Key And Bian

Key And Bian
Salah Paham Lagi



Kakak dan adik


yang  sebenarnya saling membutuhkan


pengakuan.


Sejelas itu tergambar di wajah Basma perasaan bahagianya saat ini. Lewat


sebuah pengakuan kecil dan kata maaf yang terucap dari Bian. Benar, dia memang


masih bocah jika melihat dari usianya. Namun dia tumbuh dengan tahu rasanya


dicintai sebuah keluarga yang sebenarnya bukan keluarga kandungnya. Hingga ia


tumbuh dewasa dengan caranya sendiri. Kalau bukan dia yang melangkah melewati


dinding yang dibuat kakak laki-lakinya. Maka semua ini pasti tidak akan terjadi


hari ini.


“ Kak Bian tidak turun.” Basma masih memegang pintu mobil yang sedikit


terbuka.  Dia sudah keluar dari mobil. Bian mengantarnya pulang.“


Mba Key pasti senang melihat Kak Bian.”


Sudahi main petak umpet kalian!


Bian terdiam sambil menyentuh kemudi erat. Sesaat ia melihat ke arah


jalan kecil yang selalu di lewati Key. Berharap bayangan gadis itu terlihat.


Namun, tidak mungkin kan. Akhirnya dia mendesah. “ Pulanglah, aku akan


menemuinya nanti.” Sekali lagi dia belum bisa melewati lembah yang bahkan jembatannya


sudah dibuat Key dengan kata maafnya.


“ Kenapa? Apa Kak Bian masih merasa bersalah pada kepergian orangtua


kami.” Basma yang akhirnya menggigit bibirnya, menyesal dengan apa yang ia katakan.


Karena seraut wajah di depannya menunjukan ekspresi yang sama persis dari


penggambaran kata-katanya. Laki-laki yang sedang mencengkraam kemudi itu masih


belum sepenuhnya berani menghadapi kenyataan. Dia masih merasa bersalah untuk


semua yang ibunya lakukan.


“ Mbak Key bilang kalian sudah bicara.” Akhirnya menutup pintu mobil


pelan. Menundukan kepala. “Aku akan berbaik hati ya Kak memberitahu ini.


Percayalah padaku, Mbak Key itu gadis berhati malaikat. Dia selalu memaafkan


apa pun kesalahan yang aku lakukan, jadi percayalah.” Menunduk lagi, melihat reaksi


Bian.


“ Aku tahu, ini bukan karena Key. Aku yang masih malu bertemu dengannya.”


“ Aaaa, Kak Bian seperti bocah. Haha.  Maaf.” Mundur ke belakang saat melihat sorot mata sudah ingin **********.


“ Becanda Kak, bercanda. Aku pergi ya.”


Huss, huss. Sudah sana, begitu gerakan tangan Bian mengusir. Laki-laki


itu masih ada di tempatnya, melihat Basma yang semakin mengecil di kejauhan,


menoleh padanya sambil melambaikan tangan sebelum menghilang di tikungan.


Helaan nafas berat sambil membenturkan kepalanya ke kemudi mobil.


Aku tahu Key sudah memaafkanku. Tapi aku masih malu menunjukan wajahku


di depannya.


***


Bergulirnya sang waktu.


Bian masih mundur selangkah. Masih ada satu hal yang ingin ia  lakukan saat ini. Basma bahkan dengan besar


hati menerima dirinya. Tapi bagaimana dengan ibu. Apakah ibu bisa dengan tangan


terbuka membiarkan Basma masuk ke rumah. Walaupun pendapat ibu bukan sesuatu


yang penting saat ini, karena kesalahannya Bian yakin ibu akan membiarkan Basma


masuk dalam Adiguna Group. Namun kehidupan seperti apa yang akan Basma jalani


kedepanya itulah yang masih menjadi perdebatan dalam pikiran Bian.


Hal itulah yang membawanya berdiri di depan pintu rumah ayahnya


sekarang. Memastikan, kalau langkah kaki Basma saat melewati pintu tidak akan


menginjak bara, walaupun hanya lewat sorot mata tidak suka ibunya.


Namun, bukannya bertemu ibu, dia malah kembali bersitegang dengan


Adiguna.


Ruang kerja milik Adiguna.


" Ibumu dan ayah sudah membicarakannya bersama, jadi ini keputusan kami bersama."


“ Ayah!” Tidak mau mendengar sepatah katapun kelanjutannya.


Apa kau mau menceraikan ibu sekarang?


Teriakan Bian sudah dengan intonasi yang jauh berbeda dari sebelumnya,


saat ia berdebat dengan ayahnya. Setidaknya tidak ada kebencian di sana. Namun tetap memenuhi ruangan dengan suasana tidak nyaman.


Hari ini ia pulang ke rumah untuk bertemu ibu sekaligus menyampaikan,


kalau dia akan membawa Basma kembali dalam beberapa hari. Namun bukannya dia


yang membawa kejutan dan kabar yang menyenangkan untuk ayahnya. Laki-laki di


hadapannya menyampaikan sesuatu yang sudah seperti bom yang meledakan semua


kebahagiaannya hari ini. Saat hubungannya dengan Basma mulai terjalin dengan


ikatan yang baik.


Adiguna masih terdiam. Membiarkan Bian menyelesaikan amarahnya.


“ Hah! Ayah.” Bicara dengan kepala tertunduk menahan perasaannya.  Kedua tangannya menyentuh kepala, menarik


rambutnya. Menjejakan kaki, menarik nafas kuat dengan rasa muak.


“ Bian, dengarkan dulu.”


“ Tidak bisakah kalian bersandiwara sampai akhir.” Mendongak lemah,


mulai menunjukan pandangan getir. “ Teruskan saja sandiwara keluarga bahagia


kalian sampai akhir. Aku mohon.”


“ Bian, dengarkan dulu penjelasan ayah.”


Tapi seperti biasa, Bian tak mau mendengar kelanjutan dari penjelasan


ayahnya.


“ Aku akan membawa Basma ke rumah ini, tapi, hentikan semua recana yang


ayah katakan tadi." Padahal jelas-jelas ayahnya belum mengatakan apa pun. Dia yang sudah menyimpulkan sendiri. " Aku akan menganggapnya tidak pernah mendengarnya, aku mohon,


hanya status sebagai nyonya Adiguna Group yang dimiliki ibu, jangan merampas


harus pergi meninggalkan rumah ini. Pasti akan menjadi pukulan paling telak


untuk ibunya. “ Aku akan meminta pada ibu untuk menerima Basma.”


Adiguna tidak menjawab namun terlihat dia pun tak ingin mengalah. Namun


berdebat dengan Bian pun pasti hasilnya sudah ia duga. Dia tidak akan menang


bicara dengan anaknya. Dan dia tidak mau melakukannya, setelah sekian lama


kebencian itu menghilang, dia tidak akan sanggup kalau harus melihatnya lagi. Toh dia nanti tahu, kalau apaa yang dia pikirkan salah. Begitulah akhirnya jalan yang dipilih Adiguna.


“ Kapan kau akan membawa Basma kembali?”


Kau sedang mengalihkan pembicaraan ya.


“ Jawab yang tadi dulu, berjanjilah padaku Yah.”


“ Ayah sudah membicarakannya dengan ibumu.” Tangannya tertahan yang


ingin menyentuh Bian. Dia ingin menjelaskan semuanya. Namun Bian bahkan sudah


kesal sebelum dia mengatakan apa pun.


“ Tidak mungkin ibu setuju melepasmu. Apalagi yang ayah inginkan


sekarang?” Menjaga jarak lagi kan. Lagi-lagi Bian masih  terpancing jika segala sesuatunya berhubungan


dengan ibunya. Bagaimanapun sekesal apa pun dia pada ibunya yang berhubungan


dengan Key, wanita itu masihlah menjadi ibu yang akan ia sayangi. “ Wanita itu


sudah meninggal Yah, sekarang apalagi yang ingin kau perjuangkaan.  Aku sudah berbaikan dengan Basma dan berjanji


akan membawanya kembali. Lalu kenapa kalian harus bercerai sekarang.”


Tidak bisakah kalian bersandiwara sampai akhir. Pura-pura hidup bahagia.


Demi aku, demi Basma, demi semua nama baik yang sudah sok kalian perjuaangkan


di masa lalu itu.


Ntah apa yang akan terjaadi kalau sampai Bian mengatakan ayah dan ibunya


akan bercerai. Sikap apa yang akan ditunjukan Key atau pun Basma.


“ Aku mohon lakukan ini demi aku dan Basma.”


Adiguna memantapkan hati untuk menjelaskan semuanya, rencana kedepan


kehidupan rumah tangganya dan Yuna.


“ Nak, percayalah pada ayahmu. Kami ingin kalian semua bahagia. Aku dan


ibumu akan….”


“ Hah!” Bangun dari duduk. Tidak mau meneruskan perbincangan dan memberi


kesempatan Adiguna. “ Aku tahu ayah sayang padaku, jadi aku mohon pertimbangkan


lagi perceraian kalian. Hubungan kita saja baru membaik, apa ayah mau aku


bersikap seperti dulu lagi pada ayah.” Sedang menabur ancaman dan genderang


perang. Bian bahkan tidak menoleh lagi saat kakinya sudah mendekat ke pintu


keluar.


“ Mas Bian.” Kepala pelayan yang berdiri tidak jauh dari pintu menyapa


pelan. “ Saya…”


“ Apa ibu ada di kamar?”


“ Ia Mas.”


Bian melewati kepala pelayan yang sebenarnya terlihat masih ingin


bicara. Saat ini tangannya menyentuh pintu kamar ibunya. Dia belum bertemu


dengan ibunya. Hanya pesan-pesan permohonan maaf yang dikirimkan ibunya.


Kata-kata memohon pengampunan dan ungkapan sayang seorang ibu yang tidak akan


pernah menguap walaupun apa pun yang terjadi.


Ketukan pintu pelan.


“ Ibu, apa aku boleh masuk?”


Jegrek, saat handle pintu Bian dorong, terkunci.Dia paksa dengan


keras pun, pintu itu tidak bergeser.


“ Ibu!”


“ Maafkan ibu, Bian.” Suara ibu terdengar jelas dari balik pintu.


Wanita itu langsung mengunci pintu kamarnya setelah seorang pelayan


wanita naik dan memberi tahunya kalau putranya datang. Saat Bian bicara dengan


ayahnya dia mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Bian langsung. Namun, saat


putranya memanggil di balik pintu dia malah gemetar dan tidak mau menunjukan


wajahnya.


Dia malu, takut, semua bercampur. Pesan-pesannya tidak dibalas,


mengisyaratkan kalau anaknya sedang marah.


“ Buka pintunya Bu, aku mohon.” Ucapan Bian menjadi lirih, namun ketukan


pintu mengeras. Di dalam Yuna memegang handle pintu dengan tangan gemetar.


Pintu berderik terbuka akhirnya. Setelah ketukan berubah menjadi gedoran


dan pukulan keras tangan Bian.


“ Aku akan membuat ayah membatalkan semua rencananya. Tapi, ibu juga


harus berjanji padaku. Jangan mengganggu Basma, aku akan membawanya kembali ke


rumah dalam waktu dekat.” Langsung bicara ke intinya tanpa basa basi.


Yuna terlihat terkejut, ketika yang diucapkan Bian bukanlah cercaan


kesalahan masa lalunya.


Tunggu, apa dia salah paham lagi sekarang. Bagaimana ayahnya bicara si.


“ Bian tunggu.” Yuna menarik tangan Bian yang sudah mau berlalu setelah


mengatakan kalimatnya. “ Duduk dan dengarkan ibu sebentar.”


Bian berbalik, memeluk ibunya. Menjatuhkan kepalanya di bahu Yuna.


“ Bersikap baiklah paada Key dan Basma Bu, aku mohon.”


Hah! Bagaimana ini!


Sampai Bian pergi pun yang ada dipikiran anak itu hanyalah perceraian orangtuanya.


Bersambung


 


Alhamdulillah bertemu lagi, selamat membaca ^_^