Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Memetik Bunga



"Tidak mungkin Mas Adam menyukaiku. Ibu mengada-ada saja," kata Jessi dalam hati.


Banyak orang bilang lebih baik menghabiskan hidup dengan orang yang setara kedudukannya. Agar kau tidak diinjak-injak. Agar kau tidak diremehkan.


Suara penyiar radio memenuhi kamar Jessi. Ia memutuskan memutar radio daripada memutar playlist musik di ponselnya.


"Mungkin aku memang harus menjauh dari orang-orang yang kedudukannya jauh diatas ku," gumam Jessi pelan.


Fokus Jessi teralihkan saat mendengar suara sang Ibu yang memanggil namanya. Jessi mematikan radio dan menemui Ibu setelahnya.


"Ada orang yang mencari mu di depan. Cepat temui orang itu sekarang!"


Belum sempat Jessi menanyakan siapa orang yang mencarinya, Ibunya sudah menyeretnya keluar dari kamar. Jessi melihat sosok perempuan cantik nan anggun sedang berada di ruang tamu rumahnya.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Jessi mendudukkan diri didepan tamunya yang sama sekali tidak ia kenal.


"Apa kau yang bernama Jessi? Kemarin kita berpapasan di apartemen Theo. Apa kau sudah mengingatku?" ucapnya lembut.


"Apa mungkin dia adalah Ibu Theo? Apa yang dia lakukan disini," batin Jessi bertanya-tanya.


"Ahh iya, saya mengingat Tante. Ada perlu apa, ya, Tante mencari saya?"


"Tante mau ngajak kamu jalan-jalan. Kamu mau gak? Mau, ya! " Ibu Theo terlihat antusias sekali dalam mengajak Jessi.


Jessi diam dan masih memikirkan tawaran Ibu Theo. Pikirannya memikirkan seribu satu jawaban sebenarnya apa maksud Ibu Theo melakukan ini semua.


"Kamu kok diam saja? Cepat bersiap-siap, setelah itu kita berangkat," ucapnya seolah Jessi sudah menyetujui ajakannya.


Jessi melangkah ke dalam kamarnya berganti pakaian dan mengambil tas kecilnya. Lalu, ia menghampiri Ibu Theo yang sedang mengobrol dengan Ibunya.


"San, saya pamit dulu, ya, mau jalan-jalan sama Jessi," ucapnya berpamitan dan saling memeluk dengan Ibu Jessi.


"San? San apaan? Besan?" batin Jessi.


Setelah Jessi berpamitan juga, mereka berdua segera menaiki mobil yang dikemudikan oleh supir Ibu Theo.


***


Ibu Theo berbicara panjang lebar menceritakan tentang Theo di waktu kecil. Mungkin dia mengira Jessi dan anaknya sedang terlibat suatu hubungan. Nyatanya tidak.


Jessi meresponnya dengan senyum dan sesekali tertawa. Ia akan menimpali jika hanya di tanya saja. Sungguh ia tidak paham apa maksud Ibu Theo melakukan ini semua padanya.


Jessi mengenali kemana arah mobil yang ditumpanginya melaju. Ke arah kantor Theo, tempatnya bekerja. Dan benar sesuai dugaan, mobil berhenti tepat di depan kantor.


Jessi turun dari mobil dan mengikuti kemana Ibu Theo membawanya. Banyak pegawai yang melihatnya tak senang saat tahu Jessi sedang bersama Ibu-CEO mereka.


"Maaf, Tante, kita mau kemana? Saya sedang di skorsing jadi tidak bekerja hari ini."


Jessi berdiri di tengah koridor yang akan membawanya ke ruangan Theo. Ia memegang lengan Ibu Theo untuk menghentikannya menuju ke arah sana.


"Tante tidak perlu melakukan itu. Saya pulang saja," elak Jessi.


Jessi hampir berlari menjauh tetapi tangannya ditahan oleh Ibu Theo. Alhasil mereka seperti sedang bermain tarik tambang. Dan sekali lagi Jessi mengalah, membiarkan Ibu Theo melakukan apapun yang diinginkannya.


***


Jessi, Theo, dan Ibu Theo kini berada di dalam ruangan yang sama. Jessi tidak mau bertatapan wajah dengan Theo. Sebisa mungkin ia akan mengalihkan pandangan kearah lain.


Ibu Theo menyendiri karena ia sedang menerima telepon dari salah satu koleganya. Lalu, ia menghampiri Jessi dan Theo yang terlihat sekali kalau mereka canggung satu sama lain.


"Ibu minta maaf, ya, harus meninggalkan kalian. Ibu lupa kalau ada acara dengan teman-teman. Ibu ingin sekali mengambil bunga di seberang bukit yang berada di pinggiran kota. Jess, kau bisa mengambilkannya untuk Ibu, kan? Dan Theo, kau bisa mengantarkan Jessi kesana, kan?"


"Tidak perlu, Tante. Saya bisa kesana sendirian."


"Theo juga sedang sibuk sekali, Bu. Maaf ya."


Ibu Theo tetap pada pendiriannya. Jessi berangkat kesana harus diantar Theo. Ia tidak akan membiarkan Jessi berangkat kesana sendirian, karena bahaya bagi anak perempuan sendirian ke bukit.


Tak berselang lama, Ibu Theo meninggalkan Jessi dan Theo. Tak lupa ia mengedipkan sebelah matanya kearah Theo.


"Aku akan mengambil bunganya sendiri saja. Kau tidak perlu ikut."


Jessi berbalik dan meninggalkan ruangan Theo tanpa menunggu seperti apa jawaban Theo.


"Ayo, aku antar!"


Jessi mendadak berhenti saat mendengar suara Theo. Ia menunggu Theo berjalan duluan dan ia mengikutinya dibelakang.


Ia berpapasan dengan Rin dan Elia yang baru saja kembali dari kantin. Rin bertanya lewat kode yang ia ucapkan dengan gerak bibirnya. Jessi meresponnya dengan mengangkat tangannya membuat gerakan seolah sedang mengirim pesan.


Theo yang melihat kode-kodean Jessi dan Rin mengernyitkan dahinya, tidak paham maksud kedua perempuan tersebut.


Jessi memasuki mobil Theo dan mobil melaju dengan kecepatan sedang. Lalu lintas sedang padat merayap di jam seperti ini. Jessi memilih untuk diam sepanjang perjalanan. Theo juga mengambil sikap yang sama, memilih diam.


Sampailah mereka di bukit dan Jessi mulai mengambil bunga seperti yang diinginkan Ibu Theo. Bunga mawar merah yang terlihat sangat indah dan menyejukkan mata Jessi.


"Auuhh!" pekik Jessi kesakitan.


Jessi memegang jari tangannya, menahan darah yang mengalir akibat terkena duri di tangkai mawar. Theo dengan sigap mengambil sapu tangan lalu membalutnya di jari tangan Jessi. Jessi ingin menolak tapi Theo sudah terlanjur membalut jarinya.


"Jangan melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu!"


Jessi mendengarkan apa yang dikatakan Theo dengan wajah tidak mengerti. Untuk apa Theo perduli padanya. Atau, lagi-lagi ini karena kasihan semata.


"Kenapa? Kenapa kau masih bersikap seperti ini padaku? Jangan membuatku bingung akan sikapmu."