
Waktu terus berputar namun sepertinya kebenaran itu belum punya
kesempatan untuk terbuka. Sekitar jam setengah tiga sore. Bian tidak kembali ke
kantornya. Bahkan setelah dia berhasil meyakinkan Bibi Salsa kalau masalah
pemberitaan di media akan hilang dengan sendirinya beberapa hari lagi. Itu
informasi yang Bian dapatkan dari Kak Anjas. Bian belum mau pergi dari rumah Key.
Sebenarnya dia sendiri sudah marah-marah, bahkan memaki karena kesal.
Namun, Anjas meyakinkan, kalau semua ini tidak ada hubungannya dengan Ayahnya.
Akhirnya dia mengubur curiga itu, karena memang tidak ada alasan ayahnya
melakukan itu. Dia sudah memberi restu.
Bibi Salsa pun kehilangan argumennya. Ketika Key memohon untuk tidak
mengatakan apa pun perihal isi yang ada di amplop coklat. Asal usul keluarga
kandung Basma. Baik kepada Kak Bian ataupun Basma.
“ Kak Bian tidak kembali ke kantor? Maaf ya Kak, Key malah membuat Kak
Bian repot-repot kemari, padahal masih waktunya bekerja,”
Bian mengusap kepala Key yang duduk di sampingnya, kali ini diiringi
tatapan iri Basma. Anak itu bergumam lalu melengos.
“ Aku yang harusnya minta maaf Key, karena masalah ini kamu bahkan tidak
bisa bekerja.”
Libur julan somai, stok somai yang ada di freezer dia bagikan
kepada tetangga kemarin. Karena tidak
tahu kapan akan mulai berjualan lagi. Sedangkan minimarket, tidak tahu, kenapa
pemiliknya baik sekali.Dia bahkan diizinkan mengambil libur sesukanya. Sudah ada
pengganti sementara, yang awalnya minimarket tutup sekarang sudah buka
kembali. Tapi kapan pun Key bisa kembali
bekerja pintu minimarket selalu terbuka untuknya. Begitu yang disampaikan
pemilik baru minimarket.
Aneh memang, namun dengan banyaknya hal yang dipikirkan Key saat ini. Membuat
keanehan-keanehan itu terkubur begitu saja. Dia mengucapkan ribuan terimakasih karena sudah mendapatkan kelapangan izin
tidak bekerja.
“ Oh ya Bibi Salsa, Pak Wahyu
akan mengantar Bibi pulang. Sudah sore begini biar aman diperjalanan” Bian
melihat jam di tangannya. Dia tadi sudah mengirim pesan pada Pak Wahyu.
“ Tidak usah saya naik bus saja.” Bibi tidak mau kedatangannya diketahui
Tuan Adiguna. Namun, apalah daya dia menolak. Kalau Key malah sangat
berterimakasih kalau Pak Wahyu bisa
mengantar. Sebenarnya dia berharap Bibi Salsa bisa menginap, namun karena anak-anaknya
ia tinggalkan di kampung akhirnya mau tidak mau Key merelakan kepulangan bibi.
Pak Wahyu sudah berdiri di teras rumah menunggu. Bibi Salsa makan dan
sholat Ashar terlebih dahulu. Key membeli oleh-oleh makanan kecil untuk
anak-anak Bibi Salsa di warung yang cukup besar di dekat rumahnya. Ada toko
buah di sebelahnya, dia juga membeli beberapa buah-buahan sekalian. Seperti
itulah akhirnya Bibi harus kembali ke kampung.
Mereka berpisah. Bibi Salsa masih menyimpan rahasia kematian orangtua
Key dan May Sarah. Sekali lagi menolak untuk terakhir kalinya untuk diantar Pak
Wahyu, mengatakan kalau dia lebih nyaman naik bus.
“ Pak Wahyu sudah tidak ada pekerjaan, Bibi jangan merasa terbebani.
Saya melakukannya karena Bibi adalah keluarga yang berharga untuk Key,” ujar
Bian.
Key terpesona dengan ucapan itu. Dadanya berdegub senang. Basma
menyeringai, pintar sekali Kak Bian mencuri hati Key batinnya.
Bukan itu masalahnya, Pak Wahyu tidak mungkin mengantarku pulang sebelum
aku menemui Tuan Adiguna.
Bian membukakan pintu belakang, dengan keraguan akhirnya bibi Salsa
masuk juga. Pak Wahyu tersenyum sekilas padanya. Namun senyuman penuh makna.
Bibi langsung berdegub menduga-duga. Lalu mobil melaju meninggalkan lambaian
tangan ke tiga orang di belakangnya. Key, Basma ataupun Bian masih terlihat
sampai mobil benar-benar menjauh pergi.
“ Kak Bian mau pulang juga?” Masih berdiri di mulut gang. Melihat mobil
Bian yang terparkir di tempat biasanya.
“ Kau mengusirku?” sedih.
“ Tidak, bukan begitu Kak.” Panik. Apalagi malah Basma berjalan cepat beberapa langkah meninggalkan mereka.
“ Key berterimakasih Kak Bian minta Pak
Wahyu mengantar bibi.” Akhirnya mereka berjalan beriringan ke rumah.
Bian tergelak lalu meraih tangan Key.
Lucunya melihatmu begitu.
“ Aku mau mengantarmu sampai rumah. Oh ya Key, apa kedatangan bibi hanya
untuk menanyakan perihal berita di media yang membawa-bawa informasi tentang
penjaga minimarket malam ya?”
Serangan panik tiba-tiba datang lagi. Dia yakin, tangannya berkeringat sekarang.
Kenyataan Bian dan Basma adalah saudara satu Ayah. Seperti memanah
kesadarannya.
“ I, ia Kak, Bibi datang karena mencemaskanku.”
Dia tidak mau menceritakannya padaku. Bian merasa sedih, melihat jalan
ke depan. Apa karena dia belum mempercayaiku ucapnya dalam hati lagi.
“ Key.”
“ Ia Kak.” Sudah sampai di teras rumah. “ Kau ingat kan, janjimu kalau
kau akan berbagi beban juga dengannku. Jangan menanggungnya sendirian. Untuk
itulah aku ada di sini.”
Aaaa, bagaimana ini. Aku jadi terlihat seperti orang yang tidak
mempercayai ketulusan Kak Bian.
“ Semua baik-baik saja Kak, Key percaya ayah Kak Bian bisa menyelesaikan
ini. Amanda juga menghubungiku dan mengatakan semua baik-baik saja.” Tenangkan Kak
Bian dulu, maka tidak aka nada kecurigaan.
Begitulah yang akan dilakukan Key sekarang.
Bukan itu, tapi Basma yang bukan adik kandungmu. Ceritakan padaku semua
itu.
Rasanya kata-kata itu sudah sampai di ujung tenggorokan. Tapi tidak bisa
Bian keluarkan. Dia pun takut kalau pertanyaannya malah membuat Key merasa dia
terlalu mencampuri urusan pribadi Key. Bagaimanapun dia tahu dari ketidak sengajaan tadi bukan karena Key menceritakannya secara langsung.
“ Terimakasih sekali lagi ya Kak sudah datang. Sudah mengantar Key.” Key
sudah berdiri di depan pintu. Kalau Bian peka, sebenarnya sudah seperti Bahasa
pengusiran. Namun bodo amat, Bian masih tidak tahu malu berdiri di hadapan Key.
“ Aku lapar.”
Hah!
Melongo, tadi waktu Bibi Salsa makan, Bian ditawari. Dia hanya
menggelengkan kepala. Bibi Salsa makan dengan lauk pauk yang dibeli di warung
makan di depan jalan umum tadi.
“ Ya Tuhan, maaf ya Kak. Ayo masuk.” Menarik tangan Bian, mendorongnya
sampai duduk di meja makan. Makanan yang
tadi dimakan Bibi Salsa belum dibereskan, hanya ditutup dengan tudung saji.
Key mengangkat penutup. “ Tapi lauknya Key beli nggak apa-apa ya Kak. Key ambilkan
nasi dulu.”
Bian mengambil tudung saji dan menutupnya lagi. Key berdiri bingung.
“ Aku mau makan mi instan buatan kamu Key.”
Dari dalam kamar tawa Basma pecah mendengar apa yang dikatakan Bian. Dia
menguping di dekat pintu kamar tadi.
***
Semalaman Key hanya melihat sudut lemarinya. Berfikir, Tempat dia
menyimpan amplop coklat itu. Belum yakin akan melakukan apa. Tapi dia sudah
menduga-duga, kalau Tuan Adiguna memang sudah tahu. Ingatannya kembali pada
pertemuan dengan Tuan Adiguna.
Aku tidak memperhatikan, kalau selama aku bertemu dengannya yang aku bicarakan
hanya Basma karena terpancing dengan
pertanyaan yang dia berikan. Apa saat itu dia sedang mencari informasi
bagaimana putra kandungnya hidup.
Seandainya Tuan Adiguna benar
sudah tahu apa rencananya. Key mereka-reka. Dia bahkan meminta Basma menjadi
model Frezze Parfume, apa yang melatari itu semua. Apa dia ingin mengikat Basma
atau apa. Semua praduga bermunculan begitu saja.
Bagaimana dengan perasaan Basma dan Kak Bian.
Basma sudah hidup dengan Key sejak baru dilahirkan. Ia tidak pernah mengenal keluarga kandungnya.
Bibi Sarah pun sudah meninggal, jadi hanya tersisa Tuan Adiguna. Membayangkan
bagaimana rumitnya asal usul Basma yang lahir karena penghianatan Tuan Adiguna
pada ibu Kak Bian. Dada Key semakin sesak, dia semakin bingung.
Kalau Kak Bian membenci Basma aku tidak bisa begitu saja menyalahkannya.
Bagaimanapun kemunculan Bibi Sarah sudah menghancurkan rumah tangga orangtuanya. Merebut cinta kasih ayahnya.
Ketakutan kembali muncul saat membentur pada penerimaan Basma. Bagaimana
selama ini. Kalau dia tahu apa dia akan kembali pada Tuan Adiguna. Perasaan
sakit Basma pun tidak luput dari perhatian Key, karena kalau sampai Basma tahu
bahwa dia anak Adiguna. Maka penjelasan tentang ibunya pun harus terurai.
Memberitahunya kalau ternyata ibunya sebagai wanita yang menghancurkan hidup
Kak Bian.
Aaaaaa, aku pusing! Aku pernah mengatakan padanya bagaimana bencinya Kak
Bian pada wanita itu, dan wanita itu adalah ibu Basma.
Begitulah Key, larut dalam pikirannya dan kekalutannya sendiri.Dia belum
mengambil keputusan apa pun. Karena kalau dia salah melangkah, Kak Bian atau pun
Basma akan sama-sama terluka. Kedua orang yang berharga untuknya.
“ Mbak Key nggak bisa tidur ya.” Melihat mata sendu Key. Gadis itu
menjatuhkan kepala ke meja makan. “ Semalam aku lihat-lihat berita di internet. Beritanya
sudah pada hilang dari portal berita. Mbak jangaan terlalu cemas.” Sarapan pagi
Basma yang menyiapkan.
Bukan itu yang aku khawatirkan Bas, tapi Basma adik Kak Bianlah yang
semalaman aku pikirkan.
“ Apa Mbak Key sudah mau jualan, nanti aku temani belanja dan jualan.
Hari ini kita bisa mulai belanja dan membuat somai.” Basma mau mengusir semua
kekalutan di mata Key. Mungkin dengan bekerja bisa membuatnya lupa. Begitulah
pikiran Basma.
“ Kak Bian belum mengizinkan aku jualan Bas. Lagi pula tadi aku dengar
kamu janjian sama Rian.”
Basma meletakan semua masakan di meja makan. Sup telur puyuh dengan kembang kol. Dia
taburi bawang goreng di atasnya dan irisan daun bawang. Balado udang dan tahu
goreng yang ia bumbui dengan garam dan ketumbar.
“ Halah, Rian ngajakin nonton konser. Dia dipaksa mamanya buat nemenin
kakak perempuannya. Karena di sana dia nggak mau manyun sendirian akhirnya
maksa mamanya beliin tiket buat aku juga.” Basma saja tidak tahu siapa artis luar negri yang datang itu. Ah,
mungkin yang dia lihat ditonton dan dibicarakan kakak perempuan Rian dengan
temannya waktu itu, gumamnya.
“ Ya sudah kamu nonton aja gak papa. Mba belum mau mulai kerja dulu,
nunggu dulu semuanya mereda.”
“ Ah, tapi aku mau menemani Mbak Key di rumah aja. Biarin aja Rian.”
“ Huss kan sudah janji. Bas pergi aja nggak apa-apa. Jangan lupa sholat
nanti ya.”
Key sengaja membiarkan Basma pergi, karena dia ingin melakukan sesuatu
hari ini. Mereka makan dengan lahap. Key memuji masakan Basma yang makin hari
makin enak.
***
Wajah Anjas terlihat cemas. Dia pasti tergesa datang. Key sepertinya
sudah ingin menangis saat melihat Kak Anjas di depan pintunya. Hanya dialah
yang terpikirkan Key. Karena Key merasa cara berfikir Kak Anjas yang dewasa dan
tenang mungkin saja bisa membantunya.
“ Masuk Kak, terimakasih sudah datang.”
Anjas duduk, menatap curiga. Dia
bisa menangkap itu, kalau Key sedang tidak baik-baik saja.
“ Maaf ya Kak,sudah merepotkan Kak Anjas, tapi Key tidak tahu harus
minta tolong sama siapa lagi.” Ket terlihat menekan kuku jarinya.
“ Key, kamu baik-baik saja kan?’
Gadis itu menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala.
“ Apa Kak Anjas bisa membantu Key bertemu dengan Tuan Adiguna.”
Ketua? Kenapa?
“ Ah, apa karena masalah berita yang kemarin bermunculan di internet dan
TV. Kalau itu jangan cemas Key, Ketua sudah membereskannya. Dan yang lebih
penting tidak ada yang menyalahkanmu Key. Amanda sudah menerima putusnya
pertunangan ini dengan bijak, ya, walaupun aku sempat kaget dia bisa menerima
dengan baik. Tapi semua baik-baik saja. Perusahaan juga masih tetap bekerjasama.” Tidak mau fokus membahas Amanda, jadi melebar bawa-bawa nama perusahaan.
Karena dia suka padamu Kak.
“ Jadi semua baik-baik saja, kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa pada
ketua, dia juga sudah tahu. Ketua sudah mendukung huunganmu dengan Bian.”
Menjelaskan bla…bla… kalau Ayah Kak Bian melakukan banyak hal untuk mendukung
hubungannya dengan Kak Bian.
Lagi-lagi, Anjas Melihat Key meremas jemarinya dan menusuk kukunya.
Terlihat cemas.
“ Key, ada apa sebenarnya? Ada masalah lain selain berita itu sampai kamu
mau bertemu ketua?”
Masih terdiam. Jarinya sampai terlihat merah karena dia tekan. Terdengar
helaan nafas berat.
“ Kak, apa Kak Anjas tahu perihal wanita yang dicintai Tuan Adiguna.”
Deg. Ada apa ini? Sekarang terlihat jelas kalau Anjas yang mulai
diliputi cemas. Darimana Key mendengar cerita tentang itu. Informasi
mengenainya tidak bisa di akses di
pencarian manapun di internet. Kecuali dia mendengarnya dari saksi hidup.
Apa Bian menceritakannya, tentang wanita itu.
“ Key darimana kamu tahu tentang itu?”
“ Apa Kak Anjas bisa membawa Key bertemu Tuan Adiguna.” Tidak memberi kesempatan Anjas bertanya.
Benar, Anjas yang bingung sekaligus cemas sekarang.
“ Key, aku tidak tahu kamu mendengar cerita itu dari mana. Tapi,
kondisimu berbeda dengan wanita itu." Sedang menarik kesimpulan sendiri. " Dulu, ketua sudah menikah dengan Nyonya
Yuna. Tapi sekarang, Bian belum menikah dengan Amanda, dan Amanda benar-benar baik-baik
saja setelah pembatalan pertunangan. Jadi ini bukan salahmu.”
Aku tahu Kak,karena Amanda mencintaimu.
Key ingin berteriak begitu dan mengatakan kalau bukan itu alasannya.
“ Apa Kak Bian membenci wanita itu Kak.” Lagi-lagi menanyakan sesuatu di luar jawaban Anjas tadi.
Pembicaraan mereka seperti Key berjalan ke timur dan Anjas ke barat.
“ Hah!” mendesah. “ Jangan ditanya sebera bencinya Bian pada wanita itu.
Key, kalau aku boleh memberimu saran, jangan membahas perihal wanita itu di
depan Bian. Ya, dia tumbuh dengan kebencian ibunya yang diturunkan padanya.”
Tunggu, sepertinya benar ada informasi penting yang terlewat. Kenapa
sampai Key membawa-bawa wanita itu. Jelas-jelas seharusnya dia tidak punya
hubungan dengannya. Melihat Key yang berusaha mengalihkan pandangan supaya mata
mereka tidak bertemu. Anjas semakin curiga.
Sepertinya ada yang aneh.
“ Key, apa hubunganmu dengan wanita itu?” pertanyaanya sudah berubah
dari keingintahuan dai mana key tahu. Menjadi ikatan apa yang ada antara key dan wanita itu. Karena jelas-jelas dari cara bicara key,
gadis itu seperti mengenal wanita itu.
“ Maafkan aku Kak, aku belum bisa menjawab. Tapi bisakah Kak Anjas
membawaku pada Tuan Adiguna. Dan untuk sekarang, aku mohon rahasiakan ini dari
Kak Bian.” Mulai frustasi dengan pertanyaan Anjas. Karena Key seperti terpancing untuk
mengatakannya. Sesak di dadanya ingin ia bagi.Dan dia merasa kalau mengatakannya
pada Kak Anjas laki-laki itu bisa memahami seberat apa rahasia yang sedang
ia simpan ini.
“ Kamu bukan anak wanita itu kan Key.” Kaget dengan pertanyaanya
sendiri. Kalau dihitung-hitung dari perbedaan usia dengan Bian sepertinya tidak mungkin. Tapi akal sehatnya sudah kalah dari rasa penasarannya, jadi dia mengatakan hal sembarangan.
“ Bukan aku Kak!” Berteriak karena kaget dengan kesimpulan seenaknya
Anjas. Bagaimana bisa dia berfikir seperti itu. “ Bukan aku!.”
Bukan aku, berarti dia tahu siapa anak wanita itu.
“ Lalu siapa?”
“ Basma Kak, Basma anak bibi Sarah. Wanita yang di benci Kak Bian.”
Tangis Key pecah akhirnya. Dia gemetar mengatakannya. “ Bibi Sarah ibu Basma
adalah anak wanita itu Kak.” Huuuuu, nafasnya sesak dengan isak.
Sementara Anjas membelalak. Bukan hanya kaget, kakinya pun rasanya
lemas.
“ Bagaaimana ini Kak. Key bingung sekali.”
Anjas mendekat ke tempat duduk Key, menepuk kepala gadis itu pelan. Tahu
bagaimana perasaan gadis itu sekarang. Di satu sisi adik yang ia sayangi, dan
di sisi lain laki-laki yang ia cintai.
Tapi, tunggu dulu. Bagaimana sampai anak wanita itu bisa
tinggal bersamanya.
Deretan pertanyaan langsung muncul seperti draff panjang. Tapi melihat
Key yang masih tertunduk menangis dia tidak akan tega mengatakannya.
“ Key, ayo temui ketua.”
Hanya itu yang terpikirkan oleh Anjas.
Bersambung....
Ada yang mau nonton konser ^_^