
Happy Reading 💜
"Iya, aku mau lagi ...." Cicitnya dengan wajah yang menunduk.
Gerak bibir lelaki itu berganti menjadi menyeringai. Dia tidak menyangka, perempuan yang kemarin merasa takut untuk mengarungi surga bersamanya, kini menjadi agresif dengan mengajaknya duluan.
"Baiklah ... Ayo kita lakukan lagi," ucapnya sambil berbaring terlentang.
Jessi gelagapan sendiri saat akan menjawab persetujuan suaminya. Sudah pasti Theo salah paham dengan maksud perkataannya.
"Bukan begitu maksudku, Theo. Aku tidak ingin melakukannya lagi sekarang ...."
"Mungkin beberapa jam lagi ...." Imbuhnya saat mimik wajah suaminya yang tadinya sumringah berubah menjadi tertekuk.
Lelaki itu kemudian menepuk sisi ranjang disampingnya menyuruh sang istri untuk ikut merebahkan tubuh disana. Jessi berbaring dan menyelimuti tubuh mereka sampai hanya kepala saja yang terlihat.
Theo bergerak menghadap istrinya, membiarkan tangannya bermain-main dengan rambut lurus tersebut. "Jess, kau ingin segera punya anak, atau menundanya dulu?" tanyanya malam itu.
Perempuan yang tadinya mulai berusaha memejamkan mata, kini membuka kembali matanya dengan lebar. Dia bingung harus menjawab bagaimana kali ini.
"Aku tidak tahu ...." Tubuhnya bergerak miring menatap kedalam mata suaminya.
"Mungkin satu, atau dua bayi akan sangat meramaikan rumah kecil kita nantinya. Aku ingin mempunyai bayi, tapi jika kau belum siap, aku tidak akan memaksa. Kita bisa punya bayi jika kita berdua telah siap." Tatapan matanya menerawang jauh. Bibirnya mengulas senyum samar.
Perempuan itu mendesah pelan. Sudah kodrat seorang perempuan untuk menjadi Ibu. Tapi, dia belum siap untuk menjadi Ibu saat ini. Masih banyak yang ingin dia lakukan sebelum fokus mengurus bayinya kelak.
"Hmm ... Baiklah. Theo, apa Anin sudah keluar dari penjara? Aku melihatnya memelukmu kemarin." Tanyanya dengan wajah yang sulit digambarkan. Ada semacam rasa penasaran dan cemburu disana.
Ditatapnya wajah istrinya, lelaki itu berusaha mencari tahu apa yang dirasakan istrinya sekarang. "Kau cemburu?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan dari sang istri.
"Tidak ada perempuan yang tidak cemburu melihat suaminya berpelukan dengan perempuan lain. Apalagi yang notabene sudah pernah menjalin hubungan dengannya." Balasnya dengan suara sedikit serak.
Tangannya memegang dada dan menekannya dengan pelan. Hatinya begitu sakit, bahkan hanya untuk sekedar mengingatnya. Rasanya seperti hatimu sedang diremukkan dengan sengaja.
"Apa kau lupa? Kau juga berpelukan dengan Garaa. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat melihatmu berpelukan dengan mantan kekasihmu?" Balasnya telak dengan suara yang meninggi satu tingkat.
Perempuan itu bergerak menjauh dari suaminya. Hawa panas menyelimuti mereka berdua. Bukan lagi hawa panas karena hasrat yang menggelora, tapi karena emosi yang membuncah.
"Perlu kau ingat, aku tidak memeluk Garaa. Dia menarikku dan membuatku jatuh ke pelukannya. Aku bahkan memberontak ingin terlepas dari pelukan Garaa. Aku tidak menikmati pelukannya, seperti kau yang menerima pelukan dari Anin. Bahkan tanganmu memeluk perempuan itu!"
Theo tidak mengelak karena memang pada kenyataannya dia balik memeluk Anin saat itu. Tetapi, pelukan mereka hanyalah sebatas pelukan permintaan maaf dan penyesalan dari Anin. Dia tidak tahu jika Jessi melihatnya saat resepsi.
"Kau bahkan tidak mengelak! Jelas kalau kau memang menginginkan berpelukan dengan perempuan itu." Tegasnya dengan emosi yang tidak terkendali. Diamnya Theo semakin membuatnya yakin kalau lelaki itu memang menikmati berpelukan dengan perempuan itu.
Tangannya bergerak mengusap pipi yang basah karena airmata. Perempuan itu membentangkan jarak dan bergerak memunggungi suaminya.
Theo memangkas jarak mereka dan memeluk istrinya dari belakang. Sedikit mengusap-usap lengan Jessi yang terbuka.
"Jernihkan pikiranmu. Kau hanya salah paham. Tidurlah ...." Ucapnya sambil mengecup punggung Jessi.
Theo kembali ke tempat tidurnya. Dia menatap punggung perempuan yang dia yakini pasti sedang menangis dalam diam. Belum apa-apa, tapi mereka sudah bertengkar seperti ini. Bibirnya mendesah pelan.
Jessi bangkit dan memunguti pakaiannya yang berserakan. Sedikitpun dia tidak menatap Theo. Bahkan dia mengabaikan rasa malunya karena tidak memakai sehelai benangpun.
Jessi masuk ke dalam kamar mandi, lalu mengguyur seluruh tubuhnya dari kepala sampai ujung kaki. Dia menangis dalam guyuran air yang mengucur deras.
***
Bunyi gemericik air mengalihkan perhatian Theo. Tatapan matanya mengarah pada pintu kamar mandi.
Decit pintu terbuka terdengar beberapa saat kemudian. Theo yang masih setia memandang arah kamar mandi, berbanding terbalik dengan Jessi yang enggan menatapnya dan memilih untuk menunduk.
Perempuan itu berjalan lurus meninggalkan kamar tidurnya. Dia merebahkan tubuhnya pada sofa dan berfokus menatap langit-langit apartemen Theo.
Tubuh yang segar semakin membuatnya mengantuk. Matanya terpejam seiring dengan gelap yang semakin mencekam.
***
Sementara di dalam kamar, Theo berguling-guling tidak tenang. Istrinya merajuk dan menangis, bahkan memilih untuk tidur di sofa daripada bersamanya.
Lelaki itu mendesah pelan. Dia harus mengalah dan membicarakan kesalapahaman ini dengan baik-baik jika tidak ingin semakin berlarut-larut. Dia akan menyusul istrinya ke depan.
Dipandanginya tubuh mungil dalam balutan kaos yang kebesaran. Rambut yang masih basah dia biarkan begitu saja.
Maafkan aku