keseriusan di udara di sekitar mereka. Kafe yang ada pengunjung lain pun tampak lengang. Mereka tidak melihat kursi-kursi lain yang juga terisi oleh pelanggan kafe. Bagi mereka berdua, hanya ada Basma dan Bian.


“ Aku memohon maaf atas nama ibuku padamu Bas.”


“ Kalau begitu apa Kak Bian juga bisa memaafkan ibuku.”


Pembicaraan apa ini, keduanyaa saling minta maaf untuk kesalaahan yang


tidak mereka lakukaan. Mereka berdua ingin melupakan namun masih terbelenggu


dengan masa lalu. Dendan, kebencian, dan kemarahan yang bertahun-tahun


terpendam.


“ Sekarang, apa kau mau kembali?”


Tidak ada perkataan saling memaafkan yang terucap, namun sepertinya


keduanya telah mengetahui kesalahan apa yang sudah dilakukan ibu mereka


masing-masing.


“ Kembali ke rumah Ayah?” melengkapi kalimatnya yang tadi.


“ Apa Kak Bian mengakuiku?” Balas Basma.


Hah! Mengakuimu, apa pentingnya pengakuanku.Pengakuan ayahlah yang paling


utama.


“ Apa yang kau bicarakan. Aku mengakuimu atau tidak kau tetaplah putra


Adiguna. Kau salah satu pewaris Adiguna Group yang berhak untuk hidup dengan


semua fasilitas yang dimiliki Adiguna Group. Aku sudah berjanji pada ayah untuk


membawamu kembali jadi persiapkan dirimu.”


Benar, semakin cepat ini selesai. Aku bisa bertemu dengan Key lagi.


Masalah selesai pikir Bian. Karena dia yakin kalau Key pasti juga sudah


menyiapkan hatinya untuk kemungkinan itu. Lagi pula saat Basma kembali


ke rumah ayahnya. Key akan menjadi miliknya seutuhnya.


(Hehe, sudah ngayal kamu bi. Nikah sama Key. Wkwkwkw)


“ Apa Kak Bian mengakuiku.” Mengulang pertanyaan, membuat geram.


Pelayan datang di saat yang tepat, membawa pesanan, setelah meletakan


semuanya dia berlalu dengan cepat.


“ Sudah kubilang pengakuanku tidak penting.”


“ Tapi bagiku itu penting!” dengan suara meninggi, persis seperti


kakaknya kalau gusar. “ Aku mau Kak Bian mengakuiku sebagai adik Kak Bian.


Bukan hanya sebagai anak ayah.”


Apa-apaan bocaah ini. Belajar keras kepala dari mana dia!


“ Bas, aku akan membawamu kembali pada ayah kaarena rasa bersalahku


padamu, atas apa yang ibuku lakukan pada ibumu. Itu saja, jangan meminta lebih


dari itu.”


Untuk mencintai Basma seperti tidak terjadi apa-apa, rasanya Bian belum


sedikit menguap, namun menyayangi dan mengakui Basma dengan hatinya.Dia belum


bisa melakukan sesuatu sebesar itu.


Aku bukan Key Bas.


“ Kalau begitu, lepaskan Key dan berikan dia padaku.”


“ Omong kosong apa itu!”


Bian tidak melihat sedikitpun tanda-tanda kalau apa yang sedang


dibicarakan Basma hanyalah candaan.Bocah ini serius gumam Bian. Membuatnya


kesal.Bisa-bisanya dia memakai Key untuk memprovokasinya.


“ Kenapa? Apa Kak Bian mau semuanya?”


“ Hah! Seharusnya aku yang bertanya. Apa kau rela menukar ayah dan


Adiguna Group dengan Key.”


“ Kenapa tidak.” Yakin, meraih gelas dan meneguk minuman yang baru di


pesan tadi. Menusukan garbu dan memakan apa pun yang berhasil di tusuk garbu.


Menyuapkan ke mulut dengan gaya penuh percaya diri dan sikap tidak gentar sama


sekali. “ Selama ini aku hidup bahagia dengan Key tanpa mengenal keluarga


kandungku. Aku pernah hidup tanpa tahu siapa ayahku dan kakakku, kenapa aku


tidak bisa hidup seperti itu lagi. Tetu saja aku bisa.”


Basma menurunkan kedua tangannya di bawah meja.


“ Key menyayangiku, kalau aku memohon padanya untuk melepaskan Kak Bian


dia pasti akan melakukannya. Sama seperti Kak Bian yang akan melepaskan aku, Key


juga akan melepaskan Kak Bian.”


Dia sedang mengancamku dengan membawa nama key.


“ Kak Bian tidak bisa melepaskan Adiguna Group dan ayah untuk Key kan?”


Tersenyum sinis. “ Tapi aku bisa, bagiku Key adalah orang paling berharga


dalam hidupku sekarang.Dia keluargaku, dia mencintaiku. Walaupun tidak ada


darah yang terhubung di antara kami.”


“ Hentikan omong kosongmu ini Bas.”


“ Ah, atau suatu hari nanti aku bisa membuatnya menyukaiku dengan cara


yang berbeda setelah dia melupakan Kak Bian.”


Suasana memanas. Mulai ada yang melirik mereka bertengkar. Walaupun tidak terlalu antusias.


“ Hentikan omong kosongmu Basma.” Bian mulai gusar. Ocehan Basma


benar-benar berhasil memprovokasi kesabarannya. Tangannya sudah terkepal gemetar


di atas meja.Apalagi saat melihat Basma yang sepertinya tidak merasa omong kosong yang sudah ia katakan adalaah salah.


“ Lalu apa yang kak Bian inginkan sekarang?” Masih bicara dengan


menantang. Walaupun intonasinya merendah namun berhasil menabur bensin di hati


Bian. “ Kak Bian tetap ingin Adiguna Group dan ayah, dan juga memiliki Key.


Serakah sekali.” Sinis, dengan senyum tipis menyeringai. Namun Basma buru-buru


membuang pandangannya saat mata mereka bertemu.


Anak ini benar-benar ya. Mirip siapa sikap keras kepalamu itu. Key saja


bisa sebaik itu tapi kau yang sudah jadi adiknya bertahun-tahun seperti ini. (


Yo mirip dirimu Bi)


Mereka berdua sedang menarik nafas dalam.


“ Aku akan membawamu pada ayah.” Kembali ke titik awal pembicaaraan


mereka tadi. “ Pengakuanku padamu tidak penting.”


“ Bagiku itu penting.” Menundukan kepala lemah. Sikap menantangnya tidak mempan. Basma memakai jurus yang lain. “ Pengakuan Kak Bian penting bagiku.”


Ada sebuah kegetiran yang langsung tertangkap oleh Bian. Cih, ia memaki.


Kalau aku mengakuimu sebagai adik apa masalah selesai.


“ Apa hanya itu yang kau inginkan?”


Basma sudah terlihat senang.Membuat Bian menyesali tawarannya. Karena sepertinya dia menduga, Basma sengaja melakukan itu.


“ Jangan serakah Bas, keserakahanmu bisa menghancurkan hidupmu.” Ntah kenapa


Bian ingin mengancam, karena melihat bola mata itu bersemangat lagi. Dia tidak


mau mendengar permintaan yang jauh lebih aneh dari sekedar dia minta diakui


sebagai adik.


“ Maaf Kak karena aku memang serakah.” Memberi kesempataan Bian berdecak


sekali lagi. “ Aku mau Mbak Key tetap ada di sampingku, aku mau mendapatkan


cinta dari ayahku. Aku mau kak Bian memaafkan ibuku. Aku mau ibu Kak Bian


mengiklaskan semua salah ibuku. Supaya dia bisa tenang di sana. Dan aku juga


ingin kak Bian mengakuiku sebagai adik.” Itu permintaan tulus dari hati Basma.


Terbukti dari ujung matanya yang mulai basah. “ Tidak bisakah Kak Bian berikan


semua itu padaku.”


Ini curang namanya. Kenapa dia mengatakan sambil menangis begitu. Kau pikir aku batu!


“ Anak bodoh! Kemarilah.”


Bian mendorong kursinya, lalu berdiri, merentangkan tangan. Menunggu Basma mendekat.


“ Kenapa kau pintar sekali bicara.”


Beberapa mata melihat mereka. Apalagi tangis Basma yang mengeras


sementara Bian menepuk bahunya lembut.


" Tidak bisakah Kak Bian memberikan semua itu."


" Sudah diam. Kau pikir kenapa aku memelukmu."


Hiks. " Maaf Kak, kalau aku serakah."


Tidak, kau tidak serakah. Aku lah yang harus belajar darimu Bas. Seperti Key yang memilih memaafkan. Kau memilih meraihku dan minta pengakuanku. Padahal kau bisa saja langsung lari pada Ayah. Merebut semuanya, toh kau anak wanita itu. Wanita yang dicintai ayah. 


" Maaf Bas, membuatmu lama menunggu."


Ibu, andai kau mengenal wanita itu dengan baik, apakah kalian bisa hidup tanpa pernah berprasangka. Namun takdir Tuhan bukanlah pengandaian. Bian menepuk bahu Basma pelan. Tangis adiknya bahkan masih terbawa sampai mereka keluar dari kafe dan masuk  ke dalam mobil di area parkir.


Bersambung


 


 


Note :


Alhamdulillah, update segini dulu ya, part setiap episode panjang-panjang kok. Semoga menjadi obat rindu.


Semua pada akhirnya telah terselesaikan, Menuju episode final insyaallah untuk update berikutnya. Akan ada beberapa episode lagi, ditunggu ya.


Terimakasih ^_^