Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Pelangi Setelah Badai



Happy Reading 💜


Tubuh tegap yang hanya berbalutkan celana pendek itu masih setia berdiri disana. Tubuhnya mematung menatap betapa damai wajah perempuan yang sudah menjadi istrinya disaat tertidur.


Theo memijit keningnya yang tiba-tiba menjadi pusing. Derap langkah kaki membawanya ke dapur. Dia akan minum banyak air putih untuk mengurangi pusing di kepalanya.


Sekembalinya dari dapur, dia memindahkan Jessi ke kamar. Dibaringkan tubuh istrinya yang sedikit menggeliat karena tidurnya yang terganggu. Tak ingin berlama-lama, dia juga ikut tertidur disamping istrinya.


Perempuan itu menggeliat, tak lama kemudian dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Seperti yang dia duga, pasti Theo yang memindahkannya ke kamar. Kepalanya menoleh pada sisi ranjang di sebelahnya. Lelaki itu berada disana, tertidur dengan damai dan nyaman.


Tak sampai lima detik Jessi menatap wajah tampan suaminya, lalu dia berbalik dan memunggungi suami tampannya tersebut.


***


Pagi datang dengan segala sesuatu yang baru. Hari yang baru, hampir semua orang berharap hari ini akan menjadi lebih baik daripada hari kemarin.


Perempuan itu terbangun karena tidurnya yang tidak begitu nyenyak. Hampir setiap satu jam sekali matanya terbuka dan mendapati langit yang masih menggelap.


Saat terbangun untuk yang kesekian kalinya, dia begitu lega saat mendapati hari yang beranjak pagi. Dia akan mandi dan berangkat bekerja duluan. Entah kenapa rasanya masih sangat canggung berada satu mobil dengan suaminya sendiri setelah perdebatan semalam.


Gemericik air membasahi tubuh polosnya. Jengkal demi jengkal dia bersihkan dengan sabun beraroma strawberry. Dia keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya.


Langkah kakinya berjinjit-jinjit kecil saat melewati ranjang dimana Theo masih tertidur dengan pulas disana. Dia berganti pakaian secepat kilat. Dia memadupadankan sebuah rok pendek yang ketat dan sebuah blouse untuk dipakainya hari ini.


Perempuan itu bergegas meninggalkan apartemen saat jarum pendek jam dinding berada diangka tujuh. Dia akan mampir untuk membeli sarapan di sebuah warung pinggir jalan dahulu.


***


Theo menggeliat dengan mata yang masih tertutup rapat. Tangannya meraba pada sisi ranjang di sebelahnya, berusaha mencari tubuh istrinya. Tapi, tangan kekarnya tidak menemukan apapun disana.


Matanya terbuka dengan lebar. Dia mencari keberadaan Jessi di kamar mandi, dapur, bahkan di semua ruangan apartemennya. Alisnya mengkerut saat dia tidak bisa menemukan istrinya.


Apa mungkin dia berangkat kerja duluan? Kenapa tidak bersamaku saja? Apa karena pertengkaran semalam? Ck, sial!


Lelaki itu memilih untuk berendam air dingin. Sedikit berlama-lama menikmati dinginnya air yang menusuk tubuh kekarnya. Diingatnya lagi tentang pertengkaran semalam.


Kenapa rasa cemburu bisa sesakit ini? Istriku cemburu aku berpelukan dengan perempuan lain. Lalu, aku juga cemburu melihatnya berpelukan dengan mantan kekasihnya itu. Tunggu dulu ... Bukankah cemburu tandanya sayang dan cinta?


Seulas senyum tercipta dari bibirnya, lama kelamaan menjadi tawa renyah yang memenuhi kamar mandinya. Dia menyelesaikan ritual berendamnya saat itu juga. Setelah selesai membersihkan diri, Theo keluar dari kamar mandi dengan senyum yang mengembang.


Selang sepuluh menit kemudian, mobilnya melaju meninggalkan apartemen. Jalanan yang jarang sekali lengang saat jam berangkat kerja, membuatnya bisa melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


***


Setelah beberapa hari libur untuk urusan pernikahannya dan Jessi, kini lelaki itu kembali menginjakkan kakinya di perusahaan yang dia pimpin. Beberapa pegawai menganggukkan kepala saat berpapasan dengannya.


Saat sampai di ruangannya, Theo segera mengecek keberadaan istrinya melalui layar televisi yang menampilkan gambar setiap ruangan di kantor. Perempuan itu terlihat sedang bersikutat dengan komputernya.


Theo menghubungi sekretaris pribadinya, meminta tolong menghubungi Jessi untuknya. Tak lupa dia berpesan untuk tidak menganggu saat dia dan Jessi sedang berdua di dalam ruangan nantinya.


"Wah, enaknya yang sudah sah jadi istri. Jam kerjanya dihabiskan dengan bermain-main bersama suami. Kerjaan yang menumpuk dialihkan ke teman yang lain. Enak sekali bisa berbuat seenaknya saja!" ucap Sara dengan lantangnya.


Jessi tidak ingin berkomentar, karena itu hanya akan membuat Sara semakin mencelanya lagi. Dia hanya menatap Sara dengan pandangan yang tajam.


Rin menjadi penengah kali ini. "Cukup, Sara! Kembalilah bekerja." Hardiknya pada perempuan cantik namun culas tersebut.


"Pergilah, Jess. Temui suamimu dulu." Imbuhnya saat menatap Jessi. Keduanya bertatapan sejenak sebelum Jessi mengangguk dan berlalu pergi menuju ruangan suaminya.


***


"Apa Theo ada di dalam?" tanyanya pada sekretaris suaminya. Jika diperhatikan, perempuan yang menjadi sekretaris Theo sangat cantik dan menawan dalam sekali lihat. Postur tubuhnya tinggi dengan rambut yang bergelombang.


Sekretaris itu mengangguk hormat. "Tuan Theo sudah menunggu anda, Nona."


Jessi masuk ke dalam ruangan suaminya setelah dia mengucap terimakasih pada perempuan cantik bermata sipit tersebut.


"Kau mencariku? Ada apa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Langkah kakinya berhenti di depan pintu.


Theo mendongak saat mendengar pertanyaan dari bibir manis yang membuatnya kecanduan. Namun, atensinya tertuju pada rok ketat yang dikenakan perempuan yang masih berdiri diambang pintu.


"Siapa yang menyuruhmu memakai rok seperti itu? Mau kau pamerkan pada siapa pantat dan pahamu, hah?" tanyanya dengan suara yang pelan tapi sarat akan kemarahan.


Perempuan itu bersedekap tidak mau kalah. "Semua pegawai perempuan juga memakai rok seperti ini. Kau tidak perlu berlebihan memarahiku."


"Kau istriku! Aku tidak suka kau memakai rok seperti itu." Tegasnya dengan mata yang memicing tajam.


Perempuan itu mendesah pelan. Dia akhirnya mengalah menuruti kemauan suaminya. "Iya, aku tidak akan memakai rok seperti ini lagi. Aku akan kembali ke ruanganku."


"Tunggu dulu. Kemarilah, Jess." Ucapnya dengan lembut dari kursi kebesarannya. Istrinya begitu menggoda, mana mungkin dia akan membiarkan Jessi pergi begitu saja.


Dengan langkah gontai Jessi menurut juga. Dia mendekat dengan waspada tingkat tinggi. "Ada apa lagi, Theo?"


Lelaki itu mendekat dengan senyum menyeringai. Tatapan nakalnya tertuju pada bongkahan padat yang tercetak jelas dalam balutan rok pendek.


"Apa ini?" tanyanya sambil menepuk bongkahan padat tersebut dengan tangannya.


Tangannya menarik Jessi untuk mengikutinya menuju sofa empuk yang bisa dijadikan tempat untuk bergulat.


"Maaf, untuk yang semalam dan untuk tadi aku memarahimu. Aku mengaku bersalah." Tangannya menggenggam tangan mungil milik istrinya dengan lembut.


"Aku juga minta maaf, Theo. Aku akan memperbaiki diri." Ungkapnya tulus. "Aku kembali ke ruanganku dulu. Nanti kita makan siang bersama, ya." Imbuhnya cepat.


Jessi tahu kalau dia tidak segera pergi dari sana secepatnya, pasti suaminya akan menggila dengan tatapan nakalnya. Dia bangkit dan hampir melangkah sebelum tangan kekar milik suaminya menariknya dengan kencang.


"Aku menginginkanmu ...."