Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Hubungan Kita Berakhir



"Ehh, bukan begitu maksudku ... Begini ...."


Rin terbata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mulutnya tidak bisa dikondisikan dan Garaa memergokinya.


Garaa berpaling memandang Jessi. Jessi yang merasa diperhatikan enggan menatap balik. Diseretnya tangan Rin pergi sambil berlari kecil.


"Jessi, tunggu sebentar," Garaa ikut berlari mengejar Jessi dan Rin. Dipegangnya tangan Jessi agar ia berhenti.


"Ada yang ingin kubicarakan. Aku mohon dengarkan aku, Jess!" perintah Garaa.


"Aku permisi, ya, ada yang mau ku beli di minimarket depan sana," Rin meninggalkan Jessi dan Garaa berdua karena ia tidak mau mengganggu dua sejoli yang mau menyelesaikan permasalahan mereka.


"Jess, dengarkan aku baik-baik. Aku minta maaf atas apa yang terjadi di rumahku kemarin. Maaf, keluargaku menyakitimu," ucap Garaa dengan wajah yang menatap lurus kedalam mata Jessi.


"Hmmm. Sudah kan? Kalau begitu aku permisi," Jessi melangkah pergi namun tangan Garaa menghadangnya.


"Ada apa lagi?" Jessi menundukkan kepalanya. Tidak ingin melihat wajah Garaa yang akan menambah kesedihannya.


"Aku mencintaimu. Aku tidak mau hubungan kita berakhir dengan cara seperti ini. Aku akan meninggalkan keluargaku, aku akan hidup mandiri. Aku akan bekerja keras untukmu, untuk kita!" Garaa berbicara dengan bersungguh-sungguh. Seketika Jessi mendongakkan pandangannya. Ia tidak menyangka Garaa sampai sebegitunya kepadanya.


"Tolong jangan seperti ini, Garaa. Aku akan merasa amat sangat bersalah kalau kau sampai melakukannya. Mereka keluargamu, seburuk apapun mereka tetaplah keluargamu. Bukankah keluarga harus saling menyayangi?" papar Jessi.


"Aku melakukannya untukmu, untuk hubungan kita. Kau mau hubungan kita berakhir?" Garaa melepaskan pegangan tangannya pada tangan Jessi.


"Orang tuamu sudah memilihkan pasangan yang terbaik untukmu dan itu bukan aku. Aku tidak mau berhubungan tanpa adanya restu. Mereka melakukan itu semua karena ada alasan. Mereka mau kau bahagia, kau hidup dengan baik dimasa depan. Aku ingin hubungan kita berakhir baik-baik, Garaa," setetes air mata lolos dari mata Jessi. Diusapnya perlahan dengan lengan bajunya.


"Jangan meninggalkanku, Jess!" Garaa menangis air mata menetes di pipinya.


Ya Tuhan, laki-laki ini menangis. Aku tidak tega melihatnya seperti ini.


"Maafkan aku, Garaa," air mata Jessi semakin mengalir deras. Dia tidak bisa menahannya lagi. Dia ikhlas meski hatinya perih. Dilangkahkan kakinya meninggalkan Garaa yang juga menangis.


***


Kaki Jessi melangkah bukannya ke ruangan kerjanya, tapi membelok kearah kamar mandi. Ingin rasanya dia membasuh wajah dengan air mengalir. Diusapnya bekas air mata di pipinya.


Maafkan aku, Garaa. Aku pasti mengecewakanmu. Tapi aku tidak mau menghancurkan hubunganmu dengan kedua orangtuamu. Aku akan ikhlas atas semua yang terjadi pada kita.


"Aku harus bisa. Aku pasti bisa menghadapi semua ini!" Jessi menyemangati dirinya sendiri.


***


Garaa mengelap air matanya dengan kasar. Bibirnya tak henti-hentinya mengumpat. Memaki keadaan yang membuatnya berpisah dengan Jessinya. Ditendangnya kerikil kecil dengan keras.


"Auuh!" rintihan sakit terdengar di kepala Garaa. Segera ia menoleh mencari sumber suara. Elia rupanya.


"Maaf El, aku tidak sengaja. Apa kau terluka?" tanya Garaa.


"Tidak apa-apa, Kak Garaa. Terimakasih sudah mencemaskanku," semburat merah terlihat di kedua pipi Elia. Masih menyukai Garaa rupanya.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Aku permisi dulu, El."


"Kak, kau ada masalah? Kau bisa cerita padaku. Aku akan mendengarkan mu," cegah Elia sambil memegangi tangan Garaa.


"Maafkan aku, El. Tapi aku tidak bisa. Aku pergi dulu," kata Garaa sambil menghentakkan tangannya agar terbebas dari Elia.


Apa karena Jessi kau bersedih, Kak? Perempuan itu memang kurang ajar sekali. Sudah merebut Kak Garaa dariku. Sekarang malah menyakitinya. Aku akan mencari tahu ada apa sebenarnya diantara mereka.


Rasa kesal dan dendam kini tertanam dihati Elia. Ia akan baik di depan Jessi, tapi di belakangnya ia akan berusaha memisahkan Jessi dari Garaa.


***


Jessi terlihat sibuk di meja kerjanya. Tangannya sibuk mengetik dengan cepat di depan komputer. Elia berusaha mendekati Rin untuk mencari tahu kebenarannya.


"Sstt, Rin. Apa kau tahu kenapa Jessi terlihat aneh hari ini? Aku rasa dia seperti habis menangis," tanya Elia sambil berbisik pada Rin di sebelahnya.


"Mungkin dia putus dengan Garaa!" Rin menjawab sekenanya.


"Benarkah? Kasihan sekali, Jessi," terukir senyum samar di bibir Elia. Senangnya hatiku kalau mereka benar-benar putus, hahaha


"Kenapa kau senyum-senyum begitu, El? kau suka kalau Jessi putus dengan Garaa?"


Sial, Rin memergokiku.