Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Bimbang



Happy Reading 💜


Fajar telah tiba. Bersamaan dengan helaan angin di pagi buta yang terasa menyejukkan. Kicau burung camar bersahutan dengan merdunya. Beberapa orang sudah berangkat mencari nafkah, beberapa lagi masih asyik menikmati mimpi. Seperti halnya dengan Jessi. Dia semakin mengeratkan pelukan pada bantal buluk yang menemani tidurnya kali ini.


Ketukan pada pintu sedikitpun tidak mampu membangunkannya. Teriakan Ibunya seperti angin lalu, "Jessi, ayo bangun, Jess.. Cepat bangun, atau Ibu suruh Theo yang membangunkanmu. Jessi ... Jess ...."


Ibu kesal juga kalau disuruh membangunkan Jessi. Dia seperti orang mati kalau sudah tidur. Sengaja dibiarkannya putri cantiknya tertidur lagi sampai beberapa jam kemudian, mumpung hari minggu begitu katanya.


***


Berbeda dengan Theo, meskipun hari masih terbilang pagi, tapi dia sudah berada di tempat pacuan kuda. Pandangan matanya tegas mengawasi pergerakan kuda kesayangannya, Aoba. Ya, kudanya sedang dinaiki oleh sang Ibu.


Aoba terlihat memberontak tidak nyaman, bisa dipastikan juga kalau perasaan Ibunya sedang tidak baik. Kuda merasakan apa yang dirasakan oleh penunggangnya. Jika perasaanmu sedang tidak baik-baik saja, maka kudamu juga akan gelisah.


Ibu menepi sambil mengelus-elus sisi kepala Aoba berusaha menenangkannya. Kakinya menghentak-hentak ke tanah dengan keras. "Tenanglah, Aoba. Hey ... Tenanglah."


"Hey, Dude. Aku disini bersamamu. Tenanglah ...." Theo mengelus-elus kepala Aoba dengan sayang.


Setelah Aoba tenang, Theo mengembalikannya ke dalam kandang yang berisikan beberapa kuda keluarganya. Pacuan kuda ini memang milik keluarga besar Theo.


Mereka sedang bersantai di rumah singgah yang ada disana. Saling menatap hamparan hijau di depan mata dalam diam. Ibu memecah keheningan diantara mereka, "Bagaimana dengan Jessi? Kalian sudah berbaikan?"


"Jessi bilang dia tidak mau lagi berurusan denganku. Bahkan dia muak padaku, Bu. Dia benar-benar membuatku frustasi. Aku tidak tahan seperti ini terus, Bu," ucapnya dramatis. Matanya menerawang mengingat kembali pertemuannya kemarin.


"Ibu juga merasa Jessi seperti sedang menjauhi Ibu. Lebih sabarlah, mungkin perasaan kecewanya belum usai. Kau mau pulang?" Ibu melihat jam yang bertengger manis dalam lengannya menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Pulanglah duluan, Bu. Aku akan disini sebentar lagi." Theo saling memeluk dengan Ibunya. Berusaha menguatkan satu sama lain.


***


"Kau harus datang ke rumah Theo. Sikapmu kemarin itu sungguh mengecewakan, kau tahu? Ayah dan Ibu tidak pernah mengajarimu untuk mendendam pada orang lain," ucap Ibu dengan berteriak.


Jessi menggaruk kepalanya yang tiba-tiba menjadi gatal. Bibirnya menguap dengan lebar khas orang bangun tidur. "Aku tidak ingin membicarakan apapun soal Theo lagi, Bu. Jangan memaksaku seperti ini. Aku tidak suka."


"Apa ada yang salah dengan otakmu? Theo masih sangat mencintaimu, Jess. Bahkan dia sudah membuktikan kalau anak yang dikandung Anin bukan Anak kandungnya." Ibu gusar sendiri menghadapi anaknya yang keras kepala.


"Bu ... Cukup! Jessi sudah besar. Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Tugas kita hanya harus mendukung apapun keputusannya. Sudahlah, jangan memaksa seperti ini." Ayah menengahi pertengkaran Ibu dan anak di pagi hari yang indah. Ibu mengalah dan kembali ke dapur, meninggalkan Jessi dan Ayahnya.


"Menurut Ayah, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memaafkan pengkhianat itu dan kembali padanya?" tanya Jessi dengan bimbang.


"Ikuti saja apa kata hatimu, Nak. Ayah akan selalu mendukungmu." Senyum Ayah terasa menenangkan jiwanya.