
Happy reading 💗
"Dasar anak muda! Tadi bertengkar sekarang tidur berpelukan. Yah, walaupun hanya Theo yang memeluk Jessi, tapi namanya kan tetap berpelukan," gumam Ibu Theo pelan sambil tertawa kecil.
Jessi merasakan pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Ia menggeliat menyingkirkan tangan Theo yang sedari tadi merengkuhnya. Dia bangun dan menengok jendela, langit sudah berubah warna menjadi gelap gulita. Tanpa satupun bintang bermain diatas sana.
Jessi menoleh ke samping dan melihat Theo mengerjapkan mata, menyingkirkan silau cahaya lampu yang mengusik matanya. Dia bangun lalu meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Jam berapa sekarang? Kenapa tidurku nyenyak sekali," tanya Theo sambil menuju kamar mandi mencuci muka.
"Jam sembilan malam sekarang. Aku pulang dulu, Theo."
Jessi buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Terdengar teriakan Theo dari dalam kamar mandi untuk menyuruhnya menunggu sebentar, karena Theo akan mengantarnya pulang.
"Ada apa lagi ini? Aku ingin pulang," gumam Jessi pelan.
Tak butuh waktu lama Theo keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sangat tampan berseri. Tetesan air masih sedikit tersisa di wajahnya. Semakin menambah ketampanannya.
Kenapa dia sangat tampan sekali, padahal hanya mencuci muka saja.
"Kenapa melihatku? Terpesona padaku?" goda Theo.
Semburat merah terlihat di kedua pipi Jessi. Jessi menutupi pipinya yang bersemu merah dengan tangan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran kalau sebenarnya ia memang memikirkan Theo.
"Ku tunggu dibawah. Cepat!"
Jessi kabur dan berlari duluan meninggalkan Theo yang tertawa samar melihat kelakuan Jessi. Sungguh menggemaskan sekali.
***
"Sayang, sudah bangun? Tidak menginap saja?" ucap Ibu Theo sambil mematikan tayangan televisi yang ditontonnya.
"Tante, kenapa tidak membangunkan ku? Kami ketiduran diatas," Jessi menggembungkan pipinya. Mulutnya mengerucut seperti bebek.
"Maaf, ya, Sayang. Ibu tidak tega memisahkan pelukan kalian yang sangat erat," goda Ibu Theo sambil mengedipkan sebelah mata.
Heh! Berarti Tante melihat ku tidur dengan Theo tadi. Ya Tuhan, mau ditaruh dimana muka ku huhuhu.
"Ibu melihatnya? Apa aku cocok dengan Jessi, Bu?" tanya Theo yang baru saja turun dari kamarnya.
"Hmm, Ibu memotretnya juga. Haha."
Tawa Ibu Theo memenuhi seluruh ruangan. Jessi menundukkan wajah menahan malu yang saat ini menyergapnya. Theo tersenyum lebar sampai terlihat deretan giginya yang putih cemerlang.
***
Jessi menguap lebar saat berada di dalam mobil Theo yang menuju rumahnya. Theo melihatnya sekilas, lalu mengalihkan lagi pandangannya ke jalanan.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Apa jangan-jangan kau gila?" ucap Jessi sambil bergidik menjauhkan tubuhnya dari Theo.
Seketika kesadaran Theo kembali dan wajahnya berubah menjadi datar. Theo sengaja meminggirkan mobilnya di jalanan sepi.
Jessi yang merasa mobil yang ditumpanginya menepi di pinggir jalanan sepi langsung menegakkan badannya. Pikirannya melayang kemana-mana sekarang.
Kenapa mobil berhenti di jalanan sepi begini? Apa Theo marah aku mengatainya gila tadi? Kenapa aku jadi parno begini sih.
"Theo, kenapa mobilnya berhenti disini? Rumah ku masih jauh dari sini," ucap Jessi khawatir.
"Apa kau menyukaiku?"
Theo menatap dalam ke mata Jessi. Ia berusaha mencari tahu bagaimana perasaan Jessi yang sebenarnya. Mungkinkah masih milik Garaa atau masih ada tersisa ruang untuk cintanya.
"Jawab pertanyaan ku, Jess!" ulang Theo kepada Jessi.
Kenapa Theo menanyakan hal ini sekarang. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Haruskah aku jujur, mengatakan yang sebenarnya?
Setelah hening sepersekian lama, Jessi bersuara juga. Ditengah keheningan jalanan, dibawah langit malam Jessi memilih untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Aku menyukaimu. Kau masih menyukaiku?" jawab Jessi jujur, singkat, padat dan jelas.
Kata singkat tapi berjuta makna bagi Theo dan Jessi. Theo melihat keseriusan saat Jessi mengatakannya. Tanpa kebohongan sedikitpun. Jessi pun sama, ia mengatakan yang sebenarnya sesuai dengan apa kata hatinya.
"Ya! Aku jauh lebih menyukaimu. Bahkan aku sangat mencintaimu. Aku cemburu kau berdekatan dengan pak dokter langgananku. Aku juga cemburu kau berpelukan dengan Garaa sialan itu. Kumohon, berhentilah menjungkir-balikkan hatiku, Jess."
Jessi syok saat mendengar semua penjelasan Theo. Tanpa diminta, ia menjelaskan semua perasaannya pada Jessi. Setetes air mata menetes sempurna di pipi Jessi yang memerah. Theo mengusapnya dengan lembut dan perlahan.
"Aku ingin menikahi mu. Menjadikanmu istriku, milikku seutuhnya," ucap Theo kemudian.
"Heh! Menikah? Apa aku tidak salah dengar? Theo, kau demam?" ucap Jessi sambil mengorek telinganya.
Jessi menempelkan tangannya di dahi Theo, mengecek demam atau tidaknya Theo. Tidak panas, tidak juga dingin. Artinya Theo sedang baik-baik saja dan sadar saat mengatakan ingin menikahi Jessi.
"Will you marry me?"
Lamaran yang sangat jauh dari lamaran impian Jessi. Jessi mengatupkan satu tangan di mulutnya, kaget saat Theo melamarnya. Ekspresi wajah Theo sangat serius sekarang. Tangannya memegang satu tangan Jessi yang bebas dengan lembut.
"Theo, kau serius? Apa ada yang salah dengan otakmu?"
Jessi masih tidak percaya akan semua ini. Otaknya belum mampu mencerna apa yang dikatakan Theo serius atau tidak. Jantungnya berdetak lebih kencang, serasa ada kupu-kupu yang berterbangan diperutnya.
"Aku serius. Jadilah istriku, Jessi."