Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Kunjungan Calon Ibu Mertua



Diseretnya tubuh Jessi ke pangkuannya. Theo membelai rambut Jessi, beralih ke pipi, dan berlama-lama menjamah bibir Jessi yang terbuka sedikit. Theo mencium bibir Jessi dengan ganas, sarat akan nafsu. Lidah mereka saling bertarung di dalam sana. Jessi melepas ciumannya saat nafasnya tidak beraturan. Theo menatapnya lembut dan menyunggingkan senyum lebarnya.


"Kau menang! Aku kalah! Aku terlalu mencintaimu, Jess!"


Jessi tersenyum senang meskipun rona merah menghiasi kedua pipinya. Dia turun dari pangkuan Theo, lalu memeluk sambil mengusap-usap punggungnya.


"Maaf untuk semuanya, Theo!" ucap Jessi pelan.


Theo balik memeluk Jessi, tangannya mengelus puncak kepala Jessi dengan sayang. Rasa sayangnya jauh lebih banyak daripada rasa jengkelnya pada Jessi.


"Aku memaafkan mu. Aku tidak bisa benar-benar marah padamu, Jess."


Jessi melirik jam dinding di ruangan Theo yang menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit sekarang. Jessi menyudahi pelukan mereka dan berpamitan untuk kembali ke ruang kerjanya.


Sebenarnya Theo enggan melepaskan Jessi. Dia tidak keberatan kalau Jessi seharian tidak bekerja dan hanya bertugas menemaninya saja. Tapi, tentu Jessi akan di hujat seluruh pegawai di kantor. Theo mengurungkan keinginannya tersebut.


***


Baru saja Theo fokus pada pekerjaan, tiba-tiba pintunya terbuka lagi dan nampak sang Ibunda datang menemuinya. Senyum lebar terpampang dari bibir Ibunya. Sementara Theo mengernyit melihat kedatangan Ibunya.


Ibu Theo berjalan berlenggak-lenggok layaknya seorang model kenamaan. Gayanya yang anggun bisa disandingkan dengan model papan atas. Ibu menaruh sebuah kotak makan diatas laptop yang sedang digunakan Theo. Orang kaya mah bebas!


"Tumben Ibu kemari, ada yang bisa Theo lakukan untuk Ibu?" tanya Theo sambil menaruh kotak makan ke sofa.


Ibu melihat Theo memindahkan kotak makan yang tadi dibawanya. Theo terlihat antusias saat membuka kotak makan tersebut karena sangat jarang Ibunya datang berkunjung hanya untuk memberinya bekal makan siang. Saat tangannya hendak mencomot satu udang goreng tepung, Ibu Theo memukul pelan tangan anaknya dengan kipas yang sedari tadi bertengger di tangannya.


"Sakit, Bu!" Theo protes karena habis dipukul Ibunya.


"Itu makan siang untuk Jessi. Bukan untukmu, Theo!"


Ibu Theo bergerak menghampiri setiap pegawai yang dilihatnya. Dia menanyakan dimana letak ruang kerja calon menantunya kelak. Beberapa pegawai menjawab dengan senyuman, sisanya menjawab dengan mengatakan letak ruang kerja Jessi.


***


Ibu Theo sampai di depan ruang kerja Jessi bersama Theo yang sudah menyusulnya. Theo membujuk Ibunya untuk tidak memberikan langsung bekal makanan ke Jessi. Karena sudah pasti itu akan menimbulkan kekacauan.


"Sssttt diamlah, Theo! Ibu cuma ingin memberikan bekal makanan untuk Jessi, bukan mau membuat kekacauan. Kau ini menyebalkan sekali, sih!" gerutu Ibu Theo sambil mengetuk pintu dengan hati-hati.


Saat Rin membuka pintu dan mempersilahkan masuk, semua perhatian pegawai teralihkan dari pekerjaannya dan sekarang menatap Ibu Theo penasaran. Theo tidak jadi mengikuti Ibunya masuk, dia memilih kembali ke ruangannya saja.


"Menantuku ... Jessi," ucap Ibu Theo mendekati Jessi yang melongo saking terkejutnya.


Jessi berdiri dan menyambut Ibu Theo dengan kikuk. Dia tidak tahu harus berbuat apa di situasi absurd seperti saat ini. Senyum keterpaksaan terulas di bibir Jessi.


"Tante, ada yang bisa Jessi bantu?"


Ibu Theo menyodorkan kotak bekal makanan pada Jessi seraya tersenyum lembut. Dia memeluk Jessi, lalu berpamitan pergi kepada seluruh pegawai di ruangan Jessi. Mereka mengangguk hormat karena tahu kalau Ibu yang mengirimi Jessi makanan adalah Ibu dari CEO mereka.


"Duh, senangnya yang selangkah lebih dekat dengan Ibu mertua," goda salah satu pegawai disana.


"Sepertinya aku akan kenyang sekali hari ini karena bekal makanan terenak dari Ibu mertuaku," goda yang lain.


Jessi menekuk mukanya karena malu digoda oleh beberapa rekan-rekannya. Dia memeriksa ponsel mengecek apakah ada pesan dari Theo. Nihil, tidak ada sama sekali.


Bagaimana kalau tiba-tiba pasukan penggemar Theo menyerang ku nanti? Ibu, apa yang harus ku lakukan?