Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Bermalam di Rumah Singgah



Happy Reading 💜


Aku sabar, Tuhan! Terimakasih ujiannya!


Sepanjang malam menuju fajar Jessi tidak bisa memejamkan matanya lagi. Pikirannya masih menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Mengapa Anin meminta Theo mengantarnya ke dokter kandungan. Apa Anin sedang mengandung bayi Theo? Tidak-tidak! Itu tidak mungkin terjadi!


Jessi melangkah menjauhi tempat tidur, meninggalkan Theo yang masih berlayar di alam mimpi dengan nyenyak. Kaki mungilnya berjalan sampai ke teras rumah singgah. Sunyi senyap disana. Hanya suara jangkrik dan burung-burung kecil yang terdengar. Matanya memandang beberapa tenda yang berdiri tegak di sekitar bukit. Terlihat di tenda paling ujung sedikit bergoyang-goyang. Mungkin sang pemilik tenda sedang berolahraga dimalam hari.


Setelah bosan memandangi keadaan sekitar bukit, Jessi kembali memasuki rumah singgah. Sungguh dia sangat terkejut saat mendapati Theo tengah menatapnya di dekat pintu. Atensinya berfokus pada Jessi, lalu beralih pada keheningan yang sangat terasa. Tangannya mengambil alih lengan Theo, lalu membawanya memasuki rumah bersama-sama. Theo sedikit merasa Jessi menjadi pendiam.


"Apa ada masalah, Jess? Kenapa diam saja sedari tadi?" tanya Theo sedikit khawatir.


"Tidak ada. Aku hanya ingin menikmati keheningan malam saja. Tidurlah, aku akan menyusulmu."


Theo meninggalkan Jessi di ruang tamu setelah dia merasa yakin kalau Jessi baik-baik saja. Langkahnya menuju ke tempat tidur, dia sangat mengantuk sekali malam ini. Tangannya bergerak mencari ponsel di sela-sela bantal, dan hatinya tercubit saat dia melihat ada sebuah pesan dari Anin dalam keadaan terbuka. Sudah jelas Jessi yang membukanya. Pantas saja dia menjadi aneh dan menjadi pendiam.


"Sayang, kemarilah!" teriak Theo dari dalam kamar. Dia tidak boleh gugup dan membuat Jessi menjadi curiga padanya.


Jessi menuruti panggilan Theo dan bergegas menyusulnya. Bibir mungilnya sedikit tersenyum terpaksa. Theo memandangnya dalam diam, mengamati mimik wajahnya.


"Tolong jangan salah paham soal pesan dari Anin. Aku tidak ada apa-apa dengannya. Kami hanya berteman biasa, Jess," ucap Theo sambil menghentikan langkah kaki Jessi.


"Aku mengantuk. Aku tidak ingin membicarakan apapun, Theo."


Jessi menaiki tempat tidur dan memilih membelakangi Theo. Membiarkan Theo bergulat dengan pikirannya sendiri. Dia hanya ingin tidur malam ini, tidak ingin memikirkan soal apapun lagi yang jelas akan membebaninya.


***


Dilain tempat, Rin sudah bersiap-siap untuk di dandani oleh penata rias pernikahannya. Hari ini adalah hari besarnya dan Brian. Mereka memutuskan menikah tanpa melalui proses pacaran terlebih dahulu. Hanya merasa kalau mereka sudah saling cocok satu sama lain. Berpacarannya nanti saja setelah halal, begitu katanya.


Pagi ini akan diadakan acara Ijab Kabul terlebih dahulu, kemudian resepsi dimalam harinya. Rin memilih menikah secara sederhana dan tidak berlebihan. Mereka hanya mengundang keluarga dan rekan-rekan di tempat kerja. Pun dengan maharnya Rin tidak meminta mahar yang mahal dan berlebih. Karena yang dia tahu, perempuan yang baik hati adalah yang murah maharnya, yang memudahkan dalam urusan perkawinannya.


***


Jessi terbangun dari tidur saat mendapati jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Lagi-lagi dia terlambat masuk kerja, kalau begini terus-terusan dia bisa dipecat. Matanya memandangi Theo yang masih tertidur lelap padahal hari sudah menuju siang. Sengaja Jessi ingin membangunkan Theo dengan cara memencet hidungnya agar Theo kesulitan bernafas dan akhirnya bisa bangun.


Setelah Jessi memencet hidung Theo, dia malah berganti bernafas melalui mulut. Mulutnya mangap persis seperti mulut ikan. Jessi tertawa kencang melihat Theo begitu. Sekali lagi dia ingin membangunkan Theo. Kali ini dia menaiki tubuh Theo dan menumpukan seluruh berat badannya pada tubuh Theo. Jessi tidak menyadari kalau tindakannya kali ini bukan hanya bisa membangunkan Theo, tapi juga bisa membangunkan Theo Junior dibawah sana.


Sebenarnya Theo sudah terbangun sedari tadi. Dia sengaja pura-pura tertidur dan sedikit bersenang-senang dengan Jessi. Hatinya senang saat mendengar tawa bahagia Jessi yang memekakkan telinga. Theo mengambil bantal lalu menggunakannya untuk menutupi tubuh bagian bawah yang sudah bangun dengan kokohnya. Jessi mengernyit dan saat dia sudah paham apa yang terjadi, dia beralih turun dari tubuh Theo dengan wajah memerah padam. Malu sekali rasanya.


Theo berlari ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang tiba-tiba menjadi panas. Setengah jam dia habiskan dikamar mandi dan keluar dengan penampilan yang segar dan terlihat beberapa tetesan air tertinggal di tubuhnya yang kekar. Jessi tidak berkedip saat melihat Theo. Tampan sekali kekasihnya saat ini.


"Jangan memelukku sekarang, Jess. Aku tidak ingin ada lagi yang terbangun karena ulahmu pagi ini. Please!" Theo menahan tubuh Jessi yang mendekat ingin memeluknya. Bibir Jessi cemberut dengan indahnya. Dia memasuki kamar mandi dengan bibir yang menggerutu sebal pada Theo.


Theo memilih menghubungi Anin saat Jessi berada didalam kamar mandi. Dia ingin menegaskan lagi bentuk tanggung jawabnya pada Anin. Tak berselang lama ponselnya tersambung pada Anin.


"Nin, jangan mengirimiku pesan seperti itu. Kau tahu, hal itu bisa membuatku dan Jessi menjadi bertengkar. Aku hanya bertanggung jawab soal biaya hidupmu dan bayi yang kau kandung. Tidak lebih! Tolong jangan semakin membuatku dan Jessi bertengkar terus-menerus. Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke dokter," ucap Theo tanpa basa-basi.


"Aku mengerti. Maafkan aku, Theo!"


Aku akan semakin berusaha memisahkanmu dan Jessi, Theo! Kau akan menjadi milikku!