
Happy Reading 💜
Theo tidak patah semangat sedikitpun, meskipun Jessi sama sekali tidak mau membuka pintunya, dia masih tetap menggedor-gedor pintu kamar tersebut.
"Jessi ... Sayang, buka pintunya. Ada yang harus kita bicarakan, keluarlah, Jess." Theo merasa pegal juga lama-lama berdiri. Dia terduduk di depan kamar mantan kekasihnya.
Ibu yang melihat keadaan Theo seperti itu merasa kasihan padanya. Dia sangat bangga melihat kegigihan Theo dalam meyakinkan kembali putrinya.
Ibu berjalan pelan mendekati Theo, lengannya mengusap punggung tegap milik calon menantunya tersebut, "Nak, duduklah di kursi dahulu. Biar Ibu yang membujuk Jessi, ya."
Setelah mendapat persetujuan Theo, Ibu mengetuk pintu tersebut dengan pelan, "Jess, Ayahmu sudah menunggu di meja makan. Keluarlah, ayo makan dulu."
Tak sampai lima menit pintu kamar Jessi terbuka juga. Dia melangkah menuju meja makan yang ternyata dalam keadaan kosong melompong. Hanya ada Ibu disana. Ibu mengelus-elus dengan sayang rambut putri kecilnya tersebut.
"Lihatlah laki-laki itu, Jess. Dia yang menyayangimu sepenuh hati, berusaha menjelaskan semuanya padamu. Apa kau tidak ingin mendengar penjelasannya terlebih dahulu?"
"Bu, aku tidak suka Ibu seperti ini. Untuk apa lagi aku mendengar penjelasannya. Semua sudah jelas di mataku. Aku tidak mau berhubungan lagi dengannya. Tolong mengerti keputusanku, Bu."
Jessi hendak berlalu pergi kembali ke kamarnya lagi, tapi kali ini Ibu menahannya. Matanya yang menua menatap anak semata wayangnya penuh harap.
"Kau tidak kasihan padanya? Setidaknya dengarkan dulu penjelasan Theo. Setelah itu kau mau meninggalkannya, atau kembali padanya, Ibu akan mendukung apapun keputusanmu. Ibu tidak ingin kau menyesal dikemudian hari."
"Iya-iya, aku akan mendengarkan penjelasan Theo seperti keinginan Ibu," ucap Jessi sedikit tidak ikhlas. Dia melangkah menemui Theo di ruang tamu.
***
Theo tersenyum lebar saat melihat Jessi menghampirinya. Meskipun raut wajahnya tidak bersahabat, tapi setidaknya dia mau mendengar untuk saat ini. Itu saja sudah cukup baginya.
"Jangan kepedean, ya! Aku melakukannya karena Ibu yang memaksaku. Bukan karena keinginanku sendiri," ucapnya seraya mendudukkan dirinya didepan Theo.
"Tidak apa-apa, Jess. Aku menghargainya. Terimakasih, ya, sudah mau mencoba mendengarkanku." Theo tersenyum tulus dari hati. Jessi diam saja tidak menanggapi ucapan terimakasih darinya.
Theo mengeluarkan tumpukan foto yang dia simpan dalam sebuah amplop. Menaruhnya berjejer rapi diatas meja agar Jessi gampang menelitinya satu persatu.
"Jess, semua ini sudah direncanakan Anin dengan matang. Dia menghabiskan malam dengan berbagai lelaki di Club milik Brian dan berakhir di kamar hotel XX. Aku menyuruh orang untuk menyelidikinya, bahkan Brian juga mengatakan hal sama tentang Anin."
"Dan ini adalah foto saat Anin memasuki hotel malam itu. Aku sudah sangat mabuk saat dia datang. Dan yang ini, foto dia meninggalkan hotel hanya berselang sepuluh menit dari waktu kedatangannya. Perhatikan jam di bagian bawah ini," tunjuk Theo dengan serius.
Jessi menatap satu persatu foto dengan wajah yang ogah-ogahan. Malas sekali berurusan dengan hal yang ribet seperti ini. "Memang hanya sepuluh menit kalian didalam sana berduaan. Tapi kan tidak ada yang tahu, bisa jadi dalam sepuluh menit tersebut kalian sudah melakukan itu. Benar kan hipotesaku?" Nada bicaranya tegas seolah tidak mau kalah.
"Jessi ... Ya Tuhan, aku sudah jujur padamu. Kenapa sulit sekali untukmu percaya. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Theo hampir putus asa.
"Kau sudah tidak mencintaiku lagi? Jawab pertanyaanku!" Theo gusar sendiri jadinya.
"Pulanglah. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Tidak ada gunanya lagi semua hal yang kau jelaskan padaku. Aku tidak mau berurusan lagi denganmu, ataupun dengan Anin." Jessi menatap mata lelaki dihadapannya dengan tegas. Dia seperti mati rasa saat berhadapan dengan Theo.
"Bagaimana bisa kau berkata tidak mau berurusan lagi denganku? Kita akan menikah, apa kau lupa? Sadarkan kepalamu!" Theo menggoyang-goyangkan pundak Jessi. Siapa tahu ada yang bermasalah dengan otak Jessi hari ini.
Jessi menghela nafas dalam-dalam. Tidak ada gunanya berdebat dengan lelaki yang masih sedikit dicintainya ini. Bukan tidak mau berbaikan, hanya saja dia takut tersakiti lagi. Sudah bosan rasanya dikecewakan terus-menerus.
***
Garaa dan Anna tidak lama lagi akan menikah. Berbagai persiapan pesta tengah dipersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya. Pesta akan digelar di hotel berbintang lima milik keluarga Anna. Maklum saja karena pernikahan mereka adalah pernikahan untuk mempererat hubungan perusahaan satu sama lain. Untuk menguntungkan masing-masing pihak. Simbiosis mutualisme istilahnya.
"Garaa, kau lebih suka yang mana makanan western, atau makanan Indonesia?" tanya Anin sambil membolak-balikkan halaman katalog menu untuk hidangan pernikahan mereka.
Garaa tidak mendengarkan sedikitpun pertanyaan Anna. Pikirannya melayang karena penasaran ada apa di hubungan Theo dan mantan kekasihnya. Setan dalam dirinya berkata untuk mencari tahu dan mengganggu hubungan mereka. Sedangkan yang lain menahan rasa penasarannya dan memilih fokus menata masa depan bersama Anna.
"Garaa ... Kau tidak mendengarku? Apa yang sedang kau pikirkan?" ketus Anna. Bibirnya mengerucut sebal.
"Tidak ada. Maaf, Ann. Jangan cemberut begitu." Tangan Garaa mengelus rambut Anna dengan senyum yang dipaksakan. Tak butuh waktu lama Anna sudah kembali ceria dengan semangatnya yang menggebu-gebu.
***
Jessi menelungkupkan wajahnya pada bantal buluk kesayangannya. Bau tidak sedap tercium dari sana. Maklum saja karena bantal tersebut adalah bantal yang pernah menampung liur yang keluar saat dirinya tertidur.
"Apa benar aku sudah tidak mencintai Theo lagi? Kenapa rasanya seperti ini. Aku tidak lagi merasakan debaran apapun saat di dekatnya. Hanya perasaan kesal dan amarah yang tersisa untuknya. Oh, Tuhan, tolonglah aku ...."
Hampir saja mata indah Jessi terlelap saat getaran ponselnya menginterupsi. Terpampang nama Ibu Theo disana. Ingin rasanya mengabaikan, tapi perasaan tidak enak berkelebat didalam hati.
"Halo, Ibu. Ada apa, ya, Bu?"
"Bertemu? Sekarang?"
"Maaf, mungkin lain kali, Bu. Jessi sedang beristirahat sekarang."
"Tidak, Bu. Jessi sehat-sehat saja kok. Dah, Ibu."
"Maaf, Bu. Jessi akan menjaga jarak dari Ibu dan Theo. Mungkin selamanya akan seperti ini."