Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Ikrar Sehidup Semati



Happy Reading 💜


Aku merindukanmu.


Dua kata yang keluar dari bibir Theo membuat perempuan itu merona bukan main. Hatinya menghangat dan begitu berbunga-bunga. Dia begitu menyesal atas sikapnya yang memalukan kemarin. Kalau dipikir-pikir selalu dia yang menyulut api pertengkaran, meskipun semua diawali dengan hal yang sepele dan berbau candaan.


"Aku juga merindukanmu. Maaf, aku sudah sangat kekanak-kanakan, aku akan belajar untuk tidak lagi gampang tersinggung. Aku akan mencoba menjadi seseorang yang lebih baik, Sayang." Sesalnya kemudian.


"Aku juga minta maaf, harusnya aku bisa lebih bersabar menghadapimu. Tidurlah, besok adalah hari yang penting untuk kita. Aku tidak ingin kau kelelahan saat resepsi," ucap Theo pelan karena takut suaranya akan membangunkan Ibunya yang sudah tertidur pulas.


Jessi mengangguk meskipun Theo tidak bisa melihatnya. "Hmmm, aku akan tidur. Kau juga harus tidur. Aku mencintaimu, Theo ...."


"Aku lebih mencintaimu, Sayang."


Theo memejamkan matanya meresapi betapa besarnya perasaan untuk perempuan bertubuh mungil tersebut. Perempuan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya untuk dijadikan pendamping hidup, kini mampu membuatnya bertekuk lutut.


Keduanya mengakhiri panggilan dengan senyum mengembang menghiasi bibir. Jessi memeluk bantal buluknya dengan erat. Sementara Theo menelungkupkan badannya untuk meredam hasrat yang muncul sejak mendengar suara merdu kekasihnya.


***


Gelap yang mulai menghilang dan berganti dengan fajar yang menyingsing diujung timur. Hari yang kelam berganti menjadi hari yang bersejarah untuk beberapa orang.


Hari ini adalah hari pernikahannya dan Theo. Setelah sekian lama akhirnya cintanya berlabuh pada lelaki yang awalnya hanya sebatas atasan dan bawahan semata. Kini tinggal menghitung jam dan mereka akan resmi menjadi sepasang suami-istri.


Jessi terbangun bersamaan dengan suara gedoran pintu yang bersahutan dengan suara milik Ibunya. Tangan mungilnya sibuk mengucek mata yang begitu lengket akan kotorannya, enggan untuk terbuka.


"Iya, Bu. Aku sudah bangun," ucapnya sedikit berteriak.


Dia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang sambil mengecek ponselnya. Beberapa pesan dari teman, kerabat, dan kekasihnya memenuhi kotak pesannya.


Jessi menaruh kembali ponselnya, lalu berlalu keluar rumah untuk sarapan. Cacing dalam perutnya sudah berdemo tanpa henti.


Kenapa ramai sekali di rumah? Ada apa ini?


"Jess, kenapa berdiam diri disana? Ayo, jangan melamun saja. Setelah ini kau harus di rias. Tukang riasnya sudah datang," ucap sang Ibu menyadarkannya.


Jessi memutar kepalanya berkeliling ruangan memperhatikan satu persatu wajah yang nampak tidak asing dalam ingatannya. Ahh, mereka adalah kerabat jauh dari keluarganya.


Calon pengantin itu hendak pergi ke dapur mengambil makanan, tapi diurungkan oleh salah satu kerabat yang menahannya. "Jangan kemana-mana, Jess. Berdiam diri saja dikamar. Bibi akan mengantar makanan ke kamarmu. Calon pengantin tidak boleh pergi ke dapur." Terangnya yang membuat Jessi tidak paham seketika, tapi dia tetap menurut juga.


Enak juga jadi ratu sehari.


Perempuan itu berakhir dengan makan di dalam kamar. Keinginannya untuk mandi sebentar mendapatkan larangan juga. Mereka bilang jika calon pengantin mandi maka hari akan berubah menjadi hujan. Jessi menggeleng-gelengkan kepalanya sekali lagi.


***


Tepat saat jam menunjukkan pukul sebelas Jessi selesai di rias. Sesuai keinginan calon pengantin yang tidak menginginkan dirias dengan make-up mencolok. Dia memilih dandanan yang simpel dan natural. Cocok sekali dengan kebaya yang akan dia pakai dalam acara Ijab Qobul siang nanti.


Acara Ijab Qobul akan dilaksanakan di rumah Jessi sesuai permintaan keluarga. Meskipun rumah mereka kecil, tapi mereka ingin hal yang bersejarah dilakukan disana. Ijab Qobul hanya sekali dalam seumur hidup, begitu prinsip yang dipegang keluarganya.


Sedangkan untuk acara resepsi akan dilaksanakan di salah satu hotel yang sudah dipilih keluarga Theo. Tamu yang diundang juga tidak terlalu banyak. Mereka adalah rekan-rekan kerja, klien-klien perusahaan, para investor, teman sekolah dan kuliah, dan beberapa tetangga juga tidak luput dari undangan tersebut.


Keluarga calon pengantin pria sudah tiba di rumah Jessi sejak beberapa menit yang lalu. Tak banyak yang menghadiri acara Ijab Qobul karena memang di khususkan hanya untuk pihak keluarga saja.


Theo menatap berkeliling mencari keberadaan Jessi. Karena sedari tadi dia belum melihat kekasihnya sekalipun. Dia begitu merindukan calon istrinya tersebut.


***


Aku sudah belajar! Aku sudah menghafal! Aku tidak boleh gugup. Aku harus bisa lancar mengucapkannya.


Theo duduk di depan Penghulu beserta Ayah Jessi yang menjadi Wali Nikah. Berkali-kali dia menoleh pada sang Ibu yang matanya sudah sangat berkaca-kaca.


Jessi dan Ibunya berada di dalam kamar. Nanti setelah Theo menyelesaikan Ijabnya, barulah sang pengantin perempuan dibawa keluar menemui suami sahnya. Mereka bergandengan tangan untuk mengurangi rasa gugup.


"Saya mendapat amanah dari Beliau selaku Ayah dari mempelai perempuan untuk menikahkan putrinya. Baik, jika semuanya sudah siap mari kita mulai acaranya." Tegas Penghulu dengan mengangguk singkat kepada Ayah Jessi.


"Silahkan jabat tangan saya. Bismillahirahmanirahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau Theodore Al-Rasyid bin Alm. Muhammad Al-Rasyid dengan Rubiana Jessica Putri binti Anwar Rusdin dengan maskawin uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah dibayar tunai."


Deg. Ini Giliranku. Bismillah.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rubiana Jessica Putri binti Anwar Rusdin dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Lantang dan tegas suara Theo sampai ke telinga Jessi dikamar.


"Bagaimana? Sah?" tanya Penghulu menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Sah!!!" ucap mereka bersamaan.


Raut kelegaan terpancar dari wajah Theo. Begitupula dengan raut wajah keluarga yang hadir. Senyum merekah menghiasi bibir mereka yang hadir disana.


Jessi dijemput Ayahnya untuk menghampiri suaminya yang menunggu di depan. Mereka saling berpandangan dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa kau cepat sekali tumbuh besar. Kau sudah menjadi seorang istri sekarang." Peluknya dengan begitu erat.


Jessi yang di dampingi Ayah dan Ibunya berjalanan dengan menunduk. Dia begitu gugup bertemu dengan Theo, suaminya. Gemuruh perasaan yang membuncah semakin tidak tertahan saat dia duduk berdampingan dengan Theo.


Sama hal dengan yang dirasakan Theo saat ini. Dia tidak henti-hentinya memandang kekasihnya yang sudah sah menjadi seorang istri, menjadi pendamping hidupnya sehidup semati.


Mereka saling memasangkan cincin pernikahan. Cincin yang begitu simpel dan mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Hanya cincin polos berwarna silver. Tapi tidak ada yang tahu kalau dibagian dalam cincin tertulis nama masing-masing.


Jessi mencium tangan suaminya. Mereka berpandangan dengan senyum yang begitu mendamba. Mereka menyelesaikan segala proses dengan cepat.


***


Acara sudah selesai sejak setengah jam yang lalu. Beberapa orang memilih beristirahat dan saling mengobrol satu sama lain. Ada juga yang memilih untuk makan, atau sekedar menyesap kopi.


Jessi dan Theo sedang berada di dalam kamar bersama dengan Ayah Jessi disana. Theo tahu mungkin akan ada sesi penyampaian pesan dari Ayah mertuanya tersebut.


"Theo, apa kau tidak menyesal menikah dengan Jessi?" tanya Ayah setelah hening beberapa saat.


"Tidak, Ayah." Jawab Theo dengan tegas.


"Apa kau bisa berjanji pada Ayah untuk tidak menyakiti Jessi? Jessi adalah putri kecil Ayah. Dia masih sangat kekanakan dan gampang sekali merajuk. Dia juga tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar. Sekarang Jessi adalah tanggungjawabmu. Kau harus bisa membimbingnya. Kau boleh menegurnya jika dia melakukan kesalahan. Tapi tolong, jangan sampai tanganmu memukul putri Ayah. Ayah tidak akan sampai hati melihatnya kesakitan." Matanya yang menua menatap Theo dengan penuh harap.


Theo menggenggam lembut tangan pria yang sudah menjadi Ayahnya saat ini. "Theo tidak bisa berjanji, Yah. Dalam sebuah rumah tangga pasti akan ada ucapan, atau perbuatan yang membuat Jessi terluka tanpa Theo sadari. Tapi, kami akan selalu belajar untuk memperbaiki dan memantaskan diri satu sama lain. Theo tidak akan melakukan hal yang Ayah takutkan."


"Baiklah, Ayah tenang sekarang. Istirahatlah sebentar, sore nanti kita berangkat ke hotel tempat resepsi." Pamit sang Ayah sambil memeluk Theo dan Jessi bergantian.


Kini tinggallah sepasang pengantin baru berdua di dalam kamar. Mereka saling bergandengan tangan dengan senyum yang tak lepas dari bibir keduanya.


"Jess, apa aku boleh ...."