
Happy Reading 💜
"Ada apa sebenarnya? Apa yang tidak aku ketahui soal mereka?" batin Jessi bertanya-tanya.
Sore hari yang cerah dengan berbagai kesibukan setiap orang yang telah selesai mencari nafkah. Jalan raya dan berbagai angkutan umum penuh sesak dengan mereka yang akan pulang menuju rumah. Seperti angkutan umum yang sedang dinaiki Jessi saat ini, Bus terasa penuh sesak dengan para pegawai didalamnya. Matanya yang awalnya mengantuk seolah menghilang lenyap begitu saja. Digantikan dengan mata yang berkaca-kaca dan raut wajah cemas yang kentara sekali. Pergolakan batin sedang dia rasakan saat ini.
Dipandanginya lagi foto kekasihnya dan perempuan itu. Mereka keluar dari hotel yang sama. Bisa jadi ini foto yang diambil sewaktu dulu mereka berteman, dia harus bisa berpikiran positif. Kekasihnya orang yang baik, dia tidak mungkin berkhianat. Senyum terpaksa terulas dari bibirnya yang mungil.
Sesampainya dirumah Jessi begitu terkejut saat melihat Ayahnya berada dirumah. Ayahnya yang sibuk bekerja merantau ke kota seberang dan tidak tentu kapan dia akan pulang. Bisa satu bulan sekali, atau bahkan berbulan-bulan tidak pulang juga. Jessi memeluk Ayahnya yang sangat dia rindukan. Meskipun dia sudah dewasa tapi bagi seorang Ayah pasti anaknya akan terlihat seperti bayi kecil dimatanya.
"Kau pulang bekerja? Mana kekasihmu? Dia tidak mengantarmu? Ayah sangat ingin menemuinya," cerca sang Ayah sambil mengelus sayang rambut anak perempuannya.
"Theo sedang sibuk, Ayah. Dia tidak bisa mengantarku. Kenapa Ayah ingin menemuinya? Ayah tidak setuju aku akan menikah dengan Theo?" bibir Jessi mengerucut sebal saat ini.
"Kau sering menginap ditempatnya? Siapa yang mengajarimu menginap ditempat lelaki asing? Kau perempuan, ingat itu!" Ayahnya memulai proses menginterogasi dadakan pada Jessi.
"Tidak! Mana mungkin aku menginap disana, Yah," Jessi nyengir menampakkan deretan giginya untuk menutupi dirinya yang tertangkap basah pernah menginap ditempat Theo. Bukan pernah lagi, tapi sudah sering sekali.
"Kalau kau tidak menyuruh dia kesini, Ayah yang akan mendatanginya sendiri."
Jessi dan Ayahnya mempunyai sifat yang sama. Sama-sama egois, sama-sama tidak mau mengalah, dan sama-sama keinginannya harus terpenuhi bagaimanapun caranya. Jessi menyetujui kalau dia akan menghubungi Theo dan menyuruhnya kesini setelah dia kalah debat dengan Ayahnya yang tidak mau mengalah itu. Dia memasuki kamarnya yang nyaman dan menerawang kembali foto yang masih berkelebat dalam pikirannya.
Jessi mengirim pesan singkat pada Theo untuk menyuruhnya datang ke rumah karena Ayahnya yang ingin bertemu. Mungkin sang Ayah akan mengadakan sesi tanya-jawab antara seorang ayah dengan lelaki yang akan meminang anaknya. Jessi sedikit was-was takut kalau sampai sang Ayah tidak memberi restu pada hubungannya dan Theo. Jessi segera bergegas mandi dan berdandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan Theo.
***
Sore temaram berganti menjadi gelap gulita di beberapa tempat. Sisanya diterangi lampu penerangan yang tidak semuanya menyala disepanjang jalan. Beberapa ada yang sudah rusak dan tidak mampu menyala lagi. Theo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia sedikit grogi akan menghadapi satu-satunya lelaki di keluarga Jessi. Dia berdoa dalam hati semoga semuanya berjalan dengan lancar.
Sesampainya dirumah, Jessi sudah menunggunya di teras depan. Kekasihnya yang cantik dan anggun dengan dress bunga-bunga kecil sedang menunggu dirinya dengan senyum mengembang. Theo sedikit berlari kecil menghampiri Jessi disana. Tubuhnya reflek memeluk Jessi dan merasakan kehangatan dalam hubungan mereka. Jessi tidak mau berlama-lama berpelukan, takut sang Ayah akan memergoki mereka.
Theo menyalami Ayah dan Ibu Jessi yang sudah menunggunya diruang tamu. Jessi memperkenalkan Theo pada Ayahnya yang sedari tadi menatap tajam tangannya yang masih melingkar dilengan Theo. Jessi duduk bersebelahan dengan Theo dan kedua orang tua Jessi duduk di kursi depan mereka.
"Theo, bukankah kau seorang bos di perusahaan tempat Jessi bekerja? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Jessi jika ada yang berkata dia berhubungan denganmu semata-mata karena uang?" Ayah Jessi memulai sesi tanya-jawab secara tiba-tiba. Dia tidak membiarkan Theo meminum minuman yang sudah disediakan disana.
Tubuh Theo duduk tegap seperti sedang menghadap Komandan Perang. Dengan tegas dan tanpa keraguan dia berkata, "Saya memang bos di perusahaan tempat Jessi bekerja. Saya tidak memperdulikan perkataan orang lain yang tidak benar. Jessi mencintai saya karena diri saya sendiri dan bukan karena uang yang saya miliki."
Ayah Jessi manggut-manggut mendengar jawaban Theo, sepertinya dia cukup puas. Lalu dia bertanya lagi, "Lalu bagaimana kalau ternyata Jessi memang benar adanya mencintaimu karena uangmu semata?"
"Uang saya adalah uang Jessi juga, Ayah. Jika saya sudah menikah dengannya saya akan mempercayakan semua uang saya pada Jessi. Bahkan jika dia ingin memegang semuanya dan hanya memberi saya uang saku perhari saya tidak akan keberatan," Jessi yang mendengar jawaban Theo mendadak speechless.
Pertanyaan kali ini diluar dugaan Theo. Jessi dan Theo saling berpandangan sekian detik sebelum dia menjawab pertanyaan. "Maaf saya tidak meminta ijin dari Ayah, tapi sebelumnya saya selalu meminta ijin pada Ibu jika Jessi menginap ditempat saya. Lagipula saya dan Jessi tidak melakukan apapun, Yah. Kami hanya tidur bersama dan tidak lebih."
Jessi sedikit terkekeh saat Theo bilang mereka tidak melakukan apapun, jelas sekali Theo menutup-nutupi kebenarannya. Jessi melihat Ayahnya tersenyum tipis disamping Ibu yang juga sedang tersenyum jail menatap Jessi.
"Kau tahu, putriku tidak bisa melakukan kegiatan rumah dengan benar. Dia tidak bisa memasak, kalau memasak selalu saja gosong. Dia juga tidak bisa mencuci pakaiannya sendiri. Kau masih mau menikah dengan putriku?" pertanyaan Ayah Jessi sudah tidak sekaku tadi.
Theo tersenyum simpul sambil menggenggam erat jemari Jessi ditangannya. "Tentu saja saya mau menikah dengan putri Ayah. Saya menikahinya bukan untuk saya jadikan tukang masak dan tukang cuci di rumah kami nantinya. Saya menikahinya untuk saya jadikan pendamping hidup saya. Tolong restui kami, Ayah."
Senyum Ayah Jessi terulas dibibirnya yang menghitam. Keriput wajahnya semakin terlihat saat dia tersenyum. "Jangan pernah mengecewakan putriku, dia satu-satunya putri kecil yang kumiliki. Aku tidak ingin melihatnya menangis dikemudian hari karena ulahmu. Kau bisa menjamin itu?"
Theo menjabat tangan Ayah kekasihnya dengan hormat, seperti seorang yang sedang bersumpah dia berkata, " Saya tidak akan membuat putri Ayah menangis. Saya akan selalu membahagiakannya. Saya akan mencintainya sepenuh hati. Terimakasih atas restunya, Ayah."
Setelah puas mendengar jawaban yang diinginkan, kedua orang tua Jessi berpindah memasuki kamar dan membiarkan Jessi bersama dengan Theo diruang tamu. Senyum Jessi dan Theo belum juga menghilang. Mereka berpandangan mesra dalam diam. Jessi mengambil ponselnya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Dia ingin menunjukan foto Theo dan perempuan yang pernah dia takutkan akan merebut Theo.
Jessi menyodorkan ponselnya yang menampakkan foto Theo dan Anin disana, "Lihatlah, ada yang mengirimiku kemarin sore. Aku harus bagaimana menyikapinya?"
Seketika jantung Theo seakan copot saat itu juga. Bagaimana bisa Jessi melihat fotonya bersama Anin keluar dari hotel waktu itu. Lidahnya seperti keluh tidak bisa berucap tapi tetap dipaksakan. Dia harus meyakinkan Jessi sebelum dia berpikiran macam-macam, "Kau mengira aku dan Anin menginap di hotel berdua? Ini foto yang diambil waktu dulu kami berkumpul bersama teman-teman kami, Jess. Percayalah, aku tidak mungkin mengkhianatimu."
Jessi meneliti mimik wajah Theo. Siapa tahu Theo sedang berbohong padanya. Hati kecilnya berkata Theo tidak mungkin berbohong dan dia percaya penuh pada kekasihnya ini, "Aku percaya padamu, Theo. Kau orang baik, kau tidak mungkin mengkhianatiku. Aku mencintaimu."
Theo bersyukur sekali Jessi masih percaya padanya. Meskipun dia berbohong tapi dia jujur kalau dia tidak akan mengkhianati Jessi, perempuan yang sangat dicintainya tersebut, "Aku juga mencintaimu, Sayang."
***
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, waktunya Theo pamit undur diri dari rumah Jessi. Ada rasa tidak rela dia menghabiskan malamnya kali ini sendirian, tanpa Jessi yang menemani. Alis Theo bergerak naik turun menggoda kekasihnya, "Jess, aku tidak bisa tidur sendirian. Kau tidak mengajakku menginap dikamarmu?"
Tangan Jessi bergerak dengan sendirinya memukul lengan kekasihnya ini, "Pelankan suaramu, kau mau Ayahku mendengar ucapanmu itu? Lalu dia tidak jadi memberikan restu pada kita."
"Aku hanya bercanda, Sayang. Bisa gila kalau sampai aku tidak mendapat restu dari Ayahmu," ucap Theo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Setelah berpamitan pada Jessi dan keluarganya, Theo bergerak melajukan mobilnya kembali ke apartemen. Dia butuh istirahat mengingat rapat yang tadi sore dia ikuti sangat menyita konsentrasi dan fokusnya. Terjadi kemelut didalam jajaran direksi pemegang saham disana. Ada satu pemegang saham yang ingin menggelapkan uang perusahaannya.
Setibanya di apartemen Theo dibuat terkejut saat melihat Anin berada di depan pintu kamarnya. Apalagi yang diinginkan perempuan ini, Theo berdecak malas dan sangat tidak ingin bertemu Anin lagi yang tentunya akan membawa hal buruk pada hubungan dia dan Jessi.
"Anin, apa yang kau lakukan didepan kamarku?"