Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Pernikahan Bisnis



"Untuk apa kau memilihku kalau pada akhirnya kau akan tunduk dengan pilihan orang tuamu?" teriak Jessi dengan marahnya.


"Semua bisa dibicarakan baik-baik, Jessi. Aku akan menjelaskan pada orang tuaku kalau aku sudah mempunyai pilihan sendiri, yaitu kau. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Ayo masuk kedalam, kita makan siang dulu. Mama terlihat sangat menyukaimu," Garaa menggandeng tangan Jessi mengikutinya masuk kedalam rumah.


Sayup-sayup terdengar suara orang tua Garaa sedang berdebat. Mereka saling mengungkapkan argumen dengan suara keras.


"Jessi sepertinya anak yang baik. Kita bisa biarkan dia berpacaran dengan Garaa."


"Apa kau gila? Bisnis keluarga kita bisa hancur kalau kita tidak mendapat suntikan dana secepatnya. Kau mau rumah ini dijual, lalu hidup di rumah kecil di pinggiran kota?" bantah Papa Garaa.


"Tentu saja aku tidak mau! Biarkan saja dulu Garaa dan Jessi berpacaran. Lalu kita akan memisahkan mereka secara perlahan dan menikahkan Garaa dengan Anna," sebuah ide terlintas di kepala Mama Garaa.


Jessi seketika menghentikan langkah kakinya saat telinganya dengan jelas mendengar ucapan orang tua Garaa. Disentakkan tangannya yang digandeng Garaa.


"Kau dengar itu? Mereka sudah menyiapkan skenario untuk memisahkan kita. Lucu sekali orang tuamu. Tidak ada lagi yang perlu kita pertahankan disini. Aku tidak ingin lama-lama berpacaran kalau pada akhirnya akan dipisahkan. Turuti saja apa kata orang tuamu. Tidak usah memikirkan perasaanku," Jessi memantapkan hatinya saat berkata begini. Dia menahan sekuat tenaga air matanya agar tidak keluar.


"Berhenti berbicara omong kosong. Aku tidak akan membiarkan mereka memisahkan kita. Tunggu aku di mobil, aku akan berbicara sebentar dengan orang tuaku," Garaa berlari memasuki rumahnya yang besar.


"Aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun! Aku memilih Jessi, aku mencintainya!" Garaa menghampiri orang tua nya di meja makan.


"Tahu apa kau soal cinta? Kau lebih memilih gadis yang baru kau kenal daripada orang tua yang membesarkanmu? Apa ini baktimu sebagai anak?" Papa Garaa berteriak penuh amarah.


"Garaa, dengarkan Mama. Mama dan Papa melakukan ini semua untukmu. Kami ingin kau bahagia, hidup nyaman. Tolong mengertilah, Garaa," ungkap Mama Garaa berkaca-kaca.


"Ini semua untukku? Apa maksud kalian ini semua untuk kebaikan kalian?" ucap Garaa sarkastik.


"Kalau kau ingin keluarga kita hidup miskin, bisnis kita bangkrut, silahkan kau teruskan hubunganmu dengan Jessi. Biar Mama dan Papa hidup menderita!" Mama Garaa terisak sedih.


"Ma! Garaa mohon jangan seperti ini, Ma. Masih banyak cara agar bisnis kita tidak hancur," Garaa memohon dengan suara pelan.


"Cukup, jangan bertele-tele lagi. Besok malam kita akan makan malam dengan keluarga Anna. Jangan mempermalukan Papa dan Mama!" perintah Papa Garaa.


Garaa meninggalkan rumah dengan amarah yang meluap. Emosinya tidak bisa terbendung lagi. Kakinya melangkah memasuki mobil tempat Jessi menunggunya. Garaa terkejut ternyata Jessi tidak ada didalam mobilnya. Diambilnya ponsel yang disimpan di saku, segera ia menghubungi Jessi.


Jessi berjalan gontai tidak bersemangat. Pikiran dan hatinya sedang kalut. Jessi benar-benar tidak menyangka kalau akhir kisah cintanya akan seperti ini. Terpisahkan karena sudah dijodohkan dengan orang lain. Pikirannya tersadar saat mendengar ponselnya berdering. Tertulis nama Garaa di layar ponselnya. Disimpannya kembali ponsel itu ke dalam tas.


Aku belum siap patah hati, Tuhan..


***


Ting Tong


Jessi memencet bel pintu rumah Rin, sambil menunggu si empunya rumah membukakan pintu. Rin terbelalak kaget melihat penampilan Jessi. Matanya membengkak parah.


"Ada apa dengan matamu? Kau menangis? Ayo, masuklah dahulu," Rin mempersilakan Jessi memasuki rumahnya.


"Ceritakan padaku ada apa sebenarnya, kenapa kau jadi begini?" Rin mendudukkan diri di kursi bersama Jessi yang masih sesenggukan.


"Garaa sudah dijodohkan dengan orang lain, Rin. Aku belum siap patah hati," Jessi semakin terisak tersedu-sedu.


"Garaa mengajakku bertemu orang tuanya hari ini. Dan kau tahu Rin, ternyata Garaa sudah dijodohkan dengan salah satu anak kolega orang tuanya. Mereka bilang perjodohan Garaa bisa membantu perusahaan mereka mendapat suntikan dana," Jessi mengulang cerita yang baginya teramat menyakitkan.


"Apa Garaa menerima perjodohannya?" Rin menenangkan Jessi yang menangis di pundaknya. Jessi kemudian menceritakan secara lengkap bagaimana Garaa memilihnya, Garaa menolak perjodohan itu dan skenario perpisahannya dengan Garaa kelak.


"Aku tidak menyangka kalau keluarga Garaa masih kolot begitu. Memang orang kaya akan memilih pernikahan bisnis daripada pernikahan yang didasari cinta, Jess. Bersabarlah, mungkin ini ujian untukmu," diusap-usapnya punggung Jessi.


***


Sore hari Rin mengantar Jessi pulang ke rumahnya. Penampilan Jessi sudah sedikit lebih baik. Mata bengkaknya perlahan menghilang. Rin dan Jessi melihat mobil Theo di depan rumah Jessi.


"Bukankah itu mobil Theo, Jess? Dia tahu rumahmu?" tanya Rin.


"Sudah dua kali dia kesini, ini yang ketiga kalinya," ucap Jessi.


"Wow kau sangat keren, Jessi. Aku iri padamu. Theo diam-diam menyukaimu ternyata."


"Dia memang pernah meminta kesempatan padaku, aku menyetujuinya. Tapi aku juga yang mengecewakannya saat aku lebih memilih berpacaran dengan Garaa," ungkap Jessi.


"Aku bisa melihat seberapa besar kecewanya Theo padamu. Turunlah, temui Theo. Aku pulang dulu, ya, jangan bersedih lagi. Kau harus kuat!" pesan Rin sangat membantunya untuk bangkit.


"Terimakasih ya, Rin. Kau memang teman terbaikku," Jessi memeluk Rin kemudian melangkah kedalam rumahnya.


***


"Aku pulang," teriak Jessi.


"Kau darimana saja anak nakal? Nak Theo sudah menunggumu dari siang," Ibu Jessi memukul lembut lengan Jessi.


"Dari rumah Rin, Bu. Aku menemui Theo dulu, Bu," ucap Jessi.


"Theo. Sudah lama? Kok tidak bilang kalau mau kesini?" Jessi menghampiri Theo yang menunggunya di ruang tamu.


"Ingin memberimu kejutan tapi ternyata kau belum pulang berkencan," sindir Theo.


"Aku di rumah Rin tadi. Kenapa tidak menghubungi ku?"


"Tidak apa-apa. Aku tidak mau mengganggumu yang sedang berkencan dengan kekasihmu itu!" ejek Theo.


"Kau ini kenapa, sih? Sekali lagi mengejekku tidak usah datang lagi kesini. Kau dengar itu?" ancam Jessi.


"Haha, baiklah-baiklah. Maafkan aku. Kenapa Matamu membengkak? Apa yang terjadi?" Theo memasang wajah seriusnya.


"Tidak ada apa-apa, Theo. Sungguh!" Jessi berusaha menyimpan patah hatinya sendiri. Tidak mau sampai Theo mengetahuinya.


"Apa Garaa yang membuatmu menangis?"