Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Sepotong Pizza



"Kenapa kau senyum-senyum begitu, El? Kau suka kalau Jessi putus dengan Garaa?"


Sial, Rin memergokiku.


"Tidak! Aku tidak tersenyum, Rin. Kau pasti salah lihat."


"Apa kau benar-benar menyukai Garaa, El?" tanya Rin.


"Aku memang menyukai Kak Garaa, tapi jangan beritahu Jessi, ya. Aku tidak enak padanya," pinta Elia pada Rin.


"Tentu," Rin melihat Elia sekilas, lalu bersikutat kembali dengan pekerjaannya.


Teeng teeng


Pukul dua belas tepat waktunya pegawai kantor untuk beristirahat. Rin melemaskan persendian tangannya yang serasa kaku sekali.


"Ayo kita makan siang, ladies," ucap Rin sedikit berteriak.


"Aku belum lapar. Kalian duluan saja," Jessi tersenyum kecil pada Rin.


"Kau mau menitip sesuatu, Jess?" tanya Elia.


"Tidak, El. Terimakasih."


"Kami pergi dulu. Kirim pesan padaku kalau kau berubah pikiran," ucap Rin berlalu pergi bersama Elia.


***


Jessi melihat berkeliling, hanya dia seorang yang terlihat berada di ruangan saat jam makan siang sekarang. Dihembuskannya nafas dengan perlahan dan panjang. Pikirannya berkelana mengingat kembali tentang perjodohan Garaa.


"Aku baru sebentar mengenal Garaa. Lalu, kenapa sakit sekali, Tuhan? Apa yang harus kulakukan?" batin Jessi berkecamuk.


Jessi terus-menerus merenung sampai sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Kepalanya menoleh ke sumber suara.


"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Jessi pada pengantar Pizza di depannya.


"Aku mengirim pesanan pizza atas nama Nona Jessi," ucap pengantar pizza tersebut.


"Maaf, tetapi aku tidak memesan pizza," bantah Jessi.


"Disini tertulis untuk Nona Jessi. Silahkan diterima."


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih, ya," ucap Jessi mengalah menerima pizza tersebut. Ada pesan tertulis di bagian depan box pizza.


Untuk Jessi


Makanlah! Kau terlihat sangat kurus seperti cacing sekarang. Jangan membantah!


Mr. T


Jessi mengernyitkan dahi saat membaca pesan di box pizza. Di ulangnya berkali-kali pesan tersebut.


"Apa mungkin Mr. T adalah Theo?" gumam Jessi pelan.


Dirogohnya ponsel yang tersimpan di dalam tas di laci. Segera dicari nomor Theo.


"Kau mengirim Pizza untukku?" tanya Jessi tanpa basa-basi.


"Apa sudah sampai? Wah, cepat sekali pelayanan mereka," ucap Theo.


"Theo, kau tidak perlu repot-repot mengirimiku makanan. Aku tidak mau merepotkanmu begini," ucap Jessi.


"Kau tidak merepotkanku, Jessi. Cepat habiskan makananmu sebelum jam makan siang habis."


"Sekarang kau yang terlihat sedang memaksa. Habiskan dengan teman-teman mu saja, Jess," ucap Theo.


"Tidak mau, aku tetap akan mengirimnya ke ruangan mu sekarang!" dimatikan sambungan telepon dengan Theo. Jessi mengambil sebagian pizza lalu, memindahkan ke sebuah piring.


***


Jessi berjalan dengan gontai ke ruangan Theo. Diketuknya pintu ruangan tersebut.


Tok tok tok


"Theo, aku mengantar pizza mu," ucap Jessi saat membuka pintu.


"Ohh, maaf, sudah menganggu. Saya permisi," Jessi melihat Theo sedang bersama seorang perempuan. Segera ia berbalik pergi meninggalkan ruangan bosnya tersebut.


"Pantas saja Theo tadi menyuruh menghabiskan dengan teman-teman ku. Pasti agar aku tidak menganggu kencannya dengan perempuan itu. Menyebalkan sekali dia," gumam Jessi tidak jelas.


"Sudah punya kekasih, tapi malah mengirimiku makanan. Maksudnya apa coba?" Jessi menghentak-hentakkan kakinya. Dia jadi kesal semenjak meninggalkan ruangan Theo.


Deg


Kakinya otomatis berhenti saat melihat Garaa di kejauhan. Segera Jessi mencari tempat sembunyi di balik persimpangan. Aku tidak mau berpapasan dengan Garaa, aku belum siap.


"Kenapa bersembunyi?" tanya Garaa tiba-tiba.


"Eh, tidak! Siapa juga yang bersembunyi," gumam Jessi.


"Aku tahu kau menghindari ku, Jess," Garaa menatapnya dalam.


"Aku tidak menghindarimu, Garaa. Maaf, aku harus pergi."


Garaa membiarkan Jessi berlalu. Ditatapnya punggung Jessi yang semakin menjauh.


Aku masih sangat mencintaimu, Jess.


***


"Berhenti membuntuti ku dengan Jessi. Jangan mengiriminya hal-hal yang tidak berguna seperti foto waktu itu. Kau dengar?" bentak Theo.


"Kenapa kau membela perempuan sialan itu? Apa kau sudah menghabiskan malam dengannya?" ejek Melani setengah berteriak.


"Jaga ucapanmu, Mel!" amarah Theo semakin menjadi-jadi.


"Aku tidak perduli, Theodore! Kau yang memulai semuanya dan aku tidak terima," Melani menyilangkan tangan di dadanya.


"Kalau sampai kau ulangi lagi perbuatamu, aku tidak akan tinggal diam. Akan ku jebloskan kau ke dalam penjara. Ingat perkataanku. Sekarang pergilah!" perintah Theo.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu!" Melani bangkit lalu menutup pintu ruangan Theo dengan keras.


Theo memijit pelipisnya, pasti Melani akan berbuat macam-macam lagi dengan Jessi. Dia tahu Melani pasti tidak akan berhenti sampai apa yang dia inginkan tercapai. Aku harus memperingatkan Jessi soal ini.


to Jessi : "Mulai sekarang lebih berhati-hati, Jess. Perhatikan siapapun yang berada disekitarmu."


Sebuah pesan singkat terkirim kepada Jessi. Theo meletakkan kembali ponselnya pada saku celana. Theo mengambil sepotong pizza, lalu menikmatinya sendiri. Enak juga.


Jessi yang sedang kesal semakin bertambah kekesalannya saat membaca pesan Theo.


to Theo : "Tidak perlu mencemaskanku. Urus saja kekasihmu."


Dasar Theo bodoh! Awas kau!