Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Ending



Setelah makan malam usai, Jessi dan Theo menyempatkan diri mengunjungi sebuah cafe yang berada dipinggiran kota. Letak cafe yang berada diatas bukit membuat suasana semakin menyejukkan jiwa.


Garis bibir perempuan itu mengembang dengan sempurna. Matanya menatap kemerlap lampu kota dari tempatnya berdiri. Bahkan di kejauhan terlihat sorot lampu dari kapal yang berlabuh di pelabuhan.


Theo mendekat dan memeluk pinggang ramping istri yang begitu dicintainya tersebut. Dia letakkan dengan hati-hati dagunya dipundak Jessi.


"Kau menyukainya?" tanyanya singkat.


"Aku menyukainya. Disini tenang, damai, dan nyaman." Jawabnya tanpa menoleh pada Theo.


Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya. Bibirnya menyeringai samar, "Aku juga merasa tenang, damai, dan nyaman bersamamu."


Sementara Jessi hanya terkekeh sambil mengerucutkan bibirnya dalam menanggapi ocehan suaminya tersebut.


Tak berselang lama keduanya mengakhiri drama malam itu dan melajukan mobil kembali ke apartemen.


***


Waktu yang sudah menunjukkan dini hari membuat mata yang semakin memberat dan kantuk yang begitu hebat pada keduanya. Mereka berjalan sambil terus-menerus menguap.


Theo merebahkan dirinya diranjang. Matanya langsung bisa memindai dimana letak bantal dan dia terpejam dengan cepat.


Jessi memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu di kamar mandi. Setelah mencuci wajah, rasa kantuknya memudar secepat kilat.


Pikirannya kembali melayang saat makan malam dengan hidangan nikmat, tapi dia sama sekali tidak bisa menikmatinya.


Apa Anin akan merebut Theo dariku?


Bayangan tentang Anin yang akan menjadi saudara sepupunya membuat dia sedikit ketakutan. Apalagi mengingat perempuan itu pernah bersandiwara tentang Theo yang menghamili dirinya.


Kepalanya menggeleng seraya dengan helaan nafasnya yang dalam. Ditepisnya pikiran buruknya tersebut.


***


Theo mengerjap begitu tangannya tidak menemukan apapun disampingnya. Kemana Jessi?


Senyum samar tersungging dari bibirnya saat melihat perempuan yang dicarinya keluar dari kamar mandi.


"Kenapa lama sekali? Ada sesuatu yang kau pikirkan?" tebak Theo begitu menilik wajah istrinya yang sedikit murung.


"Hanya sedikit kepikiran sesuatu, Theo," ucap Jessi sambil merebahkan dirinya dengan nyaman.


Tubuh keduanya saling mendekat, memangkas jarak seminimal mungkin. Tangan Theo sudah bergerilya mengelus punggung istrinya. Berharap bisa mengurangi dan membuat perempuan itu nyaman.


"Katakan padaku apa yang membuatmu murung seperti ini?" pintanya saat itu.


"Tidak ada apa-apa, Theo. Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi."


Kening lelaki itu mengkerut begitu mendengar jawaban istrinya. 'Tak mau ambil pusing, dia perlahan memejamkan matanya seiring dengan pelukannya yang semakin mengerat dan deru nafas yang semakin teratur.


***


Pagi menyingsing dengan cahaya matahari yang perlahan menyinari dunia. Jessi sibuk menyiapkan sarapan, lalu mandi dan bersiap berkerja.


Dia tidak mau berhenti bekerja katanya. Perempuan itu masih ingin terus bekerja entah sampai kapan. Mungkin sampai dia hamil? Bisa jadi seperti itu.


Sementara Theo sibuk bersiap-siap juga untuk berangkat ke kantor. Selesai bersiap, keduanya akan sarapan, lalu berangkat bersama. Begitu keseharian yang mereka lewati setiap harinya.


Rin juga masih bekerja, meskipun Brian sudah melarangnya. Katanya akan bosan jika seharian dia hanya akan berdiam diri saja dirumah.


Lain hal dengan pasangan Garaa dan Anna. Keduanya menikmati hari-hari mereka dengan bahagia. Garaa yang belajar mencintai istrinya menunjukkan perubahan besar dalam bersikap.


Jangan lupakan jika sekarang mereka sedang berada di Bali. Menikmati bulan madu yang sarat akan keintiman. Berusaha saling mendekatkan dan menikmati proses belajar mencintai bersama-sama.


Perlu diketahui jika Garaa sudah berhenti bekerja dari kantor Theo. Dia sekarang menjabat sebagai CEO di perusahaan keluarga Anna.


Pasangan Kevin dan Anin baru saja melangsungkan pernikahan. Pesta pernikahan yang meriah dengan banyaknya tamu undangan yang hadir.


Meskipun Jessi sudah bisa berbesar hati dan menerima Anin menjadi saudara sepupu. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika perempuan itu masih sedikit was-was takut kalau sampai Anin akan berusaha mengacaukan rumah tangganya dengan cara merebut Theo darinya.


Dia begitu waspada jika ada pertemuan keluarga besar yang Anin juga berada didalamnya. Tangannya selalu bertengger rapat saling bertaut dengan tangan Theo. Tidak boleh lengah, begitu slogannya.


***


Menjelang setahun usia pernikahan, Theo dikejutkan saat mendapati sebuah amplop diatas ranjang yang didalamnya terdapat testpack dengan dua garis merah.


Matanya berbinar dengan sempurna. Senyumnya mengembang tanpa henti. Hatinya menghangat saat mendapati kenyataan bahwa dia akan menjadi seorang Ayah.


Lelaki itu keluar dari kamar, matanya berkeliling mencari keberadaan istrinya. Dikecupnya kulit pipi perempuan itu dengan mesra.


"Terimakasih sudah mau menjadi Ibu dari anak-anakku, Jess. Aku sangat bahagia." Ungkapnya dengan mata berbinar.


"Sama-sama, Theo. Aku juga bahagia." Balas perempuan itu sambil melingkarkan tangannya di pinggang Theo.


Mereka menjalani hari-hari di dalam kehamilan Jessi dengan begitu bahagia dan sedikit dipenuhi dengan pertengkaran kecil.


Theo yang tidak memperbolehkan Jessi melakukan ini dan itu yang bisa membuatnya lelah. Sedangkan, perempuan itu mengelak dan memilih untuk tetap melakukan semuanya.


Kedua orang tua Jessi dan Ibu Theo begitu antusias saat mengetahui kehamilan Jessi. Mereka sama seperti Theo, melarang Jessi melakukan sesuatu yang bisa membuatnya lelah.


***


Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Rin sudah melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Briana. Bayi mungil dengan pipi kemerahan dan rambut ikal yang cantik.


Selang beberapa bulan dari kelahiran Baby Briana, Jessi juga melahirkan seorang bayi cantik nan mungil yang diberi nama Yuri.


Baby Yuri terlihat begitu menggemaskan dengan kedua pipi yang mengembang dan matanya yang sipit. Bola matanya berwarna coklat mirip seperti bayi-bayi orang bule.


Kehidupan pasangan Theo dan Jessi terasa semakin lengkap dengan hadirnya Baby Yuri ditengah-tengah mereka. Dan jangan lupakan segala macam pernak-pernik dan perlengkapan bayi yang sudah disediakan dengan kualitas sebaik mungkin.


Tentu mereka juga akan membiarkan Baby Yuri mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya dengan mudah. Yah, Theo memanjakan putri kecilnya dengan sangat berlebihan.


Meskipun Jessi sudah melarangnya, tapi tidak ada yang bisa menghentikan Theo kalau sudah menyangkut urusan putri kecilnya tersebut.


Baby Yuri tumbuh dan berkembang layaknya seorang bayi pada umumnya. Dia belajar tengkurap, kemudian merangkak, dan berjalan.


Theo mencintai istri dan putri kecilnya dengan begitu besar. Seperti air yang selalu mengalir dari sumbernya tanpa henti, seperti itu pula gambaran perasaannya kepada dua perempuan yang berarti baginya. Selamanya dan tanpa henti untuk selalu mencintai.


Tamat.


Terimakasih yang sudah menyempatkan membaca cerita dari author remahan debu ini. Mohon maaf jika terlalu banyak kata-kata yang typo, rancu, ataupun penggunaan tanda baca yang masih keliru. Hehe


Terimakasih untuk kalian semua. 🙏😍