Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Rencana Anin



Happy Reading 💜


Awas saja, ya, nanti malam ku habisi kau! batin Theo menyiapkan skenario licik untuk membalas Jessi.


Senja menyuguhkan kilauan cahaya yang berwarna oranye di ufuk barat. Cahayanya yang indah membuat siapapun yang memandang tak ingin usai menikmatinya. Apalagi jika kau menikmatinya di daerah pantai dan pegunungan, sungguh akan berlipat-lipat keindahannya yang memanjakan mata.


Jessi dan Theo memilih menonton bioskop dan sedikit berbelanja. Niat awal Theo yang ingin membeli cincin untuk pertunangan gagal sudah. Tapi dia tidak mempermasalahkannya, yang ada dia malah semakin senang karena mereka akan langsung menikah tanpa perlu tunangan terlebih dahulu. Genre film yang ditonton malam ini adalah genre romantis. Sudah pasti Jessi yang memilih dan Theo hanya pasrah mengikuti. Sangat tidak mungkin jika mereka akan menonton film sendiri-sendiri dengan genre yang berbeda pula.


Dua jam menonton film yang penuh keromantisan membuat Jessi tersenyum malu-malu. Berbeda dengan Theo, dua jam dihabiskannya hanya untuk menguap dan memakan popcorn saja. Sama sekali dia tidak berselera menonton, melirik saja tidak. Theo merasa sangat bosan sekali. Setelah berputar-putar melihat berbagai barang yang diinginkan Jessi, akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada beberapa baju, dress, dan juga tas. Ada rasa tidak enak saat Theo memaksa akan membayar semua yang dibelinya. Tapi setelah perdebatan kecil akhirnya Jessi mengalah saja. Hitung-hitung selama mereka berkencan belum pernah Theo membelikannya sesuatu.


***


Mobil menepi didepan rumah kecil nan nyaman milik keluarga Jessi. Theo agak ragu kalau Ayah Jessi akan menginjinkannya menginap. Kalau tidak diijinkan tentu dia akan berbalik memutar kemudi untuk pulang ke apartemennya. Meskipun sedikit banyak pasti dia kecewa, tapi dia akan memakluminya. Langkahnya agak gugup saat memasuki rumah.


"Ayah ... Ibu, ada Theo," teriak Jessi.


Jessi menyuruh Theo duduk dahulu di ruang tamu sembari menunggu Ayah dan Ibunya keluar. Dia bergegas membuatkan minuman di dapur. Setelah selesai menyuguhkan minuman, Jessi ikut nimbrung juga bersama kedua orang tuanya yang sudah duduk manis bersama calon menantu mereka.


"Sedang membicarakan aku, ya?"


Jessi tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Tetapi, jika melihat raut wajah Ayahnya yang menajam Jessi menduga pasti ada sesuatu yang tidak beres. Kini fokus sang Ayah beralih pada Jessi, "Kau yang menyuruh Theo menginap disini? Apa yang kau pikirkan? Walaupun kau akan menikah dengan Theo, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya saja mengajaknya menginap di rumahmu. Kau belum sah menjadi istrinya, Jessi."


"Kenapa Ayah begitu kolot? Aku mengajaknya menginap disini bukan berarti kami akan tidur di ranjangku. Theo bisa tidur dikamar tamu. Kalau Ayah masih juga ragu, aku bisa tidur bersama Ibu dan Ayah akan tidur bersama Theo. Hal seperti ini saja kenapa sampai memarahiku, sih?" terang Jessi berapi-api.


Theo menatap kekasihnya yang sudah tersulut emosi, tangan kekarnya menggenggam tangan mungil gadisnya dengan lembut. Dia paham dengan apa yang ditakutkan oleh Ayah calon istrinya. Bibirnya tersenyum sambil menengahi pertengkaran kecil dihadapannya, "Aku mengerti apa yang Ayah takutkan. Tidak apa-apa, aku akan kembali ke apartemenku saja. Menginapnya bisa ditunda sampai kelak kami menikah. Sudahlah Jess, tenangkan pikiranmu."


Jessi berganti menatap tidak percaya pada ucapan Theo. Disentaknya tangannya dengan keras, "Kau, juga! Sudah dibela tapi malah seperti itu. Menyebalkan sekali." Jessi bergerak memasuki kamar dan menutup pintunya dengan keras.


"Jessi ... berlaku yang sopan. Ada calon suamimu disini," teriak Ayahnya dengan keras.


Sang Ibu tidak tinggal diam, dia meminta maaf sebelum Theo tersinggung dengan tingkah anaknya, "Maaf, ya, Theo. Jessi menjadi sedikit tidak sopan. Sebaiknya pulang saja dulu, hari sudah larut malam, Nak Theo."


***


Theo melajukan mobilnya menuju rumah. Dia harus segera memberitahu perihal keinginannya untuk menikahi Jessi secepatnya. Saat mobilnya memasuki garasi, dia melihat ada dua mobil lain di dalam sana. Satu milik Ibunya dan satunya lagi dia tidak tahu. Theo memencet bel pintu rumahnya sampai lima kali, tapi tidak ada yang membuka. Dia menyakini semua penghuninya pasti sudah tertidur pulas. Theo menelfon Ibunya untuk memberitahu kalau dirinya datang. Tak berselang lama sang Ibu datang membukakan pintu untuk Theo. Raut wajah Ibunya terlihat tidak ramah, ada raut kecewa juga disana.


"Ada terjadi sesuatu, Bu?" tanya Theo penasaran.


Bukan jawaban yang didapatkan Theo, tapi sebuah tamparan di pipinya yang jadi jawaban. Mata Ibunya berkilat penuh amarah, dadanya kembang-kempis, "Ibu tidak pernah mangajarimu menjadi orang yang tidak bertanggungjawab. Bukankah kau ayah dari anak yang dikandung Anin? Perempuan itu datang pada Ibu dan berkata dia hamil anakmu, Theo!"


Tangisan Ibunya semakin kuat meraung-raung jiwanya yang tidak menyangka Anin akan senekat ini. Perempuan itu memang harus diberi pelajaran. Theo berlari menuju kamar tempat Anin tertidur, dibukanya pintu dengan keras. Theo tidak perduli lagi kalau tingkahnya kali ini akan membangunkan seisi rumah, "Anin, bangunlah! Apa yang kau lakukan dirumahku? Tidak cukupkah uang yang kuberikan padamu? Apa aku kurang baik selama ini?"


Anin mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Isakannya tertahan di dalam tenggorokan. Kepalanya menunduk takut melihat kemarahan Theo. Mulutnya meneriaki Theo dengan penuh amarah, "Maafkan aku, Theo. Aku tidak mau anak ini lahir tanpa kau, Ayahnya. Mengertilah posisiku! Anak ini juga darah dagingmu."


Ibu Theo datang menengahi kemarahan anaknya yang membabi buta, "Cukup, Theo! Ibu kecewa padamu. Apa Jessi sudah tahu soal ini?"


"Dengarkan aku dulu, Bu. Aku memang pernah mabuk bersama perempuan sialan ini, tapi aku tidak yakin saat dia bilang malam itu kami melakukannya. Karena Ibu tahu apa? Karena di pagi harinya aku terbangun dengan masih mengenakan baju yang sama, bahkan sepatuku saja tidak terlepas jadi mana mungkin aku melakukannya dengan dia. Dan Ibu tahu, aku sudah berbaik hati bertanggungjawab dengan membiayai seluruh hidupnya dan bayi yang dia kandung. Bukankah kau setuju dengan uang yang aku tawarkan padamu?" Theo meluapkan kekesalannya yang sudah sampai di ubun-ubun.


Anin sangat takut melihat Theo yang kesetanan seperti itu. Hanya diam dan menangis yang dilakukannya. Theo bergegas keluar dari rumah dan melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Mulutnya mengumpat tanpa henti.


Brengsek!!


***


Anin menangis tanpa henti. Ibu Theo sedikit merasa kasihan juga melihat Anin seperti itu. Dia mendekati perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu, lalu bertanya, "Apa kau yakin bayi yang kau kandung adalah anak Theo? Berhentilah menangis, tidurlah di ranjang, Nak."


Anin menengadah menatap Ibu Theo. Perasaannya berkata Ibu Theo yang awalnya sangat yakin padanya, sekarang menjadi sedikit ragu. Dia harus bisa menjalankan rencananya agar lelaki itu takluk dan berakhir menikahi dirinya.


Aku harus bisa mendapatkanmu, Theo! Bagaimanapun caranya!