
"Jangan mencintaiku lagi, Garaa. Kau harusnya mencintai tunangan mu."
Garaa terkesiap mendengar ucapan gadis yang sampai saat ini masih sangat dicintainya tersebut. Tubuhnya melemas seakan dunianya berhenti saat itu juga.
Jessi yang menatap Garaa sebenarnya merasa sedikit khawatir melihat Garaa yang menunjukan ekspresi sedih bercampur kecewa. Tapi, ia bertekad untuk tidak berlarut-larut bersedih dan harus segera menyelesaikan perasaannya secara baik-baik.
"Garaa, aku sudah berbesar hati menerima apapun yang terjadi di hubungan kita. Mungkin memang kita tidak berjodoh sehingga berakhir seperti ini. Berhentilah mencintaiku! Kau sudah memilih Anna," ucap Jessi dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun.
"Aku tidak bisa, Jess! Aku tidak mencintai Anna, aku mencintaimu!" wajah putus asa Garaa mewakili perasaannya.
"Kau harus bisa. Aku saja bisa masa kau tidak bisa!" Jessi menyemangati Garaa. Yang disemangati merasa semakin putus asa. Jessi berinisiatif memeluk Garaa untuk menenangkannya.
***
Sementara itu selesai mengantar Jessi, Theo segera bergerak melaju ke kantor. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, ia sudah sangat terlambat masuk kantor.
Lalu, Theo melihat ponsel Jessi tertinggal di mobilnya. Ia terpaksa memutar kembali kemudi mobilnya ke rumah Jessi. Kenapa ceroboh sekali sih perempuan ini. Bisa-bisanya ponselnya tertinggal disini.
Saat Theo memarkirkan mobil, ia melihat mobil Garaa berada disana juga.
Kenapa mobil Garaa berada di rumah Jessi? Apa yang dia lakukan disini?
Theo melihat keadaan sekitar dan berjalan mengendap-endap disekitar rumah Jessi. Di dekat pintu rumah, ia melihat bayangan orang berpelukan. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Segera Theo memasuki rumah Jessi mengecek langsung apa yang terjadi.
Theo menghentikan langkah kakinya saat melihat Jessi dan Garaa berpelukan. Suara langkahnya membuat Jessi dan Garaa terkejut dan melepaskan pelukan mereka. Jessi berdiri menghampiri Theo.
"Theo, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa menjelaskan ini semua," Jessi melihat hawa panas sudah menyelimuti tubuh Theo.
"Dasar bodoh! Kenapa juga Theo melihatku berpelukan dengan Garaa sih? Pasti marah lagi kan," batin Jessi bergejolak.
Theo mengabaikan keinginan Jessi untuk menjelaskan kesalahpahaman ini padanya. Rasa cemburu sudah sangat terlihat dimatanya.
"Maaf sudah mengganggu acara nostalgia kalian. Seharusnya aku tidak datang. Ini ponselmu. Permisi!"
Theo melangkah kembali ke dalam mobil. Bibirnya mengumpat mengingat kembali acara berpelukan mereka. Tangannya memukul kemudi dengan kencang.
Brengsek!
***
Sepanjang hari Theo merasa hari ini moodnya begitu dipermainkan. Jessi berhasil menjungkir balikkan perasaannya. Theo memilih untuk tidur-tiduran di sofa didalam ruangannya. Bayangan Jessi dan Garaa yang berpelukan mesra terlintas dipikirannya.
Lamunannya berhenti saat terdengar ponselnya bergetar. Theo melihat siapa orang yang berani menghubunginya disaat moodnya begitu buruk. Nama Jessi bertengger pada layar ponselnya.
Ditatapnya layar ponsel tersebut agak lama. Bayangan mereka berpelukan menari kembali dalam pikiran Theo. Diangkatnya panggilan tersebut dengan malas.
"Ada apa? Aku sedang sibuk. Cepat katakan apa maumu?"
"Kau ini kenapa marah-marah terus padaku. Menyebalkan sekali. Tidak jadi kalau begitu!" Jessi mengakhiri panggilan dengan raut wajah yang sangat kesal.
***
Didalam ruangan Theo, belum berhenti amarahnya karena Jessi kini Garaa berada di depannya. Semakin tertekuk wajah tampan Theo.
"Ada apa?" Theo menatap Garaa tidak suka.
"Ada berkas yang harus kau tandatangani," Garaa menyerahkan berkas pada Theo.
Theo memeriksa berkas yang dibawa Garaa. Dibolak-balikan halaman demi halaman untuk ia teliti lagi. Setelah Theo tandatangan, ia menyerahkan kembali berkas tersebut pada Garaa.
Garaa sudah menerima berkas tersebut, tapi ia tidak beranjak sedikitpun dari hadapan Theo. Ada hal yang mengganjal di hati Garaa.
"Pergilah! Aku tidak menerima tamu diluar urusan pekerjaan," Theo mengibaskan tangan menyuruh Garaa keluar dari ruangannya.
"Apa terjadi sesuatu antara kau dan Jessi semalam?" tanpa basa-basi Garaa langsung menanyakan apa yang mengganjal dihatinya dari tadi.
"Jelas terjadi sesuatu antara kami. Apa Jessi tidak mengatakannya padamu? Kami tidur di ranjang yang sama dan kau pasti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya," Theo semakin terpacu untuk melihat bagaimana reaksi Garaa.
Rahang Garaa mengeras, tubuhnya menegang. Ia tidak sanggup membayangkan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka semalam.
"Kau! Beraninya kau!" Garaa menerjang kearah Theo dan mencengkeram kerah baju Theo.
"Jessi bukan kekasihmu lagi! Kau harusnya malu akan sikapmu ini. Keluarlah! Sekarang!" Theo berteriak pada Garaa dengan sangat kencang.
***
Duaar
Suara petir menyambar, padahal cuaca sedang cerah sore ini. Jessi yang sedang memasak bersama Ibunya sampai terkaget-kaget.
"Aneh sekali! Cuaca sedang cerah tapi terdengar suara petir," gumam Jessi pelan.
Ibu Jessi fokus pada masakannya. Sesungguhnya dalam hati ia sangat khawatir mengingat kesalahpahaman tadi pagi antara Jessi dan dua pria yang diyakininya menyukai anaknya tersebut.
"Jess, ada yang ingin Ibu tanyakan padamu."
Jessi menghentikan acara memasaknya dan beralih menatap sang Ibu. Jangan-jangan Ibu ingin menanyakan soal apa yang terjadi padaku semalam.
"Ada apa, Bu?"
"Sebenarnya siapa yang kau sukai? Garaa atau Theo? Jangan memberikan harapan pada keduanya. Juga jangan membuat mereka kebingungan akan sikapmu. Pilih salah satu!" Ibu memberikan wejangan pada Jessi.
"Sebenarnya aku menyukai dua-duanya, Bu. Tapi itu dulu," Jessi nyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Sebenarnya aku menyukai siapa? Aku juga belum yakin akan perasaanku sekarang.