
"Garaa sialan, awas kau!"
Jessi menggerutu dalam hati. Dia kesal sendiri saat mengetahui Elia pernah menyukai Garaa. Pasti Garaa akan dekat, nostalgia, dan jatuh cinta lagi dengan Elia, begitu skenario yang tersusun rapi di otaknya. Kakinya terus saja berjalan, dan tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
"Ahh maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja," Jessi segera menunduk meminta maaf. Menyesali mata dan fikirannya yang tidak fokus.
"Tidak masalah, Nona Jessi. Ada yang ingin kuberikan padamu, Nona," ucapnya sambil menyodorkan amplop coklat ke tangan Jessi.
"Maaf, darimana kau tahu namaku?" Jessi mengernyitkan dahinya. Tangannya tarik ulur seakan enggan menerima amplop dari orang asing ini.
"Kau tidak perlu tahu aku tahu namamu darimana. Cepat terima ini, atau aku akan membuatmu dalam kesulitan!"
Jessi menerima amplop tersebut dan orang asing itu bergegas pergi meninggalkannya dalam ketakutan. Dibukanya amplop itu, Jessi menemukan beberapa lembar fotonya dengan Theo saat di bukit dicoret-coret dengan tulisan berwarna merah "JESSI SIALAN". Jessi tidak habis pikir siapa orang yang mengancamnya, seingatnya ia tidak punya musuh. Ia akan menceritakan ini pada Theo nanti.
***
Pikiran Garaa tertuju pada Jessi. Ia ingin sekali mengutarakan perasaannya. Tapi setiap melihat Jessi dan Theo bersama, hanya amarah yang selalu menguasai akal sehatnya.
Rin dan Elia berjalan melewati Garaa. Rin mengangguk singkat, sementara Elia terpana melihat Garaa. Kenapa dia terlihat sama seperti Garaa yang ku sukai dulu? Apa memang dia Garaa kakak kelasku?
"Kak Garaa, apa ini benar kau?" Elia mendekat ke arah Garaa.
"Apa aku mengenalmu?" Garaa mengernyitkan dahinya.
"Aku Elia, Kak. Gadis berkepang dua yang menyukai kakak waktu SD dulu. Si Cupu, apa kakak tidak mengenali aku?"
"Oh maafkan aku, El. Aku tidak bisa mengenalimu. Kau berubah sekarang," Garaa dan Elia bernostalgia masa lalu mereka di SD sambil sesekali mereka tertawa bersama. Rin yang tidak mengerti arah pembicaraan mereka otomatis hanya diam dan menyimak saja.
"Mari bertukar nomor ponsel, Kak," Elia menyodorkan ponselnya kepada Garaa.
"Ini nomor ponselku, aku permisi pulang duluan, ya."
"Hati-hati, Kak," Elia bergelayut manja di lengan Garaa. Rin mengangguk singkat mengiringi kepergian Garaa.
Garaa bertekad akan mengungkapkan perasaannya pada Jessi. Ia tidak mau jatuh cinta sendiri, paling tidak Jessi harus tahu perasaannya. Garaa berinisiatif untuk berkunjung ke rumah Jessi malam ini.
***
Sesampainya Garaa di rumah Jessi, dia mengetuk pintu dengan perlahan dan tampaklah Jessi yang membukakan pintu.
Untuk apa dia kemari, menganggu saja, gumam Jessi dalam hati.
"Kau tidak mempersilahkan aku masuk?"
"Silahkan masuk, Garaa," Jessi menyingkir dari depan pintu. Dia masih enggan untuk bersikap baik-baik saja dengan Garaa.
"Langsung saja, ada perlu apa kemari?" Jessi bertanya langsung ke intinya.
"Kau marah padaku?" Garaa tersenyum kecil melihat sikap Jessi.
"Untuk apa aku marah? Tidak penting sekali!" elak Jessi.
"Kau tidak mau memaafkan ku?" ulang Garaa saat Jessi hanya diam saja tidak merespon permintaan maafnya.
"Hmmm, kau kenal Elia?" Jessi balik bertanya.
"Adik kelasku di SD dulu. Kau satu divisi dengannya?"
"Hmm." Hening menyelimuti mereka berdua.
"Kau tidak mau memaafkan ku?" Garaa berpindah duduk ke samping Jessi. Tangannya berusaha memegang tangan perempuan idaman hatinya. Jessi yang menyadari segera memindahkan tangannya.
"Aku tidak tahu apa masalahmu denganku, Garaa. Kau sangat baik dan perhatian padaku. Lalu, kau tiba-tiba menjauhiku, mengacuhkanku, dan mendiamkanku. Maaf, kalau kau tidak nyaman berteman denganku. Aku akan menjauhimu mulai sekarang," Jessi berbicara panjang lebar tanpa melihat Garaa.
Garaa tersentak dan reflek memeluk Jessi dengan erat, seakan tak rela Jessi akan menjauhinya.
"Dasar bodoh!"
"Kau yang bodoh!" Jessi tidak mau kalah.
"Iya, aku yang bodoh. Maaf, aku lambat menyadari perasaanku padamu," Garaa semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau mau membunuhku, ehh? kau memelukku terlalu erat, Garaa."
Garaa tersenyum kecil dan segera melepaskan pelukannya. Sekarang tangannya berganti menggenggam tangan Jessi.
"Aku menyukaimu. Aku ingin kau menjadi seseorang yang akan selalu bersamaku. Aku akan membahagiakan mu, tidak akan pernah menyakitimu, dan tidak akan membuatmu menangis!" Garaa menatap lurus kedalam mata Jessi.
"Jadilah kekasihku, Jessi!" pinta Garaa tulus.
Jessi memandangi Garaa berusaha mencari kebohongan di mata Garaa. Nihil, ia tidak menemukan kebohongan. Hanya ketulusan yang terlihat di mata Garaa.
"Hmm," Jessi malu-malu menjawab permintaan Garaa.
"Apa itu hmm? kau mau tidak?" goda Garaa.
"Iya, aku mau," Jessi semakin menundukkan kepalanya.
"Aku tidak akan membuatmu menangis, aku akan selalu membahagiakan mu, itu janjiku. Terimakasih sudah mau menerimaku," Garaa mengecup lembut punggung tangan Jessi.
"Awas kalau kau mengacuhkanku lagi. Aku tidak akan memaafkan mu, Garaa!" ancam Jessi.
"Siap, bos!"
***
Theo merasa perasaanya tak enak sejak sore. Seperti ia akan kehilangan sesuatu. Pikirannya tertuju pada Jessi. Diambilnya ponsel yang tergeletak diatas nakas tempat tidurnya. Ia berusaha menghubungi Jessi. Tidak ada jawaban.
Kenapa kau tidak menjawab teleponku hah? sedang apa kau, Jessi