
Di waktu yang bersamaan di sebuah rumah sedehana, foodtruck yang
beberapa waktu ini hanya mangkrak di depan rumah. Suasana malam yang sepi, para tetangga pun sudah masuk ke dalam rumah. Hangat berbagi cerita.
Key meraih tangan Basma, seperti menahan dirinya dari rasa penasaran.
Dia berada pada situasi yang dia sendiri bingung sebenarnya apa yang dia inginkan. Basma mengetahui orangtua
kandungnya siapa, namun rahasia besar yang ia simpan juga tidak ingin ia sampaikan. Ia sudah mengumpulkan keberanian
dalam tangisnya sepanjang hari ini, namun sepertinya kekuatan itu masih berserak
menjauh.
“ Kalau Mbak Key bilang jangan, aku akan berhenti sekarang.” Basma seperti
paham betul arti setiap gerakan tubuh Key yang gelisah. Tangan Basma masih
menyentuh amplop dengan satu tangan kanannya. Key menarik tangannya yang menahan keinginan Basma untuk
mencari tahu dan kepalanya kemudian menggeleng pelan, sambil nafasnya naik
turun pelan dia mengangguk.
“ Bismillah Bas,” Berusaha meyakinkan keraguannya sendiri. “ Siapa pun
orangtua kandungmu, kita adalah keluarga.”
Basma tidak menjawab, namun tatapannyaa penuh rasa terimakasih. Perlahan
dia meraih amplop, membuka dan mengeluarkan isinya. Amlop putih kecil jatuh, bertuliskan
namanya. Sebuah surat yang ditulis oleh orangtua kaandungnya. Apakah di dalam
surat itu tertulis sebuah alasan. Jawaban dari rasa penasarannya kenapa dia
ditinggalkan. Basma meraih surat itu dan meletakannya tepat di depannya. Sekarang
pandangannya beralih pada lembaran kertas yang lain.
Akta kelahiranku.
Debaran dada Basma menguat, dia baca perlahan, satu persatu informasi
di dalam akta kelahiran. Kertas tipis itu tergelincir dan jatuh di meja. Makam
wanita yang bersebelahan dengan orangtuanya, yang setiap ibu mengatakan kalau
dia berdoa maka Tuhan akan mendengar doanya. Wanita yang hanya ia kenali dari
foto kebersamaan ibu ketika SMU dulu. Wanita yang selalu di ceritakan ibu
sebagai teman yang baiknya.
Dia ibu kandungku.
Namun fakta itu tidak lebih mengejutkan ketika dia melihat siapa nama
ayahnya. Tangannya gemetar sudah mengambil lagi akta yang terjatuh tadi ,
dadanya seperti berloncatan. Karena ketika dia tahu siapa nama ayahnya.
Sekelebat cerita singkat tentang wanita itu yang pernah di ceritakan Key pun
melintas. Bagaimana Kak Bian membenci wanita yang sudah merusak rumah tangga
orangtuanya. Tidak tahu kenapa malah itu yang muncul pertama kali dipikirannya. Ibunya berarti adalah wanita itu.
“ Aku anak yang tidak diinginkan Mbak.”
Hatinya merasa bersalah, namun lidahnya tidak bisa ia kontrol dan mengatakannya.
Kalau mengetahui kenyataan bisa sesakit ini, jika waktu bisa diputar
Basma ingin mengubur semuanya tanpa pernah mau membongkarnya. Dia bisa hidup
bersama Key selamanya. Melihat Bian dengan caranya seperti sekarang. Sedikit
sebal, sedikit iri, namun terbersit sayang karena bisa membuat Key bahagia,
Tapi sekarang, semua berbeda. Dia yang seharusnya dia panggil kakak.
“ Basma.”
Key bangun dari duduk, berdiri mendekat dan memeluk Basma yang merasa
tidak berdaya.
“ Siapa yang tidak menginginkanmu, Tuan Adiguna mencarimu sepanjang
waktu. Saat dia tahu tentang dirimu,
semua cara dia lakukan untuk mendekatimu.” Itulah kenyataannya.
Frezze Parfume dengan kontrak tidak masuk akalnya sekarang terlihat
sangat masuk akal. Kenapa perusahaan itu mati-matian mendekatinya. Karena dia adalah anak dari wanita yang dicintai
Tuan Adiguna.
“ Tapi aku.”
Key menepuk punggung Basma lembut tahu apa yang ia pikirkan.
“ Mbak Key, bagaimana kalau Kak
Bian tahu.” Tergelak dengan nada kesedihan. “ Dia menyuruhku mengambil amplop
ini diam-diam dan akan membantuku mencari orangtua kandungku. Kalau aku membawa
amplop ini padanya bagaimana reaksinya ya?”
Apa dia akan melihat Kak Bian gemetar karena menahan kebencian padanya.
Atau ia akan mendapat pukulan di pipinya atau serbuan cacian dan makian. Adik
tiri yang sama sekali tidak diharapkan.
Key duduk di sebelah Basma,
meraih amplop putih kecil yang ditulis oleh May Sarah ibunya Basma. Key pun
tidak berani memprediksi bagaimana reaksi Kak Bian kalau sampai tahu, tapi yang
pasti dia tahu, dia akan berdiri di depan Basma. Merentangkan kedua tangannya
di hadapan Basma. Walaupun sakit melihat tatapan kebencian Kak Bian tapi dia akan melakukannya.
Tidak punya jawaban dari pertanyaan Basma Key memilih menyodorkan amplop
ke tangan Basma.
“ Bukalah Bas,ini pasti surat dari ibumu.”
Terlihat kalau Basma ragu. Sedang Key masih berusaha menyusun kata-kata
yang paling tepat. Agar Basma tidak merasa berkecil hati tentang ibunya. Dan
yang lebih utama mengatakan kebenaran perihal kematian orangtua mereka.
“ Mbak Key, apa ibuku.”
keegoisan Tuan Adiguna dan Bibi Sarah. Tapi, yang bisa Mbak Key bilang, bahwa
kau lahir dari cinta mereka. Kau tidak bersalah sama sekali dalam hal ini.”
Aku bahkan tidak yakin dengan apa yang aku katakan.
Penghianatan Tuan Adiguna, Bibi Sarah yang juga dibutakan oleh cinta.
Ada Nyonya Yuna yang tersakiti, Kak Bian yang menjadi korban, dan sekarang
bertambah Basma yang harus ikut menanggung rasa bersalah.
Basma meraih amplop. Melihat Key sekali lagi, gadis itu mengganguk
memberi keyakinan padanya untuk membuka surat itu. Tangannya sedikit gemetar,
mengkhawatirkan isi surat. Apakah akan berisi pembelaan ibunya kenapa dia
sampai bisa lahir ke dunia ini dengan membawa beban kebencian.
Tulisan tangan rapi, berjajar, dengan tinta berwarna hitam.
Untuk putraku Basma Adiputra.
Semoga Tuhan selalu melindungimu Nak,
Maafkan ibu, maafkan ibu dan ayahmu.
Maafkan ibu yang tidak bisa memelukmu lama.
Terimakasih untuk senyum hangatmu selama sisa kehidupan ibu.
Ibu bersyukur dan bahagia melahirkanmu ke dunia.
Namun, maafkan ibu dan ayahmu yang egois ini.
Ibu akan memulai cerita.
Karena Ibu yang mencintai ayahmu, semua ini berawal.
Ibu serakah akan cinta, sampai
tidak memikikan oranglain yang terluka karena kebahagiaan ibu dan ayahmu .
Nak, ibu adalah istri kedua dari ayahmu. Kami menikah karena cinta,
namun ada satu wanita lain yang harus terluka karenanya.
Namun karena alasan cinta, ibu ataupun ayahmu dibutakan oleh perasaan
itu.
Benar, Nyonya Yuna tidak sengaja mendorong ibu sampai ibu terjatuh dan
mengalami pendarahan saat melahirkanmu, namun itu terjadi sekali lagi karena
kemarahaannya karena ibu telah merebut suaminya. Ibu yang salah disini.
Jangan pernah membencinya kalau kalian kelak dipertemukan oleh takdir
Tuhan. Mungkin dia akan membencimu
karena engkau anak ibu, tapi berdirilah dengan tegak anakku, karena semua ini
bukan salahmu. Ibu yang akan membayar dosa-dosa ibu karena merebut suaminya.
Sapalah beliau dengan sopan jika kalian bertemu nanti.
Nyonya Yuna tidak bersalah Nak, ibu yang besalah karena menyakiti
hatinya.
Basma anakku, kamu mempunyai seorang kakak laki-laki. Panggil dia Kak Bian nanti. Mungkin juga dia akan
membencimu karena kamu anak ibu. Jangan balik membencinya karena dia tidak
menerimamu. Raih tangaannya dan peluklah dia dengan tulus. Walaupun dia
terlihat dingin dari luar namun ibu bisa melihat kebaikan di matanya.
Sayangilah dia sebagai kakakmu. Ibu sudah mengambil cinta suami dari ibu yang
ia sayangi, bisakah ibu memohon padamu untuk mengantikan ibu memohon maaf
padanya.
Sekali lagi maafkan ibu Nak, hiduplah dengan baik.
Dari Ibu.
Cat : Karena ibu tidak punya tenaga saat menuliskan ini, teman baik ibu
yang saat ini menjadi ibumulah yang menuliskannya.
Key ikut meneteskan airmata saat Basma selesai membaca suratnya dengan
terbata-bata. Walaupun terdengar sengau dia bersikeras membacanya dengan keras
agar Key ikut mendengar apapun yang disampaikan oleh ibunya. Saat ia mendengar Basma membaca catatan di akhir, airmata semakin tidak terbendung turun.
Tulisan tangan itu, benar, itu adalah
tulisan tangan ibunya.
“ Mbak Key, kenapa nasib ibu seperti ini. Karena aku lahir ibu harus
pergi.”
Meninggalkaan Basma dalam airmata penyesalan sekaligus kelegaan, mungkin
itulah perasaan terpendam May Sarah. Kala itu saat ia mengeja bait, demi bait kata
dengan sisa tenaga yang dituliskan sahabatnya. Ia ingin mengatakan hiduplah dengan bahagia nak, lupakan
semua dendam masa lalu. Ibu menerima semuanya sebagai balasan dari perbuatan
ibu.
“ Bas.”
Mereka berpelukan, airmata Basma berjatuhan di bahu Key. Kenapa
mengetahui kebenaran bisa sesakit ini.
Mulut Key terkunci, hal yang ingin ia katakana sudah diwakilkan ibu
Basma. Dan ntah kenapa ketika Bibi Sarah yang mengatakan kebenarannya melalui
suratnya dia bisa ikut merasakan bagaimana rasa sakit hati Nyonya Yuna.
Sekarang dia sendiri bingung, seandainya nanti dia bertemu Nyonya Yuna,
haruskan dia membuka sedikit hatinya untuk bersimpati.
Keduanya masih sesengukan. Key mendengar Basma lirih memanggil nama ibunya berulang kali.
Bersambung