
Happy Reading 💜
"Jessi ...."
Panggilan yang berasal dari suara merdu dan keibuan terdengar jelas oleh telinga Jessi yang bersih dari noda-noda dan kotoran menjijikkan. Matanya yang sedari tadi memandang keadaan diluar gedung resepsi seketika menoleh pada suara yang memanggilnya. Ahh, suara mantan calon Mama Mertua rupanya.
Bibir yang awalnya tersenyum senang mendadak berubah menjadi datar tanpa ekspresi. Hati kecilnya mengutuk nasibnya yang buruk, kenapa juga harus bertemu dengan orang yang berusaha memisahkan dirinya dengan Garaa dulu. Saat atensinya tersadar, bibirnya segera membentuk senyum tipis yang terpaksa.
"Tante ... apa kabar?"
"Baik. Maaf, ya, untuk semuanya, Jess," ucap Mama Garaa dengan tulus. Raut wajahnya menyiratkan rasa bersalah.
Theo kembali persis saat Jessi akan menjawab permintaan maaf dari Mama Garaa. Keningnya mengkerut saat meneliti siapa sebenarnya perempuan yang sedang berbicara dengan kekasihnya ini. Setelah memberikan segelas minuman untuk Jessi, tangan Theo merengkuh pinggangnya dengan mesra.
"Siapa Ibu ini, Jess? Kau mengenalnya?" tanya Theo sambil mencium pundak Jessi.
Mama Garaa paham mungkin lelaki yang bersama dengan mantan calon menantunya tersebut adalah kekasih barunya. Bibirnya melengkung tipis, lalu dia berpamitan untuk kembali ke keluarganya. Theo dan Jessi mengikuti arah pandang Mama Garaa melangkah, di kejauhan terlihat sepasang mata milik Garaa menatap tajam kearah mereka. Theo segera menarik paksa Jessi agar tidak memandang juga kearah Garaa. Dia tidak rela Garaa memandangi miliknya.
***
Saat Jessi dan Theo berjalan kearah tempat parkir mobil, tangan mereka saling bertaut satu sama lain. Jessi bercerita panjang lebar seperti burung beo yang mengoceh, sedangkan Theo hanya bertugas menjadi pendengar yang baik.
Tiba-tiba salah satu tangan Jessi yang bebas di genggam orang lain dari arah belakang. Jessi terkejut, begitu pula dengan Theo yang sama kagetnya. Lagi-lagi Jessi dipermainkan keadaan, ternyata Garaa yang menggenggam tangannya yang bebas dari genggaman Theo. Satu-satunya lelaki yang paling tidak Theo inginkan untuk bertemu disini. Apalagi sampai menyentuh miliknya.
"Lepaskan tangan kotormu dari kekasihku!"
"Brengsek! Kurang ajar sekali, Kau! Mau cari mati, hah? Aku akan membunuhmu, sialan!!" tangan Theo memukul tanpa henti. Dadanya kembang-kempis dengan nafas yang terengah-engah. Tangannya berhenti memukul saat Brian dan beberapa pihak keamanan memisahkan mereka. Rin memeluk Jessi yang ketakutan dan menangis dengan kencang.
***
Malam yang dingin menyergap beberapa jiwa yang sedang kalut. Dingin yang seharusnya menyejukkan hati dan pikiran berubah menjadi dingin yang membekukan hati dan pikiran. Akal sehatnya kalah telak dengan setan yang mengompori. Garaa begitu cemburu saat melihat Jessi dan Theo sedang bermesraan tadi. Harusnya dia yang bermesraan dan harusnya dia yang memiliki Jessi di sisinya. Setelah semua yang terjadi kini penyesalan yang mengambil alih. Dia menyesal kenapa bisa sampai bertindak seperti itu pada Jessi. Pasti sekarang Jessi sangat membencinya dan tidak akan sudi bertemu dengannya lagi.
Jessi meringkuk dalam pelukan hangat Theo. Dia masih takut kalau-kalau Garaa akan mendatanginya lagi. Emosi Theo belum mereda, terbukti dari tangannya yang mengepal dan mulutnya yang tak henti mengumpati sikap kurang ajar Garaa.
"Harusnya aku membunuh laki-laki sialan itu! Aku tidak akan membiarkan dia hidup! Brengsek!" lagi-lagi mulutnya mengumpati Garaa dan segala kebodohannya.
***
Dilain tempat, Garaa sedang berada di ranjang rumah sakit. Wajahnya babak-belur dipenuhi luka lebam yang memerah kehitaman. Gusinya yang berdarah semakin menambah kesakitan yang dia rasakan. Sudah sakit hati, sakit pula tubuhnya. Brian yang harusnya menghabiskan malam pertama pengantin dengan Rin terpaksa menundanya sebentar. Kini dia berada di rumah sakit menemani Garaa. Kedua orang tua Garaa dan juga Anna sedang mengurus masalah administrasi.
"Apa kau gila, Garaa? Kau, tahu? Tingkahmu tadi seperti binatang! Harusnya kau malu!" cerca Brian dengan segala ketidakpercayaannya pada tingkah Garaa.
"Akhuu bheghituu chembuwu mhelihhat Theo mherhengkhuh phiingghang Jhessi (Aku begitu cemburu melihat Theo merengkuh pinggang Jessi)," ucapnya terbata menahan rasa ngilu yang dia rasakan.
"Kau sudah punya Anna. Ingat itu!" balas Brian mengingatkan.
Malam yang panjang dan menyakitkan bagi Garaa, insan yang dipenuhi dengan rasa cemburu yang membuncah. Dia begitu tidak rela melihat dengan mata kepalanya sendiri kemesraan Theo dan Jessi. Percuma sudah keinginannya untuk ikhlas dan melepaskan perempuan yang dicintainya untuk bersama lelaki lain. Dalam lubuk hatinya yang terdalam dia masih sangat menginginkan Jessi agar menjadi miliknya.