
Happy Reading 💜
Jessi menengadahkan kepalanya sambil menghela nafas dalam-dalam. Mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan Ibunya bahwa apa yang dilakukannya kemarin sudah keterlaluan. Theo sudah membuktikan kalau dia tidak bersalah. Harusnya dia bisa memaafkan dan kembali pada Theo.
"Apa Ayah akan selalu mendukung apapun keputusanku? Entah aku melepaskan Theo, ataupun aku memilih kembali pada Theo?" tanyanya pada sang Ayah. Satu-satunya lelaki yang tidak akan pernah menyakitinya.
Ayah mengangguk mantap, lalu berkata, "Tentu saja. Ayah akan selalu mendukungmu. Kau tenang saja, Sayang. Ayah akan selalu menjadi pendukungmu di garis terdepan."
"Memangnya aku sedang mencalonkan jadi Wali Kota apa? Ayah bisa saja. Yasudah, kalau begitu aku mau mandi dulu, Yah. Aku akan ke tempat Theo nanti." Jessi sigap berdiri dan berlalu pergi dari hadapan Ayahnya.
"Tidak perlu menginap di tempat Theo! Ayah tidak mengijinkanmu menginap. Kau harus ingat itu!" teriak Ayah memberi wejangan pada putri bandelnya tersebut.
Jessi menoleh, lalu menjulurkan lidahnya, "Tidak janji, ya, Ayah. Ha-ha-ha." Kakinya berlari memasuki kamar. Sementara Ayahnya hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya akan sikap kekanakan putrinya yang menawan itu.
***
Lima belas menit Jessi menghabiskan waktu di kamar mandi. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan saat ini. Jessi sedang bersiap-siap mendatangi apartemen Theo.
"Apa Theo sudah bangun, ya? Aku coba saja dulu menghubunginya," gumamnya perlahan.
Sudah bangun belum? Kau di apartemen? Aku akan kesana sebentar lagi. Kalau kau mengijinkan. Kalau tidak, ya, tidak jadi. (Jessi)
Sebuah pesan singkat sudah terkirim dengan tanda dua centang di layar. Jessi meneruskan merias diri sesimpel mungkin agar tidak kelihatan terlalu mencolok nantinya.
Dia memakai bedak setipis mungkin. Menyapukan blush on pada kedua kulit pipinya. Dan mengoleskan lipstik nude pada bibir mungil tersebut. Fresh, segera dia berganti baju sambil menunggu balasan pesan dari Theo.
***
Theo sedang menonton televisi yang menampilkan adegan panas dalam drama korea yang ditontonnya saat ini. Tangannya mencengkeram remote yang dipegangnya.
"Andaikan itu aku dan Jessi, pasti setelahnya aku hanya mampu menahan hasratku." Bibirnya tersenyum kecil mengingat ciuman mereka dulu.
Atensinya tersadar saat ada pesan masuk bertengger di layar ponselnya. Sedikit melirik dan segera disahutnya ponsel yang tidak bersalah tersebut dengan cepat. Jessi mengiriminya pesan. Senyumnya mengembang dengan sempurna. Setelah membaca pesan dari orang yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini, Theo dengan cepat mengetik balasan pesan tersebut.
Aku sudah bangun. Datanglah, aku menunggumu. (Theo)
"Jessi akan datang ... Yes! Aku senang sekali. Aku harus bersiap-siap dulu. Aku akan mandi dan berpenampilan setampan mungkin. Dia harus terpesona padaku," ucapnya girang berbicara pada diri sendiri.
Secepat kilat Theo menuju kamar mandi. Bibirnya tersenyum dengan senang. Tak henti-hentinya dia bersenandung. "Yes-yes-yes ... Jessi akan datang menemuiku. Aku bahagia, terimakasih, Tuhan."
***
Sementara di dalam kamar Jessi menatap layar ponselnya yang berisi pesan masuk dari Theo. Senyumnya kecil menghiasi bibirnya. Dia menyahut tas dan bergegas menemui Theo, menemui cintanya.
Lima belas menit perjalanan ditempuh Jessi dengan menaiki ojek online. Setelah membayar dan mengembalikan helm, dia berlari menuju lift yang akan membawanya bertemu Theo.
Lift berhenti di lantai sembilan. Jessi menuju kamar apartemen Theo dan memencet bel dengan cepat.
Ting Tong
"Theo, kau di dalam?" teriaknya sambil terus memencet bel.
Segera dia melilitkan handuk pada pinggangnya dan keluar dengan rambut yang masih dipenuhi busa shampoo.
"Jessi, kau sudah datang?" ucapnya menyambut kedatangan Jessi.
"Kau sedang mandi? Teruskan dulu mandimu, aku akan menunggu di ruang televisi. Cepat!" Jessi terkekeh melihat penampakan Theo seperti itu.
Kakinya melangkah menuju ruang televisi yang ternyata masih menampilkan adegan panas karena tanpa sadar Theo menekan tombol pause tadi. "Sudah lama aku tidak berciuman seperti itu dengan Theo. Aku akan menciumnya nanti."
Jessi memukul kepalanya sendiri karena pikirannya yang tidak-tidak. Tiba-tiba Theo memegang tangannya yang hendak memukul untuk kesekian kalinya. "Hentikan itu! Kau menyakiti kepalamu."
Theo menyadari gambar yang ditampilkan televisinya tidak lama setelah dia terduduk disamping Jessi. Tangannya meraih remote dan mematikan televisi tersebut. Takut semakin meracuni pikirannya.
"Maaf, ya, kalau lama. Aku terbawa suasana bahagia karena kau akan datang kemari setelah sekian lama. Ada apa? Kenapa serius sekali, Jess?" tanya Theo sambil memperhatikan raut wajah Jessi.
"Begini, Theo. Maaf untuk sikapku kemarin. Aku sudah keterlaluan padamu. Kau marah padaku?" Jessi bertanya balik pada Theo.
"Tidak. Untuk apa aku marah. Aku tahu sikapmu seperti itu 'kan karena aku yang melakukan kesalahan. Jadi aku memaklumi sikapmu, Jess. Maaf, ya, kalau kau tidak nyaman. Aku akan menerima apapun itu, bahkan jika kau tidak mau kembali padaku. Aku tidak akan memaksa lagi," terangnya panjang lebar.
"Oh, jadi begitu. Yasudah, kalau begitu. Padahal aku datang kesini mau minta maaf dan berbaikan denganmu. Kalau kau inginnya seperti itu, ya, aku akan ikut saja apa maumu. Kita cukup sampai disini." Jessi mencibir dalam ucapannya.
"Tunggu dulu ... Jadi maksudmu kau mau kembali lagi padaku? Kau mau memaafkanku? Aku tidak mau berpisah, aku masih sangat menyanyangimu, mencintaimu, Jess." Ralat Theo dalam sekejap.
Jessi mengangguk mengiyakan apa yang diucapkan Theo. Dia mau memaafkan dan kembali lagi pada Theo. Lelaki itu terlihat begitu mendamba sentuhan hangat dari perempuan di depannya. Tangannya bergerak merengkuh Jessi dalam pelukan dalam.
"Rasanya sangat sesak saat kau menolakku. Aku bahkan tidak bisa tertidur dengan nyaman. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi meninggalkanku lagi, Jess. Tidak akan!" Kepalanya menghirup dalam-dalam aroma yang sangat dirindukannya pada leher Jessi. Sedikit mengecap lembut disana.
Jessi merasa geli akan kehadiran Theo di lehernya yang jenjang. Kalau dibiarkan bisa-bisa mereka keterusan, "Theo, apa yang kau lakukan? Jangan nakal!" Jessi menyudahi kegiatan Theo dengan menjauhkan lehernya dari sana. Bibirnya mengerucut sebal.
"Aku masih merindukanmu, Jess. Kemarilah, aku hanya akan memelukmu. Tidak lebih." Theo merengkuh lagi tubuh mungil Jessi dengan sayang. Mereka saling berpelukan dan meresapi perasaan itu satu sama lain.
***
Jessi bermanja-manja dengan duduk dipangkuan kekasihnya. Theo melingkarkan lengannya pada pinggang ramping yang terasa pas dengan tangannya. "Jess, mau datang tidak ke pesta pernikahan Garaa?"
"Sepertinya tidak, Theo. Aku tidak nyaman di dekatnya. Kau akan datang?" tanya Jessi. Lengan Jessi bergerak melingkari leher kekasihnya.
Theo menyesap lagi leher kekasihnya dengan lembut. Erangan kecil lolos dari bibir mungil perempuan cantik itu. "Kau mau lagi? Disini, atau ditempat yang lain?" godanya sambil menunjuk leher kekasihnya. Matanya mengedip nakal.
"Jangan nakal, Sayang. Theo ... jangan bermain-main disitu terus. Emm ... Tidak ingin jalan-jalan, ke bukit misalnya? Atau ke bioskop?" Jessi mencubit lengan kekasihnya dengan pelan.
Theo hampir kehilangan kendali atas hasrat yang menggebu dalam dirinya. Aroma yang menguar dari tubuh kekasihnya seperti candu yang membuatnya ketagihan.
Tubuhnya bergerak menjauh dan melangkah ke kamar, "Ke bukit saja. Sebentar, aku mengambil kunci mobil dulu." Teriaknya kemudian.
Beberapa saat setelahnya Theo sudah kembali dengan kunci mobil di tangan. Satu tangannya dia ulurkan pada kekasihnya yang masih setia memandanginya. "Apa aku semakin tampan, Jess? Kau tidak berkedip melihatku."
Jessi menerima uluran tangan Theo dan dengan sekuat tenaga menarik tubuh kekasihnya kepadanya. Theo terjatuh diatas tubuh Jessi. Mereka saling menatap dalam diam. "Aku mencintaimu, Theo." Bisiknya pelan.
"Aku juga sangat mencintaimu. Tolong jangan menggodaku seperti ini, Jess. Aku ingin memakanmu saat ini juga," ucapnya dengan suara serak tertahan.