
Happy Reading 💜
"Jangan berbicara padaku lagi! Kecuali soal urusan pekerjaan. Aku muak denganmu!"
Theo begitu terkejut saat mendengar ucapan Jessi. Matanya menatap tidak percaya pada apa yang kekasihnya ini katakan. Dia berkata muak padaku. Theo seperti tertusuk ribuan jarum jahit di sekujur tubuhnya. Sakit sekali saat kekasihmu sendiri tidak menginginkanmu lagi.
Pintu rumah Jessi terbuka dengan lebar memperlihatkan sang Ibu yang sekarang sedang menuju tempat dirinya berdiri. Apa Ibu mendengar pembicaraanku dan Theo? Mati aku! Susah-susah aku menyembunyikannya dari semalam.
Ibu menatap Jessi dan Theo bergantian meminta penjelasan. Matanya yang teduh menuntut jawaban yang pasti, "Apa maksud semua ini, Jess. Kenapa kau bertingkah menyebalkan pada calon suamimu? Tidak baik, Nak."
Jessi memutar bola matanya malas. Kalau saja Ibu tahu kebusukan Theo, sudah pasti dia akan bertindak lebih parah darinya saat ini, "Ibu tanya saja pada mantan calon menantu Ibu ini. Aku berangkat dulu." Jessi berlari menuju mobil Brian dan Rin yang sudah menunggunya.
Kening keriput Ibu Jessi mengkerut, "Mantan calon menantu? Nak Theo, apa maksudnya perkataan Jessi? Kalian tidak berhubungan lagi?"
Theo bingung sendiri harus bagaimana. Berbohong salah, jujur bisa kena marah. Tangannya mengusap tengkuk leher yang tidak gatal, "Bu, maaf. Tapi apa kita bisa berbicara di dalam saja? Tidak enak dengan tetangga yang melihat."
"Baiklah." Ibu Jessi melangkah dengan diikuti Theo dibelakangnya.
***
Keheningan diantara mereka datang menyergap begitu saja. Diamnya mereka berdua membuat rumah seperti tidak berpenghuni. Belum ada seorang pun yang memulai berbicara. Setelah menghela nafas berat, Theo berdehem melancarkan tenggorokan yang seperti ada kodoknya.
"Begini, Bu. Terjadi kemelut didalam hubungan kami. Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Ibu dan keluarga. Jadi begini ceritanya ...." Theo menceritakan kembali apa yang sudah terjadi sebenarnya. Tidak menambahi, ataupun mengurangi sedikitpun.
Wajah Ibu Jessi yang sudah keriput menua mengikuti umurnya yang sudah tidak muda lagi semakin terlihat menyesakkan mata. Bibirnya menutup rapat, meskipun sesekali ia terkaget juga. Airmata yang tersimpan rapi dalam-dalam, menyeruak begitu saja dengan derasnya. Semakin menyesakkan dada bagi orang yang melihat.
Theo menggenggam lembut tangan keriput tersebut, mengusap-usap berusaha menenangkan. Dia tahu betul pasti hati Ibunya juga sama terlukanya dengan Jessi saat ini. Dia mengiba, memohon belas kasih, "Theo minta maaf, Bu. Theo tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskan duduk permasalahan ini kepada Jessi. Sedikitpun dia tidak mendengarkan penjelasan Theo, Bu. Lalu, dia berkata ingin sendiri dulu. Apa itu maksudnya hubungan kami berakhir, Bu?" isaknya mengiringi duka hatinya saat ini. Theo menaruh harap pada calon mertuanya ini untuk bisa sedikit membujuk Jessi.
Ibu Jessi membelai lembut tangan lelaki yang sedang kalut ini. Sesekali tangis sesenggukan darinya menjadi irama yang mengiringi. Nafasnya berhembus dengan pelan, lalu dia berkata, "Ibu tidak tahu harus percaya padamu, atau tidak, Nak. Ibu mana yang tega melihat perasaan anaknya hancur seperti ini. Rencana pernikahan kalian hancur dalam sekejap karena ketidakjujuranmu. Ibu juga kecewa, sama seperti Jessi. Tapi, Ibu akan memaafkanmu."
***
Jessi, Rin, dan Brian berada dalam mobil dalam perjalanan menuju kantor. Jessi duduk sendirian di bangku tengah, sementara Rin menemani Brian di bangku depan. Sesekali, Rin akan meliriknya penasaran.
"Jess, apa terjadi sesuatu? Emm ... maksudku dalam hubunganmu dan Theo? Kau sedang bertengkar dengannya?" tanya Rin beruntun.
Brian terkekeh geli mendengar pertanyaan istri cantiknya, "Sayang, satu-satu dong pertanyaannya. Jangan menyerocos seperti itu."
"Iya, Sayang," Rin menunduk malu bersama dengan pipi yang bersemu merah. Romansa pengantin baru membuat siapapun yang melihat jadi iri dibuatnya. Tangan Brian mengacak sayang rambut Rin.
"Hey, kalian pengantin baru! Jangan bermesraan terus di depanku dong, aku jones, nih!" bibirnya mengembung kesal. Jessi merasa seperti jadi obat nyamuk diantara Rin dan Brian.
Jessi sebenarnya malas untuk bercerita lagi, yang ada hanya mengulang kembali rasa sakit hatinya, "Ceritanya panjang, Rin. Kau yakin mau mendengarkan semua ceritaku?"
"Kenapa tidak? Aku akan selalu bersamamu, ceritakan saja apapun itu. Aku siap mendengarkan. Kita 'kan teman dekat sekali, haha," tawa renyah Rin membuat Jessi ikut tersenyum senang.
Setelah menarik nafas dalam-dalam Jessi mulai bercerita lagi pada Rin. Pengantin baru itu sama sekali tidak mencelanya, dia hanya diam mendengarkan. Sama hal dengan sang pengantin pria yang juga sama diamnya, sibuk mengemudi dan sesekali mendengarkan juga curahan hati teman istrinya tersebut.
Rin merasa ada yang aneh didalam hubungan Anin dan Theo, dia sedikit ragu akan kebenaran soal kehamilan Anin, "Kau tidak merasa aneh? Seperti ada yang mengganjal didalam ceritamu tadi, Jess. Bagaimana bisa mereka melakukan itu dalam keadaan Theo tidak sadar tanpa membuka pakaian dan sepatunya? Menurutku itu hal yang ganjil, Jess."
"Sebentar, Jess. Apa kau punya foto Anin? Aku sedikit familiar dengan namanya. Siapa tahu aku bisa membantu menyelamatkan hubunganmu dan Theo," ucap Brian dengan serius.
Jessi mengingat kembali apakah dia punya foto Anin, atau tidak didalam ponselnya. Satu foto berhasil dia temukan. Jessi menunjukkan pada Brian bagaimana wajah Anin sewaktu dengan Theo keluar dari hotel elit dulu.
Kening Brian menajam sambil sesekali matanya menatap pada layar ponsel Jessi, "Aku mengenal perempuan ini, bukankah dia orang yang sering datang di clubku?"