Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Omong Kosong



Happy Reading 💜


Tubuh yang sedari awal sudah diliputi dengan perasaan gugup menjadi semakin tidak terkendali. Ingin rasanya marah dan memaki laki-laki yang dengan sengaja melecehkan dirinya dengan mulut manis yang berbisa tersebut.


Tubuh Jessi menegang di tempatnya berdiri. Harga dirinya diinjak dengan sadarnya. Dilecehkan dengan pertanyaan yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya sekalipun.


Keinginan untuk buang air kecil menghilang dalam sekejap mata. Kepalanya menoleh dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak, "Apa maksudmu? Tolong jaga ucapanmu, Tuan."


Kevin bersedekap dengan tubuh bersandar pada dinding, bibirnya menyeringai dengan lebar. Matanya menerawang jauh, "Perempuan sepertimu mendekati orang seperti kami pasti semata-mata karena menginginkan uang. Apa aku benar?"


"Aku tidak seperti itu! Jangan samakan aku dengan para perempuan lain dalam kehidupanmu." Jessi melangkah meninggalkan Kevin, namun langkahnya terhenti karena tangan Kevin menahannya.


"Jujur saja padaku, Jess. Tidak usah sungkan begitu. Aku bisa memberimu jauh lebih banyak daripada yang kau dapatkan dari Theo." Tangannya memegang lengan Jessi dengan erat. Sedikit kearah mencengkram.


"Sebutkan saja ... Berapa yang kau inginkan?" Imbuhnya lagi.


Dengan sekuat tenaga Jessi menarik paksa lengannya, "Enyahlah dariku! Aku tidak menginginkan uangmu sepeserpun." Ungkapnya dengan jujur. Matanya mendelik dengan hebat.


***


Theo yang sedang menunggu kembalinya Jessi dan Kevin dari kamar mandi menghela nafas lega saat perempuan itu menampakkan hidungnya.


Jessi tersenyum menatap seorang kekasih yang begitu mencintainya. Kemarahannya akan sikap kekurangajaran sang sepupu calon suami diabaikannya untuk saat ini. Dia tidak ingin Theo bertengkar dengan keluarganya.


"Sudah malam, aku ingin pulang, Theo." Bisiknya lembut pada telinga Theo. Kevin berdecih melihat sikap Jessi pada sepupunya.


Theo mengangguk menyetujuinya. "Bi, sudah malam. Aku dan Jessi pamit pulang dulu."


"Kenapa tidak menginap saja? Kau 'kan sudah lama tidak mengunjungi Bibi ...."


"Kami akan mampir lagi, Bi. Aku permisi, ya, Bi." Theo dan Jessi berpelukan singkat dengan Bibi Dora. Lalu mengangguk pada Kevin tanpa menatapnya sedikitpun.


***


Jalanan begitu lengang di malam hari. Kemacetan yang tiada henti sama sekali tidak terlihat. Theo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak sampai satu jam keduanya sudah sampai di kediaman Jessi.


"Tidak ingin mampir sebentar?" tanya Jessi tiba-tiba.


Theo menggeleng pelan. Tangannya merengkuh Jessi dalam pelukannya. "Sudah malam, Jess. Aku tidak enak dengan Ayahmu."


Jessi membalas pelukan dengan begitu erat. Helaan nafasnya begitu terasa hangat menyentuh kulit leher Theo. Membuat si empunya leher meremang disana.


Hasratnya seketika mencuat dengan posisi seperti ini. Dada Jessi menempel ketat pada tubuhnya. "Apa kau sedang menggodaku?" tanyanya serak.


"Tidak. Ini baru menggodamu." Jessi mengecup lembut daun telinga Theo. Bibirnya tersenyum lebar saat lelaki itu memejamkan matanya.


"Kau harus bertanggungjawab. Aku sudah tergoda sedari tadi." Matanya sayu dengan nafas yang semakin memburu.


Jessi membuka pintu mobil Theo dan nyengir tanpa rasa bersalah. "Tidak mau ... Tanggungjawabnya seminggu lagi saja."


Dia berlari meninggalkan Theo untuk memasuki rumah. Sementara sang lelaki mendesah frustasi di dalam mobilnya. Dia akan bekerja keras menenangkan si junior yang sudah memberontak sedari tadi.


***


Malam ini resepsi pernikahan Garaa akan dilaksanakan. Hotel berbintang milik keluarga Anna menjadi tempat yang dipilih untuk melaksanakan resepsi tersebut.


Ballroom hotel di dekorasi dengan gemerlap sorot lampu yang indah. Bunga lily hidup yang masih segar dijadikan penghias di setiap sudutnya.


Garaa melihat berkeliling tempat tersebut. Memperhatikan satu persatu bagian yang harus sempurna malam ini. Tidak boleh ada yang terlewatkan sedikitpun.


Anna bergelayut manja pada lengan calon suaminya tersebut. Perasaanya pada Garaa tidak bisa diganggu gugat. Dia sangat mencintai lelaki yang dia yakini akan bisa menerimanya sepenuh hati cepat, ataupun lambat.


***


Pagi menjelang. Udara dingin menyongsong hari yang indah. Hari baru segera dimulai. Jessi berangkat bekerja dengan menaiki sebuah angkutan umum. Penuh sesak di dalamnya membuat Jessi gerah. Keinginannya untuk mencicil mobil semakin besar.


Sesampainya di kantor, Rin dan Elia sudah berbaris rapi menunggunya di depan pintu. Keduanya bersedekap dengan alis yang menyatu.


"Ada apa? Tumben menungguku disini?" ucap Jessi sedikit heran dengan tingkah kedua temannya.


"Kau kemana saja kemarin? Theo marah padamu?" tanya Rin dengan khawatir.


Perempuan itu menggeleng pelan. "Tentu saja tidak, Rin. Aku bersamanya seharian, menemaninya berkerja. Dia tidak memperbolehkanku masuk kerja kemarin." Jelasnya sambil memasuki ruangan dan bersiap-siap menyambut banyaknya pekerjaan.


"Menemaninya seharian? Kau kira Theo bayi yang harus ditemani seharian penuh? Bilang saja kalau kau sengaja melakukan itu untuk melancarkan rencanamu menikahinya 'kan?" Sara ikut nimbrung mencela Jessi dalam obrolan mereka pagi ini.


"Perempuan murahan sepertimu tidak cocok untuk Theo. Kau harusnya sadar dan menjauh dari kehidupan Theo." Imbuhnya dengan mata mendelik tajam.


Jessi menarik rambut Sara dengan kencangnya. Membiarkan perempuan itu meringis kesakitan untuk sesaat. Tangannya gatal ingin sekali memberi pelajaran sopan santun pada perempuan cantik namun berhati iblis tersebut.


Rin dan Elia memisahkan mereka setelahnya. Membiarkan Sara mengumpat dan memaki tanpa memperdulikannya lagi.


***


"Kau berangkat bersama Theo?" tanya Rin saat makan siang. Tangannya menunjuk Jessi dengan sumpit yang dipegangnya.


Jessi mendongak dari semangkuk mie yang terlihat menggoda, "Kemana?"


"Ke tempat Garaa. Memangnya kemana lagi?" jawab Elia dengan ketus. Dia belum bisa merelakan lelaki itu menikah dengan perempuan lain.


Jessi nyengir tanpa rasa bersalah. Kepalanya mengangguk mantap. Tanpa sengaja telinganya mendengar sapaan beberapa pegawai pada CEO mereka.


"Lihatlah disana. Kekasihmu membuat kantin menjadi pengap." Ledek Brian dengan suara yang sengaja dikeraskan.


Theo melambai pada kekasihnya dengan senyum mengembang. Dia mendekat, lalu mencium puncak kepala Jessi. "Kepalamu bau, keramaslah." Tangannya mengacak rambut Jessi dengan gemas.


Brian tertawa terbahak-bahak. Dia tidak mengira kalau Theo bisa melucu seperti itu. Rin dan Elia terkikik geli dengan tingkah mereka.


Jessi yang awalnya senang dan merona saat Theo bersikap manis berubah menjadi datar dan kesal sendiri. Bisa-bisanya kekasihnya sendiri mengatainya bau. Bibirnya mengerucut sebal.


"Apa itu yang ada dalam mangkukmu? Aku ingin mencicipinya." Theo menarik mangkuk Jessi dan menyuapkan mie tersebut kedalam mulutnya.


Jessi malu sekali rasanya. Semua orang yang berada di kantin pasti menertawakannya habis-habisan. Mereka akan mengatainya sebagai perempuan kepala bau.


"Kau menyebalkan sekali!" Jessi mencubit pinggang kekasihnya dengan sekuat tenaga. Lalu pergi dengan wajah yang tertekuk dengan sempurna.


Theo meringis kesakitan. Tangannya mengusap-usap pinggangnya. Cubitan sayang dari kekasihnya membuatnya terkekeh geli. Jessi sedang dalam tahap ngambek padanya.


"Kau mengatainya kepala bau, pasti dia tersinggung dengan ucapanmu. Perempuan memang gampang sekali marah. Mereka tidak mengerti kalau kita sedang bercanda," ucap Brian saat itu. Kepalanya mengangguk-angguk menyetujui ucapannya sendiri.


"Apa aku juga seperti itu?" Rin menyela obrolan mereka. Mulutnya mengerucut seperti bebek.


Brian yang tersadar segera meralat kembali perkataannya, "Tentu saja tidak, Sayang. Kau tidak seperti itu. Jangan cemberut, aku tidak menganggapmu seperti itu." Tangannya mengusap rambut Rin dengan sayang.


"Dasar laki-laki tidak peka! Kalian berdua menyebalkan!"