
Happy Reading 💜
Langkah Jessi yang seharusnya berjalan lurus memasuki rumah keluarga Theo berhenti seketika saat matanya yang indah melihat Anin berada disisi Ibu Theo menunggu kedatangannya dan Theo. Mereka berdiri berdampingan seolah sedang menyiapkan kejutan untuknya. Theo yang sudah menduga akan hal ini hanya mampu menggenggam erat tangan Jessi. Berharap agar Jessi 'tak pergi meninggalkan dirinya.
Ibu Theo tersenyum tulus seperti biasanya, tapi ada yang sedikit berbeda dari senyumnya malam ini. Seperti ada yang dia risaukan. Sementara Anin menatapnya sambil tersenyum menyeringai. Jessi semakin takut menghadapi apa yang akan terjadi didalam nantinya.
"Kejutan apalagi yang engkau siapkan untukku, Tuhan? Apa aku akan mampu melaluinya?" batin Jessi menciut seketika.
Ibu Theo merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, "Kemarilah, Nak. Ibu sangat merindukan kalian."
Jessi dan Theo saling memeluk dengan Ibu. Sementara Anin hanya mengangguk pada mereka berdua. Jessi tidak memperdulikannya, terserah dia toh itu bukan urusan Jessi jika Anin tidak mau menyambut dirinya. Ibu Theo merangkul Jessi, lalu membawanya memasuki rumah menuju meja makan yang besarnya bahkan berkali-kali lipat dari meja makan dirumahnya.
Mereka duduk berhadap-hadapan, lalu memulai makan malam dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada suara yang terdengar kecuali denting sendok dan piring yang saling beradu. Sungguh suasana yang sangat membuat para manusia di dalamnya merasa tidak nyaman.
Selesai makan malam mereka semua beranjak menuju ruang keluarga, keheningan semakin terasa mengikuti kemanapun mereka pergi. Jessi merasa tidak nyaman, lalu mulai mencaritahu apa yang terjadi dirumah ini, "Bu, kenapa Ada Anin disini? Ibu mengenalnya? Ada apa ini? Kenapa semuanya seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"
Calon Mertuanya menggeleng sejenak, lalu menepuk tempat duduk disampingnya, "Mendekatlah kemari, Jess. Ada yang ingin Ibu sampaikan padamu. Ibu harap kau mengerti, ya."
Jessi berpindah duduk disebelah Ibu Theo. Anin, Ibu Theo, dan Jessi duduk dalam satu kursi panjang yang sama. Ibu Theo terlihat mengambil napas yang panjang sebelum memulai penjelasannya, "Ibu mohon dengarkan apapun yang Ibu katakan, jangan mencela sebelum Ibu selesai berbicara, ya, Sayang. Sebenarnya begini, Anin sedang hamil, kemarin malam dia datang pada Ibu dan berkata kalau bayi yang dia kandung adalah darah daging Theo. Theo sudah tahu tentang itu, tapi dia tidak yakin betul bahwa bayi itu adalah anaknya."
Ucapan Ibu Theo membuat Jessi begitu terkejut. Harusnya Theo sendiri yang berbicara padanya dan bukannya dia mendengarkan hal penting seperti ini dari mulut orang lain.
"Bagaimanapun juga kita tidak bisa membawanya ke dokter dan meminta tes untuk membuktikan kebenarannya sekarang. Kita akan menunggu bayi ini lahir, kemudian membawanya ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA," lanjut Ibu Theo.
Theo memandang wajah Jessi yang sama sekali tidak berekspresi. Tidak terlihat apakah dia sedih, atau marah. Tangannya bergerak mengenggam tangan Jessi yang ternyata sangat dingin, berharap bisa menyalurkan kehangatan pada tangannya.
"Lalu, Ibu ingin Theo juga menikahi Anin, Jess. Kalian berdua kan sama-sama perempuan. Pasti bisa saling mengerti dan memahami. Ibu tidak tega jika bayi Anin lahir tanpa hadirnya seorang Ayah," ucap Ibu Theo tanpa henti berusaha menjelaskan.
Saat Ibu Theo mengangguk, Jessi memulai aksinya berbicara, "Bu, memang benar kami sama-sama perempuan. Tapi, bagaimana bisa dia hamil sedangkan dia belum menikah dengan Theo? Karena pergaulannya yang terlalu bebas kah? Sebagai seorang perempuan harusnya dia bisa menjaga apa yang seharusnya dia jaga dengan benar. Kalau memang saat itu Theo mabuk, Anin sebagai seorang yang sadar disana harusnya bisa menolak dan pergi saja dari tempat itu. Kecuali jika Anin juga menginginkannya. Apa kau juga menginginkannya saat itu?" tunjuk Jessi pada Anin yang menunduk dalam.
Saat Jessi tidak mendapatkan jawaban apapun dari Anin, dia bergerak bangkit dan menjambak rambut perempuan yang sedang dalam tahap berebut calon suami dengannya sampai dia mendongak menatapnya, "Jawab pertanyaanku, jalangg!"
Anin meringis kesakitan saat rambut panjangnya ditarik paksa. Air matanya menyeruak dengan derasnya, "Kami melakukannya begitu saja. Maafkan aku, Jess."
Theo bergerak sigap memisahkan perkelahian Jessi dan Anin. Jessi kini berada dalam rengkuhannya. Kekasihnya saat ini sedang meluapkan kemarahannya, "Aku akan menjelaskan semua padamu, Sayang. Tapi tolong jangan seperti ini. Kendalikan amarahmu."
***
Jessi menangis sejadi-jadinya setelahnya. Bayangan dirinya yang akan menikah dan hidup berbahagia bersama Theo sirna sudah. Yang ada kini tinggal kenangan saja. Jessi melangkah keluar, kakinya sedikit berlari meninggalkan rumah mewah keluarga Theo.
Theo ikut bermain lari-larian mengejar Jessi yang hatinya diliputi rasa kecewa. Bahkan, Theo, sang tersangka hatinya hancur remuk redam melihat kekasihnya sendiri menangis pilu karenanya, "Jes ... Sayang, tunggu sebentar. Jessi ...."
Jessi berhenti sebentar, lalu berbalik arah menoleh pada Theo yang mengejar, "Jadi ini maksud janjimu? Aku tidak menyangka kau akan mengkhianatiku seperti ini, Theo. Aku ingin sendiri dulu."
"Aku bisa menjelaskannya, Jess. Kumohon sebentar saja, dengarkan penjelasanku," pinta Theo dengan memohon.
"Pergilah! Aku membencimu, Theodore!" pungkas Jessi malam ini.
***
Jessi memilih menaiki taksi menuju rumah. Lebih baik orang tuanya tidak mengetahui dulu soal permasalahan ini. Bisa-bisa mereka menentang dengan keras apapun yang diinginkan perempuan mungil itu.
"Jess ... Apa ada yang sedang memenuhi otakmu?