
"Apa kau dan Jessi sedang terlibat suatu hubungan, Kak?" tanya Elia.
Jessi, Rin, dan Elia diam menunggu jawaban keluar dari mulut Garaa. Garaa tersenyum samar sambil terus memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
"Aku dan Jessi sedang dalam hubungan serius. Aku mengikat hatinya hanya untukku," ungkap Garaa.
Jessi yang mendengar jawaban Garaa hatinya menghangat, pipinya bersemu merah, dan bibirnya tersenyum senang. Rin diam melongo, tidak percaya Garaa bisa menjadi seorang yang puitis begini. Elia hanya membatin dalam diamnya.
Elia menjadi pendiam setelahnya. Dia berbicara saat hanya ditanya, selebihnya ia akan diam. Jessi bergandengan tangan dengan Garaa, ia merasa bahagia sekali. Garaa bersyukur hubungannya dan Jessi membaik.
"Kita akan mengantar Elia terlebih dahulu, kemudian Rin. Apa kalian setuju?" tanya Garaa. Rin, Jessi, dan Elia mengangguk serempak.
Mobil melaju dengan kencang menuju rumah Elia. Di kursi belakang Elia dan Rin berdebat soal harga cabai yang semakin mahal. Jessi malas mendengarnya.
"Kembalikan ponselku, Garaa!" tangan Jessi mengulur meminta ponselnya. Garaa diam saja pura-pura tidak mendengar. Selesai mengantar Elia dan Rin mobil Garaa melaju ke apartemennya.
"Kau bisa memasak?" tanya Garaa
"Sedikit. Mau ku masakkan?"
"Boleh juga."
***
"Dimana letak dapurmu, Garaa?"
"Di sebelah sana, lurus terus!" ucap Garaa memberikan informasi. Jessi memasak sup jamur dengan cepat. Setengah jam berlalu, ia dan Garaa makan malam berdua dengan sup jamur.
"Mau menonton film?" tawar Garaa pada Jessi.
"Film romantis saja, jangan horor. Aku penakut," jawab Jessi.
Jessi menyandarkan kepala ke pundak Garaa. Mereka duduk berhimpitan dengan tangan Garaa memeluk Jessi. Tiba-tiba ponsel Jessi yang masih disimpan di saku celana Garaa berdering. Tertulis nama Theo.
"Kenapa Theo menghubungi mu malam-malam begini?" curiga Garaa.
"Mana aku tahu. Sini biar aku angkat dulu telponnya," pinta Jessi. Garaa tidak akan membiarkan Jessi yang bicara langsung pada Garaa. Ia yang akan mengangkat panggilan dari Theo.
"Halo, Theo."
"Ya, dia bersamaku."
"Tidak usah berbicara dengan Jessi, bicara saja padaku."
"Dia akan berangkat bersama ku besok. Tidak perlu kau jemput. Dia sudah punya aku. Bye!"
"Apa yang Theo katakan?" tanya Jessi penasaran.
"Tidak bicara apa-apa. Tidak penting juga. Besok kau mau pergi berkencan?"
"Tentu. Kita akan pergi kemana? Ke pantai atau ke bukit?" mata Jessi berbinar senang.
"Ke bukit?" kening Garaa mengkerut merasa jawaban Jessi bukan seperti perempuan pada umumnya yang akan memilih pusat perbelanjaan sebagai tempat kencan.
"Ada bukit yang bagus di pinggiran kota, Garaa. Theo pernah mengajakku kesana," Jessi menutup mulut dengan tangannya. Dia keceplosan.
"Berkencan saja dengan Theo! Tidak usah denganku kalau begitu," wajah Garaa berubah jadi datar.
"Terserah. Ayo kuantar pulang."
"Aku bercanda, sayang. Aku kan sudah punya kekasih paling tampan sedunia jadi mana mungkin aku akan berkencan dengan orang lain," Jessi bergelayut manja di lengan Garaa.
"Kau harus jaga jarak dengan Theo!" perintah Garaa.
"Siaap, bos. Ayo antar aku pulang, Garaa. Sudah malam juga."
"Tidak menginap saja disini?" goda Garaa. Pipi Jessi bersemu merah.
"Tidak, bodoh. Sudahlah, ayo," Jessi berlari keluar dari apartemen Garaa. Garaa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Jessi. Sungguh menggemaskan sekali kekasihnya ini.
***
Sesampainya di rumah, Jessi segera mengecek ponsel dan menghubungi Theo. Tidak ada jawaban. Sekali lagi Jessi berusaha menghubungi Theo. Tersambung.
"Halo."
"Hmm. Baru pulang?"
"Iya. Sudah makan?"
"Belum. Tidak selera. Apa kau sering mampir ke apartemen Garaa?" tanya Theo.
"Baru dua kali. Kau masih marah padaku?"
"Haha, sudah dua kali rupanya. Kau menolak saat ku tawari mampir ke apartemenku, tapi sudah dua kali kau ke apartemen Garaa," nada suaranya seperti orang yang sedang cemburu.
"Sudahlah, jangan mulai. Aku malas bertengkar dengan mu!" pinta Jessi.
"Aku merindukanmu. Kau mau ke bukit besok?" ajak Theo.
"Aku tidak berjanji, Theo. Garaa mengajakku berkencan besok, tapi tidak tahu jadi atau tidak."
"Tanya saja pada Garaa. Kalau tidak jadi aku jemput besok, kita ke bukit!" perintah Theo.
"Baiklah. Aku tutup, ya, telponnya. Aku mengantuk."
"Tidurlah, kesayanganku. Aku mencintaimu. Semoga besok kau tidak jadi berkencan dengan kekasihmu. Berkencan saja denganku."
Jessi terpaku mendengar ucapan Theo. Dia seperti sedang dalam tahap berselingkuh dengan Theo. Garaa, maafkan aku.
***
Elia tidak bisa tidur. Pikirannya tertuju pada hubungan Garaa dan Jessi.
Aku menyayangimu, Kak. Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Aku harus menghubungi Kak Garaa.
to Garaa : "Kau sudah tidur, Kak? Kenapa kau membohongi ku? Kenapa tidak bilang saja kalau kau berhubungan dengan Jessi. Kau seperti memberi harapan padaku, lalu kau menjatuhkanku. Aku kecewa padamu, Kak."
Garaa mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas tempat tidur. Keningnya berkerut saat membaca pesan dari Elia.
Memangnya kapan aku memberi harapan padanya. Aneh sekali perempuan ini**.