
Happy Reading 💜
"Anin, apa yang kau lakukan di depan kamarku?"
Anin yang sedang termenung di depan apartemen Theo menolehkan kepalanya pada sumber suara. Seketika raut wajah yang cemberut berganti menjadi cerah penuh pengharapan. Kakinya melangkah mendekati Theo, lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Theo yang mendapat serangan tiba-tiba tidak bisa berkutik sedikitpun. Tangannya diam ditempat dan tidak memeluk balik perempuan yang sedang mendekapnya saat ini.
Pelukan Anin belum juga terlepas. Tangannya yang kebas berusaha bergerak melepaskan diri, "Apa yang kau lakukan, Nin? Lepaskan aku dulu."
"Aku tidak bisa seperti ini, Theo. Aku ingin kau menikahiku. Aku tidak mau bayi ini lahir tanpa seorang Ayah," isak tangis Anin terdengar pilu ditelinga Theo.
Theo memandang sekitar tempatnya berdiri, sepi yang tercipta dalam keheningan malam membuat suara Anin terdengar jelas bagi siapapun yang belum tidur. Dia takut kalau-kalau ada yang sengaja mendengar pembicaraannya dan mengadu pada Jessi suatu hari nanti. Ditariknya tangan Anin untuk masuk kedalam apartemennya.
"Bukankah semua sudah jelas yang kukatakan padamu tempo hari? Aku tidak bisa menikahimu, aku mempunyai Jessi. Kami akan menikah, Nin," ucap Theo berusaha menjelaskan.
Tangisnya semakin kencang, mengikuti kerapuhan hatinya saat ini. Anin masih saja berusaha mengiba pada Theo, "Apa kau tega membiarkan bayimu lahir tanpa sosok seorang Ayah? Mereka pasti mencemooh dan berkata kalau bayi ini adalah anak haram, Theo."
Theo mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan. Dia tidak tega, tapi tidak ada pilihan lain yang bisa dia lakukan selain membantu biaya hidupnya, "Tentu aku tidak tega, Nin. Tapi, maaf, aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu."
Perempuan itu kini menangis dengan tersedu-sedu. Tangannya mencengkeram pinggiran celana yang sedang dia pakai. Apalagi yang harus dia lakukan agar Theo mau menikahinya. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan Theo dan dirinya dimalam mereka hampir melakukannya. Kalau saja dulu mereka jadi melakukan itu, sudah pasti sekarang dia dan Theo bisa bersatu selamanya.
Theo bingung sendiri harus menghadapi Anin seperti apa. Meskipun dia tidak yakin anak yang dikandung Anin adalah darah dagingnya, tapi dengan setulus hati dia mau membantu Anin dalam urusan biaya hidupnya beserta sang bayi. Theo terdiam didepan televisi yang tidak dia tonton, menunggu Anin tenang adalah hal yang diutamakannya saat ini.
Tak berselang lama saat Anin sudah lebih tenang, Theo berinisiatif mengantar Anin pulang ke rumahnya. Bagaimanapun juga Anin adalah temannya. Tidak baik seorang perempuan berkeliaran malam hari, apalagi dia sedang mengandung seorang bayi.
***
Malam hari Jessi tidak bisa tertidur, dia yang sudah terbiasa tidur memeluk, ataupun dipeluk Theo merasa sedikit kehilangan saat dirinya tidur sendirian seperti ini. Saat sedang asyik memikirkan Theo tiba-tiba ponsel yang sedang dipegangnya bergetar. Karena sangat merindukan sang kekasih hati, Jessi tidak mengecek dahulu siapa yang menghubunginya dan langsung saja sigap mengangkat telepon tersebut siapa tahu Theo, begitu pikirnya.
"Halo, Jess."
Jessi melihat kembali siapa yang menghubunginya pada layar ponsel, terpampang nama Garaa disana. Tak mau menyahuti, atau menanggapi lebih jauh Jessi segera menekan tombol merah pada layar ponselnya. Hatinya berdegup kencang takut Garaa akan menyerangnya lagi. Jessi melempar ponselnya dengan kencang diatas ranjang. Tentu dia tidak akan melempar ke lantai, dia masih sayang dan takut jika ponselnya menjadi rusak.
Selepas telepon Garaa yang tidak dia harapkan, Jessi semakin berguling-guling tidak menentu diatas tempat tidur. Sepertinya dia akan begadang malam ini karena matanya yang sama sekali tidak bisa diajak kompromi.
***
Fajar telah tiba. Kicau burung-burung kecil bernyanyian tanpa henti. Suara kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan tidak mau kalah seolah mereka sedang mengikuti lomba, suara yang paling merdu dialah yang akan menang. Mentari di ufuk timur perlahan menampakkan wajahnya. Jessi menggeliat diatas tempat tidur, selimutnya jatuh entah kemana. Matanya membengkak karena dia semalaman tidak bisa tertidur.
Hari ini Jessi ingin berangkat bekerja bersama dengan Theo. Dia akan mengirim pesan agar calon suaminya tersebut bisa menjemputnya nanti. Tanda pesan terkirim dengan centang dua sudah terlihat, meskipun sampai saat Theo belum membacanya. Dia akan bersiap-siap dahulu sembari menunggu Theo menjemput dirinya.
Sudah setengah jam Jessi menunggu kedatangan Theo. Centang dua tanda pesan terkirim juga belum berubah warna menjadi biru. Berkali-kali Jessi menelpon juga tidak ada jawaban. Alhasil dengan langkah gontai Jessi meminta sang Ayah untuk mengantarkannya ke tempat kerja.
Jessi sampai di kantor lima menit sebelum jam masuk kerja. Dia berlari dari gerbang depan menuju ruangannya. Nafasnya ngos-ngosan tidak beraturan. Keringat di dahinya menetes sebesar biji jagung. Dia nampak kecapekan sekali. Kakinya sengaja ia selonjorkan mengingat dia yang habis berlari-larian.
Sara, si pelopor dalam hal mencela memulai aksinya di jam sepagi ini. Mencela Jessi seharipun tidak akan dia lewatkan, "Kenapa kau berlarian? Tidak diantar-jemput Theo? Theo pasti sudah membuangmu. Ya, kan?"
Jessi menatap jengah pada Sara yang kini terang-terangan menatapnya tidak suka. Ingin sekali dia mencakar wajah sok cantik Sara, tapi dia mengingat skorsing yang akan dia dapatkan nantinya kalau tetap nekat melakukan hal itu di area kantor, "Berhentilah mengurusi urusanku, Sara. Asal kau tahu, aku tidak perduli padamu dan pada perkataanmu. Apapun yang kau lakukan sama sekali tidak berpengaruh pada hubunganku dan Theo."
Sara melengos meninggalkan Jessi dengan alis yang mengkerut tajam. Matanya memicing tidak suka, kakinya menghentak-hentak dengan kerasnya.
***
Semenjak kedatangannya ke kantor belum sekalipun Theo mengecek keadaan ponselnya. Dia belum menghubungi Jessi seharian ini. Dia ingin mengajak Jessi makan siang bersama di cafe seberang jalan. Dirogohnya ponsel pada saku celananya. Matanya melebar saat melihat tadi pagi ternyata Jessi meminta dijemput. Dia menyesal sekarang, kenapa tadi pagi dia tidak mengecek ponselnya terlebih dahulu.
Theo berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Jessi, tetapi yang dia dapatkan hanya suara mesin kotak suara. Apa aku ke ruangannya saja, ya?
Theo memakai kembali jas yang sedari tadi dia lepaskan, dia melangkah tergesa-gesa menuju ruang kerja kekasihnya. Beberapa pegawai menatapnya heran saat melihat Theo berjalan seperti itu, tetapi tidak ada yang berani bertanya lebih jauh. Sesampainya disana, Sara menghampiri Theo yang sedang celingukan mencari keberadaan Jessi.
"Tuan Theo, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya sambil membenarkan helaian rambutnya yang sedikit berantakan. Dia ingin terlihat sempurna di mata Theo.
Theo melihat Jessi yang masih sibuk bersikutat dengan komputer, pendengarannya tersumbat karena earphone yang bertengger ditelinga. Theo mengabaikan Sara dan menghampiri Jessi yang belum mengetahui keberadaannya. Sengaja dia mengejutkan Jessi dengan mencium pipinya yang mulus. Terkejut juga para pegawai yang berada satu ruangan dengan Jessi.
Jessi menoleh saat merasakan benda kenyal menempel di pipinya, mulutnya terbuka saking terkejutnya melihat Theo ada disampingnya sekarang. Bibirnya berbisik dengan pelan, "Theo, apa yang kau lakukan disini? Kau mengagetkanku!"
Theo terkekeh pelan lalu mengambil kursi kosong dan duduk menemani Jessi. Theo sadar bahwa dia dan Jessi jadi pusat perhatian pegawai yang lain. Sengaja dia memperingati para pegawainya, "Kembalilah bekerja. Anggap saja aku tidak ada disini. Aku dan Jessi bukan tontonan yang sampai harus menyita perhatian kalian."
Setelah semua kembali pada aktifitasnya masing-masing, Theo masih saja asik menemani Jessi. Yang ditemani merasa gugup bukan main, takut-takut kalau dia akan semakin dicela oleh pegawai yang lain. Theo menyelipkan helaian rambut Jessi dengan mesra, "Maaf, tadi pagi tidak bisa menjemputmu. Aku buru-buru berangkat dan tidak mengecek ponselku terlebih dahulu. Maaf, membuatmu menunggu, Sayang."
Jessi menunduk sambil memperhatikan pegawai disebelah kanan-kiri. Ini bukan tempat yang tepat untuk Theo meminta maaf padanya. Sumpah, Jessi sangat malu sekali saat ini. Ingin rasanya mengubur wajahnya dalam-dalam. Jessi menarik Theo keluar dari ruang kerjanya, "Theo, Maaf. Aku sedang bekerja. Jangan mengganguku, ya. Nanti aku akan berkunjung ke ruanganmu saat jam makan siang. Setuju?"
Theo mendelik ingin protes saat Jessi bilang dia mengganggu. Tapi diurungkannya saat bibir Jessi mencium pipinya pelan tapi pasti. Senyumnya mengembang dan dia setuju dengan apa yang diinginkan kekasihnya, "Aku menunggumu, Sayang. Ahh, aku ingin memakanmu saat ini juga. Kau jangan menggodaku terus, aku jadi tidak tahan."
Kening Jessi mengkerut, tapi bibirnya tersenyum senang, "Tidak ada yang menggodamu, Sayang. Itu pikiranmu saja yang mesum. Sana, pergilah. Aku harus kembali bekerja." Jessi melambaikan tangannya pada kekasih hati yang memasang raut wajah tidak rela.
"Senang, ya, mentang-mentang kekasihmu CEO kau bisa bermesraan di area kerja! Dasar tidak tahu malu!!"