
Happy Reading 💜
"Aku tidak mau putus! Berhenti berbicara omong kosong!!" Theo menarik tangan Jessi agar mengikutinya.
Siang hari yang seharusnya cerah berubah menjadi mendung bagi Theo dan Jessi. Mengikuti suasana hati yang sedang mereka rasakan saat ini. Kalut yang menggerogoti hati masing-masing seakan semakin menjerat. Theo berjalan tergesa sambil menarik tangan Jessi, lebih tepatnya menyeret Jessi mengikutinya ke rumah singgah yang ada di sekitar bukit. Beberapa pasang mata pengunjung menatap heran dan bertanya-tanya soal keduanya. Tetapi mereka semua cukup tahu diri untuk hanya sekedar menjadi penonton, cukup melihat, dan saling berbisik di belakang.
Rumah singgah disini memang sengaja disewakan untuk para pengunjung. Mereka memasang tarif yang beragam. Dimulai dari yang termurah sampai yang termahal juga ada. Theo memilih salah satu rumah singgah yang berada dibarisan paling ujung. Dia tidak ingin pertengkarannya dengan Jessi sampai terdengar oleh tetangga kanan dan kiri. Setelah selesai membayar biaya sewa, Theo membawa kekasihnya memasuki rumah bersamanya.
"Lepaskan tanganmu! Tanganku sakit, Theo," pekik Jessi kesakitan.
"Maaf ...."
Tangan Jessi yang memerah akibat ulahnya menjadi perhatian Theo kali ini. Mungkin dia terlalu keras menarik Jessi sampai tangannya menjadi lebam. Theo berkeliling rumah mencari letak kotak P3K. Dia ingin menebus kesalahannya dengan mengobati lebam itu.
"Kemarikan tanganmu, aku akan mengobatinya."
"Tidak perlu! Harusnya hatiku yang di obati, bukan tangan ku!" Jessi memutar bola matanya.
Jessi menatap jengah Theo yang terduduk disampingnya. Untuk apa juga menyewa rumah singgah, dia kan ingin menenangkan diri. Setelah tangannya dirasa tidak terlalu sakit, Jessi bangun, dan ingin segera pergi dari tempat itu. Sekali lagi tangan Theo menahannya untuk tinggal.
"Aku tetap pada keputusanku. Aku ingin kita putus. Kita selesai, cukup sampai disini saja."
"Tidak! Kita tidak akan pernah putus. Aku tidak mau!" bantah Theo dengan suara keras.
Jessi sedikit berlari kearah pintu. Dia ingin kabur dari Theo. Saat tangannya memutar handel pintu, ternyata pintu dalam keadaan terkunci. Jessi menghela nafas kasar dan berbalik menemui Theo. Pasti Theo sengaja melakukan ini, mengunci pintunya.
"Kau sengaja, ya? Cepat, kembalikan kuncinya! Aku ingin pulang," pinta Jessi dengan alis yang mengkerut tajam.
"Tarik perkataan mu yang ingin putus, tadi. Baru aku kembalikan kuncinya," senyum mengejek Theo terulas dibibirnya.
Jessi memutar bola matanya bosan. Rupanya Theo sedang mempermainkannya saat ini. Harusnya kan dia marah pada Theo. Tapi kalau begini terus, bisa-bisa dia takluk lagi dan kembali memaafkan kekasihnya yang menyebalkan ini.
Sengaja Jessi mengabaikan permintaan Theo yang menurutnya gila itu. Dia sibuk mengalihkan rasa kesalnya pada ponsel yang saat ini sedang di genggamnya. Bibirnya bersenandung ceria mengikuti lantunan musik yang berputar dari ponselnya. Lagu yang bagus untuk meningkatkan moodnya yang hampir hancur.
Ku mau dia, 'tak mau yang lain
Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku
'Ku ingin dia bahagia hanyalah denganku
Bukan 'ku memaksa oh Tuhan
Tapi 'ku cinta dia
Andmesh - Kumau Dia
"Aku juga cinta kamu, Jess. Aku juga cuma mau kamu, 'tak mau yang lain. Hanya kamu ... aku mau kamu," ucap Theo tiba-tiba menganggu nyanyian Jessi.
"Aku lagi nyanyi, Theo. Jangan ganggu, deh."
Theo merapatkan tubuhnya pada Jessi. Jujur dia bingung bagaimana cara agar kekasihnya ini mau berbaikan dengannya. Apalagi bibir tipisnya yang menyerocos bernyanyi semakin membuatnya frustasi. Maksud hati ingin mencium, tapi apalah daya nyali tidak menyanggupinya.
***
"Jess, lihat aku! Maaf, aku sudah berkata kasar. Aku cemburu ... aku tidak suka mendengar mu memuji laki-laki lain. Aku akan mengontrol rasa cemburuku yang berlebih ini. Aku berjanji, Jess. Tapi, kita tidak jadi putus, ya," bujuk rayu Theo terdengar manis.
"Memang semua awalnya manis, tapi akhirnya, ya, begitulah," batin Jessi mencemooh."
"Aku tidak suka bibirmu ini gampang sekali mencela ku. Aku tidak suka juga kalau kau cemburuan berlebih. Kita ini sudah dewasa, Theo. Harusnya tidak perlu cemburu-cemburuan yang seperti itu. Kau seperti bocah, tahu!" tangan Jessi menguyel-uyel bibir Theo dengan gemasnya.
Sebenarnya aku juga tidak mau putus, sih. Salah sendiri dia menyebalkan, jadi aku kerjain aja dia. Ha-ha-ha.
Theo tersenyum senang walaupun keadaa bibirnya sedang di uyel-uyel cinta oleh kekasih hatinya. Meskipun tidak sakit sama sekali, tapi cukup meruntuhkan kharismanya. Telinga Theo mendengar dengan seksama penjelasan Jessi. Benar juga apa yang dikatakan Jessi. Ahh, tapi yang namanya kekasih kan wajar cemburu, batin Theo menyangkalnya.
Setelah kegiatan uyel-uyel berhenti, Jessi menangkupkan kedua tangannya pada wajah Theo. Bibir monyong Theo tercipta dengan sempurna. Jessi membuat gerak bibir seperti sedang mencium Theo dan mengakhirinya dengan senyum tulus.
"Tidak jadi putus, kan?" Theo memastikan kembali apa yang mereka ributkan sedari tadi.
"Kau dan Anin benar hanya berteman biasa, kan? Tidak lebih?" dia bertanya balik pada Theo.
"I-Iya, Sayangku. Aku dan Anin hanya berteman biasa. Aku bisa menjamin itu, Sayang."