Key And Bian

Key And Bian
Kebahagiaan seorang Anak



Bulan ini Frezze Parfume memakai model seorang aktris laki-laki, sudah


lama dia masuk dunia entertrainer. Namun, popularitasnya akhir-akhir ini naik


luar biasa, berkat aktingnya yang memukau di film terbarunya. Wajahnya muncul


di semua media iklan Frezze Parfume, dengan slogan muda dan berbakat.


Dia pernah menjadi trending topik


pencarian di internet selama beberapa hari setelah perilisan film terbarunya.


Rian sudah mencari info seputar aktris  yang menjadi model parfume bulan ini, dia pun sebenarya bertanya-tanya.


Kenapa Basma? Kenapa Basma dan kenapa harus Basma?


Tidak ditemukan jawaban pastinya.


Satpam kantor  berwajah tegas.


Usianya sekitar 35 tahunan sepertinya. Berbadan tegap. Berdiri di dekat pintu


masuk dengan sikap sempurna. Sekilas memberikan senyum sopan santun. Waww


wajahnya langsung terlihat ramah kalau tersenyum. Menanyakan keperluan Rian Dan


Basma.


“ Kami mau bertemu Pak  Said


Husni, ini teman saya Basma.” Mendengar  nama Basma disebutkan  Rian, sikap


bapak satpam berubah, sepertinya menjadi jauh lebih sopan.


“ Mari saya antar Mas.”


Kedua anak itu saling pandang.  Rian mengangkat bahu. Mengikuti saja langkah


kaki satpam kantor.


“ Ternyata benar Bas.”


Nama Basma sudah seperti jadi password pintu otomatis yang langsung


terbuka kalau diucapkan. Bapak Satpam mengantar mereka berdua menuju meja yang


ada di lobi gedung, ada dua orang wanita yang sedang duduk. Mereka tampak


memasang wajah ramah sepanjang hari.


“ Mbak Gina, tolong antar Mas berdua ini ke ruangan Pak Said.”


Giliran mereka yang bingung, di jadwal agenda mereka tidak tercatat ada


janji temu Pak Said Husni dengan orang yang terlihat seperti anak SMU ini.  Hari ini Pak Said hanya punya janji bertemu


dengan 3 kepala cabang toko. Tapi semuanya perempuan.


“ Mereka siapa Pak? Hari ini Pak Said.”


“ Ini teman saya Basma Kak, dan ini.” Rian menyodorkan kartu nama. “


Kata Pak Said saya hanya perlu menunjukan ini. “


“ Kami mohon maaf.”


Eh, bahkan tidak perlu mengkonfirmasi kartu nama, mendengar nama Basma


kedua wanita itu langsung bangun dari duduk. Meminta maaf untuk kesalahan yang


tidak dimengerti Rian dan Basma.


“ Mari saya antar ke atas.”


Basma yang hanya melihat dalam diam sedang berusaha memahami ini. Kenapa


semua orang terlihat aneh dan menunjukan perubahan reaksi saat mendengar


namanya.


“ Ayo kita pulang saja.” Menarik baju Rian untuk memperlambat jalan. Bicara


berbisik supaya wanita yang berjalan di depan mereka tidak  mendengar.


“ Kenapa?”


“ Ada yang aneh  di sini. Kamu


tidak merasa, mereka langsung bersikap sopan saat mendengar namaku.”


“ Bukanya itu malah keren.”


Plak, Basma memukul punggung Rian.


“ Kau pikir aku ini siapa. Anak pemilik perusahaan yang hilang dan baru


ditemukan. Gila ya!” Saat mereka sedang berdebat lift berhenti. Walaupun


mengatakan ingin pergi, tapi akhirnya sampai di  depan pintu yang membuat wanita yang


mengantar mereka berhenti. Dia mengetuk pintu dua kali, permisi. Lalu menarik


handlenya pelan.


“ Pak Said ada tamu.”


Tuhkan ada yang aneh dengan mereka semua.


Said Husni sudah seperti ingin memeluk Basma dan berteriak penuh


kegirangan, kalau tidak sedang menjaga wibawa. Dia  terlihat sangat bersuka cita dengan


kedatangan Basma. Walaupun belum ada pembicaraan apa pun dengan Basma. Dia sudah


seperti perlahan membuat simpul ikatan di antara Frezze Parfume dan Basma.


“ Saya benar-benar sangat berterimakasih, Basma mau datang kemari.”


Benarkan, benar ada yang aneh!


Said Husni menuju lemari meja kerjanya. Dia meraih sebuah map lalu


membawanya ke sofa. Meletakan di atas meja.


“ Basma sudah mempertimbangkan tawaran kami.”


“ Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.” Menahan tangan Said


membuka map. Senyum gelisah tiba-tiba muncul. Ia mundur dan menyandarkan tubuh.


Menunggu pertanyaan Basma.


“ Silahkan.”


“ Apa Bapak tidak merasa ini aneh.”


Said Musni memicingkan mata menjawab pertanyaan Basma. Pura-pura tidak


tahu apa-apa.


Tentu saja ini aneh! Aku harus memaksa model amatiran sepertimu, bahkan


memohon sampai ke rumahmu. Merayu bocah di sebelahmu siang dan malam untuk


membawamu kemari.


Tekanan dari pimpinan yang memilih langsung Basma sebagai model iklan


saja sudah membuat Said Husni bertanya-tanya. Dia sampai mencari tahu dengan serius


jejak prestasi Basma di dunia model. Tidak ada apa-apa, hanya sebatas menjadi


model iklan pakaian di sebuah butik online. Namun perintah langsung dari


pimpinan mengubur semua tanda tanyannya menjadi sesuatu yang tidak


penting.  Apa pun prestasi Basma. Dia


terpilih langsung.


“ Hormati dia dengan baik.” Pesan pimpinan padanya.


Kenapa aku harus menghormati bocah ini!


“ Kenapa saya yang terpilih.” Rian mulai menahan tangan  Basma supaya tidak bertanya yang aneh-aneh, tapi


Basma malah menatapnya tajam. Akhirnya Rian menarik tangannya.  Ngeri. “ Saya hanya menjadi model di butik


online mamanya Rian. Sudah itu saja. Pengalaman dan latar belakang saya minim


untuk dijadikan alasan. Jadi saya minta penjelasan Bapak terlebih dahulu.”


Panjang lebar.


Said Husni tertawa kaku. “ Tentu saja karena Basma tampan.” Rian merosot


dari tempat duduknya, alasan macam apa itu.


Aku juga tidak tahu alasan apa pimpinan memilihmu!


Menyelamatkan situasi dengan membuka map di depannya. Dia tidak tahu


harus menjawab apalagi kalau Basma bersikeras meminta penjelasan.


“ Ini kontrak kerja Basma. Silahkan di lihat terlebih dahulu.”


Basma membuka draf di tangannya. Rian merapatkan tubuh supaya bisa ikut


membaca isinya.


“ Gila Bas, bayaran kamu tinggi banget.” Rian memukul bahu Basma,


melihat angka-angka tidak masuk akal di dalam kontrak. “ Kamu bakal dapat bonus


tambahan kalau selama menjadi model terjadi peningkatan penjualan yang signifikan.”


Basma ataupun Rian sedang mencerna, memang kalau kontrak perusahaan


besar begini ya.


“ Jadi, kalau saya tidak membawa pengaruh apa-apa ke perusahaan, saya


harus bertanggung jawab.” Basma cukup jeli menangkap situasi.


“ Tentu saja tidak, Basma bisa melihat di lembar berikutnya. Tertulis


jelas di sana.”


Kontrak ini jelas-jelas aneh sekali.


“ Pimpinan perusahaan tidak jatuh cinta pada saya kan?”


Said Husni tidak bisa menahan tawanya, Rian pun ikut mendelik mendengar


pertanyaan Basma.


“ Pimpinan kami laki-laki.” Melihat Basma. “ Semua anaknya juga sudah


menikah.” Penjelasan sempurna.


Basma bergumam dengan suara yang hanya bisa dia dengar.


“ Kalau ada yang mau Basma tambahkan silahkan?”


“ Memang boleh begitu?” Masih menyimpan segunung curiga.


“ Tentu saja.”


“ Kalau saya minta bonus rumah mewah di Grand Land apa boleh?”


“ Tentu saja.”


Basma langsung menjatuhkan draff yang ada di tangannya ke atas meja.


Wajahnya mulai menunjukan reaksi penolakan dan ketidaktertarikan. Dari awal


semua sudah aneh.


“ Tentu saja tidak boleh. Haha.” Said tertawa canggung. Mengambil draff


yang dijatuhkan Basma di meja, memasukan ke dalam map kembali. “ Rumah di sana


harganya sepuluh kali lipat dari nilai kontrak ini, tentu saja tidak boleh.” tertawa lagi.


Aku keceplosan, karena pimpinan menyuruh mengiyakan semua permintaan


Basma aku jadi main ia, ia saja.


“ Sebaiknya Basma pelajari dulu kontraknya dan minta wali Basma untuk


membacanya juga. Saya benar-benar mengharapkan Basma bisa menjadi bagian dari


Frezze Parfume.”


Dia mengalihkan pembicaraan. Basma dan Rian berfikir hal yang sama.


Sampai akhir Basma tidak mendapat jawaban pasti kenapa sampai dia yang terpilih.


***


Rasa bersalah Adiguna masih terlihat sampai dia kembali ke rumah.


Melihat tubuh kecil Key yang harus bekerja keras menghidupi anaknya. Bagaimana


kematian orangtua mereka karena keserakahan istrinya. Yuna memang tidak secara


langsung menghujamkan pisau ke dada orangtua Key, namun kematian kedua


penyelamat hidup anaknya  Basma tidak lain


karena pencarian Yuna.


Sampai kapan pun rasa bersalah ini mungkin memang tidak akan pernah ada


obatnya selain pengampunan Keysha.


Saat Adiguna memasuki rumah, kepala pelayan memberitahu kalau Yuna sedang


menunggunya. Wanita itu sedang duduk dengan elegan di sofa, sambil menikmati


teh menjelang senja.


“ Aku mau bicara.” Suara Yuna terdengar dingin menahan langkah Adiguna.


dari kejauhan saja sekarang, seperti mengoyak hati Adiguna. Bayangan Jesi yang


bertahan hidup sendirian membekas dalam ingatan yang Adiguna ciptakan sendiri.


“ Apa kau sudah membereskan gadis itu.” Suara rendah memberi tekanan


kebencian. “ Hah, pedagang somai dan penjaga minimarket malam, apa itu masuk


akal.” Yuna mendapatkan informasi kalau hari ini suaminya bertemu dengan gadis


itu.


Adiguna yang tadinya mau beranjak, berbalik dan duduk di sofa. Ia masih


diam, meredakan emosi yang tiba-tiba ingin meletup. Dengan hanya melihat wajah yang tidak merasa bersalah Yuna.


“ Pembicaraan pembatalan pertunangan Bian dan Amanda sedang


berlangsung.”


“ Tunggu, apa yang kau bicarakan. Pembatalan pertunangan! Kenapa?


Apa kau menyetujui Bian dengan gadis minimarket itu?” Tangannya mencengkram sofa


kuat.


Pernikahan Bian dan Amanda akan menjadi nilai tampah kekuatan Bian.


Tidak mungkin Yuna akan melepaskannya.


“ Bian mencintainya, bukankah sebagai orangtua kita harus mendukung


kebahagiaan mereka.”


Tawa Yuna terdengar sinis. Apa-apaan ini, kenapa laki-laki di hadapannya


membicarakan tentang omong kosong kebahagiaan. Sejak kapan kata itu menjadi


penting.


“ Apa rencanamu Tuan Adiguna?” Masih dengan wajah marah bertanya. “ Apa


kau akan mencari anakmu yang hilang dan mengganti posisi Bian dengannya?” Hati


Yuna kembali terisi dengan kebencian. Yuna bicara dengan suara dingin dan


tegas. Dia meraih cangkir tehnya.  Mempertahankan


keangkuhannya.


“ Aku sudah menemukan anakku dan Jesi.”


Cangkit teh menggelinding setelah membentur kaki Yuna, percikan teh


menyebar di lantai.  Tangan  Yuna langsung gemetar.


“ Putra kandungku dan Jesi.”


“ Hentikan!”


“ Anak dari wanita yang aku cintai.”


“ Hentikan aku bilang.”


“ Seharusnya aku yang menghentikanmu dari dulu. Bagaimana kau bisa


menjadi sekejam itu Yuna.”


“ Apa! Memang apa yang sudah aku lakukan?” Menutupi gemetar tangannya


dengan bicara selantang mungkin.


Aku tidak bersalah, wanita itu masih hidup saat aku pergi


meninggalkannya. Itu bukan salahku.


“ Apa aku perlu membeberkan semua dosa-dosamu.” Yuna tercekak


tenggorokannya. “ Setidaknya sedikit saja merasa bersalah, sedikit saja.”


“ Apa salahku, dia yang salah. Satu-satunya anakmu hanyalah Bian,


dialah pewaris Adiguna Group. Hanya Bian yang boleh.”


Tidak pernah sekali pun terbersit dalam hati Adiguna, sekali pun. Bian


adalah putranya dan akan seperti itu, baik ada ataupun tidak anak Jesi.


“ Aku memang tidak pernah mencintaimu sebagai seorang wanita. Namun, aku


akan selalu menghormatimu sebagai ibu dari anakku. Tapi sekarang.” Wajah Yuna


menciut nyalinya mendengar suara Adiguna yang bergetar. “ Setelah aku tahu


semua yang kau lakukan paada Jesi dan wali anakku, bahkan untuk hanya melihatmu


saja aku harus berusaha menahan sesak di dadaku ini.” Yuna limbung di tempat


duduknya. " Kalau bukan karena Bian masih menghormatimu sebagai ibunya."


Adiguna pasti akan menyeret wanita ini keluar dari rumahnya, melemparkan surat perceraian, memakinya sampai sesak di dadanya lenyap.


Hanya karena Bian.


Yuna kembali ketakutan, darah yang berwarna merah mengalir di ingatannya.


Kematian wali anak Jesi yang diakibatkan oleh orang-orang yang ia sewa untuk


mendapatkan informasi tentang Jesi. Bagaimana laki-laki ini sampai tahu.


“ Dimana dia? An anak Jes, Jesi.” Suara Yuna bergetar takut.


“ Apa pun yang kau pikirkan sekarang, hentikan. Aku tidak akan


membiarkanmu melakukannya, sedikit saja hal yang bisa mencelakainya.” Adiguna


bangun. “ Jangan mencoba merusak kebahagiaan anak-anakku Yuna. Bian ataupun


anak Jesi, karena aku yang akan melindungi mereka kali ini. Aku bersumpah.”


Adiguna meninggalkan ruangan, menyisa pekatnya udara yang tidak bisa


dipakai Yuna untuk bernafas. Dadanya sesak. Dia memukul dadanya berulang kali


dengan tangan gemetar. Percikan teh masih membasahi lantai yang dia pijak.


Bagaimana ini.


Menekan jarinya dengan kuku sampai memerah.


Bagaimana kalau Bian tahu semua ini.


Wanita penjaga minimarket melintas di matanya.


Kenapa Bian malah jatuh cinta padanya. Tidak, Bian harus menikah


dengan Amanda supaya bisa menjadi pendukungnya di perusahaan nanti. Bagaimana kalau


anak Jesi muncul dan menggantikannya.Tidak!


Yuna meraih hpnya.


“ Manda besok bisa temani Tante?” Pesan terkirim.


“ Bisa tante, jam 2 siang Manda selesai bekerja. Mau kemana?”


“ Bertemu seseorang, nanti kamu tahu.”


Gadis penjaga minimarket, apa itu masuk akal gumamnya. Adiguna hanya


mengancamnya untuk tidak menyentuh anak Jesi. Tapi dia tidak akan membiarkan


wanita yang tidak pantas itu bersama anaknya. Jadi dia akan memisahkan Bian melalui penjaga minimarket malam.


Dia harus sadar diri, kalau dia tidak pantas untuk anakku.


***


Anak-anak yang belum tahu apa-apa. Ah, mungkin lebih baik mereka tidak pernah tahu.


Bian sedang duduk di sofa, di atas meja sudah ada potongan buah yang


sebagian diberikan Key tadi siang padanya. Pak Wahyu sudah menghidangkannya


dengan penuh suka cita. Kapan lagi Bian membawa buah-buahan pulang. Dan meminta camilan buah tanpa dipaksa.


Pak Wahyu tidak tahu asal usul buah itu darimana.


Sekarang Bian punya caranya sendiri mengantar pulang Key. Walaupun


pulang dengan naik mobil dia masih bisa menggandeng tangan Key lama. Tentu saja


caranya sederhana, Bian tidak menghidupkan mobil dan keluar area parkir sebelum


lima belas menit berlalu. ( Dih kek bocah kamu Bi)


“ Anggap kita sedang berjalan di bawah bintang.” Key hanya bisa tersenyum


menimpali.  Tapi jujur hati kecilnya juga


senang.


Sekarang Bian sudah kembali dari mengantar Key, sedang menikmati buah


pemberian ayahnya. Sambil menunggu pesan selamat malam.


Tring pesan masuk.


“ Kak Bian sedang apa?  Key bisa minta tolong?” Emoji senyum dua biji.


“ Kenapa?”


“ Jawab dulu ia.”


“ Ia.” Singkat dan jelas.


“ Hehe.” Balasan tertawa belum mengatakan apa yang dia minta.


Pesan selanjutnya foto Basma sedang memegang sepiring buah di tangannya


sambil tersenyum dengan wajah ceria dan senang.


Apa-apaan ini kenapa dia mengirim foto bocah ini.


“ Kenapa kau kirim foto adimu!” Bukan memakai tanda tanya, tapi tanda


seru. Menunjukan suasana hatinya seperti apa sekarang.


“ Maaf Kak, bisa minta tolong sampaikan terimakasih pada paman. Aku dan


Basma menikmati buah pemberian paman dengan senang.”


“ Terus kenapa pakai foto adikmu!” Masih memakai tanda seru.


“ Basma mau menunjukan rasa terimakasihnya juga pada Paman. Hehe.”


Jeda cukup waktu lama, Key belum mendapat balasan.


“ Kak.”


“ Aku kirimkan nomor ayahku, sampaikan terimakasihmu secara langsung.”


“ Tidak mau.” Cepat sekali Key menjawabnya. “ Kak Bian saja yang


sampaikan ya, toloongggg. Key malu,  tidak, Key masih takut sebenarnya sama paman.” Key sedang mencari-cari


alasan. “ Tolong ya kak, Pleaseee.”


Stiker imut berderet-deret, apalagi cukup lama Bian membalas.


“ Kau sedang berusaha memperbaiki hubunganku dengan ayahku?"


" Huaaaa, Key ngantuk Kak. Sudah dulu ya." Lagi-lagi stiker berderet-deret Key kirimkan. Bian tergelak, membayangkan bagaimana wajah panik Key sekarang.


Lucunya, dia mengemaskan sekali. 


“ Terimakasih Kak. Kak Bian sudah makan buahnya?” Key mengirim pesan lanjutan  karena Bian belum membalas.


Tring, pesan terkirim. Sebuah foto Bian selfi sedang menggigit stroberi


sambil menggoda dengan matanya. Key sampai menjatuhkan hp karena kaget.


Keduanya sedang tertawa melihat foto yang baru saja dikirimkan Bian.


“ Istirahatlah Key, selamat malam. “ Setelah puas membahas foto menggigit stroberi.


“ Kak Bian juga, mimpi indah ya Kak.”


Stiker love you menutup malam mereka.


Bian masih menatap layar hpnya ragu. Masih melihat foto Basma lagi.


Bagaimana aku mengirim pesan ini ke ayahku.


Dia memilih menghabiskan buah di piring. Berjalan ke dalam kamarnya. Pesan sudah dikirim.


Dilemparkan hp ke tempat tidur.


Foto Basma terkirim.


Ditambah pesan singkat. Key mengirimkan pesan, dia dan adiknya berterimakasih.


Keluar kamar mandi, sudah membersihkan wajah. Melihat hpnya yang


bergetar.


Apa-apaan orang tua ini.


Pesan balasan dari Ketua, Bian menyimpan nama ayahnya dengan nama


jabatan itu.


“ Berbahagialah Nak.” Dua kata itu membuat Bian terjaga sampai tengah malam. Memikirkan apa yang diucapkan Paman Haryo.


Sementara itu di kediaman Adiguna. Laki-laki itu tersungkur dalam sujud syukur yang dalam. Melihat foto anak keduanya, yang tersenyum dengan cara yang sama seperti wanita yang ia cintai.


Bersambung.....


Terimakasih ^_^