
Happy Reading 💜
Pagi hari yang seharusnya indah menjadi kacau karena kehadiran Kevin yang tidak diharapkan. Mulutnya yang lancang berbicara sembarangan membuat amarah sepasang kekasih itu membara dengan sempurna.
Kevin yang menyulut api ketegangan dan Theo yang menyiramnya dengan bensin. Keduanya sedang berhadapan dengan wajah yang menegang.
"Keluar dari apartemenku!" Theo menunjuk kearah pintu.
Sementara Kevin semakin bersemangat untuk mengusik emosi sepupunya. Bukannya keluar sesuai permintaan Theo, dia malah duduk dengan manis di sofa. Bibirnya berkedut sedikit terangkat.
"Aku akan keluar kalau urusanku sudah selesai disini. Jess, duduklah disini ...." Tangannya menepuk paha menyuruh Jessi duduk disana.
Lelaki yang sudah kepalang emosi itu menerjang Kevin yang duduk di sofa. Tangannya mencengkeram kerah baju sepupunya. Dadanya naik turun dengan cepat.
"Aku menahan tanganku untuk menghajarmu karena kau masih kuanggap saudara. Tapi sepertinya kau tidak bisa menjaga sikap dan bicaramu." Ucapnya dengan serius.
"Aku tidak akan sungkan-sungkan lagi untuk memberimu pelajaran sopan santun ...." Tambahnya.
Dihempaskannya tubuh Kevin dengan keras. Theo menoleh kearah kekasihnya yang masih berdiri mematung tidak jauh dari mereka.
"Kembalilah ke kamar. Kunci pintunya. Tunggu aku disana ...." Sepasang kekasih itu saling memandang dan tak lama Jessi mengangguk menuruti perintah kekasihnya.
Perempuan itu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Telinganya menempel pada pintu, dia bermaksud untuk menguping apa yang terjadi di depan sana.
***
Selepas kepergian Jessi, kedua lelaki itu duduk di sofa dengan jarak yang cukup jauh. Theo perlu usaha cukup keras untuk mengendalikan amarahnya saat itu.
"Apa kau tahu apa maksud dan tujuanku kemari?" tanya Kevin dengan raut wajah yang menegang.
Theo menggeleng, "Katakan apa maumu dan segera pergi dari sini." Jawab Theo dengan cepat.
Lelaki di depannya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa kau sudah tidak sabar ingin melanjutkan percintaan panasmu semalam? Wah ... Kau membuatku iri, Theo."
"Katakan apa maumu?" Dia sama sekali tidak ingin menyanggah pemikiran saudaranya soal percintaan panasnya dan Jessi. Biarkan saja Kevin berpikiran dia dan Jessi sudah bercinta, walaupun nyatanya mereka belum pernah melakukannya sama sekali.
Kevin memperbaiki posisi duduknya, wajahnya menjadi serius dengan alis yang menukik tajam. "Cabut laporanmu soal Anin. Katakan pada polisi kalau kau ingin berdamai. Dan aku tidak akan mengganggu hubunganmu dan Jessi lagi." Jelasnya dengan gamblang.
Lelaki itu mengerutkan keningnya. Otaknya menganalisa soal keinginan saudara sepupunya tersebut. "Apa kau yang menghamili Anin? Kau menyukainya?"
Kevin mengangguk mantap. Matanya menerawang jauh mengingat kembali saat malam mereka melakukannya. Bibirnya berdecih sinis, "Kami melakukannya saat mabuk. Aku tidak menyukainya, tapi aku mencintai perempuan itu. Dan kau tahu apa yang terjadi, saat kami sampai pada puncak kenikmatan, perempuan sialan itu meneriakkan namamu. Aku meninggalkan apartemennya saat itu juga."
Apa Anin berfantasi melakukan itu denganku? Dasar perempuan gila.
"Lantas apa yang akan kau lakukan setelah Anin keluar dari penjara?" tanya Theo.
Theo memikirkan kembali permintaan sepupunya. Dia akan membicarakan ini dengan Jessi terlebih dahulu.
"Aku akan memikirkannya. Pergilah, aku ingin melanjutkan tidurku." Tangannya mengibas mengusir Kevin.
Mereka bertatapan sejenak. Kevin beranjak dari tempat duduknya. Dia melangkah pergi juga, namun berbalik menatap Theo yang juga sedang menatap punggungnya.
"Cincin yang aku masukkan pada tas Jessi, itu untuk hadiah pernikahan kalian." Dia melambaikan tangan setelah mendapat ucapan terimakasih dari Theo.
***
Theo memijit kepalanya yang sedikit pusing. Dia mendesah pelan, lalu berbalik menuju kamar. Diketuknya pintu kamar dengan pelan.
Jessi membuka pintu dan membiarkan Theo masuk. Tapi lelaki itu tidak bergerak sedikitpun. Dia tetap berdiri disana.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya perempuan itu dengan mimik wajah khawatir.
Lelaki itu membawa Jessi dalam pelukannya. Tangannya mengusap-usap punggung, lalu bergerak menelusup kedalam baju yang dikenakan kekasihnya.
Dia mengusap-usap dan merasakan hangatnya kulit perempuan yang sebentar lagi menjadi istrinya. Jessi sedikit menegang saat kulit tangan Theo yang dingin menyentuh kulit punggungnya.
Masih dalam posisi berpelukan, Theo merebahkan Jessi diatas ranjang empuknya. Tubuhnya menindih tubuh mungil tersebut. Dipandanginya wajah cantik itu dalam sekian detik.
"Kau cantik ...." Ucapnya dengan mata yang sayu. Nafasnya memberat seiring dengan hasratnya yang semakin menggelora.
Perempuan itu tersenyum malu-malu. Rona merah menghiasi kedua kulit pipinya. Tangannya bergelayut pada leher milik lelaki yang sedang menindihnya. Keduanya terbawa suasana yang mendukung saat itu.
"Theo, apa kau pernah melakukannya?" tanya Jessi sambil menatap kedalam matanya.
Lelaki itu diam. Bibirnya terkunci dengan rapat. Dia bingung harus menjawab jujur, atau harus berbohong dalam menjawab pertanyaan rumit kekasihnya. Jika menjawab iya, sudah dapat dipastikan Jessi akan marah, jika menjawab tidak, berarti dia sudah berbohong dan berkata tidak jujur pada perempuan yang akan menemaninya menghabiskan seluruh hidupnya.
"Kau pernah melakukannya!" Jessi mendorong tubuh Theo dengan sekuat tenaga. Dia menyimpulkan sendiri karena kekasihnya yang tidak memberikan jawaban untuk waktu yang lama.
Jessi menelungkupkan wajahnya kedalam bantal. Dia tidak tahu perasaan macam apa yang sedang dirasanya saat ini. Entah dia kecewa karena Theo yang sudah pernah melakukannya dengan perempuan lain, atau dia kecewa karena lelaki itu tidak berani berkata jujur padanya.
Theo mendesah pelan sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia mendekat ke sisi ranjang. Tangannya ingin mendekap tubuh kekasihnya dengan erat. Namun urung saat dia melihat punggung kekasihnya bergerak naik-turun.
Yah, perempuan itu sedang menangis tanpa suara. Menangis karena dirinya. Theo membalikkan tubuh Jessi dengan sekuat tenaga karena perempuan itu memberontak akan perlakuannya.
"Tatap mataku! Dengarkan aku, Jess. Aku memang pernah melakukannya, tapi itu dulu. Sebelum aku mengenalmu, bahkan jauh sebelum aku berhubungan dengan Melani. Kau harus percaya padaku. Aku tidak mungkin melakukannya dengan perempuan lain dibelakangmu." Jawab Theo dengan jujur.
Jessi menatap mata kekasihnya dengan air mata yang masih mengalir. Sesekali hidungnya akan menyedot kembali ingus yang hampir keluar. Perempuan itu memukul lengan kekasihnya berulang-ulang. "Kau menyebalkan ...."