Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Sendiri Dulu



Happy Reading 💜


"Jess ... Apa ada yang sedang memenuhi otakmu?"


Jessi berdiri di depan pintu rumahnya dengan tatapan kosong. Kepalanya menyender pada kayu di pinggiran kusen pintu. Bahkan saat Ibunya membuka pintu yang dia ketuk perlahan, dia tidak menyadarinya. Sepertinya memang otak dan hatinya sedang gempa besar-besaran. Dia tidak bisa lagi fokus setelah mengetahui semua yang terjadi. Ibunya berdecak pelan, lalu mengulangi usahanya untuk menyadarkan Jessi.


Fokus Jessi teralihkan pada suara sang Ibu yang membawanya kembali ke dunia nyata. Tubuhnya menegak dengan sedikit hawa gugup menyelimuti. Bibirnya mencoba tersenyum seperti biasa, tapi yang terbentuk di bibir manis itu hanya sebuah garis datar tanpa lengkungan. Dia berdalih dengan berkata kalau dia sedang bertengkar kecil-kecilan dengan Theo, "Tidak ada apa-apa, Bu. Biasa ... hanya sedang bertengkar saja dengan Theo. Ibu tidak perlu khawatir begitu." Tangannya mengusap lembut punggung sang Ibu, lalu menyelonong memasuki kamarnya.


Tubuhnya seketika ambruk saat melihat ranjang empuknya didepan mata. Airmata yang sudah menumpuk di pelupuk, seketika berlomba-lomba menyeruak mengalir deras di pipinya. Bantal yang tidak bersalah jadi pelampiasan amarahnya. Malam yang semakin gelap jadi saksi betapa sakit hatinya dia saat ini.


Apa aku harus patah lagi, Tuhan?


***


Sepeninggal Theo dan Jessi dari makan malam, Anin kembali masuk kedalam kamarnya. Kamar tamu yang dia tempati selama berada dirumah keluarga Theo beberapa hari ini. Bibirnya mengulum senyum puas dan bahagia. Selangkah lagi rencananya akan berhasil dan Theo akan menjadi miliknya.


"Hai, Sayang. Tidak lama lagi Mommy akan menikah dengan Daddy. Kita akan menjadi keluarga lengkap yang bahagia," ucap Anin berbicara pada bayi yang dia kandung. Dia mengusap-usap perutnya yang membesar dengan lembut.


Raut wajah Anin yang berbahagia, berbanding terbalik dengan raut wajah Ibu Theo yang sedang bingung. Berkali-kali tangannya mencoba menghubungi ponsel anak lelakinya.


"Theo ... kemana, sih, anak ini? Gak diangkat juga!" keluhnya gemas.


"Jessi pasti sedang terluka saat ini. Ibu minta maaf, ya, Jess," gumamnya sambil berangan-angan.


***


Pagi menyapa dengan suara kokok ayam jantan sebagai pertanda. Kicau burung kecil bersahutan menjadi pelengkapnya. Jessi menggeliat meregangkan persendian otot yang terasa kaku. Matanya menyipit saat silau cahaya lampu menerobos berusaha masuk. Ahh, dia teringat lagi kalau semalam dia tertidur setelah menangis sejadi-jadinya. Pasti sekarang matanya membengkak menjadi mata panda.


"Ada apa dengan matamu, kau menangis?"


Lagi-lagi suara yang sangat Jessi kenal mengagetkannya. Tangannya memegang jantungnya yang berdetak tidak karuan. Bibir mungilnya mengerucut protes, "Ibu! Ibu mengagetkanku."


Jessi berlari terbirit-birit meninggalkan sang Ibu didepan kulkas. Dia belum siap menceritakan semuanya.


***


Pagi ini Jessi rencananya akan berangkat ke kantor dengan menumpang pada mobil Brian dan Rin. Dia menunggu kedatangan mereka didepan teras rumah. Saat asyik menunggu, mobil yang tidak dia harapkan datang menepi. Bibirnya berdecak malas.


Theo turun dari mobilnya dan berlari mendekati kekasihnya disana, "Jess ... Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku."


"Kau bodoh? Bukankah aku bilang kalau aku ingin sendiri dulu? Kau tidak tahu apa itu artinya sendiri dulu? Untuk apa kau datang kesini?" protes Jessi. Masih pagi tapi amarahnya sudah terpancing seperti ini.


Jessi bergerak mundur menjauhi tubuh Theo. Raut wajah malasnya kentara sekali terlihat. Perasaannya pada Theo menjadi sedikit berkurang. Tidak ada lagi perasaan menggebu seperti dulu. Bahkan saat ini dia malas bertemu dengan Theo untuk urusan pribadi, kecuali untuk urusan pekerjaan dia akan memakluminya.


Theo terpaku saat tubuh Jessi menjauhinya. Tangannya berusaha meraih, tapi tidak ada yang dapat dia raih. Mulutnya gatal ingin segera menjelaskan duduk permasalahannya, "Malam itu aku memang mabuk, Jess. Saat aku tahu kalau kau dan Garaa berhubungan. Aku juga tidak percaya kalau bayi yang dikandung Anin adalah darah dagingku. Aku terbangun dipagi hari masih mengenakan pakaian lengkap, bahkan sepatuku tidak terlepas. Aku mohon, Jess. Percayalah padaku. Kita harus bersatu untuk menghadapi ujian cinta ini."


Jessi bersedekap menahan geramnya hati saat ini, "Sudah ceramahnya? Tutup mulut kotormu! Aku tidak sudi mendengarnya membual lagi. Sudah cukup kau membohongiku, Theo. Pelankan juga suaramu, Ibuku belum mengetahui soal kebohongan busukmu itu."


"Aku sudah berrkata yang sesungguhnya, Sayang. Maaf, aku tidak jujur dari awal. Aku mengaku bersalah. Tapi aku mohon, jangan meninggalkanku, Jess," ucap Theo frustasi.


Jessi memperingati Theo sekali lagi, dia sudah muak pagi-pagi malah diajak bertengkar seperti ini, "Jangan berbicara padaku lagi! Kecuali soal urusan pekerjaan. Aku muak denganmu!"