Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Bertemu Anin



Happy Reading 💜


"Merindukanku?" ucap Theo sambil menyelipkan beberapa helai rambut Jessi ke belakang telinga.


"Sangat! Kau tidak merindukanku?" ucap Jessi dengan manjanya.


"Tidak mungkin aku tidak merindukanmu, calon istriku!"


Theo mengecup singkat bibir Jessi yang membuatnya kecanduan. Mereka terkekeh bersama, lalu masuk kedalam mobil. Beberapa tetangga rumah Jessi memalingkan wajah menahan malu melihat kedua sejoli yang kasmaran itu.


Entah karena apa, tapi Jessi bahagia sekali pagi ini. Mungkin karena kemarin tidak bertemu Theo seharian dan sekarang Theo ada di sampingnya. Datang menjemputnya saja sudah membuat Jessi senang bukan main.


Theo merasa kekasihnya sedang dalam mood yang bagus. Bibirnya tak henti tersenyum dan bersenandung dengan riangnya. Theo yang duduk disamping Jessi ikutan tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa urusanmu diluar kota sudah selesai, Theo?" tanya Jessi tiba-tiba.


Seketika Theo menghentikan laju mobilnya. Theo mengerem secara mendadak membuatnya dan Jessi terbentur dashboard mobil. Jessi merasa pusing sekali, saat dia meraba dahinya ada darah merah segar mengalir disana.


Theo yang tersadar akan tindakan bodohnya segera memeriksa keadaan Jessi. Bibirnya tiada henti-hentinya meminta maaf atas kecerobohan pagi ini. Sungguh dia tidak sengaja melakukan ini semua.


"Jess, kau tidak apa-apa? Dahi mu terluka, ayo kita ke rumah sakit. Maaf, aku sudah membuatmu celaka. Maafkan aku!"


Jessi masih sedikit merasakan pusing. Darah mengucur dengan derasnya membasahi pelipis pipinya yang putih bersih. Matanya berkunang-kunang dan kesadarannya menghilang saat itu juga.


"Jess, kau bisa mendengar ku? Jessi!"


Theo panik dan kelimpungan sendiri saat Jessi pingsan. Darah di dahinya juga mengalir deras. Segera dilajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.


***


Theo sampai di sebuah rumah sakit di pusat kota. Dia tahu betul ini rumah sakit tempat Adam bekerja. Orang yang pernah menyelamatkan Jessi malam itu. Pikirannya sedikit kalut, bagaimana kalau Adam dan Jessi berdekatan lagi. Ditepisnya pikiran tersebut karena keselamatan Jessi yang utama saat ini.


Jessi tersadar dari pingsannya setengah jam kemudian. Matanya mengerjap terkena silau dari cahaya lampu kamar. Kepalanya masih sedikit pusing.


Theo yang melihat Jessi tersadar segera membantu Jessi bangun. Terlihat aura kecemasan yang berlebih dari wajah Theo.


"Jess, apa yang kau rasakan sekarang? Apa kepalamu pusing? Katakan padaku!" ucap Theo panik.


"Kepalaku masih sedikit pusing, Theo. Jam berapa sekarang? Aku telat masuk kerja, Theo!" gumam Jessi pelan.


Theo mengabaikan ucapan Jessi dan bergegas memanggil perawat yang berada di depan. Terlihat jelas kalau Theo sebenarnya enggan memanggil dokter, apalagi dokternya Dokter Adam.


Dokter Adam dan beberapa perawat mendatangi kamar Jessi. Mengecek keadaan Jessi dan menanyakan beberapa hal soal pusing di kepala Jessi.


"Dek Jessi, jangan terlalu banyak bergerak dulu, yah! Kau bisa saja terkena amnesia ringan. Segera datang lagi ke rumah sakit kalau kau tetap merasakan pusing berkelanjutan! Semoga lekas sembuh, Dek Jessi!"


Mata Dokter Adam menatap Jessi dan Theo bergantian. Seperti ada yang ingin dia tanyakan, tetapi masih ditahan. Jessi tersenyum simpul pada Dokter Adam yang sudah menyelamatkannya dua kali. Malam itu dan pagi ini.


"Mas, terimakasih banyak sudah menolongku untuk kesekian kalinya. Aku belum membalas bantuan mu tempo hari. Maaf, Mas."


"Itu memang sudah tugasku. Istirahat yang banyak biar cepat sembuh, Dek."


Theo seperti patung pajangan saat ini. Hanya Dokter Adam yang diperhatikan Jessi. Mereka saling berpandangan dan tersenyum, sementara dia diabaikan bagai patung yang tidak penting.


Theo berdehem memecah keheningan diantara mereka. Matanya memicing tajam pada Jessi. Sungguh dia tidak menyukai sikap Jessi yang seperti ini. Dan tak berselang lama, Dokter Adam meninggalkan Jessi dan Theo untuk kembali ke ruangan kerjanya.


"Kau suka Dokter Adam?" tanya Theo sambil bersedekap.


"Jangan mulai deh, Theo. Aku tidak ada apa-apa dengan Mas Adam," jawab Jessi singkat.


Theo memukul sisi ranjang di sebelah Jessi. Amarahnya kembali menguasai dan mengalahkan akal sehatnya. Jessi diam saja tidak perduli apa yang dilakukan Theo. Dia sudah bisa menduga pasti Theo sedang cemburu.


***


Sore harinya Jessi sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dia berjalan dengan pelan dibantu oleh Theo. Meskipun terlihat jelas kalau Theo masih cemburu, tapi dia tidak mengabaikan Jessi yang sedang berjalan tertatih.


"Theo?"


Pergerakan Jessi dan Theo berhenti seketika. Lalu, keduanya menoleh mencari sumber suara. Dan betapa terkejutnya Theo karena yang memanggilnya tadi adalah Anin. Perempuan yang mengaku hamil anaknya.


Jessi menatap Anin dan Theo bergantian. Tapi tidak berani berucap sepatah katapun. Dia menyenggol lengan Theo yang masih diam mematung. Theo yang tersadar tersenyum singkat pada Jessi dan membalas sapaan Anin.


"Hai, Nin. Lama tidak berjumpa, apa kabar?" tanya Theo kikuk.


"Baik. Siapa dia, Theo?" balas Anin.


Theo memperkenalkan Jessi pada Anin sebagai kekasihnya dan calon istri masa depannya. Senyum tulus tersungging di bibirnya. Jessi bersalaman dengan Anin yang terlihat tidak nyaman.


Anin berpamitan pada Jessi dan Theo saat namanya dipanggil menuju ruang Dokter Kandungan. Matanya menatap Theo dalam sekian detik dan sialnya Jessi menyadari arah tatapan Anin pada kekasihnya.


"Kenapa perasaanku tidak enak begini? Apa ada sesuatu antara Anin dan Theo?" batin Jessi bertanya-tanya.


Sesampainya di mobil Jessi dan Theo masih sama-sama diam. Pikiran keduanya sudah bercabang entah kemana.


"Nin, ada yang ingin kubicarakan," ucap Theo tanpa sadar.


"Nin?" Jessi mengulangi nama yang diucapkan Theo padanya. Bagaimana bisa dia memanggilnya dengan nama Anin.


Theo meralat ucapannya dan meminta maaf karena dia sedang tidak fokus. Tangannya berusaha menggenggam tangan Jessi, tapi Jessi jelas menolaknya.


"Jadi Anin yang sedari tadi menari-nari di pikiran mu, Theo?"


"Tentu saja tidak! Maaf, Jess! Aku tidak bermaksud seperti itu!"


Theo meminta maaf lagi pada Jessi yang marah padanya. Dia merutuki mulutnya kenapa bisa salah menyebut nama di depan kekasihnya sendiri. Wajar kalau Jessi marah padanya dan dia menyadari kesalahannya kali ini.


"Bagaimana bisa aku bersama mu sekarang dan pikiranmu bersama perempuan itu? Menikah saja dengan Anin kalau begitu!" pungkas Jessi.