
Happy Reading 💜
"Bagaimana bisa aku bersama mu sekarang dan pikiranmu bersama perempuan itu? Menikah saja dengan Anin kalau begitu!" pungkas Jessi.
Jessi menoleh pada Theo yang sekarang menatapnya tidak percaya. Wajah Jessi tertekuk sempurna dengan alis yang mengkerut tajam. Dadanya kembang-kempis mengikuti irama kemarahannya. Berkali-kali Jessi menepis tangan Theo yang berusaha menyentuh dirinya. Jessi merasa kali ini Theo sudah benar-benar mengecewakan dirinya.
Theo menghela nafas kasar, tangannya mengusap wajah dengan frustasi. Bagaimana bisa dia memanggil Jessi dengan nama Anin. Kenapa juga mereka harus bertemu Anin disini, kalau tidak bertemu tentu saja hal seperti ini tidak akan terjadi. Dia tidak akan salah sebut dan Jessi tidak akan marah padanya seperti ini.
"Jess, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak mau bertengkar denganmu, Jess! Apalagi sampai tidak jadi menikah denganmu! Aku tidak mau!! Aku tidak mau!!" cerca Theo dengan wajah yang bersalah dan takut menjadi satu.
Jessi menutup telinganya rapat-rapat dari ocehan Theo. Sengaja dia memalingkan wajah menatap jendela mobil. Rasanya sakit sekali saat nama perempuan lain terucap dari bibir kekasihmu, padahal harusnya ia mengucap namamu.
"Siapa Anin? Kenapa memandang Theo dengan tatapan seperti itu? Kenapa juga Theo salah memanggil ku dengan nama Anin? Apa hubungan mereka sebenarnya? Ada apa ini? Apa aku takut Theo akan meninggalkanku karena perempuan itu?" batin Jessi bertanya-tanya.
Di tengah keheningan mereka berdua, Theo segera melajukan mobil menuju apartemennya. Dia akan menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut. Sekilas dia melihat jam tangannya yang sudah bertengger di angka sebelas. Masih ada waktu untuk kembali ke kantor tapi hubungannya dengan Jessi sedang dipertaruhkan.
Theo menghubungi sekretaris pribadinya dan bilang kalau ia tidak bisa ke kantor hari ini. Berbagai wejangan dan tugas di ucapkan Theo dengan cepat. Disampaikan juga kalau Jessi tidak bisa masuk kantor karena sedang tidak enak badan.
***
Jessi tidak perduli lagi kemana arah mobil ini membawanya. Suaranya tercekat di tenggorokan seakan ingin berkata tapi tidak bisa. Hatinya masih sedikit sakit tapi tidak berdarah istilahnya. Ingin sekali dia menguliti Theo hidup-hidup karena saking kesalnya.
Sesampainya di parkiran apartemen, Jessi masih berdiam diri di dalam mobil. Membiarkan Theo turun duluan dan menatap punggungnya dari tempat dia duduk. Pemilik punggung tegap itu benar-benar cari mati dengannya.
Theo yang menyadari Jessi tidak mengikutinya, berbalik arah ke mobil dan membukakan pintu mobil untuk Jessi. Mereka masih saja diam, bermain-main dengan pikirannya masing-masing.
Jessi turun dan melangkah meninggalkan Theo dibelakang. Kakinya menghentak-hentak tidak beraturan. Theo membuka pintu apartemen, lalu Jessi sengaja menyenggol pundaknya dengan lumayan keras bermaksud agar dia menyingkir karena Jessi berniat masuk duluan.
Theo menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan. Dia harus bisa menghadapi kemarahan kekasihnya ini. Kalau bukan dia yang salah tentu dia akan menghukum Jessi yang bertindak begini padanya. Dia bersabar kali ini karena menyadari dialah penyebab Jessi menjadi ganas.
Jessi berjalan menuju kamar tidur Theo. Dia ingin tidur dan menenangkan pikirannya. Segera dia menjatuhkan dirinya ditempat tidur dengan nyaman. Memeluk guling Theo yang lembut dan memejamkan mata. Hari ini hari yang berat baginya!
Theo membiarkan Jessi tertidur ditempat tidurnya. Dia melihat Jessi sekilas dan kemudian pergi berendam untuk menghilangkan penatnya hati dan pikiran. Theo tidak berpikir untuk ikut tidur di sebelah Jessi sehabis ia berendam, takut Jessi semakin mencak-mencak kemarahannya.
***
Anin ingat betul malam itu dia bersama Theo. Minuman itu membuat Theo mabuk dan menjadikan kesadaran Theo tidak terkendali. Mereka hampir saja melakukannya, tapi urung karena Theo pingsan. Anin memang menyukai Theo sedari dulu, tapi dia tahu ia hanya teman tidak lebih.
Setelah malam itu Anin menjadi frustasi. Hampir setiap malam ia berakhir di club malam. Bahkan di suatu malam ia berakhir di kamar hotel dengan ayah bayi yang dia kandung sekarang. One night stand yang membuatnya hamil dan tidak mengetahui siapa sebenarnya ayah dari anaknya.
Saat Anin tahu bahwa dia hamil, satu-satunya yang dia inginkan menjadi ayah dari anaknya adalah Theo. Itu cara yang bagus untuk membuat Theo berakhir dengannya meskipun ia harus berbohong dengan mengatakan dia hamil anaknya Theo.
Setelah semua yang terjadi dia harus hidup dalam kebohongan terus-menerus. Anin bahkan tidak mampu melihat Jessi, rasa bersalah menggerogoti hatinya. Tapi tidak ada pilihan lain selain melakukan ini agar dia dan Theo terikat selamanya.
***
Jessi terbangun saat hari sudah gelap. Perutnya berbunyi karena seharian dia belum makan sama sekali. Matanya memandang berkeliling dan terlihat Theo sedang tertidur di sofa. Theo bergerak tidak nyaman tidur dengan posisi meringkuk begitu.
Jessi beralih ke dapur dan melibat bahan makanan di dalam kulkas yang tersusun rapi. Theo sangat memperhatikan pola makan rupanya. Pikirnya dalam hati.
Jessi mengambil beberapa bahan makanan dan mengolahnya dengan cepat. Wangi harumnya masakan memenuhi ruangan apartemen Theo. Makanan sudah siap dan tertata rapi diatas meja makan. Perutnya sudah keroncongan tidak karuan, cacing-cacing disana pasti sedang berdemo meminta makan.
Dalam tidurnya Theo mencium bau harum masakan. Seketika perutnya berbunyi merdu dan membuatnya terbangun. Theo menghirup bau harum tersebut karena baunya nyata sekali dan bukan sekedar mimpi. Theo menuju dapur dan benar saja Jessi sedang menyiapkan makan malam untuk mereka.
Apa iya aku diajak makan juga? Dia kan masih marah padaku? Tapi kan ini dapurku, mana mungkin aku tidak diberi makan olehnya hahaha.
Theo tersenyum menghampiri Jessi dan mendaratkan satu ciuman di pipi Jessi. Jessi masih diam tidak merespon tapi sudah tidak mengelak lagi kalau Theo mendekat bahkan menyentuhnya. Tangan Theo berinisiatif memeluk Jessi dari belakang dan membenamkan wajahnya di punggung Jessi.
"Duduklah! Jangan menggelendoti aku seperti ini! Aku tidak bisa bergerak bebas, Theo!" ucap Jessi sambil menggerakkan badannya yang malah membuat Theo gagal fokus. Jessi terlihat seperti sedang menggodanya malam ini. Hampir saja Theo tidak bisa menahan gelora hasratnya yang menggebu-gebu.
Theo dan Jessi duduk bersama di meja makan. Setelah mengambilkan nasi dan lauk untuk Theo dan dirinya sendiri, lalu mereka mulai makan dalam diam.
"Ada yang ingin kubicarakan," ucap Jessi tiba-tiba.