Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Anin Terluka



Happy Reading 💜


"Aku mengenal perempuan ini, bukankah dia orang yang sering datang di clubku?"


Tubuh Jessi menegak seketika saat Brian berkata mengenal Anin sebagai seorang pelanggan di club. Dia bahkan tidak tahu jika Brian mempunyai sebuah Club, "Aku baru tahu kalau kau punya club, dan kau bahkan tidak mengundangku kesana. Teman macam apa kau ini?"


"Haha. Itu hasil kerja kerasku menabung selama ini, aku memang ingin memiliki sebuah usaha. Untuk menghidupi Rin dan anak-anak kami kelak. Sudahlah, kenapa jadi membahas kami. Setahuku, Anin sering sekali berganti-ganti pasangan hampir setiap malam. Dia tidak pernah datang dengan lelaki yang sama setiap harinya. Kau yakin itu bayi Theo?" ungkap Brian.


Jessi mengangkat tangannya seolah pasrah, "Aku tidak tahu, Brian. Yang sekarang aku tahu Theo mengkhianatiku." Bantah Jessi. "Dia menghabiskan malam dengan perempuan lain, sementara aku mengira dia sibuk untuk urusan bisnis diluar kota. Aku muak dengannya!" Cih.


Rin menggelengkan kepalanya tanda dia tidak habis pikir dengan temannya ini. "Harusnya kau itu membantu Theo menyelesaikan masalah ini. Bukan malah membiarkan calon suamimu bersama perempuan lain, kau mau semakin diinjak oleh Anin? Sadarkan kepalamu itu!" Rin kesal sekali akan sikap Jessi kali ini.


Jessi nyengir merasa tidak berdosa sama sekali. Mobil menepi di area parkir tepat saat obrolan mereka juga berhenti. Rin dan Jessi berjalan bergandengan tangan, meninggalkan Brian yang sudah berjalan dahulu di depan setelah berciuman panas dengan Rin sebentar.


Rona merah yang menghiasi kedua pipi Rin masih sedikit terlihat. Rona kebahagiaan terlihat jelas mengikuti kemanapun sang pengantin baru pergi. Jessi ingin sedikit menggoda Rin, "Rin, bagaimana rasanya?" Jessi menggerakkan alisnya naik turun menggoda.


"Rasanya apa? Kau itu mau tahu saja urusan pencintaanku." Perempuan ini malu-malu rupanya.


"Ahh, masa kau tidak tahu, sih, maksudku? Rasanya melakukan itu, Rin. Kau dan Brian malam itu. Kau melakukannya sampai pagi buta, ya? Ngaku!" goda Jessi bertubi-tubi.


Rin semakin merona malu, Jessi benar-benar membuatnya mengingat kembali peristiwa malam pertamanya bersama Brian. Bahkan rasanya masih sangat melekat dalam ingatan.


"Kok senyum-senyum, sih? Kau membayangkannya, ya? Haha, kau lucu sekali, Rin," Jessi terpingkal menahan tawanya.


"Kau, ini! Menyebalkan sekali!" teriaknya sambil berlari meninggalkan Jessi. Malu rasanya!


Dasar pengantin baru! Haha.


***


"Jangan perbolehkan siapapun memasuki ruanganku, konfirmasi terlebih dahulu padaku jika ada yang memaksa. Aku tidak ingin diganggu siapapun hari ini. Kau mengerti?" Theo berpesan pada sekretaris pribadinya untuk mencegah siapapun mengganggunya hari ini. Emosinya sedang tidak baik. Badmood melandanya. Sang sekretaris cukup paham dan mengangguk dengan mantap.


Theo memasuki ruangannya dengan wajah yang tertunduk lemas. Lelaki ini sangat tidak bersemangat. Dia harus bisa menyelesaikan permasalahan dengan Anin secepatnya. Tangannya bergerak memencet nomor seseorang.


"Aku ada tugas untukmu. Selidiki siapa ayah dari bayi yang dikandung perempuan ini. Aku akan mengirim fotonya. Laporkan padaku nanti malam. Imbalannya sepuluh kali lipat dari yang pernah kau dapatkan sebelumnya. Kau paham?"


"Baik. Saya mengerti." Suara diseberang siap menyanggupi.


Dia akan melakukan apapun untuk membuat Jessi kembali padanya. Tidak masalah dia harus membayar mahal orang untuk membantunya. Uang tidak ada artinya lagi baginya. Hanya perempuan itu, Jessi yang berarti di hati.


Drrrt ... Drrrttt.


Berdiam diri diatas kursi kebesaran yang empuk membuat mata Theo tidak sanggup menahan kantuk. Sedikit demi sedikit matanya memberat. Dia bergerak untuk berpindah ke sofa yang akan membuat dirinya lebih nyaman lagi. Tubuhnya merosot menyamankan diri dan tak butuh waktu lama dia terlelap menuju alam mimpi.


***


Anin sedang berada di kolam renang dibelakang rumah Theo. Dia memakai bikini yang semakin menonjolkan perutnya yang membesar. Raut wajah cantiknya terlihat berseri-seri terkena tetesan air.


Byuuuur


Suara deburan air di kolam menjadi satu-satunya suaranya yang terdengar disana. Anin sedang sendirian dirumah, Ibu Theo tidak tahu perginya kemana, dan para asisten rumah tangga pasti sedang berada di dapur, mereka enggan untuk menyapanya.


Tak butuh waktu lama Anin mengakhiri sesi berenangnya. Saat menaiki tangga tiba-tiba kakinya terpeleset. Perut besarnya membentur pinggiran tangga. Darah mengalir membasahi kakinya. Dia berteriak kesakitan meminta pertolongan.


"Toloong ... Toloooong aku! Perutku, ahhh!"


Suara kesakitannya menggema dan membuat beberapa asisten datang tergopoh-gopoh segera membantunya. Mereka bersama-sama mengangkat Anin ke dalam rumah.


"Non, darah! Non ... ayo cepat kita ke rumah sakit saja. Takut kenapa-kenapa dengan bayinya," salah satu asisten mengkoordinir.


Mereka bergegas membawa Anin ke rumah sakit terdekat. Pakaian yang dipakainya berubah warna menjadi kemerah-merahan. Darah semakin mengalir deras dari area sensitifnya.


***


Sesampainya dirumah sakit, Anin segera ditangani oleh UGD. Ibu Theo sudah berada disana setelah asisten rumahnya memberi kabar buruk itu. Langkahnya mondar-mandir sangat khawatir. Beberapa kali dia mencoba menghubungi Theo menyuruhnya datang menengok calon istrinya, tapi ponsel Theo tidak diangkat. Sepertinya anak ini sengaja mengabaikanku. Aku akan menghubungi sekretaris pribadinya saja.


"Bilang sama bosmu, suruh dia datang ke rumah sakit XX. Anin sedang terluka. Dan satu lagi, suruh dia memeriksa ponselnya, ya. Terimakasih." Sekretaris tersebut cukup berkata baiklah dan semua aman terkendali.


Sekretaris handal Theo segera bergegas memberitahu Tuannya. Dia mengetuk pintu dengan sopan beberapa kali, tapi tidak ada jawaban yang terdengar. Dibukanya pintu secara perlahan, dia menghampiri Theo yang tertidur pulas di sofa.


"Tuan Theo, bangun! Tuan ... bangun." Tangannya menepuk-nepuk punggung Theo. Ingin menepuk pipi tapi itu tidak sopan.


Theo menggeliat setelah beberapa kali ketukan. Tubuhnya bergerak mundur saat mendapati sekretarisnya berada di dekatnya. "Ada apa? Kenapa membangunkan ku? Bukankah aku berpesan padamu!" ketus Theo.


"Maaf, Tuan. Tapi ada sesuatu yang penting. Ibu Tuan menghubungi saya dan berkata kalau Tuan harus segera berangkat ke rumah sakit karena Nona Anin sedang terluka. Maaf saya sudah lancang membangunkan Tuan. Saya permisi." Dia mengangguk dan melesat secepat kilat meninggalkan Theo sendirian.


Anin terluka? Sakit apa, ya, dia? Sudahlah! Toh Ibu sudah disana menemaninya.


Theo merebahkan dirinya kembali dan terlelap setelahnya. Meninggalkan segala macam urusan dunianya, dia ingin beristirahat saja hari ini.