
Happy Reading 💜
Situasi dan kondisi yang mendukung membuat keduanya saling mendekatkan wajah. Hidung mereka bergesekan dengan manjanya, bibir keduanya tersenyum dengan begitu tulus.
Tangan Jessi bahkan sudah mengalung indah pada leher lelaki di depannya. Theo merasa kekasihnya saat ini sedang mempermainkan hasrat yang sudah lama dia pendam. "Kau menginginkannya? Aku menginginkanmu ...." Ungkapnya jujur.
"Hmmm, aku juga menginginkanmu," ucap Jessi malu-malu.
Seperti mendapat angin segar, Theo memposisikan dirinya dengan baik. Membawa Jessi duduk dipangkuannya. Satu kecupan singkat dia daratkan pada bibir kekasihnya yang sedikit terbuka.
Kecupan yang manis berubah menjadi ciuman yang penuh hasrat dan menuntut. Lidah keduanya saling membelit menari-nari dalam rongga mulut. Degup jantung yang semakin berpacu dengan cepat karena terbawa suasana. Kupu-kupu seolah berterbangan dalam perut keduanya.
Ciuman mereka berakhir karena kebutuhan akan oksigen yang mendesak. Setelah dirasa sudah cukup mendapat pasokan oksigen, keduanya terkekeh bersamaan.
"Lagi ...." Pinta Theo dalam senyuman.
Jessi mencubit pelan pinggang kekasihnya. Kemudian bangkit dari pangkuan nyaman tersebut, "Tidak, aku takut keterusan. Ayo kita berangkat ke bukit, Theo. Aku ingin merefresh pikiranku."
"Ayolah, Jess. Sekali lagi, ya." Rengek Theo dengan wajah memelas. Kakinya bergerak-gerak gusar seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Raut cemberut dan kesal ditampilkan wajah Jessi kali ini. "Nanti saja di jalan ... Ayo berangkat, jadi tidak, sih?"
"Iya-iya, Ayo. Awas saja kalau nanti dijalan kau tidak menciumku lagi! Aku akan menjadikanmu umpan untuk kuberikan pada macan di bukit." Ancaman Theo sama sekali tidak masuk ke telinga Jessi. Mereka bergandengan tangan menuju area parkir mobil apartemen.
***
Sepanjang perjalanan ke bukit, Theo berwajah datar dan enggan untuk sekedar mengobrol dengan Jessi. Bibirnya berdecak pelan setiap tiga menit sekali.
Jessi menoleh karena merasa terganggu dengan sikap kekasihnya yang aneh sekali. "Kau ini kenapa? Diam saja dari tadi? Apa aku melakukan kesalahan?"
"Pikir saja sendiri." Ketusnya kali ini.
Jessi menghembuskan nafas dalam-dalam. Sejenak dia berpikir tentang kesalahannya kali ini. Tapi otaknya tidak bisa diajak kerja sama karena dia sama sekali tidak menemukan kesalahan apapun.
"Apa karena aku tidak mau diajak ke pesta pernikahan Garaa?" ulang Jessi mencari-cari titik kesalahannya. Wajahnya penuh harap menatap kekasihnya.
Theo menggeleng pelan, "Pikirkan lagi."
"Apa, ya? Apa karena aku tidak berdandan cantik hari ini?" tanyanya lagi.
"Bukanlah! Kau tidak perlu berdandan. Kau itu sudah cantik dari sananya. Cepat pikirkan lagi kesalahanmu." Theo masih sempat-sempatnya memuji dikala dia sedang merajuk.
Jessi berbunga-bunga karena pujian kecil dari mulut kekasihnya, "Manisnya kekasihku ... Aku memang sudah cantik dari dulu kala. Maaf, aku tidak tahu kesalahanku, Theo."
"Kau belum menciumku. Tadi 'kan kau sendiri yang bilang mau mencium di mobil. Begitu saja tidak ingat! Payah!" umpatnya pada Jessi.
Jessi tertawa dengan kencang. Lucu sekali kekasihnya ini, "Ha-ha-ha ... Kau mendiamkanku karena aku belum menciummu? Theo ... Kau lucu sekali." Tangannya memegangi perut akibat tertawanya yang terlalu kencang.
Jessi menghentikan tawanya saat wajah Theo tidak bersahabat sama sekali. Wajah yang sudah datar menjadi semakin menakutkan dengan alis yang menajam. "Maaf, Theo. Maafkan aku, ya."
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Theo. Dia menepikan mobilnya berjejer dengan beberapa mobil yang sudah terparkir rapi di area parkir. Kakinya melangkah duluan meninggalkan Jessi yang masih berdiam diri di mobil.
"Tidak di cium saja langsung marah seperti ini. Dasar aneh!" gumam Jessi mengomeli sikap kekasihnya.
***
Theo sengaja meninggalkan kekasihnya jauh dibelakang. Kekesalannya semakin bertambah karena ditertawakan dengan kencangnya. Dia membelok ke rumah singgah dan menyewa salah satu yang tersisa.
Drrt Drrtt
Getaran pada ponsel yang dia simpan disaku mengganggu fokusnya dalam menonton acara di televisi. Jessi mencarinya. Dia menduga pasti karena perempuan itu tidak bisa menemukannya.
"Ada apa?"
"Aku dihatimu ... Kok masih nanya, sih?"
"Di rumah singgah, nomor 4. Maaf, sudah meninggalkanmu tadi."
Theo mematikan sambungan dengan sedikit menyeringai. Salah sendiri tadi menertawakanku. Dia pasti berkeliling mencariku.
***
Jessi berlari menuju rumah singgah saat gerimis menghujam tubuhnya. Tas kecilnya dia gunakan sebagai pelindung dari tetesan gerimis yang berubah menjadi derasnya hujan. Hawa dingin disertai angin yang berhembus membuat tubuh kecilnya menggigil kedinginan.
Dia menerobos masuk ke dalam rumah singgah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Theo terperanjat saat melihat keadaan kekasihnya seperti itu. Dia mengambil handuk yang sudah tersedia di dalam lemari.
Tangannya mengusap-usap pakaian Jessi yang basah kuyup. Dia menyesali tindakannya saat ini. Karena kebodohannya sekarang kekasihnya menggigil kedinginan dan sedikit demam.
"Ayo, ganti pakaianmu dulu. Badanmu hangat. Maaf, aku tidak tahu kalau di luar hujan. Kau jadi sakit karena aku." Sesalnya saat ini.
Jessi menggeleng pelan. Wajahnya pucat pasi, bahkan bibirnya membiru karena kedinginan. "Aku tidak membawa pakaian ganti."
"Buka semua pakaianmu dan bungkus tubuhmu dengan selimut. Aku akan mencarikanmu pakaian dulu. Bergegaslah!" ucapnya panik sendiri.
Theo memesan satu dress beserta satu set pakaian dalam untuk Jessi. Dia menggaruk kepalanya saat ojek online yang disuruhnya membeli baju menanyakan ukuran pakaian dalam tersebut.
"Aku tidak tahu ukurannya berapa, Pak. Postur tubuhnya mungil, Bapak tanyakan saja pada penjualnya nanti. Cepat, ya, Pak. Saya tunggu. Terimakasih sebelumnya."
Setelah selesai memesan pakaian, Theo menghampiri Jessi yang sedang membungkus dirinya dengan selimut tebal, mirip seperti kepompong.
"Bagaimana keadaanmu?" Theo menaruh tangannya pada dahi Jessi. Panasnya sedikit menurun.
"Jangan mendekat! Aku tidak memakai sehelai benangpun," ucap Jessi memperingati kekasihnya.
"Mengintip sedikit saja, Jess. Tidak apa-apa, 'kan?" godanya sambil memegang ujung selimut kekasihnya.
Jessi menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju, "Tidak-tidak-tidak. Awas sampai kau berani mengintip."
"Setelah pakaianmu datang, kita pulang saja, ya. Diluar juga hujan. Percuma kita tidak bisa menikmati apapun disini. Kecuali kalau kau mau menikmati malam denganku disini, aku setuju-setuju saja." Gelak tawa Theo memenuhi ruang kamar.
"Dasar gila! Jangan menggodaku terus! Kau ini menyebalkan sekali, sih." Jessi melemparkan bantal kecil di dekatnya kearah wajah Theo.
"Cium aku dan aku akan pergi keluar menunggu ojek online mengantarkan pakaianmu. Ayo, cium aku." Theo mendekatkan wajahnya. Tapi sorot matanya mengarah pada dada yang sedikit terbuka karena pergerakan Jessi.
Jessi menyadari arah pandangan mata kekasihnya. Bibirnya mengerucut sebal, "Kau mengintip? Theooooo ... Kau menyebalkan!"