
Happy Reading ❤️
Kenapa aku bertemu dengan Garaa dan tunangannya disini? Ini bukan seperti yang aku harapkan. Aku sudah punya Theo, aku tidak boleh bersedih lagi!
Jessi menengadahkan kepalanya keatas agar air mata yang sudah berada diujung tidak jatuh menetes di pipinya.
Mohon perhatian, pintu teater satu telah dibuka. Bagi Anda yang telah memiliki karcis dipersilahkan untuk memasuki ruangan teater satu.
Suara indah nan merdu milik mbak-mbak pemberitahuan terdengar di telinga Jessi. Jessi melangkah ikut mengantri bersama beberapa orang yang hendak masuk bioskop.
Jessi memilih tempat duduk di bangku tengah. Dia enggan memilih bangku depan karena terlalu mendongak waktu menonton dan tidak memilih bangku belakang karena takut matanya ternodai oleh tingkah para muda-mudi yang bermesraan. Bilang saja kau iri tidak bisa bermesraan juga!
Hampir dua jam Jessi menghabiskan waktunya untuk menonton film. Belum sekalipun Theo menghubungi hari ini, sedikit rasa gusar bersarang di hati Jessi.
Sementara di bangku belakang Garaa sama sekali tidak bisa fokus menonton film. Arah matanya memandang kearah depan, tetapi bukan ke layar melainkan memandang Jessi yang duduk di bangku tengah. Matanya mengawasi sekecil apapun pergerakan disekitar Jessi.
Anna yang merasa Garaa menjadi aneh sedari tadi ingin mencari tahu sebenarnya ada apa dengan tunangannya ini. Matanya mengikuti arah pandangan mata Garaa dan benar saja dia melihat mantan kekasih Garaa disana, satu-satunya perempuan yang paling tidak ingin ditemuinya.
***
Di sebuah hotel elit di kota X, Theo sedang bersama seseorang yang menghubunginya tadi pagi. Perempuan yang dulu pernah menghabiskan malam dengannya saat dia kalut setelah mengetahui hubungan Jessi dan Garaa.
Theo menatap nanar perempuan yang menunduk di depannya. Meskipun mereka berteman cukup lama tapi hanya sekedar berteman biasa, tidak ada hubungan yang lebih dari itu. Theo menyadari betapa bodohnya dia saat itu sampai mabuk dan berakhir dengan salah satu temannya ini.
"Nin, aku benar-benar tidak bisa. Aku akan menikah dengan kekasihku. Aku juga tidak pernah merasa melakukan itu denganmu, jadi mana mungkin kau hamil anakku," ucap Theo frustasi.
Anin, teman masa kecil Theo yang menghubungi Theo tadi pagi. Berhasil menyita seluruh fokus Theo seharian ini. Dia mengangkat kepalanya seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Theo.
"Malam itu kau mabuk, Theo. Dan kita melakukannya. Kau memaksa ku dan sekarang aku mengandung anakmu," ucap Anin tidak mau kalah.
Theo bingung bukan main, pikirannya mencoba mengingat-ingat kembali kejadian malam itu. Seingatnya dia bangun masih mengenakan pakaian lengkap. Dia ingat betul akan hal itu.
"Sudah berapa bulan? Kau ingin menggugurkannya? Aku benar-benar tidak bisa menikahi mu, Nin. Aku punya calon istri dan kami akan segera menikah."
Tak terasa air mata Anin menetes. Hanya setetes kemudian menjadi deras seakan menjadi pertanda bahwa perasaannya dihancurkan Theo dalam sekejap. Bagaimana mungkin Theo menyuruhnya untuk menggugurkan darah dagingnya sendiri. Itu hal yang paling tidak mungkin akan dia lakukan.
"Kalau kau tidak mau bertanggung jawab, aku yang akan membesarkannya sendiri. Jangan pernah datang ke kehidupan ku lagi! Jangan pernah sekalipun menengok anakmu, darah daging mu sendiri!" balas Anin meneriaki Theo.
Theo mencegah Anin yang akan berlalu pergi dari hadapannya. Sungguh dia tidak tega melihat Anin seperti ini. Tapi tidak ada pilihan lain yang bisa Theo lakukan. Terbersit sebuah ide di benak Theo. Semoga ini jalan terbaik untuk Anin dan anaknya.
Anin diam saja pikirannya masih mencerna ucapan Theo yang memberi sedikit pencerahan baginya. Theo akan membantunya dalam hal finansial, bukan dengan tenaga dan kasih sayangnya. Hatinya gundah gulana.
"Baik! Aku terima tawaranmu! Tapi jangan harap kau bisa mengambil anak ini dariku dimasa depan! Ingat itu!!!"
Theo memijit pelipisnya yang sedikit pusing. Berkali-kali dia merutuki kebodohannya sendiri. Kalau saja malam itu dia tidak memanggil Anin ke apartemennya, tentu hal ini tidak akan pernah terjadi. Di tengah-tengah lamunannya, dia teringat calon istrinya disana.
"Kalau sampai Jessi tahu masalah ini sudah pasti dia akan meninggalkanku. Dia akan kecewa padaku dan aku akan menjadi gila karena ditinggalkan olehnya. Aku harus menutupi masalah ini rapat-rapat dari Jessi! Aku tidak ingin kehilangannya!" batin Theo gigih menginginkan ini semua.
***
Tengah malam Theo kembali ke apartemennya. Sengaja seharian dia mematikan ponsel dan berbohong kalau baterai ponselnya habis. Dia tidak ingin semakin bersalah pada Jessi.
Theo menyalakan kembali daya ponselnya. Mengecek setiap pesan, panggilan, dan email yang masuk ke ponselnya. Segera dia menghubungi Jessi saat itu juga.
Tidak diangkat. Mungkin Jessi sudah tidur malam ini. Theo merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur mencari kenyamanan diri. Tubuhnya sangat lelah sekali hari ini, pikirannya dibuat kacau. Matanya meredup seiring dengan bertambahnya malam. Lama-kelamaan menjadi gelap dan dia tertidur dengan lelapnya.
Keesokan harinya Jessi terbangun dengan tidak elitnya. Tubuhnya terjatuh di sisi tempat tidur dengan bokongnya mendarat duluan dilantai. Alam bawah sadarnya bermimpi sedang menaiki kuda dan dihempaskan kuda dengan kencangnya sampai terjatuh. Terjatuh juga badannya di alam nyata.
Jessi memekik merasakan sakitnya terjatuh. Segera dia bangkit dan memeriksa ponselnya sebentar. Ada panggilan tak terjawab dan beberapa pesan permintaan maaf dari kekasihnya. Jessi mengulum senyum tertahan. Dia harus bergegas mandi dan bersiap-siap karena Theo akan menjemputnya hari ini.
Hari ini Jessi memakai rok selutut dan blus pendek. Tangannya mengoleskan make-up natural dan minimalis, terlihat cocok diwajahnya yang kalem. Bibirnya bersenandung kecil saat menunggu kedatangan Theo.
Mobil Theo terlihat menepi di halaman rumah Jessi. Sebelum keluar Theo memantapkan hatinya dan berusaha bersikap semua baik-baik saja agar Jessi tidak berpikiran macam-macam padanya.
Dia keluar dan melihat Jessi menyambutnya dengan senyum mengembang di bibir. Theo semakin merasa bersalah karena sudah bertindak bodoh dan membohongi Jessi seperti ini. Di paksanya bibirnya tersenyum juga.
Jessi yang melihat kedatangan Theo segera menghamburkan dirinya kepelukan Theo. Menghirup dalam-dalam harum aroma kekasihnya yang sangat dirindukannya.
"Merindukanku?" ucap Theo sambil menyelipkan beberapa helai rambut Jessi ke belakang telinga.
"Sangat! Kau tidak merindukanku?" ucap Jessi dengan manjanya.
"Tidak mungkin aku tidak merindukanmu, calon istriku!"
Theo mengecup singkat bibir Jessi yang membuatnya kecanduan. Mereka terkekeh bersama, lalu masuk kedalam mobil. Beberapa tetangga rumah Jessi memalingkan wajah menahan malu melihat kedua sejoli yang kasmaran itu.