Key And Bian

Key And Bian
Tawaran Kerjasama



“ Tanganku sakit.” Anjas memijat


tangannya yang di pelintir Bian tadi. Dia benar-benar hampir membunuhku. Anjas mengerutu.  “ Kamu kejam sekali.”


“ Masih untung aku tidak membunuhmu Kak.”


“ Baiklah, maafkan aku. Tapikan kamu menikmatinyakan?”


“ Menikmati apanya?.” Melemparkan pulpen. “ Aku kesal setengah mati”


Anjas duduk di kursi dihadapan Bian.


Memperhatikan wajah tampan di hadapannya itu. Masih tetap dingin dan menyimpan


luka. Bian menunjukan wajah itu hanya padanya, segurat wajah aslinya. Ia


melepas topeng senyum dan kedewasaanya.


“ Apa?”


“ Tidak. Sepertinya kamu kesal


bukan hanya karena Amanda, ada apa ini?” Anjas seperti bisa membaca isi kepala


Bian. Sedari tadi Bian memang merasa kesal. Saat melewati minimarket semalam


tempat itu memang sudah tutup. Bahkan gerai pecel lele yang ada di halamannya pun


sudah mulai berkemas menurunkan tenda-tenda mereka. Malam yang terus mengeliat,


saat tidak bertemu dengan gadis penjaga kasir itu, membuatnya bangun pagi ini


dengan suasana hati yang buruk.


“ Tidak ada.”


“ Masalah ayahmu?” terus bertanya.


“ Tidak ada, memang kenapa dengan ayahku.” Jadi bertanya juga.


“ Tidak ada?” Anjas mengangkat bahu.


“ Kamu mau aku patahkan sekalian tanganmu Kak.”


“ Tidak, tidak, kejam sekali orang ini. Ayahku tidak mengatakan apa-apa secara detail, dia benar-benar pelit


sekali kalau aku bertanya mengenai wanita itu. Tapi dia memang bilang, kalau


wanita itu punya seorang anak.”


Bian mendesah, ia menarik nafas panjang. Menyentuh keningnya sekarang dengan tangan kanan.  Dia melihat Anjas.


“ Jangan tertalu kawatir Bi.” Anjas bisa membaca sorot mata itu.


“ Menurutmu apa yang akan aku lakukan Kak, kalau tiba-tiba ayahku menemukannya, membawanya pulang dan memperkenalkannya kepadaku.” Bian tertawa jijik.  Namun jelas ada rasa khawatir, namun tertutup


oleh kebencian yang teramat besar di hatinya.  “Sudahlah, jangan bicarakan tentang wanita itu lagi. Terserah ayahku, mau mencarinya keujung dunia sekali pun, aku tidak perduli. Ibuku juga sudah tua


untuk menangisi cinta ayahku.”


Anjas menyodorkan map yang ada


di hadapannya. Mengalihkan suasana. “ Semua sudah fix, undangan sudah di sebar.


Mereka sudah konfirmasi kedatangan.  Aku


masih harus konfirmasi tentang makanan saja. Indonesia ini banyak sekali


makanan tradisionalnya, sampai bingung memilih.”


“ Bagaimana promosinya?”


“ Sudah beres. Ada sepuluh brand


fashion yang akan menjadi sponsor utama, sisanya sekitar 50 akan jadi sponsor pendukung, mereka akan memberi produk mereka yang akan menjadi godybag undangan. Royale cocolate juga akan melaunching produk terbaru mereka, yang akan jadi sovenir  nanti.”


“ Tv,  media online dan surat kabar.”


“ Slot utama. Sudah tanda tangan kontrak dua hari yang lalu.”


“ Apa aku harus memberi sambutan juga Kak.”


“ Tentu saja.”


“ Biar ayahku saja.”


“ Ketua dan kamu juga Bi. Selaku CEO Grand Mall.”


“ Kau tahu kak, aku membenci itu.”


“ Kamu pasti akan tampan sekali nanti”


Bian melembarkan pulpen. “ Kau benar-benar sudah bosan hidup.” Bian bertampang garang. Anjas malah


menyeringai. Lalu bangun.


“ Aku pergi ya. Ada yang mau


diurus. Mau sesuatu untuk makan siang, aku bisa bawakan nanti.”


“ Belikan aku bakso sama es campur.”


“ Isshh, bisa tidak pesan makanan yang lebih sehat.”


“ Siapa suruh nawarin. Aku sudah bosan makan makanan sehat, Pak Wahyu selalu masak makanan sehat setiap hari.”


Anjas pergi masih mengomel  tentang selera makan Bian.


Di hadapan Anjas Bian memang selalu


bisa bersikap apa adanya. Melampiaskan marah, rasa muak dan kesal pada


orang-orang.  Walaupun ia tahu, Anjas


juga pasti terkadang merasa jengah akan sikapnya. Namun dia memang benar-benar


tipe laki-laki luar biasa. Apa saja bisa dilakukannya, dari hal sepele sampai


sebesar apa pun.


Suara pintu diketuk. Sekretarisnya


yang cantik masuk.


“ Maaf Pak, Pak Dian Chandra dari


Bangkit Lestari Permai sudah datang, beliau sudah ada di ruang meeting.”


“ Baiklah. Oh ya Susi, bisa minta


tolong telfon Pak Anjas, pesan 40 porsi.”


“ Apanya Pak?”


“ Dan tolong katakan pada yang lain, jangan pergi makan di luar nanti.”


“ Baik Pak.”


Susi hanya menurut. Bian memang


sering melakukan ini. Mentraktir karyawan secara tiba-tiba, tapi terkadang


dengan menu yang aneh-aneh. Bahkan bisa dikata terlalu sederhana jika diukur


dari uang yang dia punya. Namun setiap kali bisa makan bersama seluruh


karyawan, dengan menu apa pun, melihat Pak Bian menikmati secara lahap selalu


membuat mereka senang.


“ Halo Pak Anjas, maaf Pak tadi Pak


Bian bilang kalau pesanannya tambah 40 porsi.”


“ Apa? Dasar kurang kerjaan, Susi tidak salah nih?” tanya Anjas lagi.


“ Ia pak, malah karyawan dilarang


makan diluar nanti. Memang Pak Bian pesan apa?”


“ Bakso sama es campur.” Teriak Anjas kesal di telfon.


Susi terperangah. Bakso dan es


campur 40 porsi yang benar saja. Apa Pak Bian sedang mengerjai Pak Anjas.


Anjas mengomel sambil kembali


melajukan kendaraannya. “Dasar bocah sial, balas dendamnya kejam banget. Mampir


dulu beli bakso ni, baru ke Cental Park.” Akhirnya dia pergi memesan bakso


terlebih dahulu.


“ Aku ambil satu jam lagi ya Mas.


Baksonya harus masih panas dan esnya masih batu esnya. Tahukan, bosku penggila


bakso itu agak rese.”


“ Beres mas.” Anjas sudah langganan


bakso di sini bertahun-tahun, jadi mereka sudah paham.


Urusan Bakso sudah selesai, lalu dia melaju ke Central park.


***


Taman itu sudah ramai. Para


pedagang sibuk melayani pembeli. Perut kelaparan setelah  setengah hari bekerja, sudah


berjalan gontai menuju kursi-kursi yang tersedia. Anjas mengedarkan


pandangannya. Mencari-cari seorang pedagang somai yang sempat terkenal di media


sosial kemarin. “Itu dia. Wah dikerubutin pembeli lagi.” Anjas memilih duduk


dulu di kursi. Dia melihat sekeliling, “Ah, ada es dawet. Pesen es dulu ajalah.”


Diapun berjalan menuju gerai es


dawet. Dia melewati gerai somai milik Fatma, somai Cantika. Wanita berpakaian minin itu


menyapa dengan menggoda memintanya mampir.


“ Saya mau beli es Mba bukan


somai.” Katanya sopan, lalu terus berjalan menuju gerai es dawet. Ia


memesan  segelas, sambil mengobrol


tentang kesukaannya pada es dawet. Dia bertanya tentang proses pembuatan dawet


yang benar. Langsung mengacungkan jempol saat menyeruput es pertama kali.


“Waww, enak sekali pak.”


“ Terimakasih Mas, baru pertama


kali ke sini ya mas. Pasti mau nyobain somainya Key ya.”


“ Haha, kok bapak tahu?”


“ Seminggu ini dagangan tambah


laris Mas, banyak yang penasaran sama somainya Key, kita semua jadi kecipratan


juga.”


“ Makasih ya Pak.” Anjas


menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan, lalu ia mendapat kembalian 3


lembar uang sepuluh ribuan. “ Pergi dulu ya pak. Makasih tips membuat


dawetnya.”


“ Sama-sama Mas.”


Anjas kembali melewati gerai somai


yang menawarinya tadi. Dia berjalan, ah Key sedang duduk setelah merapikan


kukusan. Anjas sengaja berjalan kebelakang mobil. Diam-diam masuk.


“ Tara.” Ia menempelkan segelas es


dawet tepat di wajah Key. Key terkejut, dia menoleh seketika.


“ Kak Anjas!”


“ Ah, senangnya tidak dilupakan


gadis semanis Key.”


“ Apaan sih, ini buat Key? Makasih


Kak.” Dia menerima segelas dawet dan menyedot. Segar sekali di udara secerah


ini. “ Kak Anjas dari mana dan mau ke mana? Eh, Key buatkan somai ya. Mau yang


apa?”


Anjas berfikir keras. Dia


memperhatikan tulisan deretan menu  berwarna merah. Somai ikan, somai jamur, somai udang, somai udang dan ayam dengan aneka toping. Toping rumput laut, toping udang, toping beff, toping


telur puyuh. Dia jadi binggung. Tunggu. Ia berlagak bingung.


“ Apa sih Kak. Sudah duduk sana.


Key buatkan semua buat kak Anjas, mumpung masih lengkap. Jamurnya habis tapi.”


Key mendorong tubuh anjas supaya


duduk. Lalu ia kembali ke mobil Mengambil somai. Ada tuju buah somai dengan


aneka rasa. Ia menambahkan beff dan rumput laut lagi. Memotong-motongnya. Tapi


tidak seperti biasanya. Ia meletakan saus kacang dimangkuk terpisah. Memasukan


lebih banyak dari biasanya.


“ Silahkan kak.”


“ Wahh, banyak banget Key.


Terimakasih.” Anjas bangun dari duduk.


“ Mau kemana kak?” Key bertanya


saat Anjas berjalan menuju mobil


Dia kembali dengan membawa satu tusuk gigi, Lalu menyerahkannya kepada Key.


“ Temani aku makan.” Katanya. Lalu


dia sudah duduk dan mulai memasukan satu gigitan ke mulut. “Benar-benar enak.”


“ Terimakasih.”


“ Kita baru bertemu sekali, tapi


menyodorkan ke mulut Key. Key terkejut, lalu menggeleng. Ia lalu menusukan


tusuk giginya mengambil sepotong somai, mencelupkannya lalu memasukannya ke mulut.


“ Key memang punya penyakit kak.”


Wajah Anjas berubah tegang.


“ Haha, apa si Kak. Penyakit Key


memang kadang berbahaya kalau bertemu orang jahat, tapi kalau sama orang baik


sepertinya tidak berbahaya.”


Nambah binggung Anjas. Sambil terus


mengunyah.


“ Peyakit Key itu gampang percaya


sama orang, sama susah lupa sama wajah orang. Key bahkan hafal wajah-wajah


pelanggan somai  sama minimarket. Ya,


walaupun kalau ditanya namanya Key bakal menyerah angkat tangan.”


Anjas geleng-geleng. “ Ngerjain


orang tua.” Key hanya tertawa. Anjas lalu mengeluarkan dompetnya dan


menyerahkan selembar kartu nama.


Anjasmara Rahardian, sekrestaris CEO


Grand Mall. Wajah Key berubah. Dia meletakan tusuk giginya. Dan sepertinya ikut


mengeser kursi menjauh.


“ Ah, aku menunjukan kartu nama ini


bukan untuk pamer Key. Aku malah akan sedih kalau kamu jadi merubah sikapmu


seperti itu.”


“ Maaf kak.” Nada bicara Key


berubah. Jauh lebih sopan sekarang.


“ Kenapa seperti itu. Aku memang


sekertaris CEO, tapi akukan bukan CEO . Aku cuma karyawan biasa juga..” Anjas


bisa melihat perubahan wajah Key. “Key, kamu betul-betul membuatku sedih kalau


seperti itu.”


“ Maaf kak, Key tidak bermaksud seperti itu.”


Anjas mengambil sepotong somai. Dan


akan memasukannnya ke mulut Key. Sepotong somai itu sedang menggantung di depan


mulut Key. “ Aku akan kecewa kalau kamu menolaknya.” Perlahan mulut Key


terbuka, dan sepotong somai itu masuk. Dada Key berkecamuk.


“ Aku menunjukan kartu nama itu,


karena ingin memberimu tawaran. Ya, aku hanya takut, nanti kamu salah sangka


dan berfikir kalau aku bercanda, jadi ku tunjukan kartu nama itu. Tapi


tolonglah Key, lihat aku sekarang sama seperti kamu liat aku sebelumnya.”


Mana mungkin, batin Key. Laki-laki


yang ada di hadapannya sekarang ini tentu tidak lagi selevel dengannya dalam


urusan apa pun,


“ Dua minggu lagi akan ada perayaan


ulang tahun ke 25 tahun Grand Mall. Dan aku mau memesan somai Key imoet sebagai


salah satu gerai makanan di pesta itu.”


“ Apa Kak Anjas sedang bercanda.”


Key memotong. “ Walaupun key belum pernah datang ke pesta-pesta orang kaya, tapi


Key juga tahu, mana ada somai kaki lima.”


“ Dengar dulu nona manis. Konsep


ulang tahun ke 25 ini memang tradisional, modern dan elegan. Jadi baik


dari dresscode tamu, dekorasi ruangan, acara, sampai makanan juga berbau


tradisional, namun dikemas dengan cantik dan mewah. Nanti ada jajanan dari


seluruh Indonesia juga. Sumatra, kalimantan, Jawa, Sulawesi. Pokoknya berusaha


mengakomodir keberagaman kuliner Indonesia. Nah salah satunya somai Key imoet


ini.”


Key mengigit jarinya. Merasa tidak percaya.


“ Nah, kamu tidak percayakan,


padahal aku sudah menunjukan kartu namaku. “


“ Key cuma pedagang somai murahan Kak, cuma pedagang kaki lima.”


“ Kenapa? Somai kamu enak rasanya,


itu sudah cukup. Untuk makanan enak, kita tidak perlu tahu siapa yang


membuatnya, kalau sudah enak ya enak saja. Ia kan.”


Key masih saja membeku. Dia belum


benar-benar mempercayai. Apa Anjas benar-benar sekretaris CEO Grand mall, apa


mungkin perusahaan besar itu benar-benar akan membeli somainya dan akan


mengunakannya sebagai salah satu hidangan dalam ulang tahunnya yang ke 25.


Rentetan pertanyaan muncul. Namun hanya terbalas dengan senyuman dari Anjas.


Ponsel Anjas berdering.


“ Sebentar ya Key.” Key hanya


menganggukan kepala. “ Ia Mas, saya segera ke sana. Sudah mulai bisa disiram


kuahnya.” Lalu telfon mati. “Haha, bos pesan bakso sama es campur tadi. Oke deh


Key, bisa minta no telfon kamu, nanti malam aku ke minimarket ya. Kita bicarakan


menu, dan harga, sekalian uang mukanya.”


Pelanggan somai datang.


Anjas juga pamit. Key masih merasa bingung, jadi ia hanya mengangguk saat Anjas


beranjak pergi, ia baru melihat ternyata Anjas menyelipkan uang seratus ribu


di bawah mangkok kuah somai. Somainya habis ternyata, Key saja tidak sadar tadi.


Buru-buru ia bangun, saat datang banyak pelanggan yang mulai mengantri. Central


Park dan perut kelaparan sebuah sinergi yang saling menguntungkan. Para penjual


sibuk dengan dagangannya, pelanggan sibuk dengan makanannya. Key sesaat lupa


tawaran Anjas tadi.


Siang semakin memuncak, dan suasana


panas pun terasa. Kursi-kursi dipenuhi pelanggan. Angin berhembus dengan  pelan. Silih berganti pelanggan datang.


Memesan, makan lalu pergi. Key nyaris tidak sempat duduk, masih saja ada yang


meminta foto dan bertanya tentang somai-somainya. Karena sibuk dia pun cuma


tersenyum sekenanya.


“ Maaf Kak habis.” Sambil membuat


tanda dua jarinya bersamaan membentuk huruf v. Dia memang terlihat manis saat


tersenyum.


“ Yahh, Key, kok habis sih, besok bawa lebih banyak donk.”


“ Maaf Kak, Key sudah bawa banyak kok,  ke gerai sebelah sana kak, kayaknya


somainya masih.”


“ Nggak ah, cuma mau somainya Key.


Makan nasi aja deh kalau begitu.” Katanya langsung pergi ke gerai  nasi padang.


Setelah membereskan meja dan kursi,


membuang sampah yang bercecer. Ah, dia merasa lapar juga. Lalu dia menuju gerai


soto. Bibi Hanum sedang mencuci mangkok.


“ Bi lapar, Key mau sotonya satu ya.”


“ Baik Key.”


Lalu dia meracik soto spesial untuk


Key, dengan daging ayam yang jauh lebih banyak dari porsi biasanya. Meletakan


kerupuk di piring terpisah.


“ Sudah habis Key.”


“ Sudah Bi.”


Dia meletakan semangkok soto dan


kerupuk bersamaan. “ Mau sama nasi?”


“ Tidak usah bi, ini juga sudah


porsi besar.” Key tertawa. Menuangkan sambal dan sedikit kecap, warna kuah soto


sekarang menjadi coklat.


“ Kamu ini harus makan yang banyak, sehat terus, kamukan harus bekerja keras.”


“ Haha, ia Bibi, Key sudah makan banyak kok setiap hari.”


Bibi Hanum mengambil segelas air, kemudian dia juga ikut duduk di hadapan Key.


“ Kamu apa tidak ingin kuliah Key, kerja di kantor. Kamukan masih muda, masih banyak kesempatan yang bisa dicoba.”


Key menelan suapan soto dengan getir. Sering kali pertanyaan itu muncul, namun ia pun buru-buru mengubur asa itu. Jauh ke dalam lubuk hatinya. Lalu memunculkan wajah Basma di sana, pemuda


tampan yang harus jauh lebih baik darinya dalam menjalani hidup nanti.


“ Bibi, mimpi Key tidak muluk-muluk. Basma lulus SMU dengan nilai baik dan bisa masuk universitas


negri. Dia bisa lulus dan sukses itu sudah cukup.” Suapan terakhir sotonya.  “Makasih makanannya bi.”


“ Kamu juga kan masih muda Key.”


“ Ah, ia. Tapi biaya kuliah sekarang bibi tahu sendirikan sebanyak apa. Jadi Key prioritas menabung untuk


Basma.”


“ Adikmu itu pasti bangga , ayah dan ibumu juga, mereka juga pasti akan sangat bangga melihat perjuanganmu.”


“ Makasih ya Bi.” Key meletakan uang dua puluh ribuan di dekat piring.


“ Sudah nggak usah.”


“ Ah Bibi, Bibikan jualan juga.”


“ Key kan sudah seperti anak Bibi, masak masih sungkan begitu.” Menyelipkan kembali uang di tas selempang mlik Key.


“ Makasih ya Bi. Key pamit dulu.”


“ Ia, hati-hati ya.”


Key menganguk. Lalu ia pun melajukan


mobilnya meninggalkan Central Park. Cuaca  masih terik. Namun pohon-pohon  yang tumbuh di pemisah jalan  mulai meninggi, sedikit menahan sinar matahari. Key sangat menyukai kota ini.  Dulu, kota ini tidak seperti ini. Saat Key masih SMP, kota ini masih panas, banyak sampah di mana-mana. Sungainya pun masih


tercemar. Namun karena upaya keras dari pemerintahan kota, yang mengelontorkan


dana luar biasa untuk pembangunan kota dan penyadaran mental masyarakat, membuat


kota ini seperti berganti muka.


Key menghentikan mobilnya.  Dia duduk sebentar di kursi di bawah pohon.


Membuka tasnya dan mengambil sebatang coklat. Sambil diterpa angin, ia


menikmati suasana sejuk. Mobil lalu lalang, pejalan kaki yang juga kepanasan.


Banyak orang yang punya cerita kehidupannya sendiri-sendiri.


“ Adiguna Grup dengan Grand mall


dan Grand land. Membayangkan kehidupan seperti apa yang ada dalam keluarga itu


saja tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Keluarga harmonis, kaya raya,


dermawan, putra tunggalnya yang akan mewarisi kekayaan.” Key menertawakan


dirinya sendiri. Keluarga itu memang sering menjadi berita nasional. Sering


muncul di tv, apalagi kalau ada kegiatan yang sifatnya sosial. Key, masih


teringat jelas bagaimana paras cantik Yuna Sailendra, nyonya Adiguna. “Wanita


yang sungguh beruntung.”


Dia terus melamun, sampai coklatnya


tandas. Bangun untuk membuang sampah, ada kotak sampah di samping kursi. Kota


ini semakin baik saja. Lalu dia melanjutkan perjalanannya, pulang ke rumah.


Bersambung.....


Soto itu makanan kesukaanku (Gak


ada yang nanya), cobain ya kalian kapan-kapan. Ada banyak jenis soto, dari


kuahnya yang bening sampai kental bersantan. Ada yang pakai daging ayam dan ada


juga yang pakai daging sapi. Semua enak. Jangan lupa dicoba ya@LaSheira.