
"Kemarilah, cepat tidur. Aku tidak akan macam-macam. Mungkin hanya satu macam saja," Theo melihat Jessi yang seperti malu-malu tapi mau.
Tentu saja Theo tidak akan berbuat macam-macam pada Jessi. Jelas, dia hanya menggoda Jessi saja. Ia tidak mau nantinya hubungan mereka menjadi renggang. Apalagi kemarin setelah pertengkarannya dengan Jessi di lorong, Theo sangat menyesali kenapa dirinya bisa menjadi semenakutkan itu.
"Tidak usah, Theo. Aku tidur di sofa saja."
"Terserah kau!"
Theo melanjutkan sisa tidurnya dengan muka yang tertekuk kesal. Bagaimana tidak, dia sudah menawari Jessi untuk tidur disebelahnya, tapi dia menolak. Sementara itu, Jessi bolak-balik menggeser badannya ke kanan dan ke kiri mencari posisi yang pas untuk tidur.
Theo terbangun saat ponselnya terus-menerus bergetar. Garaa menghubunginya, dengan satu usapan diangkatnya telepon dari Garaa tersebut. Sesuai dugaan Theo, pasti Garaa menanyakan apa Jessi sudah ketemu setelah menghilang dari pestanya semalam. Theo sengaja ingin memanas-manasi Garaa dengan mengatakan kalau Jessi sekarang sedang bersamanya, di apartemennya.
Jessi yang sedikit-sedikit bergerak tidak nyaman membuat Theo merasa kasihan juga. Theo menghampiri Jessi yang berada di sofa. Menggendongnya dan memindahkan Jessi ke kasur. Lalu menyelimuti Jessi sampai kepalanya saja yang terlihat.
"Dasar merepotkan! Keras kepala!" Theo menyentil dahi Jessi dengan pelan, sedikit kearah gemas.
***
Silau sinar matahari menerobos masuk di sela-sela jendela kamar Theo. Jessi menggeliat dan terkejut saat tahu Theo berada disampingnya.
Tangan Theo memeluknya dengan erat layaknya ia sebuah guling. Tubuh mereka berhimpitan dengan wajah yang berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Jessi merasa detak jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya.
Ya Tuhan, kenapa posisiku dan Theo seperti ini? Aku harus bagaimana? Apa aku pura-pura tidur lagi saja? Kenapa pula jantungku berdetak tidak karuan begini?
Jessi meneliti wajah Theo menggunakan tangannya dengan seksama. Hidung yang mancung, alis yang tebal, dan bibir yang merah menggoda membuatnya menghentikan tangannya sedikit lama tepat di bibir Theo.
Tampan sekali!
Lamunan Jessi terhenti saat suara Theo yang serak khas orang bangun tidur mengagetkannya. Ia menarik tangannya yang berlama-lama di bibir Theo tadi.
"Cium saja, tidak usah sungkan-sungkan," Theo memonyongkan bibirnya kearah Jessi.
"Dasar mesum!" Jessi membalikkan tubuhnya dan membelakangi Theo. Ia malu sekali ketahuan memegang bibir Theo.
***
Selesai bersiap-siap, Theo melihat Jessi yang masih meringkuk di kamar. Sedang memeriksa ponselnya dengan wajah yang sedikit khawatir.
"Ada apa? Kenapa wajahmu jelek seperti itu?" tanya Theo sambil memasang kancing di lengan kemejanya.
"Orang tuaku mengomel karena mereka tahu aku tidak pulang semalam."
"Kau yakin hanya karena itu?" Theo menduga pasti bukan hanya karena itu.
Theo menghela nafas kasar saat Jessi diam saja tidak menjawab pertanyaan darinya. Theo berjalan menghampiri Jessi, lalu merebut paksa ponsel yang masih dipandangi saja oleh Jessi. Dia melihat ada beberapa pesan singkat dari Garaa di ponsel Jessi.
"Kau bermalam dengan Theo? Apa yang kau pikirkan? Apa kau gila?"
"Jessi, balas pesanku saat kau sudah membacanya. Aku mengkhawatirkan mu."
Theo sedikit menyunggingkan bibirnya saat membaca pesan tersebut. Sialnya, Jessi melihat hal itu.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa kau yang memberitahu Garaa, kalau aku bermalam di tempatmu?" cerca Jessi sambil merebut kembali ponselnya.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Kau ada masalah? Kau menjaga perasaan Garaa hah?"
Amarah menyelimuti tubuh Theo. Hawa panas menguap dari dalam tubuhnya. Dilonggarkan dasi yang baru saja dipakainya. Perdebatan kecilnya dengan Jessi membuat moodnya memburuk pagi ini.
"Bukan begitu maksudku, Theo. Kenapa kau jadi uring-uringan begini?" Jessi memegang lengan Theo berusaha menenangkannya.
Hening. Tidak ada jawaban dari Theo. Sepertinya Theo benar-benar marah padanya. Bahkan sekarang Theo melengos, tidak mau menatap Jessi.
"Apa kau cemburu?"